Indonesia
NovelToon NovelToon
Anomali Sang Pewaris

Anomali Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Sci-Fi / Tamat
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: Rjm10

Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perang di Dalam Kehampaan

Lautan cahaya putih itu tidak memiliki ujung, cakrawala, maupun dasar. Tidak ada gravitasi, tidak ada udara, hanya hamparan ruang astral murni di mana konsep waktu kehilangan maknanya. Di alam inilah kesadaran Kaelen terkurung, terisolasi dari tubuh fisiknya yang kini membeku di dalam kepompong obsidian.

Namun, ia tidak sendirian.

Di hadapannya, bayangan raksasa menggeliat merobek tabir cahaya. Itu bukan lagi pria berambut perak cair dengan jubah putih sempurna. Wujud asli Sang Kaisar Agung terungkap—sebuah entitas kosmik yang menjijikkan. Bentuknya menyerupai tumor raksasa yang terbuat dari jalinan jutaan akar emas yang berdenyut. Di sela-sela akar tersebut, ribuan mata tanpa kelopak terbuka serentak, menatap Kaelen dengan kebencian purba. Mulut-mulut tak berbentuk bermunculan dari celah akar, memuntahkan kabut merah yang berbau seperti darah busuk.

"Kau mengurung kita berdua di ruang antara hidup dan mati, Bocah Anomali," suara Kaisar bergema serentak dari ribuan mulut itu, menciptakan paduan suara distorsi yang mengancam merobek gendang telinga astral Kaelen. "Tubuh fisikmu sedang hancur. Kau tidak bisa mencerna Jantung Astral dunia. Pada akhirnya, aku hanya perlu menunggumu meledak, dan aku akan merakit kembali dunia ini dari debumu."

Kaelen berdiri di atas kehampaan. Di alam astral ini, ia tidak mengenakan gauntlet obsidian. Ia hanya memiliki wujud manusianya—jubah kulit hitam yang robek, tangan yang penuh luka, dan dada yang terus memancarkan pendar ungu-hitam dari bayangan Inti Leviathan.

"Kau tidak sedang menunggu," balas Kaelen dingin, matanya menatap lurus ke arah ribuan mata dewa yang murka itu. "Kau ketakutan. Jika aku mati meledak di sini, seluruh esensi sihir yang kutelan dari tubuhmu akan ikut musnah. Kau akan kehilangan keabadianmu."

Salah satu tentakel akar emas melesat secepat cambuk petir, menghantam dada Kaelen dan melempar pemuda itu terpental ribuan meter ke belakang. Kaelen memuntahkan darah ilusi. Rasa sakitnya nyata, menusuk langsung ke dalam sistem saraf rohnya.

"Aku adalah pencipta peradaban!" raung Kaisar, akar-akarnya menjalar menginvasi ruang putih, mengubahnya menjadi neraka emas yang mendidih. "Umat manusia adalah binatang buas sebelum aku memberi mereka elemen! Aku memberi mereka tatanan! Dan kau... kau mengembalikan mereka pada kelemahan menjijikkan itu!"

Kaisar menyerang kembali, kali ini dari segala arah. Akar-akar astral itu menembus lengan, paha, dan perut Kaelen, memakukannya di tengah ruang hampa. Mata-mata emas di tubuh Kaisar memancarkan kilatan memori masa lalu Kaelen—momen saat ia dihina di Distrik Bawah, saat Dokter Silas nyaris membedahnya, dan wajah Varian yang menertawakan kelemahannya. Kaisar mencoba mematahkan ego Kaelen, menenggelamkannya dalam trauma.

Biarkan aku mengambil alih.

Suara mekanis yang dingin bergema di benak Kaelen. Itu bukan suara Kaisar, melainkan Inti Leviathan.

Emosi melemahkan struktur pertahanan roh. Hapus kemanusiaanmu. Bergabunglah dengan singularitas, dan kita akan memusnahkan entitas ini secara efisien.

Di dunia nyata, Lyra pernah bertanya apakah ia masih mengingat rasanya sakit. Rasa sakit adalah penanda batas antara monster dan manusia. Jika ia menyerahkan kesadarannya sepenuhnya pada mesin pemakan dewa ini, ia akan menang, namun Kaelen yang asli akan mati selamanya. Ia hanya akan menjadi cangkang kosong yang memusnahkan apa pun tanpa alasan.

"Tidak," bisik Kaelen, menggertakkan giginya yang berlumuran darah. Ia mencengkeram akar emas yang menancap di perutnya.

"Kau berbicara pada siapa, Anomali?!" ejek Kaisar, mempererat cengkeraman akar-akarnya. "Bahkan senjatamu sendiri tahu kau terlalu lemah!"

Kaelen mengangkat wajahnya. Mata kirinya yang tadinya sepenuhnya hitam legam, perlahan kembali memperlihatkan pupil manusia yang memancarkan pendar ungu.

"Aku berbicara pada diriku sendiri," geram Kaelen. "Aku menolak menjadi dewa sepertimu, dan aku menolak menjadi mesin."

Kaelen tidak merapal Domain Null seperti di dunia nyata. Di alam astral ini, ketiadaan bukanlah energi, melainkan sebuah konsep mutlak. Kaelen memusatkan seluruh tekad dan rasa sakit manusianya, menjadikannya bahan bakar. Ia tidak menekan traumanya, ia memeluknya, dan mengubahnya menjadi penolakan absolut terhadap kuasa Kaisar.

KRAAAAK!

Akar-akar emas yang memaku tubuh Kaelen tiba-tiba berubah warna menjadi abu-abu mati, lalu hancur menjadi debu. Kaelen melesat maju, menerjang langsung ke arah wujud asli Sang Kaisar.

"Mustahil! Di alam pikiranku, aku adalah penguasa mutlak!" Kaisar memekik panik, menembakkan ribuan tombak roh.

"Di mana pun ada sihir, di situlah aku adalah akhir dari segalanya," Kaelen merentangkan tangannya.

Sebuah singularitas hitam seukuran kelereng tercipta di telapak tangannya, kemudian meledak meluas, menelan cahaya putih di alam astral itu menjadi kegelapan tak berujung. Kaelen menancapkan tangannya langsung ke tengah-tengah tubuh akar raksasa Sang Kaisar. Kegelapan itu menginfeksi sang dewa, membusukkan akar-akar emasnya dengan kecepatan yang mengerikan.

Ribuan mata Kaisar meleleh. Mulut-mulutnya menjerit dalam agoni astral yang tak tertahankan.

"TIDAAAAAKKK! KESADARANKU... RUANG SUCI... JANGAN BIARKAN DIA—"

Jeritan Kaisar terputus saat Kaelen merobek inti astralnya menjadi dua. Entitas kosmik itu hancur berantakan, dan sisa-sisa kesadarannya terlempar keluar dari alam pikiran Kaelen, melarikan diri kembali ke satu-satunya tempat yang tersisa: bagian ketiga dari artefak di dasar perut bumi.

Di alam astral yang kini sepenuhnya tenang dan gelap, Kaelen jatuh berlutut, terengah-engah. Ia memenangkan pertarungan rohnya, mengamankan akal sehatnya, dan mengunci energi Jantung Astral di dalam kepompong obsidian. Namun, ini hanyalah penangguhan. Waktunya terus berjalan.

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
hai outhor salam kenal . mau masuk grup ku gak saling support
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: ayo saling folow
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!