Malam pesta pertunangan yang seharusnya jadi malam paling membahagiakan, **Laras Wirasena**—pianis muda dari keluarga terpandang—malah memergoki tunangannya sendiri, **Radithya Adiwangsa**, pewaris Grup Adiwangsa, sedang bermain api dengan asistennya di balik pintu yang terbuka sedikit.
Belum sempat Laras mengamankan bukti, ponselnya direbut dan videonya dihapus—oleh **Bramantya**, adik kandung Radit yang terkenal nakal, urakan, dan tak kenal aturan. Bukannya membela, cowok itu malah menyeringai menantang:
> *"Menggodaku buat balas dendam ke abangku?"*
Laras cuma menginginkan satu hal: membatalkan tunangan dan lepas dari keluarga yang menjualnya demi sebuah proyek bisnis raksasa. Tapi malam itu mengubah segalanya. Sekali, dua kali... lalu malam-malam rahasia yang tak terhitung lagi jumlahnya.
Yang tak Laras sadari: di balik topeng *bad boy* itu, Bram menyimpan sebuah bekas luka di pinggang, sebuah tato Latin di jarinya, dan satu rahasia yang telah ia pendam bertahun-tahun. Pria yang katanya cuma cari senang ini ternyata pernah menahan sebuah peluru demi menyelamatkan nyawanya di sebuah gedung konser di luar negeri—dan telah mencintainya diam-diam, jauh sebelum takdir "mempertemukan" mereka.
Ketika perselingkuhan sang tunangan meledak di depan seluruh undangan, ketika kembang api pecah di atas panggung juaranya, ketika satu ciuman viral mengguncang seluruh negeri—Laras akhirnya harus memilih: terus berpura-pura, atau mengakui bahwa satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya justru adik dari pria yang mengkhianatinya.
Tapi Bram tak datang hanya untuk mencintainya. Ia datang untuk merebut kembali segalanya—dan menjatuhkan abangnya sendiri, sampai ke titik terdalam.
> *"Sekarang dia mantan tunanganmu, pacarku, dan calon adik iparmu. Kenapa, Mas?"*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35
Ternyata Ini Cinta
Pada malam Laras memblokirnya, Bram duduk di ruang privat sebuah klub bersama Bimo dan Gilang.
"Jadi selama ini kamu ke mana?" tanya Bimo. "Yoga bilang Antartika."
"Mengejar perempuan."
Bimo hampir menjatuhkan gelas. "Kamu mengaku?"
"Aku jawab pertanyaanmu."
"Berhasil?"
Bram melihat ponsel yang tetap tidak menampilkan foto profil Laras. "Sempat."
Bimo belum memahami nada itu. Ia membuka artikel hiburan dan mendorong layar ke tengah meja. Judulnya menyebut Bramantya Adiwangsa memiliki hubungan dengan aktris muda Nabila Zahra. Foto buram memperlihatkan punggung lelaki tinggi memasuki apartemen Nabila lewat malam, tiga kali dalam dua minggu.
"Ini benar kamu?" tanya Bimo.
Bram tidak menyangkal. "Menurutmu?"
"Punggungnya mirip. Mobilnya juga."
"Berarti fotografernya lumayan."
Bimo tertawa. "Lalu yang kamu panggil istri di Singapura? Cepat sekali putus."
"Memangnya kenapa?"
"Mata keranjang."
Bram tersenyum aneh, bangkit, dan berjalan ke teras gelap. Angin malam menyapu kota di bawah. Beberapa detik kemudian, Gilang menyusul.
"Berita itu kamu yang buat sendiri, kan?"
Bram tidak menoleh.
"Nabila setuju namanya dipakai. Fotografer dapat jadwal dari orangmu. Lelaki di foto bukan kamu, hanya tinggi dan pakai jaketmu." Gilang berdiri di pagar. "Pacar palsu untuk menutup yang asli."
"Kamu terlalu banyak tahu."
"Karena aku diminta membungkam Nana. Setelah foto taman hiburan nyaris keluar, tiba-tiba semua akun gosip mendapat cerita lebih menarik tentang kamu dan Nabila. Jelas bukan kebetulan."
Bram menatap jalan. Berita itu dibuat melalui kesepakatan agensi. Nabila mendapat promosi untuk serial barunya dan hak menyetujui setiap gambar. Tidak ada kebohongan pribadi kepada perempuan yang dijadikan perisai. Yang dibuat palsu hanya kesimpulan publik.
Jika suatu hari foto dirinya bersama Laras muncul, orang akan menganggap Laras sekadar teman perjalanan atau salah mengenali punggung Bram. Semua jejak perhatian akan dialihkan kepada Nabila.
Rencana itu disiapkan setelah Gilang mengirim tangkapan layar percakapan Nana. Tim Bram memetakan waktu unggahan yang paling mungkin, memilih apartemen dengan dua akses tertutup, lalu memakai pengawal bertubuh serupa untuk menghasilkan bayangan yang bisa dipercaya. Mobil Bram memang datang, tetapi ia tidak pernah masuk. Nabila berada di lokasi bersama manajer dan tim promosi sepanjang waktu.
Berita dipublikasikan oleh kolumnis hiburan yang tidak pernah menyebut sumber langsung. Tidak ada pernyataan pacaran. Tidak ada foto wajah Bram dan Nabila dalam satu bingkai. Jika harus dihentikan, kedua pihak dapat menyebutnya salah tafsir media tanpa menjatuhkan siapa pun.
Gilang memahami kecermatan itu justru membuat pengorbanannya lebih jelas. Bram tidak sedang mengejar popularitas. Ia membangun satu dinding asap yang cukup tebal agar Laras bisa pulang dari perjalanan tanpa diburu pertanyaan siapa lelaki di sebelahnya.
"Kamu melindungi Ras," simpul Gilang.
Bram tetap diam.
"Nggak takut dia melihat lalu salah paham?"
"Nggak penting."
"Dia baru memblokir kamu. Kalau mengira kamu langsung pindah ke perempuan lain, mungkin benar-benar selesai."
Jari Bram mengetuk pagar sekali. "Mau bagaimana lagi?"
"Kamu rela?"
"Rela atau nggak, daripada dia yang dihina."
Gilang memandang sahabatnya lama. "Ini namanya cinta sejati."
Bram tertawa kecil tanpa gembira. "Kamu mabuk."
"Aku baru minum air. Dan kalau yang ini palsu, gosipmu dulu juga palsu semua? Model, penyanyi, sosialita yang katanya bergantian?"
Bram tidak menjawab.
Gilang tiba-tiba memahami. Selama bertahun-tahun, Bram membangun citra lelaki yang tidak serius pada siapa pun. Setiap berita punya foto cukup buram, sumber anonim, dan tidak pernah ada perempuan yang bisa menunjukkan hubungan nyata. Topeng itu melindungi sesuatu yang jauh lebih lama daripada hubungan di Maldives.
"Sejak kapan?" tanya Gilang pelan.
Bram hanya tersenyum dan kembali ke dalam.
Jawaban sebenarnya tidak bisa diberikan tanpa membuka terlalu banyak. Jauh sebelum Nabila, setiap gosip adalah bagian dari wajah yang dipilih Bram untuk pulang ke keluarga. Putra kedua yang liar tidak dianggap ancaman dalam rapat. Lelaki yang berganti perempuan juga tidak dicurigai menyimpan satu nama selama bertahun-tahun.
Topeng itu melindunginya dari Radit dan, tanpa disadari Laras, melindungi dirinya dari harapan yang terlalu dini. Sekarang topeng yang sama dipakai untuk membuat perempuan yang ia cintai mengira ia mudah berpindah.
Bimo masih membaca komentar. "Orang-orang bilang Nabila lebih cocok daripada pianis itu."
Gilang merebut ponselnya. "Jangan baca sampah."
"Kenapa kalian sensitif sekali malam ini?"
Bram mengambil jas. "Karena wajahmu mengganggu."
Ia meninggalkan klub sebelum Bimo menemukan pertanyaan lain.
Di parkiran, Bram sempat membuka percakapan lama dengan Laras dari akun kerja yang belum diblokir. Ia bisa mengirim pesan. Ia bisa mengatakan berita Nabila palsu, menyebut Gilang sebagai saksi, bahkan menunjukkan kontrak agensi.
Namun Laras sudah menulis jangan cari aku lagi. Bram masih ingat bagaimana ia diminta menghormati keputusan di ruang rias dan bagaimana satu langkah mundur membuat Laras datang sendiri ke taman.
Ia menutup jendela pesan tanpa mengetik.
Di dalam mobil, Yoga menelepon melaporkan Nabila sudah mengunggah foto promosi sesuai jadwal dan agensinya puas. Bram meminta semua komentar yang menyebut Laras dipantau, tetapi tidak dihapus serentak agar tak menarik perhatian.
"Kalau Mbak Laras bertanya?" ujar Yoga hati-hati.
"Dia nggak akan."
"Kalau dia melihat?"
Bram mematikan layar yang masih menunjukkan tanda diblokir. "Biarkan."
Keesokan pagi, ia tiba di gedung Grup Adiwangsa sebagai wakil presiden direktur yang seharusnya baru pulang dari perjalanan bisnis. Para pegawai membungkuk menyapa. Dua perempuan di lift tidak menyadari Bram berdiri di belakang mereka.
"Besok bisa pulang cepat nggak?" bisik salah satu.
"Katanya mungkin. Pacarku mau ajak ke pinggiran kota lihat kembang api."
Kata terakhir membuat Bram mengangkat pandangan.
Ia teringat Laras di lantai hotel, kedua tangan menutup telinga, tubuh kehilangan tenaga sebelum ia mampu menyebut ketakutan itu. Lokasi syuting Harmoni Nusantara akan berpindah-pindah dan sering memakai pertunjukan budaya terbuka. Acara seperti itu mudah menambahkan kembang api sebagai kejutan tanpa memberitahu pengisi acara.
Sesampainya di kantor, Yoga sudah menunggu dengan tiga map. Bram menandatangani persetujuan vendor, mengembalikan dua dokumen untuk revisi, lalu tiba-tiba bertanya, "Di lokasi syuting Laras ada kembang api?"
Sebelum Yoga menjawab, Bram menarik satu lembar transaksi dari map Cakrawala. Vendor yang ia tandai tiga minggu lalu ternyata terhubung ke perusahaan cangkang milik rekan Om Bambang. Jumlahnya belum cukup untuk membuktikan penyelewengan, tetapi pola pembayaran mulai terlihat.
"Bekukan pencairan ketiga sampai verifikasi lapangan," katanya.
"Mas Radit sudah memberi persetujuan awal."
"Makanya minta persetujuan tertulis lagi. Kalau dia yakin, biar namanya ada di atas kertas."
Yoga mencatat. Bram tetap bekerja seolah tidak ada satu nomor yang hilang dari ponselnya.
Yoga berhenti membalik halaman. "Lokasi yang mana, Pak?"
"Stasiun pertama. Desa Wukirsari, Imogiri, Bantul. Mereka menginap di rumah tamu dekat sentra batik dan merekam panggung luar di lapangan desa."
Yoga menatapnya.
"Periksa izin acara malam, daftar efek panggung, dan vendor suara," lanjut Bram. "Kalau ada petasan atau kembang api, hapus. Ganti dengan pencahayaan."
"Programnya baru mulai pra-produksi. Dari mana Bapak tahu alamat lengkap?"
"Dokumennya ada."
"Di mana?"
Bram membuka map lain. "Kalau kamu punya waktu bertanya, berarti pekerjaanmu kurang."
Yoga menutup mulut.
Ia sebenarnya tahu Bram mengikuti seluruh jadwal Laras sejak kontrak ditawarkan. Jalurnya dibuat melalui mitra produksi, bukan intervensi terang-terangan. Tidak ada yang boleh tahu permintaan tanpa kembang api datang dari salah satu pimpinan investor, terlebih Laras.
"Ada lagi?" tanya Yoga.
"Pastikan kru menyebutnya kebijakan keselamatan suara untuk semua peserta. Jangan pakai namanya."
"Baik."
Yoga berjalan menuju pintu, lalu berhenti. "Tentang Nabila, apakah perlu disiapkan respons jika Mbak Laras..."
"Nggak perlu."
"Tapi Bapak mengejar beliau sampai Maldives."
Bram mengangkat kepala. Tatapannya membuat Yoga segera menyesali kalimat itu.
"Saya cuma memastikan prioritas komunikasi," katanya cepat.
"Prioritasmu sekarang Bantul."
Pintu tertutup.
Bram menyandarkan tubuh dan memandang ponsel. Laras masih memblokirnya. Ia tidak bisa bertanya apakah perempuan itu tidur nyenyak, makan, atau masih takut bunyi keras. Yang bisa dilakukan hanya memastikan langit di setiap tempat yang akan didatanginya tetap sunyi.
Ia membuka jadwal enam lokasi program. Yogyakarta, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Sumatra Barat, Sumatra Utara, lalu Flores. Di samping masing-masing, Bram menulis satu kata: suara. Yoga harus memeriksa izin acara malam, vendor efek, dan tradisi penyambutan yang mungkin memakai ledakan keras. Perubahannya wajib tampak seperti keputusan produksi biasa.
Bram tidak akan melarang Laras bekerja atau meminta seluruh dunia diam. Ia hanya ingin perempuan itu mendapat peringatan dan pilihan sebelum suara datang. Jika pertunjukan memang membutuhkan bunyi keras, kru harus memberi jadwal jelas, menyediakan ruang tenang, serta menawarkan pelindung telinga kepada semua peserta.
Jika Laras tidak pernah tahu siapa yang mengatur, perlindungan itu tetap berguna. Jika ia terus salah paham tentang Nabila, setidaknya kesalahpahaman tersebut hanya melukai Bram.
Di luar kantor, Yoga berdiri sambil memegang map dan satu alamat desa yang bahkan tim produksi belum umumkan.
Baru kemarin atasannya membiarkan seluruh negeri percaya ia punya kekasih baru. Hari ini lelaki yang sama mengurus izin suara di desa ratusan kilometer jauhnya demi perempuan yang baru saja membuangnya dari daftar kontak.
Yoga akhirnya berjalan pergi sambil berpikir bahwa cinta ternyata bisa terlihat persis seperti pekerjaan rahasia yang tidak pernah masuk laporan.