Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 — Detik-Detik Penentuan
Ruang rapat pribadi Andratama Tower didekorasi minimalis namun mewah — meja kayu solid panjang, seorang notaris duduk kaku di ujung meja, dua pengacara Andratama di satu sisi, dan kursi kosong menunggu Handoko serta penasihatnya di sisi berlawanan.
Setiawan berdiri menyambut, senyum ramahnya terpasang sempurna seperti biasa. "Pak Handoko, Pak Ridwan. Senang sekali Anda berkenan hadir, meski dengan pemberitahuan yang cukup mendadak dari pihak kami."
"Saya lebih tertarik menyelesaikan ini dengan benar, daripada terburu-buru," jawab Handoko, mencoba menjaga suaranya tetap stabil, tangannya sedikit menyentuh kancing jasnya sendiri seolah gerakan itu bisa menenangkannya.
Pintu di sudut ruangan terbuka, dan sosok yang tak pernah diduga Handoko akan lihat secara langsung, melangkah masuk dengan tenang — seorang pria tua berjas gelap, punggung tegap, sorot mata yang penuh kendali.
"Pak Handoko," kata pria itu, suaranya berat dan berwibawa. "Perkenalkan, saya Wirawan Kusnandar. Saya turut mengawasi langsung investasi strategis Andratama dalam merger ini."
Handoko membeku sejenak, ingatan lama tentang berita kematian seorang jenderal terhormat lima tahun lalu berputar cepat di kepalanya. "Bukankah Anda—"
"Sudah meninggal, menurut catatan resmi?" Wirawan tersenyum tipis, duduk di kursi utama tanpa diundang, seolah ruangan itu miliknya sepenuhnya. "Kadang, kematian resmi jauh lebih berguna daripada kehidupan yang terus diawasi publik, Pak Handoko. Anda tentu bisa memahami nilai privasi semacam itu, sebagai seorang pengusaha besar."
Ridwan duduk tenang di samping Handoko, matanya menajam mengenali langsung mantan rekan seangkatannya. "Wirawan. Sudah lama sekali."
"Ridwan Ananta," Wirawan menyahut, nada suaranya berubah sedikit dingin. "Aku tidak menduga kau akan muncul di sini, hari ini, dari semua hari yang mungkin."
"Aku diundang sebagai penasihat hukum yang sah," jawab Ridwan tegas. "Dan sebagai penasihat, saya rasa klien saya berhak mendapat penjelasan soal klausul di halaman empat puluh tujuh kontrak ini, sebelum menandatangani apa pun."
Untuk sesaat, ketegangan di ruangan itu terasa nyata, notaris dan kedua pengacara Andratama saling melempar pandang gelisah, tak menduga pertemuan yang seharusnya formal ini berubah arah secepat ini.
"Klausul standar soal transfer operasional pasca-merger," jawab salah satu pengacara Andratama cepat, mencoba meredakan situasi.
"Standar yang memindahkan kendali penuh Cendana Data Nusantara, termasuk seluruh kontrak pusat data pemerintah yang mereka pegang, tanpa tinjauan regulator?" Ridwan menekan lebih jauh, suaranya tetap tenang tapi tajam. "Saya rasa itu jauh dari standar, Pak."
Wirawan menatap Ridwan lama, kesabarannya yang tadinya terjaga rapi mulai menunjukkan retakan kecil. "Kau selalu terlalu banyak bertanya, Ridwan. Sifat yang sama yang membuatmu kehilangan banyak teman semasa dinas."
"Dan sifat yang sama yang membuatku tidak pernah kehilangan kehormatanku," balas Ridwan tegas, tanpa gentar.
Di detik itu, alarm kecil berbunyi pelan dari earpiece tersembunyi Handoko — sinyal darurat dari Wulan yang seharusnya hanya untuk situasi paling kritis.
"Handoko, Pak Ridwan," suara Wulan berbisik cepat lewat perangkat kecil yang juga tersembunyi di telinga Ridwan, "Raka dan Bara baru terdeteksi oleh sistem keamanan lantai dua puluh lima. Alarm internal gedung mulai aktif. Bertahan sebentar lagi."
Wirawan, seolah merasakan perubahan kecil di udara ruangan, menatap tajam ke arah pintu. "Sepertinya ada sedikit gangguan di gedung ini hari ini," katanya, nadanya tetap tenang tapi matanya berkilat penuh antisipasi. "Kebetulan yang menarik, mengingat siapa yang mungkin sedang mencoba menyusup."
"Saya tidak mengerti maksud Anda," Handoko mencoba menjawab, meski suaranya mulai goyah.
"Tentu kau mengerti," Wirawan tersenyum dingin. "Menantumu, Raka. Atau harus aku sebut nama aslinya di depanmu langsung — Naga Hitam, salah satu operator terbaik yang pernah aku pimpin, sebelum ia memilih menghilang tiga tahun lalu."
Handoko menatap Ridwan, mencari konfirmasi yang tak perlu diucapkan — semua yang selama ini disembunyikan darinya, kini terungkap langsung dari mulut orang yang paling tidak ia duga akan membukanya.
Suara langkah cepat dan teriakan singkat terdengar dari luar ruangan, disusul bunyi tumbukan keras di pintu kayu besar itu. Dua penjaga di luar berusaha menahan sesuatu yang jelas lebih kuat dari yang bisa mereka tangani.
Pintu terbuka paksa beberapa detik kemudian, menampilkan Raka berdiri di ambangnya, napasnya sedikit terengah dari pertarungan singkat di lorong luar, matanya menatap lurus ke arah Wirawan tanpa sedikit pun rasa takut.
"Naga Hitam," gumam Wirawan, berdiri perlahan dari kursinya, senyumnya kali ini penuh kepuasan seorang pemburu yang akhirnya berhadapan langsung dengan buruannya. "Aku sudah menunggu momen ini lebih lama dari yang kau kira."
"Aku juga," jawab Raka dingin, melangkah masuk sepenuhnya ke ruangan, Bara mengikuti tepat di belakangnya, keduanya kini berdiri terbuka di hadapan seluruh orang di ruangan itu — tanpa penyamaran, tanpa kebohongan lagi.
Setiawan mundur setengah langkah, tangannya bergerak cepat ke arah senjata tersembunyi di balik jasnya, tapi Wirawan mengangkat tangan, menghentikannya dengan satu gerakan tenang.
"Tidak perlu kekerasan, Setiawan," katanya, matanya tak pernah lepas dari Raka. "Kita punya banyak saksi di ruangan ini. Membuat kekacauan sekarang hanya akan merugikan kita semua." Ia menatap Raka lebih dalam. "Aku pikir kau di sini untuk bernegosiasi, bukan untuk perang terbuka di depan notaris dan pengacara, Raka. Kau lebih pintar dari itu."
Raka menatap sekeliling ruangan — Handoko yang masih terkejut, Ridwan yang siap bertindak, notaris dan pengacara yang membeku ketakutan, dan Wirawan yang berdiri tenang seolah masih memegang kendali penuh atas situasi yang sebenarnya sudah mulai lepas dari genggamannya.
"Kau benar," jawab Raka akhirnya, suaranya tenang tapi penuh tekad yang telah ia pendam selama tiga tahun. "Aku tidak datang untuk perang. Aku datang untuk memastikan semua orang di ruangan ini mendengar kebenaran, sebelum satu tanda tangan pun dibubuhkan di kontrak itu."