Azalea yang tidak mau dijodohkan dengan pria bernama Agam, anak dari teman ayahnya mencoba berbagai cara agar perjodohan itu tidak jadi dilaksanakan.
Segala macam cara pun dilakukan oleh Alea agar membuat Agam membenci dirinya dan mundur dari perjodohan itu.
Agam yang tidak ingin membuat Alea semakin terjerumus ke hal hal yang negatif hanya karena tidak ingin dijodohkan dengan dirinya pun akhirnya memutuskan untuk pergi menjauh dan menghilang dari kehidupan Alea.
Namun, disaat Agam sudah pergi, Alea baru menyadari jika di hatinya sudah terpaut kepada pemuda baik itu dan Alea pun merasa sangat kehilangan.
Lalu, bagaimana jadinya, jika sepuluh tahun kemudian keduanya pun kembali dipertemukan dengan Agam yang akan dijodohkan dengan wanita.
Akankah Alea merelakan Agam untuk bersama dengan wanita lain di saat dia sendiri sudah jatuh cinta kepada pria itu? Atau, Alea akan berusaha untuk mendapatkannya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepuluh Tahun Kemudian
“Tok…”
“Tok…”
“Tok…”
“Masuk.”
Tak lama kemudian, pintu ruangan itu terbuka. Seorang wanita muda masuk dengan membawa sebuah berkas di tangannya.
Ia berjalan mendekati meja kerja sang atasan, lalu menyerahkan berkas tersebut.
“Ini berkas yang Ibu minta,” ucapnya sopan.
“Baik. Simpan di situ. Nanti saya periksa setelah ini selesai,” jawab sang atasan tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptop di hadapannya.
Wanita muda itu menaruh berkas tersebut di atas meja. Namun, ia tidak langsung beranjak pergi. Tatapannya justru tertuju kepada jam yang tergantung di dinding ruangan itu.
“Ibu yakin mau mengerjakannya sekarang?”
Sang atasan akhirnya menghentikan jemarinya yang sejak tadi sibuk mengetik. Lalu menatap sekilas sang asisten, sebelum akhirnya, pandangannya kembali ke layar laptop.
“Iya. Memangnya kenapa?”
“Ini sudah waktunya pulang, Bu.”
Sang atasan kembali menatap layar laptopnya. Ekspresinya tetap tenang, seolah waktu yang sudah menunjukkan sore hari sama sekali tidak menjadi masalah baginya.
“Kamu pulang saja. Sisanya, biar saya yang urus.”
“Tapi, Bu…”
Kalimat itu terhenti ketika sang atasan perlahan mengangkat wajahnya. Tatapan wanita itu langsung bertemu dengan tatapan sang atasan yang terlihat tegas dan sulit dibantah.
Tidak perlu kata-kata panjang. Tatapan itu sudah cukup untuk membuat sang asisten mengerti bahwa ucapan itu tidak bisa ia bantah.
Sang asisten pun akhirnya mengalah. Ia hanya bisa menghela nafas pelan dan dengan berat hati, ia membiarkan atasannya kembali sibuk dengan pekerjaan.
“Baiklah. Kalau begitu, saya permisi sekaligus pamit.”
“Hmm. Pulanglah dan kembali lagi besok.”
“Baik, Bu.”
Sang asisten berbalik menuju pintu. Namun, sebelum benar-benar keluar, ia sempat menoleh sekali lagi.
Perempuan yang duduk di balik meja itu masih terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Wajahnya tampak jauh lebih dewasa dibandingkan sepuluh tahun lalu.
Tidak ada lagi sosok gadis muda yang mudah terbawa emosi. Kini, yang terlihat hanyalah seorang wanita dengan tatapan tegas, pembawaan tenang, dan kesibukan yang seolah tidak pernah ada habisnya.
Sang asisten hanya bisa menggelengkan kepala kecil sebelum akhirnya menutup pintu dari luar.
“Benar-benar gila kerja. Saking gilanya, sampai lupa mencari pasangan hidup,” gumamnya pelan.
Sementara itu, di dalam ruangan yang kembali sunyi, sang atasan masih menatap layar laptopnya. Namun, seketika, jemari yang semula sibuk mengetik lincah di atas keyboard kini berhenti bergerak.
Tanpa disadari, gumaman sang asisten tadi terdengar cukup jelas olehnya. Ia menghembuskan nafas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah ke sandaran kursi.
Beberapa detik kemudian, ia memutar kursinya hingga menghadap ke arah jendela besar di belakang meja kerjanya.
Langit yang sejak tadi berwarna biru perlahan mulai berubah menjadi kekuningan. Cahaya matahari sore menyusup di antara gedung-gedung tinggi, menandakan bahwa hari sudah hampir gelap.
Namun baginya, sejak hari itu, sepuluh tahun yang lalu. Hari-hari terasa begitu-begitu saja, tidak ada perubahan.
Pagi, siang, maupun sore... semuanya terasa sama.
Bangun, bekerja, menyelesaikan berbagai urusan, lalu pulang untuk beristirahat sebelum kembali mengulang rutinitas yang sama keesokan harinya. Begitu terus.
Ia bahkan hampir tidak memiliki waktu untuk memikirkan kehidupan pribadinya sendiri. Wanita itu terdiam cukup lama. Tatapannya menerawang jauh ke balik kaca jendela.
Ia sadar betul, usianya sekarang sudah tidak lagi muda. Dan semakin bertambahnya usia, pertanyaan yang sama pasti akan semakin sering ia dengar.
Pernikahan. Pasangan hidup dan kapan ia akan membawa seorang pria ke hadapan kedua orang tuanya.
“Pasangan hidup...” gumamnya lirih.
Entah mengapa, dua kata sederhana itu justru terasa begitu berat baginya. Hingga menimbulkan rasa sesak. Ia kembali menghela nafas panjang sebelum mengakhiri lamunannya dan kembali menyibukan diri dengan pekerjaan.
...***...
Keesokan harinya…
Pagi itu, Alea baru saja tiba di kantor ketika ponselnya berdering. Nama sang Ayah muncul di layar dan Alea segera mengangkatnya.
“Assalamu’alaikum, Yah.”
“Wa’alaikumussalam. Kamu sudah sampai kantor?”
“Sudah. Memangnya kenapa, Yah?”
“Sebenarnya ada yang ingin Ayah bicarakan. Tapi tidak sempat karena Bunda mendadak tidak enak badan.”
Alea yang baru saja meletakkan tasnya di atas meja langsung duduk di kursinya.
“Aku sudah ajak Bunda buat ke Dokter. Tapi, Bunda nolak. Makanya aku langsung berangkat ke kantor saja. Ngomong-ngomong, apa yang ingin Ayah bicarakan?”
“Ayah ada jamuan bisnis malam ini di hotel S. Seharusnya Ayah pergi bersama Bunda, tapi kondisi Bunda sedang kurang sehat. Jadi Bunda gak bisa pergi.”
“Terus?”
“Ayah ingin kamu menemani Ayah pergi ke sana.”
Alea terdiam. Ia tidak langsung merespon ajakan sang Ayah. Membuat Pak Hartono kembali berkata…
“Jamuan ini cukup penting. Ada beberapa rekan bisnis dan juga beberapa pemilik perusahaan yang akan hadir. Tapi… Ayah tidak bisa datang sendirian.”
Alea menghela nafas pelan. Meski enggan, namun, ia tetap menyetujuinya.
“Baiklah. Alea akan datang.”
“Benarkah?”
“Tentu saja. Kalau bukan Alea, siapa lagi yang akan menemani Ayah?”
Dari seberang telepon terdengar tawa kecil dari sang Ayah. Membuat Alea ikut tersenyum kecil.
“Terima kasih, ya, Nak. Kamu memang paling bisa diandalkan.”
“Jangan memuji dulu, Yah. Nanti Alea berubah pikiran.”
“Tidak mungkin. Ayah tahu betul kalau anak Ayah tidak akan melakukan hal itu.”
“Yakin sekali, Pak?”
Percakapan itu membuat Alea terkekeh kecil. Namun, beberapa detik kemudian, suara Ayah Hartono kembali terdengar lebih serius.
“Oh, iya. Ayah sudah kirim orang ke kantor untuk mengantarkan dress yang akan kamu pakai nanti malam.”
Alea langsung terdiam. Ia tidak tahu kalau Ayahnya sudah mempersiapkan semuanya. Bahkan, sang Ayah yang memilih dress apa yang akan ia pakai.
“Kenapa sampai repot-repot siapin dress buat aku? Aku bisa siapin sendiri.”
“Masalahnya, malam ini, dress code nya bertema. Ayah mempersiapkan nya karena tahu kalau kamu sibuk dan pasti tidak akan sempat mencari dress yang sesuai.”
“Baiklah. Alea mengerti. Maaf sudah merepotkan Ayah.”
“Tidak apa-apa. Ini juga kan untuk kepentingan Ayah. Kalau begitu, sampai nanti malam, ya.”
“Baiklah.”
Sambungan telepon berakhir. Alea meletakkan ponselnya di atas meja, lalu kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
...***...
Malam harinya…
Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan lobi sebuah hotel bintang lima.
Alea turun dari dalam mobil dengan mengenakan gaun panjang sederhana berwarna gelap yang terlihat elegan.
Rambutnya ditata rapi, sementara riasan di wajahnya dibuat sederhana, namun tetap memperlihatkan sisi anggun seorang wanita dewasa.
Sepuluh tahun terakhir telah mengubah banyak hal dalam dirinya. Termasuk cara ia membawa diri.
Alea yang dulu mudah gugup dan canggung ketika berada di tengah orang-orang yang belum dikenalnya, kini sudah jauh lebih tenang.
Ia berjalan masuk ke dalam lobi bersama Ayah Hartono. Keduanya berjalan menuju restoran VVIP yang telah dipesan untuk acara tersebut.
Namun, baru beberapa langkah memasuki area restoran, langkah Alea tiba-tiba melambat.
Sekitar jarak dua meter dari tempat Alea berdiri, tampak seseorang tengah berbincang hangat dengan tamu lainnya yang juga hadir disana.
Seseorang yang selama sepuluh tahun ini hilang tanpa jejak. Seseorang yang selama sepuluh tahun ini, tidak berhenti mengganggu pikirannya.