Indonesia
NovelToon NovelToon
Tipuan Cinta

Tipuan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:493
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.

Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.

Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.

"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.

Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Mengintai dari Kejauhan

Malam merayap cepat menyelimuti kawasan industri Zona Empat.

Lampu-lampu sorot proyek yang menjulang tinggi memancarkan pendar kuning kemerahan, menembus kabut tipis dan sisa gerimis yang belum sepenuhnya reda.

Di luar garis pagar seng proyek, suasana terasa mati; hanya ada deru samar kendaraan malam di jalan lintas jauh di belakang.

Di lantai dua sebuah ruko kosong yang tak terpakai—berjarak sekitar seratus lima puluh meter dari kontainer direksi PT Pandawa Perkasa—tiga sosok berdiri di balik kegelapan jendela yang berdebu.

Intan Saputri menggenggam kekopongan teropong binokular malam di tangannya. Dari titik elevasi ini, ia bisa melihat dengan jelas pintu kaca es kantor kontainer milik Ardiansyah yang menyala terang di tengah kegelapan lapangan proyek.

Di samping Intan, Rendra Wijaya duduk mendekam di hadapan dua layar laptop yang menyala remang.

Satu layar menampilkan sistem pemantauan lalu lintas data perbankan, sementara layar lainnya terhubung ke jaringan peretas lokal milik Maya untuk memantau pergerakan sinyal seluler di sekitar Zona Empat.

Maya sendiri berdiri bersandar di balik tembok ruko, memegang radio komunikasi berjangkauan pendek.

Suasana di dalam ruangan sepi itu amat pekat, hanya diisi oleh suara bisikan napas dan ketikan halus jari-jari Rendra di papan ketik.

"Pukul delapan lewat lima belas menit"

Bisik Rendra tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

"Sistem verifikasi otomatis dari bank pusat proyek Pandawa sudah mengelompokkan berkas pencairan lima ratus juta rupiah itu ke dalam antrean eksekusi. Tinggal satu tahap lagi: penginputan kode PIN enkripsi via OTP."

Intan menempelkan lensa teropongnya kembali ke mata. Melalui pantulan kaca es kontainer, bayangan tubuh Ardiansyah terlihat jelas. Pria itu tampak gelisah.

Ia berjalan bolak-balik di dalam ruangan, sesekali melihat jam tangannya, lalu menuangkan minuman dari botol ke dalam gelas kristal.

Ardiansyah masih meyakini bahwa rencananya berjalan mulus. Pria itu tidak pernah menyadari bahwa dari kegelapan ruko seberang, ada mata yang sedang mengintai dari kejauhan, mengawasi setiap gerak-gerik dan helaan napasnya dengan ketelitian seorang pemburu.

"Mbak Maya"

Panggil Intan pelan tanpa menurunkan teropongnya.

"Ardiansyah baru saja mengambil dua buah ponsel dari atas meja kerjanya."

"Satu ponsel berlayar lebar, dan satu lagi ponsel pintar hitam berasingan."

Maya melangkah mendekat ke jendela, menatap ke arah titik terang kontainer.

"Dia sedang menunggu kode OTP verifikasi masuk ke nomor perantara yang ia buat atas nama Katering Barokah palsu."

"Tapi nomor perantara yang terdaftar di berkas pencairan sudah berhasil kita alihkan (divert) ke server perantara kita sejak jam tujuh tadi, kan?" tanya Intan memastikan.

Rendra menyunggingkan senyum tipis—senyuman khas auditor forensik yang siap menjebak mangsanya.

"Betul."

"Saat Ardiansyah menekan tombol 'Minta Kode OTP' di sistem bank perusahaannya, kode sandi itu tidak akan pernah masuk ke ponsel di tangannya."

" Kode itu akan masuk langsung ke laptop saya."

Dada Intan bergetar oleh campuran rasa tegang dan kepuasan yang tertahan.

Selama bertahun-tahun, Ardiansyah selalu memegang kendali atas korbannya.

Pria itu memanipulasi informasi, mengarang cerita, dan menggunakan jarak serta kepolosan korban untuk menutup jejak kejahatannya.

Namun malam ini, dalam ruang gelap yang sunyi ini, Intan dan aliansinya membalikkan posisi itu sepenuhnya.

Mereka tidak hanya memegang kebenaran, tetapi juga memegang kendali atas detik-detik kejatuhan Ardiansyah.

"Pukul delapan lewat dua puluh lima."

Ujar Rendra mendadak, nadanya berubah serius.

"Aktivitas digital terdeteksi."

"Ardiansyah baru saja menekan tombol pengiriman kode verifikasi di portal perbankan!"

Di dalam teropong Intan, bayangan Ardiansyah mendadak berhenti berjalan.

Pria di dalam kontainer itu mengangkat ponselnya tinggi-tinggi, menunggu layar ponselnya menyala menandakan pesan masuk.

Satu detik... dua detik... sepuluh detik berlalu.

Ardiansyah mulai tampak panik. Dalam pantulan lensa teropong Intan, pria penipu itu menepuk-nepuk ponselnya ke telapak tangan, mengusap layarnya berulang kali, lalu berjalan mendekati jendela kontainer seolah mencoba mencari sinyal yang lebih kuat.

"Dia bingung"

Bisik Intan, bibirnya mengukir garis dingin.

"Kode itu tidak pernah sampai ke tangannya."

"Dan kodenya sudah ada di sini"

Sahut Rendra seraya menunjuk layar laptopnya yang menampilkan enam angka berkedip merah: 8 - 4 - 1 - 9 - 0 - 2.

"Jangan dimasukkan dulu, Mas Rendra"

Instruksi Maya dengan ketenangan tingkat tinggi.

 "Biarkan Ardiansyah menekan tombol 'Kirim Ulang OTP' sekali lagi."

"Kita butuh log kegagalan beruntun dari alamat IP perusahaannya agar sistem audit bank secara otomatis mengunci seluruh rekening operasional atas nama Ardiansyah Putra karena terdeteksi aktivitas mencurigakan."

Intan terus mengamati melalui teropong. Ardiansyah terlihat makin frustrasi di dalam kontainer.

Pria itu melempar gelas minumannya ke atas meja hingga airnya memercah, lalu jemarinya kembali menekan tombol di layar laptopnya dengan kasar.

"Pemberitahuan kedua masuk"

Kata Rendra.

"Sistem bank sekarang mendeteksi percobaan peretasan pada akun pengadaan PT Pandawa Perkasa."

"Sekarang, Rendra"

Perintah Maya tegas.

"Kunci rekeningnya dan kirimkan sinyal peringatan ke tim kepolisian kawasan!"

Rendra menekan tombol Enter dengan ketukan mantap.

Di saat yang bersamaan, melalui teropong Intan, terlihat lampu utama di dalam kontainer direksi Ardiansyah mendadak padam selintas sebelum berganti menjadi lampu darurat merah.

Dari luar ruko sepi tempat mereka mengintai, suara sirine dua unit mobil patroli kepolisian kawasan industri mendadak meraung nyaring dari arah pintu gerbang utama Zona Empat.

Lampu biru dan merah dari mobil polisi membelah kegelapan malam, meluncur deras melintasi jalan berdebu menuju tepat ke depan bangunan kontainer Ardiansyah.

Melalui lensa teropongnya, Intan melihat Ardiansyah tersentak hebat.

Pria itu menyibak tirai jendela kontainernya dengan wajah dipenuhi rasa horor dan panik yang teramat sangat.

Topeng ketenangan, wibawa, dan senyum mencurigakan yang dipamerkannya tadi sore kini hancur luluh tanpa sisa.

Intan perlahan menurunkan teropong binokular dari matanya. Ia berdiri tegak di balik jendela ruko gelap, menatap raungan sirine polisi di bawah sana dengan napas yang teratur dan dada yang mengembung lega.

"Perburuan selesai, Mbak Maya."

Bisik Intan halus, suaranya bergetar oleh kepuasan yang murni.

Maya menepuk bahu Intan dengan lembut.

"Bukan cuma selesai, Intan."

"Kamu baru saja membuktikan bahwa kebenaran tidak bisa dihancurkan oleh ribuan kebohongan."

Rendra menutup laptopnya dan berdiri, merapikan jaket kulitnya.

"Polisi sudah masuk ke dalam kontainer untuk mengamankan Ardiansyah dan seluruh barang bukti digitalnya."

"Saatnya kita turun dan menyaksikan akhir dari sang serigala."

Intan merapikan blazernya, menggenggam buku catatan hitam kecil di dalam tasnya yang kini telah mencatat akhir dari perjalanan dendamnya.

Mengintai dari kejauhan telah memberikan mereka kemenangan mutlak, dan kini saatnya Intan melangkah ke bawah lampu terang untuk menutup babak tergelap dalam hidupnya.

*

*

*

Jangan lupa like, komen dan subscribe😊

1
Nanik Arifin
lanjut.....
Nanik Arifin
lanjut Thor....
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
Nanik Arifin
yakin aj Tan , kamu pasti bisa !
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya
Nanik Arifin
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!