Pernikahan Ardan dan Naresa dimulai dengan duka.
Namun, rumah tangga yang mereka bangun perlahan kembali diuji oleh cinta lama yang seharusnya telah menjadi masa lalu, serta cinta dari seseorang yang seharusnya tidak mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan di balkon
“Dinginnya,” desis Naresa begitu kedua kakinya tercelup ke dalam air kolam renang.
Udara malam yang sejuk menyentuh kulitnya, membuatnya sedikit bergidik. Lampu-lampu kecil di sekitar halaman rumah memantulkan cahaya kekuningan di permukaan kolam, sementara sebagian besar halaman telah tenggelam dalam keheningan.
“Baru kaki aja udah dingin, kan?” ujar Ardan yang masih berdiri di sampingnya.
Naresa tak menghiraukannya. Ia justru menggerak-gerakkan kedua kakinya di dalam air, membiarkan riak-riak kecil menjalar ke permukaan kolam yang tenang.
“Duduk, dong.” Naresa kemudian meraih pergelangan tangan Ardan dan menariknya pelan.
“Bolehkah?”
“Duduk, Kak.”
Ardan terkekeh pelan sebelum akhirnya menurut. Ia duduk di samping Naresa, kemudian ikut mencelupkan kedua kakinya ke dalam air. Bahu mereka nyaris bersentuhan. Untuk beberapa saat, Ardan hanya memperhatikan istrinya yang tampak begitu menikmati hal sederhana itu. Naresa terus memainkan kakinya di dalam air, sesekali membuat percikan kecil yang memantulkan cahaya lampu halaman.
Senyum tipis muncul di wajah Ardan. Naresa terlihat begitu tenang. Entah karena udara malam, air kolam, atau sekadar karena mereka sedang duduk berdua seperti ini, Ardan tidak tahu. Perempuan itu memang sering kali menemukan kebahagiaan dari hal-hal sederhana.
“Kayaknya seneng banget, ya?” tanyanya.
“Nggak tahu,” Naresa hanya bahu santai.
“Kok nggak tahu terus sih?”
Naresa akhirnya ikut menoleh kepadanya “Aku emang nggak tahu, Kak.”
Ia memang tidak tahu. Ia hanya merasa nyaman. Merasa ringan. Merasa ingin duduk di sana sedikit lebih lama bersama Ardan tanpa perlu melakukan apa pun. Tidak ada alasan khusus yang bisa ia berikan, dan rasanya pun tidak perlu ada.
Ardan mungkin selalu membutuhkan penjelasan untuk segala sesuatu, tetapi perasaan Naresa tidak selalu datang dengan alasan yang bisa ia uraikan. Kadang-kadang, ia hanya ingin merasakannya.
“Temenin aku aja, ya, Kak.” Katanya kemudian, disertai senyuman.
Ardan menatapnya selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk. “Iya.”
Setalah itu, percakapan mereka berhenti. Keduanya hanya duduk berdampingan di tepi kolam, membiarkan kaki mereka terendam air sementara malam berjalan perlahan. Dari kejauhan terdengar suara serangga yang samar, bercampur dengan gemericik air yang terus bergerak setiap kali Naresa mengayunkan kakinya. Sesekali angin malam melewati halaman, menggerakkan ujung rambut Naresa yang tergerai di bahunya.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang sama sekali tidak terasa canggung.
Sampai tiba-tiba Naresa menarik napas.
Byur!
Ardan tersentak ketika tubuh istrinya menghilang begitu saja ke dalam kolam.
“Eh?”
Ardan kaget bukan main begitu melihat Naresa menceburkan dirinya ke kolam.
Ia segera mencondongkan tubuh, menatap permukaan air yang sempat bergolak.
“Sayang?”
Beberapa detik kemudian, kepala Naresa muncul ke permukaan. Rambutnya basah kuyup, menempel di sisi wajah dan lehernya. Ia mengusap wajah dengan kedua tangan, lalu menarik napas panjang karena dinginnya air yang ternyata jauh lebih menggigit ketika seluruh tubuhnya terendam.
“Dinginnya~” keluhnya, tetapi sudut bibirnya justru terangkat. “Ayo dong turun,” kata Naresa lagi. Ia berdiri di hadapan Ardan yang masih duduk di tepi kolam. Kedua tangannya berpegangan pada sisi ubin di kanan-kiri tubuh suaminya, sementara air kolam yang setinggi pinggang membuat tubuhnya terasa jauh lebih ringan.
“Kata kamu tadi nggak boleh?”
“Di-cancel,” Naresa menyeringai tanpa sedikitpun rasa bersalah.
“Yeuuu, bisa gitu, ya? Di-cancel segala?” Ardan terkekeh sambil merapikan rambut basah Naresa yang menempel di sisi wajahnya. “Buka baju nggak nih aku?"
“Suka-suka Kak Ardan, lah. Cepetan, dong. Aku mau nunjukkin keahlian berenang aku yang baru les waktu umur 26 tahun.”
Ardan mengangkat alis, seolah masih meragukan keahlian yang hendak dipamerkan istrinya itu. Namun, melihat wajah Naresa yang begitu antusias, ia akhirnya membuka kaus yang masih dikenakannya. Hingga…
Byur!
Naresa refleks memalingkan wajah ketika percikan air menyambutnya. Ya meskipun percuma saja air itu mengenai seluruh tubuhnya.
Malam itu pun berubah menjadi permainan kecil yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kemampuan berenang. Mereka saling mengejar dari saru sisi kolam ke sisi lainnya, Naresa sesekali memamerkan gaya berenang yang menurutnya sudah sangat bagus, sementara Ardan hanya bisa menahan tawa melihat istrinya begitu percaya diri dengan gerakan yang masih jauh dari sempurna.
Setelah beberapa waktu, keduanya akhirnya berhenti di sisi kolam dengan napas yang mulai terengah-engah. Rambut Naresa sepenuhnya basah dan menempel di leher serta bahunya. Air menetes dari ujung rambut Ardan melewati pelipis hingga rahangnya, sementara dada mereka naik turun setelah terlalu lama bermain di dalam air.
Naresa menyandarkan punggungnya pada pinggiran kolam. Ardan berdiri tepat di hadapannya, kedua tangannya bertumpu pada sisi kolam di samping tubuh Naresa.
Tatapannya membuat Naresa mengerutkan kening. “Kenapa?”
Ardan tidak segera menjawab. Matanya justru menyusuri wajah istrinya beberapa saat sebelum sudut bibirnya terangkat.
“Cantik.”
Naresa berkedip, lalu mengangguk-angguk seolah baru saja menerima sebuah fakta yang sudah lama ia ketahui.
“Iya, aku memang cantik.” Senyum percaya diri muncul di wajahnya
Ardan tertawa kecil mendengar jawabannya. Tangannya kemudian terangkat, menyentuh pipi Naresa yang terasa dingin akibat air kolam. Ibu jarinya mengusapnya perlahan, menyingkirkan beberapa helai rambut yang masih melekat di sana.
Naresa terdiam. Tatapan mereka bertemu dalam jarak yang semakin dekat. Tidak ada lagi suara tawa ataupun percakapan. Hanya suara air yang bergerak pelan di sekitar tubuh mereka dan napas yang masih belum sepenuhnya teratur.
Ardan menundukkan wajahnya. Bibirnya menyentuh sisi leher Naresa dengan lembut. Awalnya hanya sebuah kecupan singkat, tetapi ketika Naresa tetap diam dalam pelukannya, ciuman itu kembali jatuh di tempat yang sama, kali ini lebih lama. Bibirnya bergerak perlahan di kulit Naresa yang masih dingin, membuat perempuan itu tanpa sadar mencengkeram kedua bahu suaminya.
“Akh…” ringisan kecil lolos dari bibir Naresa ketika Ardan menggigit kulit lehernya.
Ia sedikit tersentak, tetapi tidak benar-benar mendorongnya. Justru tubuhnya semakin bersandar pada dinding kolam ketika Ardan kembali mengecup bekas gigitan itu, seolah hendak menghapus rasa nyeri yang baru saja diberikannya.
Naresa mengembuskan napas panjang. Matanya sempat terpejam, menikmati keintiman sebagai sepasang suami istri.
Namun beberapa detik kemudian, entah mengapa, matanya terbuka.
Pandangannya bergerak melewati bahu Ardan.
Dan berhenti.
Di atas balkon lantai dua rumah mereka, seseorang berdiri di balik pagar.
Kale. Adik iparnya itu berdiri bertelanjang dada dengan sebatang rokok di antara jarinya. Asap tipis mengepul dari ujung rokok sebelum perlahan lenyap diterpa angin malam.
Naresa membeku.
Kale sedang menatap ke arah mereka. Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada ekspresi yang bisa Naresa baca dari wajah Kale. Ia hanya berdiri di sana, diam, dengan satu tangan bertumpu pada pagar balkon dan matanya tertuju tepat kepada Naresa.
Beberapa detik terasa jauh lebih panjang daripada seharusnya.
Naresa bahkan tidak sadar bahwa Ardan telah kembali mengangkat wajahnya sampai ia merasakan tatapan suaminya.
“Sayang?”
Naresa buru-buru mengalihkan pandangan kepada Ardan.
Namun ketika Ardan kembali mendekat, bibirnya menyentuh bibir Naresa dan ciuman mereka kembali berlanjut. Kali ini lebih dalam. Tangan Ardan berpindah ke pinggangnya, menarik tubuh Naresa lebih dekat hingga hampir tidak menyisakan jarak di antara mereka.
Naresa memejamkan mata dan membalas ciuman itu. Bibir mereka bergerak perlahan sebelum ciuman tersebut berubah semakin intens. Ardan menggigit lembut bibir bawahnya, membuat Naresa spontan membuka bibir dan menarik napas di sela-sela ciuman.
Untuk beberapa saat, Naresa kembali melupakan apa pun di sekelilingnya.
Sampai sebuah perasaan tidak nyaman menyusup tanpa diundang.
Ia membuka mata. Dan lagi-lagi melihat ke arah balkon.
Kale masih di sana. Masih menatap mereka.
Napas Naresa mendadak terasa berbeda. Tubuhnya menggigil, terlalu kali ini ia tidak tahu apakah karena dinginnya air atau sesuatu yang lain.
Ia segera meletakkan kedua tangannya di dada Ardan dan mendorong tubuh suaminya menjauh.
Ardan berhenti. Napasnya terdengar berat ketika ia mengangkat wajah dan menatap Naresa. Ada sisi hasrat yang belum sepenuhnya hilang dari sorot matanya.
“Dingin, Kak,” ujar Naresa pelan.
Ardan memperhatikan wajahnya beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.
“Ayo, naik.”
Suara Ardan terdengar serak, membuat bulu kuduk Naresa sedikit meremang. Ia tidak tahu apakah itu akibat suara suaminya atau udara malam yang semakin dingin.
Ardan naik lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya. Naresa menyambutnya dan membiarkan Ardan membantunya keluar dari kolam.
Pakaian keduanya sudah bergenang air. Ardan kemudian merangkul pinggang Naresa, membawanya masuk ke dalam rumah yang jauh lebih hangat.
Namun sebelum melewati pintu, Naresa sempat mendongak sekali lagi.
Balkon itu masih terlihat dari tempatnya berdiri.
Kale masih di sana. Rokoknya masih menyala. Dan tatapannya masih tertuju kepada mereka.
Naresa segera mengalihkan pandangan. Entah kenapa, malam yang beberapa menit lalu terasa begitu menyenangkan kini meninggalkan rasa tidak nyaman yang sulit ia singkirkan.