Indonesia
NovelToon NovelToon
Brondong Konglomerat Sang Janda

Brondong Konglomerat Sang Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Janda / Mandul
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22

Pindah ke Sky Palace

"Kita pindah."

Nathan menyampaikan keputusan itu setelah Karina berhenti dua kali saat menaiki tangga.

"Aku baru tinggal di sini sebulan."

"Dan hampir jatuh dua kali. Ko Steven sudah menemukan tempat yang ada lift."

Seminggu kemudian, Sam menunggu mereka di lobi Sky Palace Residence, sebuah menara kaca di jantung SCBD. Seragam petugas, aroma bunga segar, dan lantai marmer membuat Karina merasa salah alamat.

Lift pribadi membawa mereka ke lantai enam belas. Pintu terbuka langsung ke ruang tamu yang lebih luas daripada rumah makan orang tuanya. Jendela setinggi dua lantai memperlihatkan gedung Jakarta. Di lantai atas ada empat kamar, dua ruang calon bayi, ruang kerja, kolam hangat, dan rumah kaca kecil.

Dapur memiliki dua lemari pendingin dan meja batu sepanjang ruang makan apartemen lama. Kamar utama terhubung dengan ruang pakaian yang bahkan masih kosong. Di sampingnya ada kamar kecil untuk pendamping bayi agar bantuan malam tidak perlu melewati seluruh rumah.

Karina menyentuh pegangan tangga dalam unit. Nathan cepat menjelaskan bahwa lift internal sedang diperiksa dan kamar utama bisa diatur di lantai bawah sampai kandungan aman. Sam menunjukkan tombol panggilan petugas, kamera pintu, serta akses kendaraan langsung ke lobi tertutup.

Setiap detail menjawab satu risiko yang mereka alami di apartemen lama. Tidak ada enam lantai tanpa lift, lorong sempit, atau kendaraan yang harus menunggu jauh dari pintu.

"Ini bukan apartemen," kata Karina. "Ini hotel."

Nathan tersenyum. "Rumah kita."

Sam menyerahkan dokumen fasilitas dan biaya pengelolaan. Karina membaca angka bulanan lalu hampir tersedak.

"Biaya gedungnya tiga kali gajiku. Kembalikan saja ke Ko Steven."

"Tidak bisa," kata Sam. "Proses balik nama sudah selesai."

Dia menyerahkan sertifikat. Nama pemilik yang tercetak adalah Karina Wijaya.

"Ini salah."

"Tidak, Bu Karina. AJB dan administrasi pengalihan sudah ditinjau notaris. Ko Steven menyebutnya tempat aman untuk keponakan-keponakannya."

Karina menatap Nathan. "Kamu tahu?"

"Tahu belakangan."

"Aku tidak bisa menerima rumah semahal ini."

"Kamu tidak menerima dari orang asing."

"Tetap saja, aku tidak sanggup merawatnya."

Kecemasan naik begitu cepat sampai dadanya sesak. Dia terbiasa menghitung cicilan, membandingkan harga bahan makanan, dan menyimpan uang darurat. Rumah seluas ini terasa seperti pakaian yang terlalu mahal dan bisa ditarik kembali kapan saja.

Nathan memeluknya sebelum napasnya semakin pendek. "Aku yang cari nafkah. Kamu jaga diri dan anak-anak. Kalau langit runtuh, aku yang tahan."

"Kamu masih kuliah."

"Aku punya kontrak, investasi, dan dua tangan."

"Bagaimana kalau keluargamu berubah pikiran?"

Nathan menunjuk nama di sertifikat. "Ini peganganmu. Bukan pinjaman, bukan rumah singgah. Namamu tercatat."

Sam menambahkan bahwa seluruh pengalihan dapat diperiksa pengacara Karina. Tidak ada klausul tersembunyi. Biaya pengelolaan tahun pertama juga telah dibayar.

Karina berjalan perlahan ke ruang bayi. Dindingnya masih kosong, tetapi cahaya sore masuk lembut. Tiga ranjang kecil bisa diletakkan berjajar dekat jendela.

"Mereka bahkan belum lahir," bisiknya.

Nathan berdiri di belakang, kedua tangan melingkari pinggangnya tanpa menekan perut. "Makanya kita siapkan tempat pulang."

Pindahan dilakukan tanpa Karina mengangkat apa pun. Sam mengatur petugas, Nathan menandai kardus, dan Karina duduk sambil mengarahkan. Cangkir pasangan ditempatkan pertama di dapur. Tiga pasang kaus kaki disimpan di kamar bayi.

Sebelum meninggalkan apartemen lama, Karina berdiri di ambang pintu dan memandang ruang kosong. Di sana dia menangis setelah mengakhiri sepuluh tahun pernikahan. Di sana Nathan mengejarnya dengan empat nomor telepon, memasak mi terlalu pedas, dan menggendongnya turun enam lantai saat pendarahan.

"Sedih?" tanya Nathan.

"Sedikit. Tempat ini jelek, tapi aku belajar hidup sendiri di sini."

"Kamu tetap bisa hidup sendiri. Sekarang kamu memilih tidak sendirian."

Karina mengunci pintu dan menyerahkan kunci kepada pemilik. Kalimat Nathan ikut bersamanya masuk ke lift barang.

Di Sky Palace, petugas meletakkan bingkai hasil USG pada meja ruang keluarga. Nathan memasang tiga buku catatan di rak dan menempelkan jadwal obat di kulkas baru. Kemewahan rumah itu baru terasa nyata ketika benda-benda kecil dari hidup mereka mengisinya.

Sam menyerahkan daftar nomor darurat, kontak pengelola, dan salinan pembayaran. Karina meminta akses langsung ke semua tagihan agar tetap bisa mengawasi biaya. Nathan tidak mengejek kecemasannya. Dia duduk bersama Karina, membuka setiap pos, dan berjanji membahas semua pengeluaran besar.

"Aku tidak mau menjadi tamu di rumah atas namaku sendiri," kata Karina.

"Kalau begitu atur rumah ini sesukamu."

Karina menunjuk patung abstrak mahal di sudut. "Yang itu keluar."

Nathan langsung meminta petugas memindahkannya. Karina tertawa, dan ruang besar itu akhirnya terdengar seperti rumah.

Malamnya, mereka duduk di rumah kaca. Lampu kota berkilau di bawah, jauh berbeda dari atap seng yang terlihat dari apartemen lama.

"Aku takut terbiasa," kata Karina.

"Dengan rumah besar?"

"Dengan semua yang kamu berikan."

Nathan memegang dagunya. "Kamu harus terbiasa menerima tanpa merasa berutang."

Ponsel Karina berdering. Kevin menelepon melalui video. Dia melihat latar kaca dan lampu gedung.

"Cici di mana?"

"Tempat baru."

"Sama siapa?"

Nathan lewat di belakang membawa bantal. Kevin menangkap bayangannya.

"Itu Ko Nathan?" Suara Kevin naik penuh kecurigaan. "Cici, jawab jujur sekarang, kamu pacaran sama Ko Nathan, ya?"

Karina memandang Nathan, sadar masa bersembunyi mereka baru saja habis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!