Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.
Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.
Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"
Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.
Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....
Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24. Hujan Pertama dan Janji di Atas Panggung
..."Ketika air datang dan memaksa kami memilih antara satu nyawa dan seribu karung beras, kami memilih berlari ke dua arah, karena seorang penjaga tidak meninggalkan siapa pun di belakang."...
Hujan pertama musim baru turun di Desa Majia pada dini hari, bukan dengan suara rintik-rintik yang lembut seperti di Gunung Emei, melainkan dengan suara debur berat yang menghantam atap bambu dan dinding lumpur dan membuat seluruh bukit seperti dipukul oleh ribuan tangan yang marah, sehingga ketika Jing yue terbangun dari tidurnya yang hanya tiga jam, yang dia dengar pertama kali bukanlah ayam berkokok melainkan suara air yang sudah mulai mengalir di selokan dan suara orang-orang berteriak dari arah sungai bahwa air sudah naik satu jengkal sejak tengah malam.
Jing yue keluar dari tenda dengan jubah basah kuyup dalam waktu tiga langkah, kakinya langsung tenggelam ke lumpur sampai mata kaki, dan dia melihat bahwa langit masih gelap gulita tapi obor-obor sudah dinyalakan di setiap sudut karena Tetua Pertama dan para pemuda sudah berjaga sejak subuh untuk mengawasi ketinggian air di Sungai Min yang warnanya sudah berubah dari coklat jernih menjadi coklat keruh yang membawa ranting dan bangkai.
Pembangunan rumah panggung yang baru berjalan dua minggu langsung diuji, karena tiang-tiang setinggi dua tombak yang mereka tancapkan dengan susah payah kini berdiri di tengah genangan yang terus naik, dan anak-anak yang biasanya berlari membawa paku kini digendong oleh ibu-ibu menuju tempat yang lebih tinggi sambil menutup kepala dengan tempayan.
Jing yue memanggil semua Tetua dan membagi tugas dengan cepat, sebagian menjaga tanggul darurat yang mereka buat dari karung pasir, sebagian mengevakuasi warga tua ke rumah panggung yang sudah jadi, sebagian lagi mengamankan persediaan beras dan obat ke lumbung baru yang lantainya sudah ditinggikan, karena pelajaran dari banjir pertama adalah bahwa makanan yang hilang berarti orang akan mati meskipun airnya sudah surut.
Di tengah kesibukan itu, datang seorang pemuda dari arah hilir dengan napas terengah dan tubuh gemetar kedinginan, dan dia berteriak bahwa di ujung desa, di rumah bambu tua milik wanita bernama Mei dan lima anak nya, air sudah masuk sampai ke lutut dan atapnya bocor di mana-mana karena tiangnya lapuk dan tidak sempat diganti.
Mei adalah orang pertama yang diberi rumah di Qinghe, dan sekarang dia terjebak di rumah lamanya karena dia menolak pindah dengan alasan bahwa dia tidak mau merepotkan dan bahwa rumah itu sudah cukup untuk dia mati, dan sekarang lima anak nya yang paling kecil baru berusia tiga tahun menangis di atas dipan yang kakinya sudah mulai terendam.
Jing yue tidak menunggu perintah, dia langsung mengambil tali, mengikatnya di pinggang, dan berlari menembus hujan bersama dua murid, sementara Lei Feng yang entah sejak kapan kembali dari Gunung Yandang menyusul dari belakang sambil membawa papan kayu untuk dijadikan jembatan darurat.
Jalan ke rumah mei harus menyeberangi dua gang yang sudah menjadi sungai kecil, dan setiap langkah terasa seperti berjalan di atas belut karena lumpur menarik kaki ke bawah, dan di beberapa titik air sudah setinggi pinggang sehingga Jing yue harus mengangkat anak yang mereka temui di jalan dan menggendongnya di punggung.
Ketika mereka sampai, rumah itu miring, air masuk dari celah-celah dinding, dan Mei duduk di pojok memeluk dua anak nya sambil menyanyikan lagu pengantar tidur dengan suara yang pecah karena takut, sementara tiga anak nya berdiri di atas meja dengan air sudah mencapai pergelangan kaki mereka.
Jing yue berteriak agar semua keluar sekarang juga, tapi Mei menggeleng dan berkata bahwa dia sudah tua, biarlah dia mati di rumahnya sendiri, dan lebih baik beras di lumbung desa diselamatkan daripada dipakai untuk menyelamatkan orang tua yang tidak berguna.
Mendengar itu, dada Jing yue seperti ditusuk, karena dia tahu bahwa di saat seperti ini orang tua selalu berpikir seperti itu, dan dia juga tahu bahwa di saat yang sama di lumbung desa ada dua puluh karung beras terakhir yang kalau terkena air maka lima desa akan kelaparan selama sebulan.
Dia tidak punya waktu untuk berdebat, dia menggendong Mei yang meronta, memerintahkan muridnya menggendong anak-anak satu per satu, dan mereka berlari keluar tepat ketika salah satu tiang rumah itu patah dan atapnya ambruk dengan suara yang mengerikan.
Mereka baru berjalan setengah jalan kembali ke tempat yang lebih tinggi ketika utusan dari lumbung datang berlari dengan wajah panik dan berteriak bahwa tanggul di sisi timur jebol dan air bah sedang menuju ke arah lumbung, dan kalau tidak ada yang menahan maka dua puluh karung beras itu akan hanyut dalam waktu setengah teh.
Di titik itulah Jing yue harus memilih, antara terus mengantar Mei dan anak-anak ke tempat aman yang masih jauh, atau berbelok ke arah lumbung untuk memimpin orang-orang menahan air dan menyelamatkan makanan untuk ratusan orang.
Tangannya masih memeluk tubuh Mei yang kurus dan menggigil, di punggungnya ada anak berusia tiga tahun yang menangis memanggil ibu nya, dan di telinganya ada suara air yang semakin deras dan suara orang-orang di lumbung yang berteriak minta tolong.
Lei Feng menatapnya dan berkata pelan bahwa dia akan mengantar Mei, dan menyuruh Jing yue pergi ke lumbung karena di sana butuh orang yang bisa mengambil keputusan, dan Jing yue mengangguk, menyerahkan Mei ke pelukan Lei Feng, mencium kening anak kecil itu, lalu berbalik dan berlari ke arah yang berlawanan dengan air yang menghantam lututnya.
Di lumbung, situasinya kacau, karung-karung sudah mulai mengapung, beberapa pemuda mencoba membuat barikade dari papan tapi papan itu hanyut, dan Tetua Kedua berteriak bahwa mereka tidak bisa melawan air.
Jing yue tidak berteriak, dia memerintahkan semua orang membuat rantai manusia, mengikatkan tali di pinggang satu sama lain, lalu mereka masuk ke air dan mulai memindahkan karung satu per satu ke atas panggung darurat yang mereka buat dari pintu dan meja, dan setiap kali ada ombak besar mereka harus menahan napas dan berpegangan agar tidak terseret.
Selama satu jam mereka bekerja di dalam air dingin yang membuat bibir biru dan tangan kaku, dan ketika karung terakhir berhasil diangkat, air sudah setinggi dada dan lumbung itu ambruk dengan suara gemuruh.
Jing yue merangkak keluar, terbatuk, dan jatuh duduk di tanah sambil memuntahkan air, lalu dia menoleh dan melihat bahwa Mei dan semua anak nya sudah selamat di atas rumah panggung, dibungkus selimut dan diberi teh jahe oleh Bai Ling.
Malam itu hujan tidak berhenti, tapi tidak ada yang mati, tidak ada yang kelaparan, dan di atas rumah panggung orang-orang duduk berdesakan sambil berbagi nasi hangat dari dapur darurat yang didirikan di lantai dua.
Mei menggenggam tangan Jing yue dan menangis, berkata bahwa dia bodoh karena hampir membuat Jing yue memilih antara dia dan beras desa, dan Jing yue hanya menjawab bahwa tidak ada pilihan seperti itu, karena menyelamatkan satu nyawa dan menyelamatkan banyak nyawa adalah pekerjaan yang sama.
Lei Feng duduk di sudut, mengeringkan pedangnya, lalu dia berkata bahwa ini pertama kalinya dia melihat seseorang rela berlari ke arah bahaya setelah baru saja keluar dari bahaya, dan Jing yue menjawab bahwa seorang Penjaga Gerbang tidak pernah selesai di satu pintu.
Hujan terus turun sampai fajar, dan ketika langit mulai terang, air sudah berhenti naik dan perlahan surut, meninggalkan lumpur baru tapi juga meninggalkan bukti bahwa rumah panggung berhasil menahan.
Pagi itu, warga berkumpul di lapangan yang becek, dan Paman Chen berkata bahwa mereka harus berterima kasih kepada Emei karena kalau bukan karena keputusan Jing yue semalam maka mereka akan kehilangan dua-duanya, orang dan makanan.
Jing yue tidak bicara banyak, dia hanya meminta semua orang membantu membersihkan lumpur, memperbaiki tanggul, dan memeriksa apakah ada rumah yang retak, karena dia tahu bahwa hujan pertama hanyalah pembuka dan hujan besar masih akan datang.
Siang harinya, dia duduk di bawah atap rumah panggung, menulis di bukunya dengan tangan yang masih gemetar karena dingin, dan dia menulis bahwa hari ini dia belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang memilih siapa yang lebih penting, tapi tentang memastikan tidak ada yang tertinggal di kedua sisi pilihan.
Dia juga menulis bahwa air bisa merobohkan rumah, tapi tidak bisa merobohkan janji, dan janji Emei kepada desa ini adalah bahwa selama satu musim mereka tidak akan dibiarkan sendirian.
Sebelum tidur, dia berjalan ke tepi sungai, melihat air yang kini mulai tenang, dan dia berbisik bahwa dia tahu badai belum selesai, tapi dia juga tahu bahwa mereka sekarang punya rumah yang lebih tinggi, tangan yang lebih kuat, dan hati yang sudah teruji.
Di kejauhan terdengar guntur, tapi kali ini tidak ada yang lari, karena semua orang sudah tahu ke mana harus pergi, dan di dalam dada Jing yue ada rasa lelah yang dalam tapi juga ada rasa tenang yang aneh, karena untuk pertama kalinya dia merasa bahwa dia bukan hanya murid yang dikirim, tapi benar-benar menjadi bagian dari tanah ini.
Dia menutup bukunya, menarik napas, dan kembali ke tenda, karena besok pagi dia harus menghitung ulang persediaan, memperbaiki tanggul, dan mempersiapkan hari ketiga puluh dua, karena musim belum selesai dan seorang penjaga tidak boleh tidur terlalu nyenyak ketika langit masih mendung.