Mati karena diabaikan oleh keluarganya, mati karena diabaikan bahkan dikhianati oleh sang suami, lelaki yang paling dicintai, mati akibat fitnah, kebusukan dan kelicikan saudara tiri dan ibu tirinya.
Mati sebagai orang hukuman yang benar-benar hina, mati di ujung pedang tajam sang algojo.
Tapi...
Dia punya kesempatan kedua untuk hidup, punya kesempatan untuk mengubah takdir buruknya di masa lalu.
Maka kesempatan kedua itu dia manfaatkan sebaik-baiknya untuk membalas dendam terhadap semua orang yang telah membuatnya hancur dan sakit hati....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikri Sa'ati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3. Berhenti Mengejar Cinta Mereka
Sementara itu Liu Xui masih di tempatnya, duduk di sisi depan tempat tidur, di sebelah majikan mudanya. Namun saat ini hatinya begitu resah dan khawatir melihat perubahan aneh pada Ling Qingxue.
Bukan karena kesedihan dan kekecewaan sang majikan muda alami yang membuat Liu Xui merasa khawatir, dia tidak melihat dua hal itu pada wajah Ling Qingxue.
Bahkan wajah sang majikan muda tampak begitu datar, begitu dingin membekukan. Tatapan matanya begitu tajam, begitu dingin, penuh kobaran dendam dan amarah. Membuat Liu Xui merasa khawatir sekaligus takut.
Apakah Shao Jie-nya itu sudah teramat kesal dengan sikap keluarga majikan mudanya itu karena tidak kunjung pula menengok keadaan dirinya?
Biasanya, saat Ling Qingxue bangun tidur, yang pertama kali dilakukan adalah menanyakan kepada pelayannya, apakah Jenderal Ling, ayahnya, kakak pertamanya dan kakak keduanya datang menengoknya?
Apakah mereka mengkhawatirkannya?
Namun yang Liu Xui lihat kali ini perangai Ling Qingxue, shao jie-nya amat berbeda, wajahnya begitu dingin, tatapannya amat membekukan.
Apakah Ling Qingxue sudah tidak perduli lagi dengan mereka? Membalas ketidak pedulian mereka terhadapnya....
Untuk beberapa saat lamanya Liu Xui hanya mendiamkan saja perubahan aneh yang terjadi pada Ling Qingxue. Namun lama kelamaan Liu Xui tidak tahan akan hal itu.
"Shao Jie..., a-ada apa?" tanyanya sedikit terbata dengan sikap hati-hati dan takut-takut. "Anda... baik-baik saja?"
Seketika Ling Qingxue sedikit tersentak seolah baru tersadar akan sesuatu. Lalu tak lama, air mukanya langsung berubah, kalem dan tenang.
"Tidak apa-apa, Liu Xui," sahut Ling Qingxue lembut seraya memandang pelayannya sebentar. "Aku baik-baik saja."
"Shao Jie, aku harap Anda tetap bersabar," kata Liu Xiu membesarkan hati majikannya. "Mungkin suatu saat Ling Lao Ye, Da Shao Ye, Er Shao Ye akan datang ke mari menengok keadaan Anda...."
"Anda jangan berkecil hati, Shao Jie...."
"Aku tidak perduli lagi," ucap Ling Qingxue cukup pelan, tapi tenang, tanpa ada emosi atau tekanan sama sekali.
"Shao... Jie..., maksud Anda?" Liu Xui terkejut tidak mengerti dengan ucapan Ling Qingxue barusan.
Apa maksudnya tidak perduli lagi?!
"Aku tidak perduli lagi dengan ayah, Da Gege, Er Gege," kata Ling Qingxue tetap tenang, tapi tetap terselip keperihan dari nada ucapan itu. "Aku tidak perduli lagi dengan semua orang yang membuat hatiku sakit...."
"Ah...," Liu Xui segera membekap mulutnya karena kaget.
Baru kali ini dia mendengar curhatan majikan mudanya itu yang terpendam sekian lamanya di dalam hatinya.
Apakah Ling Qingxue sudah pada titik keputus asaan mengejar cinta dan perhatian dari orang-orang yang dia sayangi selama ini?
"Selama ini aku tidak pernah bosan mengejar cinta dan kasih sayang mereka kepadaku," ucap Ling Qingxue lagi setengah mendesah sambil menatap ke luar jendela, "mecari perhatian mereka agar mereka melihatku, menerimaku sebagai keluarga...."
Meski tetap tenang dalam berbicara, tapi kali ini kepedihan dan duka semakin jelas dari nada ucapannya. Namun Ling Qingxue tetap berusaha menekan kelemahannya itu.
"Tapi apa yang kudapat dari usahaku itu, Liu Xui...?"
Liu Xui masih terdiam menatap majikannya. Sepasang mata beningnya bukan lagi berkaca-kaca, bahkan telah mengalirkan air mata yang amat pilu penuh rasa haru.
"Ayahku..., bukan saja tidak mencintaiku, bahkan tidak pernah menganggap aku sebagai putrinya," lanjut Ling Qingxue lagi, sedikit bergetar suaranya karena menekan perasaannya. "Kedua gege-ku terus mengabaikan aku, terus menganggap aku sebagai pembunuh Mu qin...."
"Sepertinya aku telah membuang waktuku selama ini dengan sia-sia, Liu Xui...," desahnya masih berusaha menjaga ketenangannya agar tidak larut dalam kesedihan yang tak berarti.
Liu Xui tertunduk pilu, sementara air matanya terus mengalir. Sungguh... hatinya ikut merasakan kesedihan dan keperihan yang dialami majikannya itu.
Sebagai pelayan setia shao jie-nya, Liu Xui amat tahu jika selama ini Ling Qingxue selalu berusaha --tanpa kenal lelah-- mendapatkan perhatian dan kasih sayang Jenderal Ling Guojin dan kedua gege-nya; Jenderal Muda Ling Yujian dan Ling Yuchen.
Namun, seperti ucapan Ling Qingxue, usaha yang tulus itu ternyata sia-sia belaka, sama sekali tidak dianggap.
Demi mendapat perhatian dan pengakuan dari orang-orang yang dicintai itu, Ling Qingxue rela belajar apapun, termasuk belajar bela diri. Namun Ling Qingxue hanya mendapat cemoohan dari mereka.
Tapi Ling Qingxue tetap tidak putus asa....
Mencoba dan mencoba lagi.
★☆★☆
Dia pernah menghidangkan teh dan kue --hasil buatannya sendiri--, namun mereka tetap tidak menghargai jerih payahnya itu, bahkan menganggapnya sebagai perusuh.
Mencoba dan mencoba lagi, namun Ling Qingxue tetap tidak mendapat apa yang dia inginkan. Hanya memperoleh pengabaian dan kesia-siaan.
Berbeda halnya perlakukan ayahnya dan kedua gege-nya terhadap Ling Yaofei, saudara tirinya dari wanita ular satunya yang bernama Su Yinfei --ibu kandung Ling Yaofei--.
Adik tirinya itu selalu mendapat perhatian dan kasih sayang dari ayah dan kedua gege-nya, selalu dimanja. Bahkan Ling Yaofei, sedikit saja terkena sakit, meski itu kecil, mereka amat khawatir bukan main. Dan dengan lebainya memanggil tabib istana.
Sungguh perlakukan yang tidak adil bukan?
Namun sekarang, di kehidupan Ling Qingxue yang ke dua, apakah dia memperdulikan lagi hal itu?
"Shao Jie, Anda...," Liu Xui masih menatap nona mudanya dengan lekat.
Seketika hatinya sedikit kaget. Kini dia tidak lagi melihat bias atau rona kesedihan pada diri Ling Qingxue. Bahkan kini dia melihat sebuah tekad dan semangat hidup yang baru pada majikan mudanya.
"Sekarang... aku akan menjalani hidupku sendiri sesuai keinginanku," kata Ling Qingxue dengan tenang tapi mantap, penuh tekad dan semangat. "Tanpa harus mengemis kasih sayang kepada siapa pun, termasuk keluargaku sendiri."
"Yang lebih penting lagi, aku tidak akan mengemis cinta kepada Pangeran Zheng Liang...."
"Shao Jie, memang seharusnya Anda melakukan hal itu," kata Liu Xui mendukung sepenuhnya. "Hiduplah sesuai keinginan Anda, tanpa harus bergantung pada orang lain..., tanpa harus mengejar cinta dan kasih sayang orang lain...."
Ling Qingxue beralih menatap Liu Xui yang masih duduk di sampingnya, begitu lembut penuh persahabatan dan kasih sayang. Lalu dia berkata.
"Liu Xui, apakah kamu bersedia menjalani hidup bersamaku, sama-sama berjuang baik suka dan duka?"
Liu Xui langsung bangkit dengan cepat. Lalu berlutut di hadapan majikan mudanya dengan penuh kepatuhan dan ketundukan. Lalu menyatakan kesetiaannya dengan sepenuh hati.
"Shao Jie, Anda tidak perlu ragu, pelayanmu yang bodoh dan rendah ini akan selalu bersama Anda, baik suka maupun duka...."
"Aku bersumpah, aku, Liu Xui, akan selalu setia kepada Anda tanpa kenal batas, hingga akhir hayatku...."
Mendengar sumpah setia pelayannya itu, betapa Ling Qingxue amat terharu sekaligus senang bukan main. Liu Xui memang pelayannya yang amat setia, dia tidak meragukan akan hal itu.
Dia segera mengangkat kedua pinggir pundak Liu Xui, menyuruhnya lekas berdiri. Lalu mendudukkan kembali pelayan berwajah manis itu di sisinya.
"Liu Xui, kamu tidak usah bersumpah segala," kata Ling Qingxue penuh haru seraya menatap lembut pelayannya itu. "Cukup kamu menyatakan kesetiaanmu padaku, itu sudah membuatku merasa puas."
"Tapi aku memang bersungguh-sungguh menyatakan kesetiaan kepada Anda," Liu Xui juga menatap majikannya dengan penuh haru. "Anda percaya ucapanku 'kan, Shao Jie?"
"Aku percaya kamu pasti akan setia kepadaku, Liu Xui," kata Ling Qingxue seraya tersenyum penuh suka cita.
★☆★☆★
kumpulkan kekuatan byk2 ,,
biar gx perlu pake byk tenaga buat ngebalas perbuatan mereka ,,
dan buat mereka menyesal ,,