Indonesia
NovelToon NovelToon
Takut Sial, Mau Tunangan

Takut Sial, Mau Tunangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Idola sekolah
Popularitas:275
Nilai: 5
Nama Author: whimsy quinn

menikahi musuh? itu biasa.
menikahi sahabat masa kecil karena takut sial? itu baru bencana.

Baffin yang dingin dan serba rapi sangat membenci segala bentuk kekacauan. Sialnya, hidupnya selalu diacak-acak oleh Silva, sahabat masa kecilnya yang super ceroboh dan pembawa bencana.

Tepat di hari ulang tahun mereka yang ke-17, keduanya mendapat kejutan tak terduga: mereka dipaksa bertunangan karena sebuah mitos kuno. Konon, karena lahir di hari dan jam yang sama, menolak perjodohan ini akan mendatangkan kutukan kesialan seumur hidup.

Baffin tentu saja menolak mentah-mentah takhayul itu. Namun, Silva yang ketakutan setengah mati justru bertekad melakukan segala cara agar cincin pertunangan itu terpasang di jari Baffin—meski ia harus memecahkan lebih banyak piring dan terjungkir dari kursi demi mengejarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ice Cream, Festival Budaya Dan Pelukan Hangat

"Apin... Aku mau es krim," pinta Silva begitu mereka melangkah masuk ke dalam lobi mall yang sejuk.

Baffin menghentikan langkah panjangnya. Ia melirik ke arah yang ditunjuk jemari lentik gadis itu—sebuah kedai es krim dengan dekorasi yang manis.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Baffin mengubah arah langkahnya menuju ke sana.

Silva tersenyum lebar, matanya berbinar senang. Begitu tiba di depan meja kasir, Silva melepaskan genggaman tangannya dari lengan Baffin. "Es krim sundae cokelat satu, ya, Mbak," ujar gadis itu sambil sibuk merogoh isi tas kecilnya.

"Aku saja yang bayar," potong Baffin singkat, langsung menyodorkan kartu debitnya ke arah kasir.

Mendengar itu, Silva langsung menutup kembali tasnya tanpa protes. Ia mengambil cup es krim yang disodorkan pelayan, lalu mengambil sendok plastiknya.

"Ayo," ajak Baffin setelah urusan pembayaran selesai. Silva mengangguk patuh dan berjalan di sebelah Baffin.

Namun, langkah Silva sangat lambat karena fokusnya terbagi untuk menikmati setiap suapan es krim dingin di tangannya.

Baru berjalan beberapa meter, jarak mereka sudah merenggang jauh.

"Cilpa, ayo," panggil Baffin, menghentikan langkah dan menoleh ke belakang.

Silva tersenyum bersalah, lalu berlari kecil menghampiri Baffin hingga kembali ke sisi cowok itu. Tetapi, tabiat Silva tidak berubah. Beberapa menit kemudian, dia kembali tertinggal di belakang karena keasyikan menikmati es krimnya.

"Cilpa, ayo!" Kali ini panggilan Baffin terdengar lebih tegas dan dominan.Silva tersentak dan kembali berlari kecil menyusul tunangannya itu.

Sebenarnya, Baffin sangat ingin menggandeng tangan Silva agar gadis itu bisa berjalan cepat tanpa takut hilang di mall.

Namun, tangan kiri Silva penuh memegang cup es krim, dan tangan kanannya sibuk memegang sendok.

"Agak cepat jalannya. Aku ada jadwal latihan habis ini," ucap Baffin memberi tahu.

Silva mengangguk, berusaha melebarkan langkah kaki kecilnya demi menyamai langkah panjang Baffin.       Namun sialnya, beberapa saat kemudian mereka harus melewati koridor mall yang sedang sangat ramai. Di lantai dasar itu, rupanya sedang diadakan acara festival budaya—ada pertunjukan sekelompok gadis yang menari dengan kostum kembar yang meriah, lengkap dengan dentuman live music yang menggelegar.

Silva, yang tingkat fokusnya memang sangat rendah, seketika terpaku. Matanya langsung tersedot oleh warna-warni kostum penari dan alunan musik.

Tanpa sadar, kakinya melangkah berbelok, menyelinap, dan langsung bergabung ke tengah kerumunan penonton demi menonton pertunjukan tersebut.

Setelah beberapa puluh menit terhanyut dalam keseruan acara di depan matanya, kesadaran Silva mendadak kembali.

Ia tersentak. Bukankah harusnya sekarang ia sedang pergi membeli ponsel baru bersama Baffin?

Silva menoleh ke kanan dan ke kiri. Nihil. Di mana Baffin?Pikiran buruk yang selalu menghantuinya kini muncul kembali ke permukaan. Baffin tadi bilang ada latihan yang waktunya mepet.

Apakah Baffin akan meninggalkannya karena dia terlalu lambat?

     Wajah Silva seketika berubah pucat. Dengan kepanikan yang luar biasa, ia segera menerobos keluar dari kerumunan penonton.

Ia mulai berlarian kesana-kemari menyusuri lorong mall, menatap setiap wajah pria jangkung yang lewat dengan mata berkaca-kaca. Dalam kepanikannya, Silva berkali-kali menabrak bahu pengunjung lain tanpa sempat meminta maaf.

Di sisi lain mall, Baffin sedang dirundung kepanikan yang sama besarnya. Sialnya, setelah panggilan tegas yang kedua tadi, Baffin berjalan lurus ke depan tanpa menoleh lagi ke belakang.

Ia baru menyadari kehilangan Silva saat dirinya sudah tiba di depan toko ponsel tujuan mereka. Begitu menoleh, ruang di belakangnya kosong.

Baffin, yang biasanya berwajah datar, dingin, dan tenang, kini tampak seperti orang yang kehilangan arah.

Ia berlarian mengitari koridor mall dengan napas memburu. Setiap kali berpapasan dengan orang, ia akan mencegat mereka dan bertanya dengan suara bergetar, "Maaf, lihat gadis dengan baju putih rambut panjang poni depan yang memegang es krim?" Semua orang menggeleng.

Sementara itu, Silva yang tidak kunjung menemukan Baffin merasa dunianya runtuh. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya, membuat pandangannya kabur.

Karena pandangan yang buram dan kaki yang gemetar, Silva tidak sengaja menyenggol seorang anak batita yang baru belajar berjalan di depan sebuah gerai pakaian.

Bruk!

Anak kecil itu terduduk di lantai mall dan langsung menangis histeris. Suara tangisan itu seketika mencuri perhatian orang-orang di sekitar.

Dalam hitungan detik, sepasang orang tua muda langsung berlari menghampiri anaknya. Sang ibu segera menggendong bayinya, lalu menatap Silva dengan tatapan penuh amarah dan tidak suka.

"Kamu kalau jalan hati-hati dong! Punya mata enggak sih?!" semprot ibu muda itu dengan suara melengking.

"Ma-maaf, Tante... aku enggak sengaja," cicit Silva mematung, tubuhnya gemetar ketakutan.

"Enggak sengaja bagaimana? Anak saya sampai jatuh begini! Kalau ada yang luka atau memar bagaimana?" lanjut sang ibu, mengomeli Silva habis-habisan sambil memeriksa tubuh bayinya dengan sangat protektif, didampingi suaminya yang juga menatap Silva dengan pandangan menghakimi.

Setelah puas meluapkan kekesalannya dan memastikan anaknya tidak apa-apa, sepasang orang tua muda itu pergi meninggalkan Silva yang masih syok.

Setelah kepergian mereka, pertahanan Silva runtuh. Bahunya merosot gontai, dan wajahnya semakin ditekuk.

Rasa takut, panik, dan sedih bercampur menjadi satu. Ia berjalan terhuyung menuju sudut lorong yang agak sepi, memojokkan dirinya di dinding kaca sebuah toko yang tutup.

Di sana, Silva jongkok, menyembunyikan wajahnya di atas lutut, dan mulai menangis sesenggukan. Ia tidak tahu apakah ia menangis karena habis dimarahi orang asing, atau karena takut kehilangan Baffin. Yang jelas, dada rasanya sangat sesak dan sedih.

Tiba-tiba, sebuah bayangan besar runtuh menutupi tubuh kecilnya yang sedang berjongkok. Sayup-sayup, di antara suara tangisnya sendiri, Silva mendengar suara napas yang terengah-engah di atas kepalanya.

Begitu Silva mendongak dengan mata yang sembap dan hidung yang memerah, sosok Baffin sudah berdiri di depannya dengan baju yang berantakan karena berlarian.

Tanpa berkata apa-apa, Baffin langsung berlutut dan menarik Silva ke dalam pelukannya yang erat, meredam seluruh ketakutan gadis itu.

•••

"Ck, baru datang sih, Lo! Jam berapa ini?!" sewot Novel sambil memantul-mantulkan bola basket di atas lantai markas mereka.

"Tadi Silva hilang," balas Baffin datar, melangkah masuk ke dalam ruangan luas yang dipenuhi sofa-sofa besar tersebut.

Novel menghentikan gerakan bolanya, matanya melirik ke arah gadis yang berjalan mengekor dengan malu-malu di belakang punggung lebar Baffin. "Eh, ada Silva."

"Hilang lagi? Di mana?" sambung Kaisan yang sedang asyik bermain ponsel di pojok ruangan, langsung menegakkan tubuhnya.

"Di mall," terang Baffin singkat.

Mendengar kronologi singkat itu, mata Cyriel yang tadinya mengantuk langsung berbinar-binar jahil. "Wah... terus, Lo dipanggil lagi pake pengeras suara mall kaya waktu itu? 'Dicari tunangannya sdri. Silvanna...'" tanyanya sambil memperagakan suara pusat informasi dengan nada mengejek.

"Enggak," jawab Baffin dingin. Ia menyodorkan tangan kirinya, memberi isyarat meminta bola. Novel yang peka langsung melemparkan bola itu ke arah Baffin.

Dan ya, kali ini untungnya tidak ada drama panggilan darurat konyol dari bagian informasi mall seperti kejadian lalu. Tadi, saat Baffin sudah kelelahan berlari mencari Silva, ia memutuskan berhenti sejenak untuk mengatur napas.

Di saat itulah, telinganya yang tajam menangkap suara tangisan yang sangat ia kenali dari sudut koridor. Saat menoleh, ternyata dugaannya benar—itu Silva yang sedang berjongkok ketakutan.

Sementara para cowok sibuk membahas jadwal latihan, Silva yang masih merasa agak canggung mulai mengedarkan pandangannya ke setiap sudut markas.         Tempat ini sangat khas anak laki-laki: ada meja biliar, deretan piala, sofa kulit, dan sebuah tangga kayu besar di sudut ruangan yang menuju ke lantai dua. Tatapan Silva berhenti pada tangga itu.

"Di atas ada apa?" tanya Silva polos, menunjuk ke lantai atas.

"Ada Tuhan," celetuk Novel asal, lalu menyengir tanpa dosa. "Canda, sayang. Di atas itu ada kamar-kamar. Kenapa? Dedek Silva mau tidur sama Abang Garen di atas?" tanya Novel dengan senyuman menggoda yang usil.

BUM!

Detik berikutnya, sebuah bola basket melayang kencang secepat kilat di udara dan mendarat tepat di wajah Novel hingga cowok itu terjatuh ke belakang dari duduknya.

Itu adalah bola basket yang baru saja diberikan Novel pada Baffin tadi. Dan sekarang, Baffin melemparkannya kembali tepat ke muka Novel dengan ekspresi sedatar papan tulis, seolah tidak terjadi apa-apa.

Silva sempat kebingungan melihat kekacauan instan di depannya. "Garen? Siapa itu Garen?" tanyanya pelan. Namun, melihat wajah Novel yang mengerang kesakitan sambil mengusap-usap batang hidungnya yang memerah, Silva langsung menatap Baffin dengan pandangan khawatir. "Apin, kenapa dilempar? Nanti kalau hidungnya bisa patah atau mimisan, lho."

"Bodo. Biar mati sekalian," ketus Baffin acuh tak acuh. Ia menatap Silva,  "Kamu tunggu di sini saja. Aku mau latihan di lapangan belakang."

Silva mengangguk patuh sambil mendaratkan b*kongnya di sofa.

"Ayo, cabut!" ajak Baffin pada teman-temannya. Ia melangkah menuju pintu kaca yang menghubungkan markas dengan lapangan hijau luas di bagian belakang, diikuti oleh Kaisan, Cyriel, dan Novel yang masih sibuk mengomeli Baffin sambil memegangi hidungnya.

Kini, Silva ditinggal sendirian di ruang tengah markas yang luas. Suasana mendadak menjadi sepi. Merasa bosan, tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya.                Bagaimana kalau dia mengajak Kenya untuk datang ke sini? Semoga saja Kenya luang dan mau datang, batinnya berharap.

Silva membuka tasnya, lalu mengeluarkan ponsel barunya yang masih mengilat bersih. Karena ponsel ini baru dan ia belum sempat memindahkan daftar kontak, Silva akhirnya memutuskan untuk menghubungi sahabatnya itu lewat aplikasi Instagram.

Silva_Razfiy : Kenya.. kamu lagi

Kenya : Belajar, Say. Napa?

Silva_Razfiy: Aku tadi habis beli HP baru sama Apin. Terus langsung diajak ke markasnya karena Apin mau latihan dan waktunya mepet banget. Sekarang aku di sini sendirian di ruang tengah. Kamu mau ke sini enggak, nemenin aku?

Kenya : Share lock.

Mendapat balasan singkat namun pasti itu, Silva langsung tersenyum senang. Matanya berbinar kembali.

Kenya memang luar biasa—sahabatnya itu hampir tidak pernah menolak atau mengecewakan permintaan Silva jika menyangkut kehadirannya. Silva pun segera mengirimkan titik lokasi markas Baffin kepada Kenya.

Sekitar dua puluh menit kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di depan markas. Kenya melangkah masuk dengan gaya santainya, menggendong tas ransel kecil.

"Wah, tempatnya gede juga ya," komentar Kenya, menatap sekeliling markas yang luas sementara Silva langsung berlari memeluknya erat seolah sudah tidak bertemu bertahun-tahun."Kenya! Makasih ya udah mau datang," ucap Silva senang.

Setelah mengobrol santai di sofa, pandangan Kenya mendadak tertahan pada sebuah televisi layar datar berukuran sangat besar yang menempel di dinding. Di bawah televisi tersebut, terdapat sebuah kotak mesin berwarna hitam dengan dua buah benda berbentuk aneh yang tergeletak di dekatnya.

"Sil, itu... PlayStation (PS), kan?" tanya Kenya menunjuk benda tersebut.

Silva ikut menengok, lalu mengerutkan dahinya bingung. "PS? Oh, alat yang buat main game di TV itu, ya?"

"Iya! Kamu pernah main?" Silva menggelengkan kepalanya dengan polos. "Nggak pernah. Kalau kamu?"

"Sama, gue juga nggak pernah main. Di rumah gue isinya cuma buku pelajaran," jawab Kenya sambil terkekeh pelan. "Tapi mumpung cowok-cowok lagi pada di lapangan belakang, gimana kalau kita coba main? Kayaknya seru."

Silva tampak ragu, namun rasa penasarannya jauh lebih besar. "Tapi... Emang kamu bisa nyalainnya Ken?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!