Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.
Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.
Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.
Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Bayang-Bayang di Lantai Bawah
Gedung pencakar langit Lu Group malam ini tampak berbeda. Di lantai lima puluh, ballroom utama bermandikan cahaya kemerahan dari lampu kristal raksasa yang memantulkan kemewahan. Alunan musik klasik dari kuartet gesek mengalir lembut, mengiringi tawa dan percakapan ringan para direktur, komisaris, serta mitra bisnis strategis yang mengenakan gaun malam dan tuksedo mahal. Di tengah kerumunan itu, Zhao Tianming berdiri tegak sambil memegang gelas kristal berisi anggur merah, menebar senyum penuh kemenangan kepada setiap tamu yang menyapanya. Sebagai Direktur Utama Divisi Operasional sekaligus ipar dari komisaris utama, kekuasaannya di dalam gedung ini terasa tak tersentuh.
Namun, di lantai dasar, suasana dingin, sunyi, dan penuh ketegangan menyelimuti koridor beton yang tidak tersentuh kemewahan pesta.
Dua orang pria berbalut pakaian serba hitam melangkah tanpa suara menyusuri lorong arsip bawah tanah. Lampu koridor sengaja diredupkan setengah, hanya menyisakan pendar kuning pudar yang memperpanjang bayangan mereka di lantai semen. Lu Jingyan berjalan di depan dengan langkah tenang, sementara Sekretaris Han mengikuti tepat di belakangnya sambil memegang sebuah perangkat dekoder digital kecil di tangannya.
"Sistem pengamanan biometrik utama untuk blok arsip ini terhubung langsung ke ruang kendali pusat, Tuan Muda," bisik Sekretaris Han dengan suara tertahan, melirik kamera pengawas berputar di sudut langit-langit. "Tapi seperti yang Anda perkirakan, karena separuh besar tim keamanan ditarik ke lantai atas untuk mengamankan jamuan makan malam, pos pengawasan utama saat ini hanya dijaga oleh satu orang petugas yang tengah tertidur."
Jingyan berhenti tepat di depan sebuah pintu baja tebal berpanel digital. Tanpa ragu, ia menatap lurus ke arah lensa pemindai mata di samping pintu. Perangkat dekoder yang dipegang Sekretaris Han memancarkan cahaya hijau samar, memintas sinyal verifikasi darurat menggunakan kode akses tingkat tinggi milik keluarga Lu yang telah disiapkan sejak sore tadi.
Bip... klik!
Pintu baja tebal itu bergeser terbuka secara perlahan tanpa menimbulkan suara decitan sedikit pun.
Mereka berdua melangkah masuk ke dalam ruang arsip rahasia. Bau debu kertas tua dan lem arsip langsung menyergap indra penciuman. Ruangan itu dipenuhi oleh barisan rak besi tinggi yang tersusun rapi berisi jutaan dokumen kontrak, laporan keuangan, dan denah arsitektur dari dekade-dekade lalu.
"Waktu kita tidak banyak, Han," ujar Jingyan dingin. "Pesta di atas paling lama hanya akan berlangsung selama dua jam sebelum para tamu mulai membubarkan diri. Cari brankas pribadi Zhao Tianming di sudut barat ruangan ini. Di sanalah ia menyimpan salinan fisik transaksi ganda dan dokumen asli proyek lantai 35."
Sekretaris Han mengangguk cepat. Ia langsung bergerak lincah menyusuri lorong-lorong rak besi, mencocokkan kode inventaris arsip dengan data digital yang telah diretas sebelumnya. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan sebuah lemari besi hitam berukuran besar yang tersembunyi di balik papan panel dinding palsu di sudut terdalam ruangan.
Brankas itu menggunakan kombinasi sandi mekanik modern serta kunci fisik ganda.
Jingyan maju mendekati brankas tersebut. Ia berlutut satu kaki di depan pintu besi yang dingin, menempelkan telinganya ke permukaan logam, lalu mulai memutar tombol kombinasi perlahan-lahan sambil mendengarkan bunyi klik internal mekanisme penguncian. Insting tajam seorang pria yang pernah hidup di bawah bayang-bayang kerasnya dunia buruh konstruksi dan kini memegang kendali korporasi besar membimbing setiap gerakan jarinya.
Klik... klik... clank.
Pintu brankas bergeser terbuka dengan berat.
Di dalam rongga brankas yang gelap itu, tersusun rapi puluhan amplop cokelat tebal berlabel stempel merah: RAHASIA DIREKSI. Sekretaris Han dengan sigap mengeluarkan amplop-amplop tersebut dan memeriksa isinya di bawah sorotan lampu senter kecil.
"Ini dia, Tuan Muda," ucap Sekretaris Han dengan napas tertahan, memperlihatkan beberapa lembar dokumen asli berstampel basah. "Kontrak kerja fiktif proyek lantai 35, laporan aliran dana ke perusahaan cangkang Kepulauan Cayman, hingga catatan pembayaran suap kepada oknum pengawas lapangan yang merekayasa kecelakaan kerja setahun lalu. Semuanya ada di sini."
Jingyan mengambil lembar-lembar kontrak tersebut. Matanya menyapu cepat tulisan di atas kertas, melihat tanda tangan basah dan cap perusahaan yang menjadi bukti otentik kejahatan Zhao Tianming. Di sudut salah satu dokumen, terdapat catatan kecil tulisan tangan Zhao Tianming yang memerintahkan penutupan kasus insiden dengan dalih kelalaian korban—mengorbankan nyawa Chen Guowei tanpa secercah rasa bersalah.
Rahang Jingyan mengeras, buku-buku jarinya mencengkeram kertas dokumen itu hingga hampir merobek bagian pinggirnya. Dendam kesumat yang selama ini ia pendam bergejolak hebat di dalam dada, menuntut pembalasan yang setimpal.
"Masukkan semuanya ke dalam tas kerja," perintah Jingyan dengan suara berat yang mengandung otoritas mutlak. "Jangan tinggalkan satu pun jejak yang menunjukkan kita pernah berada di sini. Biarkan Zhao Tianming tetap merasa tenang di pesta lantai atas malam ini."
"Baik, Tuan Muda!" Sekretaris Han dengan cepat memasukkan seluruh dokumen fisik penting itu ke dalam tas kulit khusus, lalu mengembalikan posisi pintu brankas dan panel dinding ke bentuk semula seolah-olah tidak pernah ada yang menyentuhnya.
Tiba-tiba, suara derap langkah kaki berat dan suara gelak tawa beberapa orang terdengar dari luar lorong koridor arsip.
"Cepat! Seseorang memeriksa bagian bawah karena laporan sensor pintu tadi sempat berkedip aneh!" suara seorang petugas keamanan berteriak memberi instruksi kepada rekannya di luar.
Sekretaris Han menoleh dengan mata membelalak cemas. "Tuan Muda, penjaga patroli datang lebih cepat dari perkiraan!"
Jingyan tidak panik. Dengan kepala dingin, ia menarik tangan Sekretaris Han, melompat cepat ke balik barisan rak arsip besi tinggi di sudut ruangan, menyembunyikan diri dalam kegelapan tepat saat pintu utama ruang arsip terbuka lebar disorot oleh cahaya senter menyilaukan.
Detak jantung berpacu dalam keheningan. Di balik tumpukan arsip berdebu itu, Jingyan menyipitkan mata, bersiap menghadapi segala kemungkinan demi memastikan dokumen pembuktian kematiannya malam ini aman keluar dari gedung neraka tersebut.