Indonesia
NovelToon NovelToon
Serving The Ruthless Boss

Serving The Ruthless Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Fantasi
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: seasoulune

Alesia Fiore mengira hidupnya di Korea Selatan sudah berada di titik paling damai. Demi memperbaiki ekonomi keluarga yang ironisnya hanya peduli pada uang kirimannya Alesia rela bekerja keras bagai kuda selama satu tahun sebagai admin pemasaran di Aetheris Games. Biarpun sering lembur, ia bahagia karena memiliki lingkungan kerja yang sehat dan sahabat-sahabat yang suportif.

Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat takdir membawa Dante Luca Alessio masuk ke hidupnya.

Dimulailah hari-hari penuh kesialan, kejengkelan, dan kesalahpahaman kocak bagi Alesia yang harus melayani segala tuntutan ajaib dari bos barunya yang ruthless. Sanggupkah Alesia bertahan demi pundi-pundi won, atau justru benci di antara mereka berubah menjadi benih-benih cinta yang tak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1

Suasana di lantai empat kantor Aetheris Games pagi itu lebih mirip seperti pasar malam daripada sebuah perusahaan game ternama di Seoul.

Kubikel yang biasanya hanya diisi suara ketukan papan ketik, kini dipenuhi oleh bisik-bisik heboh dan pekikan tertahan dari para karyawan perempuan.

"Kalian sudah dengar belum? Katanya dia bukan cuma kejam, tapi punya hobi memecat orang lewat tatapan mata saja!" Min-ji, salah satu rekan kerja Alesia, bersandar di dinding kubikel dengan wajah setengah ngeri sekaligus antusias.

"Ah, yang benar saja? Tapi kudengar dari divisi HR, wajahnya itu seperti malaikat yang turun dari langit. Tampan sekali! Namanya saja sudah keren, Dante Luca Alessio," sahut Hana sambil sibuk memoles lipstik merah mudanya di depan cermin kecil.

"Aku harus terlihat sempurna besok. Siapa tahu dia suka tipe wanita pekerja keras seperti aku."

Di tengah kehebohan itu, Alesia Fiore sama sekali tidak bergeming. Pandangannya terpaku pada layar monitor berukuran 24 inci yang menampilkan tabel Excel berisi data analisis pasar. Jari-jarinya menari dengan lincah di atas keyboard.

Baginya, kedatangan anak pemilik perusahaan yang akan menjabat sebagai CEO baru itu tidak lebih penting daripada laporan bulanan yang harus selesai sebelum jam makan siang.

Alesia menghela napas panjang, mengingat pesan singkat dari ibunya tadi pagi yang langsung meminta transferan uang untuk sekolah adiknya.

'Fokus, Alesia. Demi uang won, demi bertahan hidup,' batinnya menyemangati diri sendiri.

"Fiore! Kamu ini punya kuping atau tidak, sih?" Min-ji menepuk bahu Alesia, gemas melihat temannya yang tampak seperti patung bernyawa.

"Calon bos besar kita besok datang, lho! Pewaris tunggal Aetheris Games! Kamu tidak tertarik mencari tahu seperti apa orangnya?"

Alesia menghentikan ketukannya sebentar, lalu menoleh dengan senyum tipis.

"Min-ji sayang, siapapun bosnya, tugasku tetap sama: mengurus data pemasaran. Dan yang paling penting, bos baru tidak akan membayar utang atau biaya sewa flat-ku kalau aku tidak menyelesaikan laporan ini."

Hana berbalik, mencibir pelan.

"Kamu ini terlalu kaku, Fiore. Sekali-kali ikut bergosip dong. Katanya, Pak Dante itu sangat perfeksionis. Kalau ada dokumen yang salah ketik satu huruf saja, dia bisa menyuruh kita mengulang dari awal atau langsung menyuruh kita angkat kaki."

"Kalau begitu, baguslah aku sedang fokus memeriksa dokumen ini agar tidak ada salah ketik," jawab Alesia santai, lalu kembali memakai headphone-nya, memutus diri dari keriuhan sekitar.

Bagi Alesia, satu tahun bekerja di Aetheris Games adalah sebuah berkah. Lingkungan kerjanya sehat, teman-temannya menyenangkan meski agak biang gosip dan gajinya sangat cukup untuk dikirim ke keluarganya di Indonesia, walaupun mereka jarang menanyakan kabarnya selain urusan uang.

Dia hanya ingin mempertahankan kedamaian ini.

Namun, Alesia tidak pernah tahu bahwa sikap acuh tak acuhnya, pakaian kerjanya yang luar biasa sederhana, dan kepalanya yang selalu tertunduk fokus pada pekerjaan justru akan menjadi magnet yang menarik perhatian sang CEO baru.

...****************...

Keesokan harinya, suasana kantor mendadak hening mencekam. Karpet merah imajiner seolah tergelar dari arah pintu lift. Langkah kaki yang tegas dan berirama berat terdengar mendekat.

Seorang pria berjas hitam potong premium melangkah masuk. Postur tubuhnya tegap, rambutnya tertata rapi, dan rahangnya tegas menawan. Namun, auranya begitu dingin, seolah mampu membekukan ruangan dalam sekejap. Dante Luca Alessio telah tiba.

Semua karyawan membungkuk hormat, tak berani menatap langsung mata elang milik Dante. Sebagian besar staf perempuan menahan napas, terpukau sekaligus ketakutan.

Dante berjalan perlahan, matanya yang tajam mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Semua orang tampak tegang dan berusaha terlihat sesibuk mungkin dengan gaya yang dibuat-buat kecuali satu orang.

Di sudut ruangan, Alesia Fiore sedang bergelut dengan mesin fotokopi yang mendadak macet. Wajahnya memerah karena kesal, menepuk-nepuk pinggiran mesin dengan gemas.

"Ayo dong, jangan macet sekarang. Sedikit lagi selesai," gumam Alesia setengah berbisik, sama sekali tidak menyadari bahwa seluruh ruangan telah senyap dan sepasang sepatu pantofel mewah kini telah berhenti tepat di belakangnya.

"Apakah mesin itu mempekerjakan Anda, atau Anda yang mempekerjakan mesin itu?" sebuah suara berat, rendah, dan dingin mengintrupsi dari belakang.

Alesia tersentak. Ia berbalik dengan cepat dan sedetik kemudian, hidungnya hampir saja menabrak dada bidang pria asing yang sangat tinggi di hadapannya. Aroma parfum maskulin yang mahal dan tajam langsung menusuk indra penciumannya.

Alesia mendongak dan terpaku menatap mata abu-abu yang dingin menembus manik matanya.

"Ma-maaf?" cicit Alesia, refleks mundur satu langkah hingga punggungnya menempel pada mesin fotokopi.

Dante melirik papan nama yang menggantung di leher Alesia, lalu menatap wajah gadis itu dengan pandangan menilai yang membuat bulu kuduk berdiri.

"Alesia Fiore. Admin Pemasaran. Jam kantor sudah dimulai sepuluh menit yang lalu, dan Anda sedang bertengkar dengan sebuah mesin?"

Manajer divisi yang melihat kejadian itu langsung berkeringat dingin dan berlari mendekat.

"Maaf, Sajangnim! Ini Fiore, dia... dia sedang menyiapkan dokumen untuk rapat Anda nanti siang."

Dante tidak mengalihkan pandangannya dari Alesia. Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk seringai misterius yang justru terlihat mengerikan bagi siapa saja yang melihatnya.

"Begitu? Kalau begitu, pastikan dokumen itu ada di meja saya dalam lima menit. Tanpa lecet, tanpa salah ketik, dan pastikan Anda sendiri yang mengantarkannya, Nona Fiore," ucap Dante dingin, sebelum berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju ruangan barunya yang mewah.

Alesia terpaku di tempatnya, memegangi dadanya yang berdetak tidak karuan. Bukan karena terpesona, melainkan karena syok. Hari damai yang ia dambakan tampaknya baru saja resmi berakhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!