Indonesia
NovelToon NovelToon
Tipuan Cinta

Tipuan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:493
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.

Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.

Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.

"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.

Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Gadis yang Terlupakan

Suara jangkrik yang bersahut-sahutan di balik rimbunnya pohon pisang menjadi satu-satunya hiburan bagi Intan Saputri malam itu.

Ia duduk di ambang jendela kamarnya yang berukurannya tak seberapa, menatap ke arah jalanan desa yang mulai lengang.

Angin malam berhembus pelan, menerpa wajah polosnya yang sama sekali tak tersentuh polesan make up.

Jika ada orang asing yang melihat Intan saat ini, mereka pasti akan mengira ia adalah seorang siswi SMP yang sedang melamunkan tugas sekolah.

Wajahnya mungil, matanya bulat jernih, dan postur tubuhnya sangat ramping. Namun, kenyataan tak seindah penampilan luar.

Intan tahu pasti, beberapa bulan lalu usianya resmi menginjak 23 tahun.

Usia yang bagi ukuran gadis desa seperti dirinya sudah masuk dalam kategori "rawan".

Di Desa Lao-Lao, tempat Intan dibesarkan, seorang perempuan berusia di atas dua puluh tahun yang belum menikah kerap menjadi bahan bisik-bisik di pos ronda maupun tukang sayur keliling.

Teman-teman sebaya Intan—bahkan mereka yang dua tahun lebih muda darinya—sebagian besar sudah menggendong anak atau sibuk mengurus suami.

Sementara Intan? Pintu rumahnya tetap sepi, tak pernah sekalipun ketukan bertamu membawa rombongan pria yang berniat mempersuntingnya.

Bukan karena Intan tak bersyukur memiliki wajah yang awet muda. Justru, ketertutupannya yang teramat sangatlah yang menjadi tembok raksasa.

Intan adalah seorang introvert ekstrem. Ia benci keramaian, canggung jika harus menatap mata orang asing, dan lebih memilih menghabiskan waktunya menyiram tanaman di halaman belakang daripada ikut berkumpul di acara hajatan desa.

Bagi warga sekitar, Intan bagaikan sosok maya: ada, tetapi jarang sekali terlihat. Ia adalah gadis yang terlupakan.

"Intan, belum tidur, Nak?"

Suara lembut ibunya dari balik pintu kamar memecahkan lamunan Intan.

"Belum, Bu. Sebentar lagi."

Jawab Intan setengah berbisik. Ia takut suaranya bergetar dan membocorkan rasa cemas yang berkecamuk di dalam dadanya.

Ibunya tidak masuk, hanya terdengar helaan napas halus dan langkah kaki yang pelan-pelan menjauh.

Intan tahu, orang tuanya tidak pernah menuntutnya untuk segera menikah.

Namun, rasa bersalah itu tetap ada. Intan sering mencuri dengar obrolan tetangga yang bersimpati—atau lebih tepatnya mengejek—orang tuanya karena memiliki anak gadis yang tak kunjung "laku".

“Si Intan itu sebenarnya manis, tapi penakut banget."

"Pria mana yang mau melamar kalau ketemu orang saja langsung lari masuk rumah?"

"Lagipula, badannya kecil begitu, kelihatan seperti anak kecil."

"Siapa yang percaya usianya sudah dua puluh tiga?”

Kata-kata Mbak Sri, tetangga sebelah rumah, beberapa hari lalu kembali terngiang di telinga Intan. Setiap kata terasa bagaikan sembilu yang menyayat hatinya.

Intan menunduk, menatap jemarinya yang saling bertautan di pangkuan.

Rasa takut itu mulai menggelembung besar di dalam dadanya.

Bagaimana jika ia benar-benar tidak akan pernah menikah?

Bagaimana jika ia harus menua sendirian di rumah ini, menjadi beban orang tua, dan terus-menerus menjadi bahan gunjingan warga desa?

Ketakutan akan masa depan yang sunyi itu akhirnya mendorong Intan pada sebuah tindakan nekat.

Tindakan yang sama sekali tidak pernah terlintas di pikirannya yang polos.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Intan meraih telepon genggam pintarnya yang tergeletak di atas kasur.

Layar HP yang agak retak di sudutnya itu menyala terang, menampilkan halaman toko aplikasi.

Jemari Intan mengetikkan kata kunci yang sebelumnya hanya pernah ia dengar dari obrolan anak-anak muda di internet: Aplikasi Pencari Jodoh.

Ia menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ia sedang melakukan sebuah kejahatan besar.

Setelah memilih salah satu aplikasi dengan rating tertinggi dan ulasan terbanyak, Intan menekan tombol unduh.

Setiap persentase proses pengunduhan terasa begitu lambat. Intan memeluk lututnya, menunggu dengan kecemasan yang makin memuncak.

Ketika aplikasi itu selesai terpasang, sebuah logo berbentuk hati berwarna merah menyala menyambutnya di layar.

"Hanya coba-coba... tidak ada salahnya, kan?"

Bisik Intan pada dirinya sendiri, berusaha menenangkan gejolak di dadanya.

Ia mulai mengisi profil sederhana. Mengunggah foto dirinya yang tersenyum tipis tanpa riasan—satu-satunya foto formal yang ia miliki saat membuat KTP beberapa tahun lalu.

Ia mengisi kolom usia: 23 tahun. Ia ragu sejenak saat mengedit kolom deskripsi diri, lalu mengetik singkat: Suka ketenangan dan kesederhanaan.

Begitu profilnya selesai dibuat, layar HP Intan langsung dipenuhi oleh foto-foto pria dari berbagai daerah.

Ada yang bertelanjang dada di gym, ada yang berfoto di depan mobil mewah, ada pula yang memasang foto bersama peliharaannya.

Semua itu terasa asing dan menakutkan bagi Intan. Ia hampir saja menekan tombol hapus aplikasi karena merasa tempat ini terlalu liar untuk gadis lugu sepertinya.

Namun, tepat sebelum jemarinya menyapu layar untuk menutup aplikasi, sebuah notifikasi pesan masuk muncul di bagian atas layar.

Ting!

Sebuah pesan dari akun bernama Rian.

Foto profil pria itu terlihat sangat bersahaja.

Mengenakan kemeja kasual yang rapi, tersenyum hangat ke arah kamera tanpa kesan berlebihan.

Tatapan matanya terlihat teduh—setidaknya, begitulah penilaian polos seorang Intan Saputri.

Intan memberanikan diri membuka pesan tersebut.

> Rian: Haloo. Senyum di fotomu manis sekali, sepertinya kamu tipe gadis yang tenang dan penyayang ya? Salam kenal, aku Rian.

>

Jantung Intan serasa meloncat ke tenggorokan. Ini adalah kali pertama seorang pria yang tak dikenal menyapanya dengan pujian sehalus itu.

Tidak ada nada ejekan tentang tubuhnya yang kecil, tidak ada tatapan meremehkan seperti yang sering ia dapatkan di desa.

Hanya sebuah sapaan hangat yang terasa bagaikan embun di tengah dahaganya akan perhatian.

Pipinya merona merah di dalam kegelapan kamar. Jemari lugunya mulai mengetikkan balasan dengan sangat hati-hati.

> Intan: Salam kenal juga, Mas Rian... Terima kasih.

>

Intan tidak pernah menyangka, satu balasan sederhana di tengah malam yang dingin itu adalah awal dari benang takdir yang melilit lehernya.

Ia tak tahu bahwa di balik nama 'Rian' dan senyuman hangat di foto profil itu, ada sebuah perangkap beracun yang sedang mengintainya dengan sabar.

Malam itu, gadis yang terlupakan tersebut merasa akhirnya ada seseorang yang melihat keberadaannya.

Tanpa menyadari bahwa kepolosannya baru saja membuka pintu menuju kehancuran yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Jangan lupa like, komen dan subscribe🤗

1
Nanik Arifin
lanjut.....
Nanik Arifin
lanjut Thor....
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
Nanik Arifin
yakin aj Tan , kamu pasti bisa !
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya
Nanik Arifin
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!