Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Benang yang Tersambung
Kirana tidak bisa mengenyahkan kekhawatirannya soal pertanyaan terakhir Fajar. Malam itu, ia memutuskan untuk bicara dengan Sari, meski harus mengakui pertemuannya dengan mantan tunangannya terlebih dahulu.
"Kau bertemu Fajar?" Sari menatapnya tidak percaya setelah mendengar cerita lengkap Kirana di ruang kerja Bapak yang kini juga berfungsi sebagai kantor sementara Sari. "Dan dia bertanya soal kondisi bisnis kita?"
"Dia bilang itu cuma rasa ingin tahu profesional," Kirana menjelaskan, meski nada suaranya sendiri menunjukkan ia tidak sepenuhnya percaya itu. "Tapi entah kenapa, firasatku mengatakan ada sesuatu yang lebih dari itu."
Sari mengetuk-ngetukkan pena di mejanya, berpikir keras. "Perusahaan tempat dia bekerja sekarang, apa kau tahu namanya?"
"Dia bilang konsultan investasi, tapi tidak menyebut nama spesifik perusahaannya," Kirana mengingat-ingat percakapan mereka. "Kenapa?"
"Karena kalau benar ada perusahaan investasi yang mengincar PT Wijaya Sejahtera tepat setelah kekalahan Ratna di pertemuan pemegang saham, itu waktu yang terlalu kebetulan untuk benar-benar disebut kebetulan," Sari menjelaskan, kekhawatiran mulai terlihat jelas di wajahnya.
Mereka berdua terdiam sejenak, mencerna kemungkinan yang baru saja terungkap. Kirana mengeluarkan ponselnya, ragu sejenak sebelum akhirnya mengetik pesan pada Fajar.
*"Fajar, boleh aku tahu nama perusahaan tempatmu bekerja? Hanya penasaran."*
Balasan datang setelah beberapa menit yang terasa panjang.
*"Kenapa kau bertanya? Ada apa?"*
*"Tidak ada apa-apa. Aku hanya penasaran soal kariermu,"* Kirana membalas, mencoba terdengar santai.
*"Aku bekerja di Meridian Capital Partners. Kami fokus pada investasi strategis di berbagai sektor, termasuk manufaktur dan tekstil."*
Kirana menunjukkan balasan itu pada Sari, yang segera membuka laptopnya untuk mencari informasi lebih lanjut tentang perusahaan tersebut.
"Meridian Capital Partners," gumam Sari sambil mengetik cepat di mesin pencari. "Mari kita lihat siapa saja klien dan mitra mereka."
Setelah beberapa menit penelusuran, wajah Sari berubah pucat. "Kirana, lihat ini."
Kirana mendekat, membaca artikel berita bisnis yang ditemukan Sari—sebuah laporan tentang kemitraan strategis antara Meridian Capital Partners dengan beberapa perusahaan keluarga di kota mereka, dan salah satu nama yang disebut sebagai penasihat senior dalam kemitraan itu adalah Ratna Wijaya.
"Ratna adalah penasihat di perusahaan tempat Fajar bekerja?" Kirana merasakan dadanya bergejolak, campuran antara kemarahan dan pengkhianatan yang tidak terduga.
"Sepertinya begitu," Sari mengangguk berat. "Dan kalau Fajar sengaja mendekatimu lagi setelah delapan tahun, tepat saat perusahaan tempatnya bekerja sedang mengincar bisnis keluarga kita, ini bukan kebetulan, Kirana. Ini strategi."
Kirana merasakan pengkhianatan yang menyakitkan, meski ia tahu hubungannya dengan Fajar sudah lama berakhir. Namun mengetahui bahwa pertemuan yang ia kira sebagai penutupan tulus mungkin hanya bagian dari rencana bisnis yang lebih besar, terasa seperti pukulan telak.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Kirana, suaranya bergetar antara marah dan bingung.
"Untuk sekarang, kita tetap waspada tapi tidak gegabah," Sari menjawab, mencoba berpikir strategis meski jelas terguncang oleh temuan itu. "Kita butuh bukti lebih kuat sebelum menuduh Fajar terlibat langsung dalam rencana Ratna. Bisa saja dia hanya karyawan biasa yang tidak tahu-menahu soal koneksi personal Ratna dengan keluarga kita."
"Tapi dia menghubungiku lagi setelah delapan tahun, tepat saat ini," bantah Kirana. "Itu terlalu mencurigakan untuk diabaikan begitu saja."
"Aku setuju," Sari mengangguk. "Makanya kita perlu berhati-hati. Jangan langsung konfrontasi dia, tapi juga jangan terlalu terbuka soal informasi bisnis keluarga kita. Untuk sekarang, mari kita informasikan ini pada Pak Wibowo, biar dia bisa menyelidiki lebih jauh soal rencana investasi Meridian Capital Partners ini."
Malam itu, setelah menghubungi Pak Wibowo dan menjelaskan temuan mereka, Kirana duduk sendirian di kamarnya, pikirannya berkecamuk antara rasa bersalah karena mungkin telah membuka celah informasi pada pihak yang berpotensi menjadi ancaman, dan kebingungan tentang perasaannya sendiri terhadap Fajar yang kini menjadi jauh lebih rumit dari sekadar nostalgia masa lalu.
Ponselnya bergetar, pesan lain dari Fajar muncul di layar.
*"Kirana, aku senang sekali bisa bertemu denganmu hari ini. Boleh aku mentraktirmu makan malam minggu depan? Kali ini benar-benar hanya untuk kita, tanpa bicara bisnis sama sekali."*
Kirana menatap pesan itu lama, tidak yakin harus merasa apa. Di satu sisi, ia ingin percaya bahwa ketulusan yang ia rasakan dalam pertemuan mereka tadi adalah nyata. Di sisi lain, kecurigaan yang baru saja ditemukan bersama Sari membuatnya waspada terhadap setiap kata yang keluar dari mulut Fajar.
Ia memutuskan untuk tidak membalas pesan itu malam ini, memilih untuk memberi dirinya waktu berpikir jernih sebelum mengambil keputusan apa pun yang bisa memengaruhi bukan hanya perasaannya sendiri, tapi juga keamanan seluruh keluarganya.
Sari, yang masih duduk di sampingnya, memperhatikan raut wajah Kirana yang berubah-ubah antara marah dan bingung. "Kau tidak apa-apa?"
"Aku hanya merasa dipermainkan," Kirana mengakui, menutup laptop Sari dengan pelan. "Aku pikir aku sedang memberi penutupan yang tulus untuk hubungan lama, tapi ternyata mungkin aku hanya menjadi alat untuk mendapatkan informasi."
"Kita belum tahu pasti seberapa jauh dia terlibat," Sari mengingatkan, mencoba bersikap adil meski jelas kesal dengan situasi ini. "Bisa saja perasaannya tulus, dan kebetulan pekerjaannya bersinggungan dengan kasus kita."
"Terlalu banyak kebetulan untuk benar-benar disebut kebetulan," Kirana menjawab getir, mengulangi kalimat yang tadi diucapkan Sari sendiri.
Mereka berdua terdiam sejenak, membiarkan keheningan mengisi ruangan sebelum Sari akhirnya bangkit untuk mengambil air minum bagi mereka berdua. "Apa pun yang terjadi," Sari melanjutkan setelah kembali duduk, "kau tidak sendirian menghadapi ini. Kita akan cari tahu kebenarannya bersama-sama, dan melindungi keluarga kita apa pun hasilnya."
Kata-kata itu memberi sedikit ketenangan bagi Kirana, meski pikirannya masih dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Malam itu terasa panjang, dipenuhi berbagai skenario yang berputar di kepalanya tentang seberapa jauh keterlibatan Fajar sebenarnya, dan bagaimana ia harus bersikap dalam pertemuan makan malam yang telah disepakati untuk minggu depan.
Sebelum akhirnya tidur, Kirana menuliskan beberapa poin penting di catatan ponselnya—hal-hal yang ingin ia gali lebih lanjut dari Fajar tanpa terkesan menuduh, serta batasan informasi yang tidak boleh ia bagikan apa pun yang terjadi dalam percakapan mereka nanti. Ia juga membuat catatan mental untuk bicara dengan Raka sesegera mungkin, menyadari bahwa semakin lama ia menunda, semakin besar risiko kesalahpahaman yang bisa muncul jika Raka mendengar kabar ini dari sumber lain.
Sari, sebelum akhirnya kembali ke kamarnya sendiri, sempat berhenti di pintu. "Kirana, apa pun yang terjadi minggu depan, ingat bahwa kau sudah menunjukkan keberanian luar biasa dengan memutuskan menghadapi ini secara langsung, alih-alih menghindarinya seperti yang mungkin kau lakukan delapan tahun lalu."
Kata-kata itu memberi Kirana sedikit penghiburan di tengah kekacauan pikirannya. Ia menyadari bahwa perjalanannya menuju kedewasaan emosional, meski masih jauh dari sempurna, telah membawanya pada titik di mana ia mampu menghadapi ketidaknyamanan alih-alih lari darinya—sebuah perubahan besar dibanding versi dirinya yang dulu.
---
*Bersambung ke Bab 29...*