### KARIR MINGGUAN
Reyhan hanyalah pria biasa dengan kehidupan yang stagnan. Sampai suatu malam, sebuah sistem misterius muncul dan mengubah hidupnya.
**[SISTEM KARIR MINGGUAN TELAH AKTIF.]**
Setiap minggu, Reyhan akan mendapatkan profesi yang berbeda—kurir, guru, pedagang, mekanik, programmer, hingga pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan.
Setiap profesi memiliki misi dan batas waktu tujuh hari.
Jika berhasil, **reward luar biasa** menantinya.
Awalnya Reyhan mengira semua ini hanya keberuntungan.
Namun semakin banyak profesi yang ia jalani, semakin ia menyadari bahwa semuanya saling terhubung.
**Sistem itu tidak sedang memberinya pekerjaan.**
Sistem sedang mempersiapkannya untuk menjadi seseorang yang jauh lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Banjir Pesanan
Hari keempat, Reyhan mulai merasa ritme jualannya semakin stabil. Resep sudah pas, lokasi sudah dikenal beberapa orang, dan yang paling penting, dia sudah tidak lagi panik tiap kali ada dua pembeli datang bersamaan. Namun hari itu, seorang pembeli baru datang dengan gaya yang cukup berbeda dari biasanya.
"Mas, ini gerobak baru ya? Kok saya baru sadar ada di sini," tanya seorang perempuan berseragam kantor rapi, menenteng tas kerja di satu tangan.
"Iya, Kak, baru buka minggu ini."
"Pantesan. Biasanya saya lewat sini tiap pulang kerja, tapi baru kepikiran mampir hari ini. Rasanya gimana, enak nggak?"
"Enak, Kak, dijamin," jawab Reyhan percaya diri, meski dalam hati sedikit deg-degan karena calon pelanggan ini terlihat kritis.
"Kalau nggak enak, saya komplain lho, ya."
"Siap, Kak. Kalau nggak enak, saya traktir balik."
Perempuan itu tertawa kecil. "Oke deh, satu porsi. Nama saya Sinta, biar Mas gampang manggil kalau saya balik lagi."
"Siap, Kak Sinta."
Reyhan memasak dengan gerakan yang sudah jauh lebih lancar dibanding hari-hari pertama, menuang bumbu sesuai takaran pasti yang sudah dia hafal luar kepala. Kak Sinta memperhatikan dari dekat, sedikit penasaran.
"Wah, cekatan juga, Mas. Udah lama jualan?" tanya Kak Sinta, memiringkan kepala sedikit penasaran melihat gerakan tangan Reyhan yang lincah.
"Baru empat hari, Kak."
"Empat hari doang tapi udah kayak jago gini? Biasanya pedagang baru masih grogi."
"Kemarin-kemarin emang grogi banget, Kak. Sampe ada pembeli yang komplain keasinan."
"Wah, serem juga ya. Untung saya baru coba sekarang, bukan pas awal-awal itu."
"Untung banget, Kak. Kalau kemarin, mungkin Kak Sinta bisa dehidrasi abis makan nasi goreng saya."
Kak Sinta tertawa lepas. "Ih, ngeri amat perumpamaannya."
Reyhan menyerahkan piring nasi gorengnya. Kak Sinta mencicipi pelan, mengunyah dengan ekspresi serius seperti juri kompetisi memasak, membuat Reyhan sedikit gugup menunggu.
"Hm... " gumam Kak Sinta, masih mengunyah.
"Gimana, Kak? Kurang asin? Kepedesan?"
"Enak, Mas! Sambalnya beda, seger gitu."
"Alhamdulillah," Reyhan menghela napas lega.
"Saya kira Kak Sinta mau ngasih nilai kayak juri MasterChef tadi, deg-degan saya."
"Habisnya seru aja liat ekspresi Mas nunggu penilaian, jadi saya lama-lamain dikit."
"Kak Sinta jahat juga ternyata."
Keesokan harinya, Kak Sinta datang lagi, kali ini membawa dua orang rekan kerjanya.
"Nih, yang saya ceritain kemarin," kata Kak Sinta ke kedua temannya, menunjuk gerobak Reyhan.
"Katanya enak banget ya, Sin?" tanya salah satu temannya, seorang lelaki berkacamata.
"Iya, coba aja sendiri. Mas, ini temen-temen saya, Andi sama Vera."
"Halo, Mas. Kenalin, saya Andi," kata lelaki berkacamata itu.
"Saya Vera," sahut yang perempuan, tersenyum ramah.
"Halo, selamat datang. Mau pesen apa?"
"Saya samain kayak Sinta aja," kata Andi.
"Saya juga," sahut Vera.
Reyhan mulai memasak tiga porsi sekaligus, gerakannya semakin lincah berkat latihan berhari-hari. Kak Sinta memperhatikan dengan bangga, seolah dialah yang mengajari Reyhan memasak.
"Nih, liat kan, Mas ini emang jago," kata Kak Sinta ke teman-temannya, dengan gaya bangga seolah dialah yang menemukan bakat terpendam Reyhan.
"Kak Sinta kayak manager saya aja promosiin gini," celetuk Reyhan sambil terus mengaduk wajan.
"Ya kan saya penemu pertamanya, wajar dong promosiin," jawab Kak Sinta bangga. "Kayak investor awal startup, harus dikasih kredit."
"Investor apaan, Kak Sinta kan cuma beli satu porsi kemarin."
"Tapi satu porsi yang menentukan, Mas! Kalau saya nggak coba duluan, mana ada testimoni dari saya ke Andi sama Vera ini."
Andi dan Vera tertawa mendengar perdebatan kecil itu. "Sinta emang gini orangnya, Mas, suka ngerasa paling berjasa," celetuk Andi.
"Ih, kamu jangan bocorin sifat asli saya dong, Di."
Setelah ketiga porsi selesai dan diserahkan, mereka bertiga duduk di kursi lipat kecil yang sengaja Reyhan tambah jumlahnya sejak hari kemarin, mengantisipasi makin banyak pembeli yang ingin makan di tempat.
"Enak beneran, Sin," komentar Vera setelah mencicipi. "Kamu nggak bo'ong."
"Nah, kan! Makanya saya bilang, coba dulu."
"Tapi tetep aja, kamu tuh suka lebay kalo cerita," sahut Andi. "Kemarin kamu bilang ini 'nasi goreng terenak sejagat', padahal ya enak doang, bukan terenak sejagat juga."
"Ya biar menarik aja, Di, kalo bilang biasa aja siapa yang penasaran."
"Untung rasanya beneran enak, kalo enggak, malu-maluin kamu doang yang kena," balas Andi, membuat Reyhan tertawa mendengar perdebatan seru itu.
Reyhan, sambil membersihkan sisa-sisa minyak di sekitar kompor, ikut menimpali. "Makasih ya, Kak Sinta, udah bawa temen-temen. Lumayan banget buat saya."
"Sama-sama, Mas. Tapi inget ya, kalo nanti udah rame banget, jangan lupa saya, saya kan pelanggan pertama."
"Siap, Kak. Nggak akan lupa."
Sore itu, seorang lelaki paruh baya berseragam office boy juga mampir, memperkenalkan diri sebagai Mas Joko dari gedung sebelah.
"Mas, saya sering liat gedung sini rame ke gerobak Mas. Katanya enak ya?"
"Katanya sih gitu, Mas. Silakan coba sendiri."
"Boleh, satu porsi. Eh, saya juga kerja di gedung situ, sering keliling nganterin dokumen antar lantai. Kalau enak, nanti saya kabarin temen-temen OB lain juga."
"Wah, makasih banyak, Mas Joko."
"Sama-sama. Kita sesama pekerja keras harus saling dukung, Mas," kata Mas Joko sambil tertawa ramah.
Reyhan memasak porsi terakhir sore itu dengan perasaan hangat, menyadari betapa jaringan pelanggannya mulai terbentuk secara alami dari Sinta yang membawa Andi dan Vera, sampai Mas Joko yang berjanji menyebarkan kabar ke sesama office boy gedung sebelah.
Malam itu, sebelum pulang, Reyhan membuka layar holografik sistem, memeriksa progresnya yang mulai bergerak lebih cepat dari hari-hari sebelumnya.
> [Progres Misi: Rp1.240.000 / Rp15.000.000]
> [Sisa waktu: 3 hari, 4 jam.]
Fajar datang lagi malam itu, seperti biasa.
"Bang, tadi saya liat rame banget dari kejauhan. Ada apaan?"
"Ada yang bawa temen-temen, Jar. Lumayan, jadi makin dikenal."
"Wah, jangan-jangan saya udah kalah pamor nih jadi tim marketing?"
"Kayaknya sih iya, Jar. Kak Sinta lebih efektif promosinya."
"Yah, Bang, jangan gitu dong. Saya kan pioneer di sini, jasa perintis harus dihargai."
"Perintis apaan, kamu kan cuma numpang makan gratis tiap malem."
"Itu namanya riset pasar langsung, Bang. Bukan numpang makan doang."
Reyhan tertawa mendengar alasan Fajar yang selalu ada-ada saja, mendorong gerobaknya pulang malam itu dengan perasaan optimis — hari keempat ini terasa jadi titik balik, di mana jaringan pelanggannya mulai tumbuh dengan sendirinya, jauh melampaui apa yang bisa dia capai sendirian.
Keesokan paginya, sebelum berangkat ke pasar, ponsel Reyhan berbunyi. Ternyata dari Kak Sinta.
"Halo, Mas Reyhan? Ini Sinta yang kemarin beli nasi goreng."
"Oh iya, Kak Sinta. Ada apa, Kak?"
"Gini, saya mau nanya, kalau saya pesen banyak buat acara kantor kecil-kecilan, bisa nggak? Kira-kira lima belas porsi."
Reyhan sempat terdiam sejenak, kaget dengan pesanan sebesar itu. "Bisa, Kak! Kapan mau diambil?"
"Besok siang, buat makan siang bareng tim. Bisa nggak, Mas?"
"Bisa banget, Kak. Saya siapin dari sekarang."
"Oke, makasih ya, Mas. Nanti saya transfer DP-nya, biar Mas nggak nombok duluan buat belanja bahannya."
Reyhan menutup telepon dengan perasaan campur aduk antara senang dan sedikit panik ini pesanan terbesar pertamanya sejak mulai berjualan, dan dia harus memastikan semuanya berjalan lancar tanpa insiden seperti hari-hari pertama dulu, saat kompor rewel dan bumbu keasinan hampir bikin dia menyerah total.
Ia langsung menelepon Dimas lagi, kali ini bukan untuk resep, tapi untuk konsultasi soal pesanan dalam jumlah besar.
"Dimas, gawat nih, ada yang pesen lima belas porsi buat besok."
"Wah, lumayan tuh, Pak! Kenapa gawat?"
"Saya belum pernah masak sebanyak itu sekaligus. Takut nggak keburu atau malah rasanya beda-beda tiap porsi."
"Tenang, Pak. Kuncinya, masak bumbu dasarnya sekaligus banyak, terus nasinya juga siapin lebih awal. Jangan masak satu-satu dari nol tiap porsi, keburu kesorean."
"Oh, jadi kayak produksi massal gitu ya?"
"Nah, iya, Pak! Bapak saya juga gitu kalau ada pesenan buat hajatan. Bumbu digiling banyak sekaligus, baru pas masak tinggal ambil sesuai porsi. Lebih hemat waktu dan tenaga, Pak."
"Wah, makasih banyak, Dimas. Kamu emang penyelamat lagi."
"Sama-sama, Pak. Semangat, ini pertanda bagus lho, artinya jualan Bapak makin dipercaya orang."
Reyhan tersenyum mendengar kalimat penutup Dimas itu, merasa bangga sekaligus terharu muridnya sendiri yang dulu susah payah dia yakinkan untuk semangat sekolah, sekarang jadi orang pertama yang dia andalkan untuk urusan bisnis, sebuah pembalikan peran yang terasa aneh sekaligus menghangatkan hati.
Sore harinya, sambil menyiapkan bahan tambahan untuk pesanan besar besok, Fajar mampir lebih awal dari biasanya.
"Bang, katanya dapet pesenan gede? Kak Sinta cerita ke saya tadi pagi."
"Loh, kalian temenan juga?"
"Nggak temenan sih, Bang, cuma kenal doang gara-gara sama-sama beli di sini. Tapi katanya lima belas porsi ya?"
"Iya, Jar. Deg-degan juga saya, takut nggak keburu."
"Tenang, Bang, saya bantuin masak besok. Anggep aja upah gratisan makan malem selama ini saya lunasin."
"Serius mau bantu, Jar?"
"Serius, Bang. Lumayan, itung-itung pengalaman kerja buat CV, siapa tau nanti dicari perusahaan katering."
"CV kamu isinya 'ahli makan gratis' gitu, Jar?"
"Eh, jangan salah, Bang. Saya juga jago ngangkat-ngangkat galon sama nyapu kok. Serbaguna."
"Ya udah, besok saya tes kemampuan serbaguna kamu itu."
Reyhan tertawa mendengar alasan Fajar yang lagi-lagi absurd tapi entah kenapa selalu bikin suasana jadi ringan. "Ya udah, makasih banyak, Jar. Besok pagi dateng awal ya."
"Siap, Bang. Tapi jangan lupa, upahnya nasi goreng gratis sepuasnya."
"Dasar kamu ini," gumam Reyhan sambil tertawa, melanjutkan persiapan bahan untuk pesanan besar pertamanya besok — sebuah tantangan baru yang, meski bikin deg-degan, terasa jauh lebih menyenangkan dibanding kekacauan hari-hari pertama yang penuh insiden konyol itu, sekaligus jadi bukti nyata bahwa usahanya perlahan mulai dipercaya orang lain.