Indonesia
NovelToon NovelToon
ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.

Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.

Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.

Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?

Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?

Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Konflik Batin Arini

Adzan Ashar baru saja berkumandang, memecah keheningan sore yang menyelimuti ruko itu. Suaranya menggema lembut, mengalun dari masjid tak jauh dari tempat tinggal baru Arini. Ia yang sejak tadi duduk termenung di ruang meeting perlahan bangkit. Tubuhnya masih terasa lelah setelah seharian mengurus kepindahan, tetapi panggilan salat selalu mampu memberinya kekuatan untuk berdiri.

Langkahnya mengarah ke kamar barunya. Koper-koper berisi pakaian masih bertumpuk di salah satu sudut ruangan. Lemari juga belum terisi. Meski begitu, kamar itu sudah tampak bersih dan rapi. Seprai baru terbentang di atas kasur, tirai berwarna krem menutupi jendela, sementara aroma pewangi ruangan menghadirkan kesan hangat yang menenangkan. Tempat itu memang belum sepenuhnya menjadi rumah, tetapi setidaknya sudah cukup nyaman untuk menjadi tempatnya memulai kehidupan yang baru.

Arini mengambil handuk kecil, lalu masuk ke kamar mandi. Air yang membasuh wajah dan tubuhnya seolah ikut meluruhkan penat yang sejak pagi menempel di hati. Setelah selesai membersihkan diri, ia berwudu dengan khusyuk, membiarkan setiap basuhan menjadi doa agar Allah menghapus segala luka yang masih tersisa.

Beberapa menit kemudian, Arini telah berdiri menghadap kiblat. Di dalam kamar yang sederhana itu, ia menunaikan salat Ashar empat rakaat dengan penuh kekhusyukan. Setiap sujud terasa lebih lama dari biasanya. Dalam diam, ia menyerahkan semua rasa sakit, kecewa, dan kehilangan yang selama ini memenuhi dadanya kepada Sang Pemilik Hati. Hanya kepada Allah ia mampu bercerita tanpa harus menjelaskan apa pun.

Usai mengucapkan salam, Arini masih duduk bersimpuh. Jemarinya terangkat, bibirnya bergetar lirih memanjatkan doa. Ia memohon agar diberi kekuatan untuk menjalani hidup yang kini harus ia tempuh seorang diri. Setelah mengusap wajah, ia mengembuskan napas panjang. Entah mengapa, dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Ia berniat membaringkan diri sejenak di atas kasur. Namun, baru saja kepalanya menyentuh bantal, ponsel yang diletakkannya di samping tempat tidur kembali berdering.

Arini meraih ponsel itu. Dahinya sedikit berkerut saat melihat nama yang muncul di layar.

**Rere.**

Sepupu Galang.

Jantungnya berdegup pelan. Sesaat ia ragu. Haruskah panggilan itu diangkat? Ia sudah lelah mendengar kabar apa pun yang berkaitan dengan keluarga mantan suaminya.

Ponsel itu terus berdering. Setelah menarik napas panjang, akhirnya Arini menggeser tombol hijau.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam. Rin, ini Rere. Kamu masih ingat, kan?"

Arini tersenyum tipis. "Masih lah. Kamu sepupunya Mas Galang, kan?"

"Iya, Rin. Aku mau minta maaf karena baru bisa mengabarimu. Sebenarnya dari kemarin-kemarin aku mau menghubungi kamu, tapi ponselku hilang. Baru hari ini aku beli yang baru."

Arini mengernyit. "Mengabari apa, ya, Re?"

"Itu... tentang pernikahan Galang."

Tatapan Arini langsung kosong. Meski ia sudah mengetahui kabar itu, mendengarnya kembali tetap saja membuat dadanya sesak.

"Kamu tahu juga, Re?"

"Ya tahu lah. Mereka sampai ngundang-ngundang tetangga. Tapi ibuku justru nggak diundang. Soalnya, ibu benar-benar menentang pernikahan itu. Beliau berkali-kali melarang Tante Marni, tapi Tante tetap bersikeras ingin bermenantukan Mayang. Akhirnya ya... pernikahan itu tetap dilaksanakan."

Arini terdiam beberapa detik.

"Kenapa ibumu menentang pernikahan itu? Bukannya kamu ponakannya Pak Hardi?"

Di seberang sana terdengar Rere terkekeh pelan.

"Hah? Ponakan Om Hardi? Bukan, Rin."

"Bukan?"

"Bukan. Om Hardi itu cuma ayah sambungnya Galang sama Vera. Om kandungku namanya Om Hasan. Beliaulah ayahnya Galang dan Vera. Sayangnya, Om Hasan sudah meninggal empat tahun lalu karena kecelakaan."

Arini benar-benar terkejut.

"Oh... begitu? Kok Mas Galang nggak pernah cerita soal itu, ya?"

"Masa sih?"

"Bener, Re. Aku baru tahu sekarang."

Beberapa detik suasana kembali hening.

"O ya, Rin..." suara Rere terdengar lebih serius. "Aku sebenarnya menelepon karena mau mengirim video pernikahan Galang."

Arini mengernyit.

"Untuk apa?"

"Kalau-kalau kamu mau menggugat Galang."

"Maksudnya?"

"Galang itu PNS, Rin. Setahuku, dia sudah melanggar aturan karena menikah lagi tanpa izin dari istri sah dan tanpa prosedur yang semestinya. Video ini bisa jadi bukti. Kalau memang kamu mau melaporkannya, mungkin saja itu akan membantu prosesnya."

Ucapan Rere membuat Arini terdiam cukup lama.

Tangannya menggenggam ponsel sedikit lebih erat, sementara pandangannya jatuh ke lantai. Dadanya kembali dipenuhi sesak yang beberapa menit lalu sempat reda setelah salat Ashar.

"Kalau memang kamu mau melaporkannya, mungkin saja itu akan membantu prosesnya."

Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Arini mengembuskan napas panjang.

"Re... terima kasih sudah peduli sama aku."

"Iya, Rin. Aku cuma nggak terima aja sama perlakuan mereka ke kamu."

"Aku paham."

"Kalau kamu mau videonya, nanti aku kirim."

"Iya... kirim aja!"

"Baik. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Sambungan telepon pun berakhir.

Beberapa detik kemudian, terdengar nada notifikasi dari aplikasi pesan. Sebuah video berdurasi beberapa menit telah masuk. Arini hanya menatap layar ponselnya tanpa berniat membukanya.

Jarinya menggantung di atas tombol putar. Namun, ia mengurungkannya. Ia belum siap melihat wajah Galang tersenyum di pelaminan bersama perempuan lain.

Arini meletakkan ponselnya di atas kasur. Ia menyandarkan tubuh ke kepala ranjang sambil memejamkan mata. Pikirannya kembali dipenuhi pertanyaan.

*Haruskah aku melaporkannya?*

Bukankah semua yang dilakukan Galang memang salah? Ia masih berstatus suami sah ketika menikahi Mayang. Sebagai seorang PNS, Galang tentu mengetahui bahwa ada aturan yang harus dipatuhi. Namun, ia tetap memilih melanggarnya.

Kalau Arini melapor, mungkin Galang akan mendapat sanksi. Bisa jadi karier yang selama ini dibangunnya hancur. Bahkan bukan tidak mungkin pekerjaannya ikut terancam.

Bukankah itu pantas? Bukankah selama ini Galang membiarkan dirinya dihina, disakiti, bahkan dipaksa menerima kehadiran perempuan lain sebagai madu?

Belum lagi Bu Sumarni yang berkali-kali mengatakan bahwa Arini hanyalah penghalang kebahagiaan anaknya.

Mayang pun tak pernah menunjukkan rasa bersalah. Dengan begitu percaya diri, perempuan itu merebut suami orang seolah tidak sedang menghancurkan rumah tangga orang lain.

Semuanya terasa begitu tidak adil. Untuk sesaat, hati Arini dipenuhi keinginan agar mereka merasakan sedikit saja dari luka yang selama ini ia tanggung.

Namun, keinginan itu hanya bertahan beberapa detik. Ia kembali mengingat doa yang baru saja dipanjatkannya setelah salat Ashar.

*"Ya Allah, lapangkanlah dadaku. Jangan biarkan kebencian menguasai hatiku."*

Arini membuka mata perlahan. Ia sadar, melaporkan Galang memang merupakan haknya. Bahkan jika dilakukan, itu bukanlah fitnah atau kebohongan. Galang memang harus bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambilnya.

Tetapi... Apakah ia benar-benar ingin melakukannya karena menegakkan kebenaran?

Atau hanya karena ingin membalas dendam?

Pertanyaan itu menusuk hatinya sendiri.

Arini menundukkan kepala.

Ia takut jika keputusan yang diambil hanya lahir dari kemarahan. Sebab keputusan yang didorong oleh amarah sering kali meninggalkan penyesalan.

Di sisi lain, ia juga tidak ingin menjadi perempuan yang terus-menerus mengalah hingga orang lain merasa bebas berbuat semena-mena.

"Ya Allah..." bisiknya lirih. "Bimbing aku mengambil keputusan yang benar. Bukan keputusan yang memuaskan emosiku, tetapi keputusan yang Engkau ridai."

Setetes air mata kembali mengalir di pipinya. Ia mengusapnya pelan. Untuk saat ini, ia memutuskan satu hal. Video itu akan tetap disimpannya.

Bukan sebagai alat balas dendam. Melainkan sebagai bukti, jika suatu hari nanti proses perceraiannya membutuhkan kenyataan yang selama ini coba disembunyikan oleh Galang dan keluarganya.

Sisanya...

Ia memilih menyerahkannya kepada Allah.

Karena ia percaya, hukuman yang datang dari manusia mungkin bisa dihindari. Namun, tidak ada seorang pun yang mampu lari dari keadilan Tuhan.

_________________________________

Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!

Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).

Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)

Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)

Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼

1
Marina Tarigan
sdj kere masih Arogan mantan suami
Marina Tarigan
baru sadar ya merendahkan orang yg bertanggung jawab dan menyakiti nokmati kehancuran kalian
Marina Tarigan
amankan semua aseymu karen a bisa timbul perlawanan dari pihak suamimu dan galamg laki2 tolol itu
Marina Tarigan
waniya tangguh dan mandiri tdk perlu suami dan keluarga arogan
Marina Tarigan
diam2 menysun rencana untk dirimu tak usah punya suami bisfap dan mertua songong dhn kata2 merendahkan dan egois
Marina Tarigan
lanjut terus berantamnya Arini sdg menyusun renvana yg mematikan semuanya
Marina Tarigan
cerai saja dan usir merela dari rmh Arini bari yahu tasa
Marina Tarigan
lejutan sebentar lagi yg sangat mengejutkan kalian
Marina Tarigan
benar 2 inu bijaksana benar nasihat dan masukan ibu khadizah karena pernikahan antara laki2 dan wanita harus saling menghargai saling mencintai saling menghormati bukan menyakiti dan merendahkan mknya berverailah dp terbelenggu oleh manusia serakah tdk punya etika tdk punya hati
Marina Tarigan
bofoh kali suamimu benalu itu Arini dia tdk tahu penghasilanmu dari usaha yg besar ya. idiot kali timggalkan saja benalu itu sebelu pergi siapkan semua aset2mu dan surat2 penting baru singkirkan semua ular beludak itu baru tahu rasa utk apa suami bodoh
Marina Tarigan
galang orsng tolol iq nya hanya 3 neg kam dia lihst selama ini keadaan rumah dan belanja berapa yg dia kasih sm istrinya
Marina Tarigan
rupanya galang suami katak lompat bodoh dungu tdk punya atitude langko losong tdk punya harga diri ya. ampun keluarga benalu songong
Marina Tarigan
begitu dong eanita tangguh jgn mau ditindad kalau mereka tambah kasar dan galang hanya diam awa barang2mu tinggalkan rmh
Marina Tarigan
bacaan ini memang cerita tapi alurnya terlampau biadap deh seorang istri sah terlampau dihina keluarga dan suaminya sendiri lebib baik mundur Arini
echa purin
👍
Bella. pr1ncess
peran utama kok menye menye bebal banyet banyak mikir
Bella. pr1ncess
kenapa tidak sat set sih kok lambat banget kapan cerainya muter muter terus
Sri Lestari
kalau sdah pergi..baru terasa betapa berharganya orang tsb...
Dandelion
makan tuh si mayang bu sumarni menantu kesanyangan mu bu 😁🤣
Dandelion
galang dan keluarganya bnr2 medusa...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!