Indonesia
NovelToon NovelToon
Putri Cacat Jadi Konglomerat

Putri Cacat Jadi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Orang Disabilitas / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.

Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.

Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.

Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anak Istimewa

Lima tahun berlalu sejak pagi itu di balai desa.

Gubuk reyot Nek Lasmi kini terasa sedikit lebih hidup, dipenuhi suara tawa kecil yang menggema setiap pagi. Dinding bambu yang lapuk dihiasi coretan krayon di beberapa sudut rendah, hasil karya tangan mungil yang belum genap lima tahun usianya, namun sudah pandai memegang alat tulis lebih baik dari anak-anak seusianya.

Setiap subuh, sebelum ayam berkokok, Nek Lasmi sudah bangun menyalakan tungku kayu di dapur sempitnya. Asap tipis mengepul memenuhi ruangan, bercampur aroma tepung beras dan kacang tanah yang digoreng perlahan hingga renyah keemasan.

"Haruna, bangun, Nak. Bantu Nenek aduk adonan, ya," panggil Nek Lasmi lembut, sambil menepuk-nepuk bahu kecil yang masih terbungkus selimut tipis.

Haruna mengucek matanya, lalu tersenyum lebar begitu melihat wajah keriput yang paling ia cintai di dunia ini. "Iya, Nek!" jawabnya riang, bergegas bangun dengan sedikit kesulitan menopang tubuhnya, kaki kecilnya yang tak sempurna membuatnya harus berpegangan pada tiang kayu sebelum akhirnya berhasil berdiri.

Sejak kecil, ke mana pun Nek Lasmi pergi, Haruna selalu dibawa serta. Digendong ketika masih bayi, lalu berjalan tertatih di samping neneknya begitu mulai bisa melangkah sendiri... dari dapur sempit tempat mereka menggoreng peyek, hingga menyusuri jalan setapak dari desa ke desa untuk menjajakan dagangan. Terkadang mereka berjalan berjam-jam di bawah terik matahari, namun Haruna tak pernah sekali pun mengeluh, hanya menggenggam ujung kain Nek Lasmi sambil bersenandung riang.

"Nek, peyeknya laku berapa hari ini?" tanya Haruna suatu sore, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu saat mereka beristirahat di bawah pohon rindang selepas berkeliling.

Nek Lasmi menghitung recehan di kantong kainnya, lalu tersenyum. "Alhamdulillah, laku banyak, Nak. Nanti kita bisa beli telur buat makan malam."

Beruntung, tak semua orang di desa itu bersikap dingin. Bu Inah masih setia membelikan susu setiap bulan, Koh Aliong sesekali menyisipkan pakaian bekas yang masih layak pakai untuk Haruna, dan beberapa tetangga lain kerap memberikan sisa makanan atau uang recehan sebagai bentuk kepedulian mereka. Berkat uluran tangan-tangan kecil itu, Haruna tumbuh sehat, bahkan jauh lebih cerdas dari anak-anak seusianya. Ia sudah bisa membaca dan berhitung sederhana meski belum pernah mengenyam bangku sekolah, hanya belajar dari Nek Lasmi yang mengajarinya menggunakan ranting kayu di atas tanah.

Namun kecerdasan dan keceriaan yang dimiliki Haruna tak lantas membuatnya diterima oleh anak-anak sebayanya. Kaki kecilnya yang berbeda selalu jadi bahan tatapan aneh, bahkan cemoohan, setiap kali ia mencoba mendekat untuk bermain bersama.

Sore itu, seperti biasa, Haruna berlari atau lebih tepatnya, berjalan tertatih dengan semangat menuju halaman balai desa tempat anak-anak biasa berkumpul bermain layangan dan kelereng.

"Nek, Haruna main dulu, ya!" serunya riang sebelum melangkah keluar gubuk.

"Hati-hati, Nak," sahut Nek Lasmi sambil mengawasi dari kejauhan, tersenyum melihat semangat cucunya.

Sesampainya di sana, Haruna melihat sekumpulan anak sedang asyik bermain kejar-kejaran, tawa mereka membahana memenuhi halaman. Dengan penuh harap Haruna mendekat, senyum lebar terukir di wajahnya.

"Aku boleh ikut main, nggak?" tanyanya, suaranya penuh semangat meski agak terengah karena berjalan cukup jauh.

Namun bukan sambutan hangat yang ia dapatkan. Salah seorang anak laki-laki, yang paling besar di antara mereka, malah tertawa mengejek. "Ih, ngapain main sama anak cacat? Nanti kita jadi lambat kayak dia!"

"Iya, betul! Lagian dia kan anak buangan. Orangtuanya aja nggak mau, masa kita mau temenan sama dia," timpal anak yang lain, disambut gelak tawa dari teman-temannya.

Haruna terdiam, senyumnya perlahan pudar. "Aku... aku cuma mau main bareng kalian aja," ucapnya lirih, matanya mulai berkaca-kaca.

Namun bukannya berhenti, salah satu anak justru mengambil batu kecil dari tanah dan melemparkannya ke arah Haruna, mengenai lengannya. "Pergi sana! Kita nggak mau main sama anak cacat!"

Beberapa batu kecil lain menyusul, membuat Haruna refleks menutupi wajahnya dengan kedua tangan, air matanya tumpah tak tertahankan. Ia berbalik, berjalan tertatih menjauh sambil terisak keras. Tak peduli lagi pada rasa sakit di lengannya, jauh lebih perih rasa sakit yang menghujam hatinya.

Tangisan itu terdengar sampai ke gubuk Nek Lasmi yang sedang menganyam tikar. Ia langsung bangkit, bergegas keluar dengan tongkat kayunya begitu melihat cucunya berlari tersaruk-saruk ke arahnya.

"Haruna! Ada apa, Nak?" Nek Lasmi berjongkok, memeriksa lengan Haruna yang memerah bekas lemparan batu.

Melihat kondisi itu, amarah Nek Lasmi langsung memuncak. Ia berjalan cepat menuju kerumunan anak-anak yang masih tertawa-tawa, matanya menyala penuh amarah yang jarang sekali ditunjukkannya.

"Kalian ini anak siapa, hah! Berani-beraninya lempar anak kecil pakai batu!" bentak Nek Lasmi, membuat anak-anak itu langsung terdiam ketakutan, satu per satu membubarkan diri tanpa berani menjawab.

Nek Lasmi kembali menghampiri Haruna yang masih terisak, lalu memeluknya erat-erat. "Sudah, sudah, Nak. Jangan nangis lagi, ya."

Namun tangisan Haruna justru semakin menjadi dalam pelukan neneknya. "Nek..." isaknya di antara sesenggukan, "kenapa Haruna beda sama yang lain? Kenapa Haruna dibuang sama orangtua Haruna, Nek?"

Pertanyaan itu bagaikan sembilu yang menghujam dada Nek Lasmi. Ia terdiam sesaat, tak tahu harus menjawab apa, sementara air matanya sendiri mulai menetes tanpa bisa ditahan.

"Ayo pulang dulu, Nak," ucap Nek Lasmi akhirnya, suaranya bergetar sambil menuntun Haruna berjalan pelan-pelan kembali ke gubuk mereka.

Sesampainya di rumah, Haruna duduk di dipan kayu, masih sesenggukan sambil menatap kakinya sendiri. "Nek," ucapnya pelan, "apa karena kaki Haruna cacat, makanya Haruna dibuang? Apa karena ini juga makanya Haruna nggak punya teman?"

Hati Nek Lasmi terasa semakin hancur berkeping-keping mendengar pertanyaan polos itu. Ia duduk di samping Haruna, menggenggam kedua tangan mungil cucunya erat-erat.

"Haruna bukan anak cacat, Nak," ucap Nek Lasmi, berusaha menguatkan suaranya meski dadanya terasa sesak. "Haruna itu anak istimewa. Kaki Haruna memang beda, tapi itu bukan berarti Haruna kurang dari siapa pun. Justru karena itu, Haruna jadi anak yang kuat, yang berani, yang pintar jauh lebih dari anak-anak lain seusia Haruna."

"Tapi kenapa mereka nggak mau temenan sama Haruna, Nek?" tanya Haruna lagi, matanya yang sembap menatap lurus ke wajah neneknya.

Nek Lasmi menarik Haruna ke dalam pelukannya, mendekapnya sekuat tenaga seolah ingin melindungi cucunya dari seluruh kekejaman dunia. "Nanti juga Haruna akan ketemu orang-orang yang sayang sama Haruna apa adanya. Yang penting sekarang, ada Nenek di sini. Nenek nggak akan pernah ninggalin Haruna."

Dalam dekapan itu, Nek Lasmi memejamkan mata, menahan isak yang nyaris lolos dari tenggorokannya. Dalam hati, ia berdoa sepenuh jiwa... memohon pada Yang Maha Kuasa agar diberikan umur panjang, kekuatan, dan kesehatan, agar ia bisa terus berada di samping Haruna. Menjaga dan menyayangi cucu kecilnya itu selama mungkin, hingga gadis kecil itu cukup kuat untuk berdiri sendiri menghadapi dunia yang belum tentu ramah kepadanya.

1
Ilfa Yarni
akhirnya ank kandung dan ank pungutnya bagas bertemu gmn kelanjutannya ya
Iffanaya 😽
nah kan ternyata anak angkat bahkan istri nya sendiri gk tau, kyk nya setelah buang Hanura ngangkat anak buat gantiin Hanura
Ilfa Yarni
akhirnya ank pungutnya satu universitas dgn haruna aku ingin lihat gmn reaksi bagas klo ketemu haruna apakah dia sadar klo itu ank yg dia buang
Muft Smoker
apa reynand ank yg di ambil Bagas setelah buang haruna ,, buat gantiin haruna???
Iffanaya 😽
apa setelah buang haruna, Larasati hamil lg tp umur nya 18 thn seumuran haruna 🤔
Ilfa Yarni
nah lo wmang enk ank kandung dibuang itu sireynan km pungut dmn
Iffanaya 😽
duuuh jd nangis aku Thor bacanya 😭😭 sedih bgt semangat haruna
Ilfa Yarni
aaa aku Baca ini nagis trus semangat ya haruna km bisa bumtikan pd dunia bahwa ketidaksempurnaan tubuhmu tidak akan menghalangi kesuksesanmu
Muft Smoker
semangat trus haruna ,,
aq GX bakal bosen buat ngucapin kata tu ,,
disaat org yg sempurna byk yg malas2aan ,, Krn merasa punya hidup yg serba berkecukupan ,,
malah menyia2kan hidup muda ny ,,
sedangkan km yg punya kekurangan tdk prnh menyrut kan semangat mu ,,
nenek mu pasti bangga melihat mu dari atas sana haruna ,,
Ilfa Yarni
aaaa sedih bamget aku sampe nangis bacanya aku benci sama kedua orangtua aruna yg tega membuangnya krn kakinya ga normal
Ilfa Yarni
huhuhu. sedih bamget
Muft Smoker
terkadang emnk kondisi seseorang yg di bilang parah ,,
tau2 keliatan ny sembuh seperti biasa ,, yx pertanda kalo tu kondisi sementara sebelum mereka pergii ,, 🥹😭😭😭 ,,

semangat trus haruna ,, km boleh berduka ,, tp cita2 jgn sampe di lupain,,
Muft Smoker
km bnr haruna ,, mimpi bisa menunggu tp nenek mu entah sampai Kpn bisa nunggu ,,
semangat haruna ,,
ni hanya kesuksesan yg tertunda ,,
msh ad jalan lain menuju sukses yg bisa km raih ,,
Muft Smoker
semangat haruna ,, di balik ini semua pasti ada kejutan besar buat dirimu ,,
Ilfa Yarni
knp tib2 begitu kan jadi pecah konsentrasi haruna
Ilfa Yarni
km sangat pintar haruna km pasti bisa mask universitas itu
Muft Smoker
semangat haruna ,, km pasti bisa sukses ,,
Ilfa Yarni
km pasti sukses haruna aku yakin itu
Muft Smoker
semangat haruna ,,
km harus tunjukin ma org2 yg jahatin km ,,
kalo keterbatasan km tdk menghilang kan semangat km belajar ,,
Ilfa Yarni
Ayo hatina tunjukkan klo km itu pintar biar mrk yg jahat pdmu melongo krn syok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!