Di lima alam kultivasi yang bertingkat — Dunia Fana, Dunia Roh, Dunia Dewa, Dunia Dewa Kuno, hingga Dunia Kekosongan — seorang Kaisar Dewa gagal menembus batas tertinggi dan tubuhnya hancur menjadi debu. Namun jiwanya yang tak pernah mati terlahir kembali ke dunia fana sebagai Ye Hu, anak tertua seorang Marquis yang dicap sampah karena dantian-nya hancur akibat keracunan tiga tahun lalu.
Dengan ingatan ribuan tahun dan pengetahuan alkimia serta teknik kuno yang telah hilang dari dunia, Ye Hu bangkit perlahan. Ia menyembuhkan dantian-nya sendiri, menciptakan pil dengan kemurnian mustahil bagi siapa pun di tingkatnya, dan mengungkap pengkhianatan di dalam keluarganya sendiri —
Ini barulah awal perjalanannya, Selanjutnya dia menemui keturunan dari murid-muridnya sedang menderita di dunia dana ini. Dengan kondisi tubuh yang terbatas, Ye Hu berusaha untuk membantu buyut dari murid-muridnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tubuh Es dan Pil Yinyang
Keheningan sejenak menyelimuti ruangan itu setelah Ma Teng menerima perbaikan jurus yang mengubah hidupnya. Lalu Adipati Wu Ling maju selangkah, kedua tangannya meremas erat di depan dada, wajahnya penuh keresahan yang tak bisa disembunyikan. Dengan hormat yang dalam, ia membungkuk sedikit ke arah Ye Hu.
"Tuan Ye Hu... saya juga memiliki kesulitan yang sudah lama menghantui, dan saya berharap Tuan dapat membantu saya."
Ye Hu tertegun sejenak. Kata "Tuan" yang diucapkan oleh Mu Yan dan Ma Teng bisa ia pahami sebagai bentuk penghormatan dalam urusan bisnis. Namun seorang Adipati — bangsawan tingkat tinggi yang dihormati satu kota — memanggilnya "Tuan" dengan tulus? Itu membuatnya merasa tidak nyaman. Ia segera berdiri dan membalas hormat dengan tulus.
"Adipati Wu Ling, mohon jangan memanggilku Tuan. Penghormatan seperti itu tidak pantas untukku. Aku jauh lebih muda darimu. Cukup panggil namaku saja, Ye Hu. Ceritakanlah apa yang bisa kubantu."
Adipati mengangguk sedikit malu. "Baik... Saudara Ye Hu. Begini... putriku menderita penyakit aneh. Awalnya hanya demam dan menggigil hebat sebulan sekali, tapi lama-kelamaan semakin sering. Kini setiap minggu ia jatuh sakit, tubuhnya sedingin es, napasnya lemah seakan nyawanya perlahan membeku. Para tabib menyebutnya Tubuh Es — tubuh yang secara alami menarik energi dingin dari alam hingga menyakiti dirinya sendiri. Aku sudah mencarikan tabib dari mana saja, tak ada yang bisa menyembuhkannya. Aku berharap... Saudara Ye Hu bersedia meminta gurumu untuk menolong putriku. Aku akan membayar berapapun yang diminta."
Mata Ye Hu melebar sedikit, jantungnya berdegup lebih cepat — bukan karena takut, melainkan karena kegembiraan yang tak terduga. Tubuh Es! Itu adalah salah satu dari tubuh istimewa yang paling dicari di seluruh lima dunia! Orang dengan tubuh seperti itu memiliki bakat luar biasa dalam kultivasi elemen air dan es, kecepatan penyerapan energi berkali-kali lipat dari orang biasa. Seandainya saja ia bisa memilih tubuh untuk ditransmigrasikan, tubuh Es ini adalah impian setiap kultivator. Jika ia masih Xuan Ling, Kaisar Dewa, ia pasti akan langsung mengangkat putri Adipati menjadi murid pribadinya tanpa ragu sedikit pun.
Namun ia menyembunyikan kegembiraannya di balik wajah tenang. Ia tahu, di dunia ini ada beberapa cara untuk melawan musuh yang lebih kuat — memiliki tubuh istimewa, harta pelindung, senjata roh tingkat tinggi, artefak, atau penguasaan formasi dan talisman sihir. Namun dari semuanya, tubuh istimewa adalah yang paling langka dan memberikan kecepatan kenaikan tingkat yang paling luar biasa. Putri Adipati ini memilikinya — sayangnya, tubuh itu belum dikuasai, malah menyakiti pemiliknya sendiri.
"Aku akan membantu," ucap Ye Hu dengan tegas. "Aku akan menuliskan resep ramuan yang harus diminum setiap malam selama enam hari berturut-turut. Pada hari ketujuh, guruku akan membuatkan Pil Yinyang untuk putrimu. Pil itu akan menyeimbangkan energi dingin di dalam tubuhnya sehingga tidak lagi menyakitinya, malah bisa dikuasai dan digunakan."
"Pil Yinyang?!" seru Mu Yan kaget, matanya membelalak. "Itu adalah pil kuno tingkat tiga! Bahkan alkemis tingkat lima sekalipun kesulitan membuatnya! Jika pil itu berhasil dibuat, tidak hanya menyembuhkan — ia akan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap cuaca ekstrem dan memperkuat fondasi kultivasi. Jika dilelang, harganya pasti tak ternilai!"
"Aku akan memberikan resep lengkapnya," lanjut Ye Hu. "Beberapa bahan di dalamnya berumur di atas lima puluh tahun. Jika tidak ada di Kota Awan, Adipati bisa mencarinya di kota raja atau di Paviliun Obat Akademi Peracik Pil. Dan siapkan bahan untuk tiga kali percobaan — berjaga-jaga jika terjadi kegagalan."
"Jangan khawatir!" Adipati berseru penuh semangat, wajahnya bersinar karena harapan yang kembali menyala. "Aku akan mencari bahan itu ke mana saja! Sekaligus harus menyeberangi gunung dan sungai, aku akan mendapatkannya!" Ia mendekat sedikit, suaranya berharap. "Apakah gurumu tidak bisa datang langsung memeriksa putriku? Aku akan menyambutnya dengan hormat dan memberikan bayaran berapapun yang ia minta."
"Guruku tidak suka bertemu orang asing," jawab Ye Hu halus namun tegas. "Namun ada satu hal yang perlu diketahui. Pil Yinyang hanya akan menyeimbangkan tubuhnya. Untuk mengembangkan kekuatannya, putrimu harus mempelajari teknik yang sesuai — seperti Teknik Pedang Es atau Teknik Bunga Salju. Tanpa teknik yang tepat, kultivasinya hanya akan macet di tingkat Fondasi Awal. Atau..." Ye Hu berhenti sejenak, lalu melanjutkan pelan. "...ia memiliki pasangan hidup yang memiliki Tubuh Api — dua tubuh yang saling melengkapi."
Mu Yan mengangguk pelan. "Itu masuk akal. Selama ini tidak ada yang bisa menyembuhkannya secara penuh karena tidak ada yang tahu cara menyeimbangkannya."
"Sekte Teratai yang anggotanya khusus wanita mengajarkan Teknik Pedang Es," tambah Ma Teng. "Tapi Teknik Bunga Salju... aku belum pernah mendengarnya."
"Tentu saja banyak yang tidak tahu karena ini teknik kuno ribuan tahun. " Jawab Ye Hu. Ye Hu tidak mengatakan bahwa Teknik itu ada dalam prasasti lautan jiwanya dan dia mendapatkannya di Spirit Realm.
Adipati menghela napas lega. "Mendapat janji pil tingkat tiga saja sudah luar biasa. Aku tidak berani berharap lebih. Apa yang Saudara Ye Hu butuhkan sebagai gantinya? Batu roh? Artefak? Rekomendasi masuk ke sekte besar?"
Ye Hu menggeleng. "Aku tidak butuh itu. Aku hanya meminta satu hal — bantu aku menyelidiki siapa yang meracuniku di Rumah Bunga Indah seminggu yang lalu. Racun yang digunakan adalah Rumput Agony."
"Rumput Agony?!" Kali ini Mu Yan yang berseru kaget, wajahnya pucat. "Bagaimana mungkin kau masih hidup setelah meminumnya? Racun itu biasanya digunakan untuk mematikan binatang buas, bahkan panah beracun untuk berburu. Racun itu sangat mematikan bagi manusia!"
"Guruku adalah alkemis yang memahami racun dengan sangat baik," jawab Ye Hu tanpa menjelaskan lebih lanjut. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia sendiri sudah mati dan yang ada di tubuh ini bukanlah Ye Hu asli. Itu adalah rahasia yang harus dibawa sampai ke liang lahat.
Mu Yan menatapnya dalam-dalam, lalu tersenyum lembut. Ia semakin yakin bahwa ada roh leluhur yang hebat yang membimbing pemuda ini. "Baiklah. Kalau begitu, aku tidak akan memanggilmu Tuan. Biar aku panggil adik Ye Hu, dan kau panggil aku Kak Mu Yan. Bagaimana?"
Ye Hu mengangguk. "Tentu, Kak Mu Yan."
Ma Teng tetap diam, namun dari tatapannya terlihat hormat yang tak tergoyahkan. Sebagai pekerja di Balai Pelelangan, ia tetap memanggil Tuan Ye Hu — itu adalah bentuk penghormatan yang tak bisa ia ubah begitu saja.
"Siapa yang kau curigai?" tanya Adipati serius.
"Orang yang menginginkan kematianku ada di dalam keluargaku sendiri," jawab Ye Hu tenang namun matanya menajam. "Tiga tahun lalu, dantianku hancur bukan karena kegagalan kultivasi, melainkan karena Pil Penguat Sumsum yang diberikan ayahku telah dicampur racun. Aku tidak mencurigai ayahku — ia memberikannya dengan niat baik. Tapi ada orang lain yang memanipulasinya. Untungnya, dantianku rusak karena racun, bukan karena pukulan. Jika karena pukulan, pemulihannya membutuhkan pil tingkat empat dan bahan yang sangat langka. Tapi karena racun... selama akar spiritualku masih utuh, ia bisa diperbaiki."
Adipati mengangguk kagum. "Gurumu sungguh ahli yang luar biasa. Bisa menyembuhkan dantian yang hancur — hal yang dianggap mustahil di seluruh Kota Awan."
"Dantian yang di racun, itu sangat mudah di pulihkan. " Ucap Ye Hu dalam hati.
Setelah semua urusan terselesaikan, Ye Hu hendak berpamitan. "Satu hal lagi — aku ingin meminjam tungku perakitan terbaik yang Tuan Ma Teng sebutkan tadi. Biayanya nanti bisa diambil dari hasil lelang pil-ku."
"Tentu saja," jawab Ma Teng segera. Ia bergegas mengambil tungku api ungu yang dimaksud — benda berwarna ungu tua yang memancarkan panas samar, lalu memasukkannya ke dalam sebuah cincin penyimpanan. Cincin itu ia serahkan kepada Ye Hu. "Semua bahan yang Tuan butuhkan juga sudah kumasukkan ke dalamnya. Silakan digunakan sepuasnya."
Adipati Wu Ling juga berdiri. "Soal penyelidikan di Rumah Bunga Indah, aku akan mengurusnya. Tak ada yang berani menyembunyikan kebenaran dari Adipati." Ia mengeluarkan sebuah token perak berbentuk bunga teratai emas. "Bawalah ini. Jika kau ingin menemuiku, tunjukkan pada pengawal kediaman, mereka akan langsung mengantarkanmu."
Mu Yan juga memberikan sebuah lencana berwarna ungu dengan ukiran bunga api. "Ini lencana VIP Balai Pelelangan. Dengan ini kau mendapat diskon di semua cabang kami, dan boleh meminjam batu roh di sini kapan saja tanpa jaminan."
Ye Hu menerima kedua benda itu dengan rasa terima kasih yang tulus. Hari ini ia pulang bukan hanya dengan tungku dan bahan-bahan yang ia butuhkan — ia pulang dengan dukungan tiga orang paling berpengaruh di Kota Awan: pemilik Balai Pelelangan, manajer yang setia, dan seorang Adipati yang berkuasa. Tiga kekuatan yang jika digabungkan, tak mudah digoyahkan oleh siapa pun.
Saat melangkah keluar dari Balai Pelelangan, langkah Ye Hu terasa lebih ringan dan mantap. Di dalam hatinya, Xuan Ling tersenyum dingin. "Kalian yang ingin membunuhku... tunggulah. Enam bulan. Dalam waktu itu, aku akan kembali berdiri di tempat yang tak bisa kalian jangkau lagi."