Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Imut

Transmigrasi Gadis Imut

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nadia Utari

Lily adalah gadis biasa yang suka makan kue dan membaca novel, tiba-tiba masuk ke dalam dunia buku yang baru saja ia baca! Dan yang lebih parah—ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan penjahat sampingan yang nasibnya berakhir sangat menyedihkan di akhir cerita.

Dengan wajah imut, sifat polos, dan hobi makan kue, Lily bertekad mengubah takdirnya. Tapi siapa sangka, rencana hidup tenangnya malah berubah jadi rumit—karena siswa paling dingin di sekolah, ketua OSIS yang tegas, dan bahkan pewaris perusahaan besar… semuanya jadi terpesona padanya!

"Kau ini sebenarnya makhluk apa?" tanya siswa dingin itu dengan wajah datar, tapi tangannya tak melepaskan pinggangnya.
Lily tersenyum polos sambil memegang kue: "Aku cuma gadis yang suka makan, Mas~"

Apakah Lily bisa selamat dari akhir cerita yang tragis? Atau malah menemukan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia Utari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 12: Hujan di Malam Hari dan Pengakuan Hati

Hari kedua festival berlangsung sama meriahnya dengan hari pertama. Stan kami kembali ramai pengunjung sejak pagi, dan kami berempat bekerja sama dengan penuh semangat. Namun saat sore hari berganti malam, langit yang tadinya cerah tiba-tiba berubah kelabu. Angin bertiup lebih kencang, dan tak lama kemudian rintik hujan mulai turun, perlahan namun semakin deras. Pengunjung segera bubar dan berlindung di dalam gedung sekolah, meninggalkan halaman yang kini basah dan sepi.

"Kita harus bergegas membereskan semuanya sebelum hujan semakin besar," ucap Mark dengan sigap mulai melipat meja dan kursi.

Kami segera bergerak cepat, memasukkan sisa peralatan ke dalam kotak-kotak dan menutup stan dengan terpal agar tidak basah. Hujan turun semakin deras, menciptakan bunyi gemuruh yang menutupi suara kami berbicara. Angin membawa butiran air ke wajah dan pakaian kami, membuat kami sedikit kedinginan namun tetap berusaha menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin.

"Kotak dekorasi itu jatuh ke bawah pohon!" seruku saat melihat satu kotak berisi pita dan hiasan tergelincir jatuh ke tanah yang basah. Aku segera berlari mengambilnya sebelum basah kuyup.

"Lily, hati-hati!" seru Ethan, namun aku sudah sampai di bawah pohon itu. Saat aku hendak meraih kotak itu, kakiku terpeleset di atas tanah yang licin dan tubuhku terhuyung ke samping. Aku hampir jatuh, namun tangan yang kuat dan hangat dengan cepat menangkap pergelangan tanganku dan menahan tubuhku agar tidak jatuh ke tanah basah.

Itu Ethan. Dia berdiri di sampingku, satu tangannya memegang erat tanganku, sementara tangan lainnya menopang pinggangku agar aku tetap berdiri tegak. Hujan turun deras di sekitar kami, namun di bawah naungan pohon besar itu, kami berdua berdiri saling berhadapan, wajah kami hanya berjarak beberapa sentimeter. Napas kami berdua terasa hangat di udara yang dingin. Matanya menatapku lekat-lekat, penuh dengan perasaan yang selama ini tersembunyi namun semakin jelas terlihat.

"Kau tidak perlu berlari begitu saja," ucapnya pelan, suaranya terdengar lembut namun bergetar karena emosi yang tertahan. "Bagaimana kalau kau terluka? Aku… aku tidak akan sanggup melihatmu terluka, Lily."

"Aku… aku hanya tidak ingin kotak itu basah," jawabku pelan, suaraku hampir hilang tertelan suara hujan. Jantungku berdegup sangat kencang, begitu kuat hingga rasanya seluruh tubuhku ikut bergetar. Tanganku yang masih digenggamnya terasa panas, meskipun udara di sekitar kami dingin.

Ethan perlahan mengeratkan genggamannya, namun tidak menyakitiku. "Lily… sejak hari pertama kau tersenyum padaku, sejak hari pertama kau menawarkan kue itu kepadaku… semuanya berubah. Dunia yang dulu terasa dingin dan membosankan tiba-tiba menjadi berwarna dan hangat, hanya karena kau ada di dalamnya. Aku tidak pernah percaya pada hal-hal seperti cinta pada pandangan pertama, tapi kau… kau membuatku percaya bahwa keajaiban itu nyata."

Matanya berkaca-kaca, bukan karena air hujan, tapi karena perasaan yang tulus dan mendalam. "Aku mencintaimu, Lily. Bukan karena siapa keluargamu, bukan karena penampilanmu… tapi karena hatimu. Hatimu yang baik, yang tulus, yang selalu melihat kebaikan pada orang lain bahkan saat mereka tidak melihat kebaikan pada dirimu. Aku mencintaimu seutuhnya."

Aku menatapnya dengan air mata yang mulai mengalir di pipiku, bercampur dengan butiran air hujan. Selama ini aku meragukan perasaannya, selama ini aku takut itu hanya ketertarikan sesaat… tapi saat ini, di tengah hujan yang deras, aku merasakan ketulusan yang begitu nyata hingga tak ada satu pun keraguan yang tersisa di hatiku.

"Ethan…" suaraku bergetar hebat. "Aku juga… aku juga mencintaimu. Sejak hari di taman itu, sejak hari kau berkata kau ingin aku membawakan kue untukmu… hatiku mulai berdebar setiap kali melihatmu. Aku takut mengakuinya karena takut menyakiti Mark, tapi… tapi hatiku memilihmu. Sejak awal, pilihannya adalah kamu."

Ethan tersenyum—senyum yang paling tulus, paling bahagia, dan paling indah yang pernah kulihat di wajahnya. Perlahan, ia menarikku ke dalam pelukannya, memelukku erat seolah takut aku akan menghilang jika ia melepaskannya. Punggung kami basah terkena air hujan, tapi di dalam pelukannya, aku merasa lebih hangat dari sebelumnya. Seolah seluruh dunia telah berhenti berputar, dan hanya ada kami berdua di sana.

Saat itu, di kejauhan, di balik pintu gedung yang tertutup sebagian, Mark berdiri diam menatap kami berdua di bawah pohon itu. Ia melihat pelukan itu, melihat senyum di wajah kami berdua, dan perlahan ia tersenyum—senyum yang penuh kesedihan namun tulus dan ikhlas. Ia menghela napas panjang, lalu berbisik pelan pada dirinya sendiri, "Bahagialah, Lily. Itu yang paling penting bagiku."

Dengan itu, Mark berbalik dan berjalan pergi meninggalkan kami berdua, membiarkan kami menikmati momen itu tanpa gangguan apa pun. Ia tahu bahwa cinta bukan tentang memiliki, tapi tentang melihat orang yang dicintai bahagia—meskipun bukan bersamanya.

Malam itu, hujan terus turun, tapi ia tidak membawa kesedihan. Sebaliknya, ia menyiram benih-benih cinta yang tumbuh di antara kami, membuatnya semakin kuat dan kokoh. Dan di bawah pohon besar itu, di tengah hujan yang deras, aku tahu bahwa hidupku tidak akan pernah sama lagi. Aku telah menemukan orang yang akan mendampingiku, melindungiku, dan mencintaiku sepenuh hati—sama seperti aku mencintainya.

1
little girl
terima kasih ya sudah mampir 😍😍
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!