Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.
Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.
Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.
Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKSI DANTE & DARREN
---
Pagi itu, saat semua orang sibuk mengisi perut mereka di ruang makan Adx, Dante malah mengendap-endap menuju ke suatu tempat.
Setelah begadang semalaman ditemani Jessica, walaupun gadis itu akhirnya terlelap di atas sel besi di sana, Dante tetap melanjutkan pekerjaannya.
Semalaman ia sudah selesai merakit bahan peledak.
Kini tinggal menyembunyikannya di tempat yang sudah ditandai oleh Kael.
Ada beberapa bagian tertentu di dalam penjara ini yang memungkinkan ledakan tersebut menghancurkan sebagian besar bangunan.
Dante berjalan menyusuri lorong dengan langkah hati-hati. Sesekali ia melirik ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada penjaga ataupun napi lain yang memperhatikannya.
Setelah memastikan keadaan aman, ia segera menuju tempat yang sudah ditentukan.
Sementara itu...
Di sisi lain, seorang napi dengan nomor 1428 kembali menuju tempat biasanya ia melakukan panggilan.
Ia melirik ke sekeliling.
Tidak ada siapa-siapa.
Setelah merasa aman, pria itu mengeluarkan sebuah ponsel lipat kecil dari sakunya. Ia kemudian mengetik beberapa nomor dan mendekatkannya ke telinga. Namun, belum sempat sambungan tersambung...
Sret!
Seseorang tiba-tiba merampas ponsel itu dari tangannya. Pria itu langsung menoleh.
Darren berdiri tepat di hadapannya. Ia hanya melirik sekilas ponsel kecil yang kini berada di tangannya.
"Ada apa?"
Suara dari seberang telepon mulai terdengar karena sambungan ternyata sudah terhubung. Napi nomor 1428 hanya menatap Darren dengan datar.
Walaupun jelas terlihat terkejut karena ponselnya dirampas begitu saja, ia sama sekali tidak terlihat gentar. Mungkin karena pria itu juga sudah cukup profesional dalam menghadapi situasi seperti ini.
"Bicaralah."
Suara dari seberang kembali terdengar.
Darren menatap layar ponsel tersebut beberapa detik. Lalu tanpa mengatakan apa pun...
Ia mematikan sambungannya.
Klik.
Darren memasukkan ponsel itu ke dalam sakunya. Tatapannya kemudian beralih kepada pria di hadapannya.
"Sudah kuduga..."
Ucap Darren dingin. Sebenarnya, sudah cukup lama Darren mulai mencurigai pria ini. Semuanya berawal ketika mereka tidak sengaja bertabrakan di taman penjara beberapa waktu lalu.
Walaupun sebenarnya Darren juga sengaja menyenggolnya pria itu. Bukan tanpa alasan, Sejak pertama kali melihatnya, Darren sudah merasa ada sesuatu yang aneh.
Pria itu terlalu sering memperhatikan Kael. Dan bukan hanya Kael...
Alesya juga selalu menjadi salah satu orang yang diperhatikannya. Karena itulah Darren mulai diam-diam mengawasi pria tersebut. Sesekali ia memantaunya dari kejauhan tanpa sepengetahuan Kael maupun Dante.
Dan sekarang...
Kecurigaannya terbukti.
Pria itu masih diam.
Namun beberapa detik kemudian, tangannya perlahan bergerak ke arah lengannya. Darren langsung memperhatikan gerakan tersebut.
Klik.
Sebuah pisau muncul dari balik lengannya.
Bentuknya cukup unik.
Bilahnya melengkung seperti cakar dan semakin meruncing menuju ujung. Gagangnya berwarna hitam dengan beberapa lekukan yang membuatnya mudah digenggam. Di bagian belakang gagang terdapat sebuah cincin logam besar untuk tempat memasukkan jari.
Sebuah karambit.
Darren hanya melirik sekilas ke tangan pria tersebut. Kemudian kembali menatap wajahnya, Ia sendiri tidak membawa senjata apa pun. Tangannya benar-benar kosong.
Pria itu hanya menatap Darren dengan tatapan dingin.
Lalu tiba-tiba...
Ia menerjang, Darren segera menghindar. Bilah karambit itu melintas di samping tubuhnya. Darren mundur beberapa langkah sebelum kembali memasang posisi bertahan. Pria itu kembali menyerang.
Kali ini lebih cepat.
Darren menangkis serangan tersebut dengan lengannya, lalu mendorong tubuh pria itu menjauh.
Namun pria tersebut tidak berhenti. Ia kembali maju dan melayangkan serangan berikutnya.
Darren menghindar ke samping.
Brak!
Tubuh pria itu justru menghantam dinding. Namun ia segera berbalik dan kembali menyerang. Darren menghela napas panjang.
"Repot juga."
Ia kemudian mulai membalas. Keduanya bertarung di lorong sempit itu. Suara benturan tubuh terdengar beberapa kali.
Brak!
Buk!
Darren berhasil menghindari serangan demi serangan, tetapi pria itu ternyata bukan lawan sembarangan.
Gerakannya cepat.
Dan yang lebih membuat Darren waspada...
Pria itu sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.
Darren berhasil menangkap pergelangan tangannya. Namun pria tersebut langsung memutar tubuh dan melepaskan diri.
Karambit itu kembali terangkat. Darren mundur satu langkah. Pria itu hendak menyerang lagi. Namun kali ini Darren sudah membaca gerakannya. Ia bergerak lebih cepat. Tangannya berhasil menangkap lengan pria tersebut dan memutarnya ke arah belakang.
Brak!
Tubuh pria itu kembali terbentur dinding. Karambit yang berada di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai.
Ting!
Darren segera menendang pisau itu menjauh. Kemudian ia mencengkeram kerah baju pria tersebut.
"Siapa yang mengirimmu?"
Pria itu tetap diam.
Darren mempererat cengkeramannya.
"Kau pikir aku tidak tau?"
Tatapan Darren semakin tajam.
"Kau kiriman pria tua itu"
Tahanan 1428 masih tidak menjawab.
Darren mendekatkan wajahnya.
"Kalau begitu..." Darren menjeda
"Pergilah ke akhirat, Dan tunggu pria itu datang"
Untuk pertama kalinya, pria itu tersenyum tipis. Darren semakin geram, lalu dengan kuat mencengkeram rahang pria itu.
Kembali Darren menghempaskan pria itu ke dinding hingga ambruk ke lantai. Pria itu terlihat mengenaskan sekarang. Karena pukulan Darren tidak bisa diremehkan. Ia bahkan terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya.
Namun beberapa detik kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat, mungkin beberapa sipir yang sedang berpatroli.
Darren sedikit menoleh ke arah pintu, lalu ia kembali kepada pria di hadapannya. Darren memungut kerambit yang tergeletak di tanah. Sesaat kemudian cowok itu berjongkok di hadapan napi 1428. Lalu mengarah kan karambit nya ke leher pria itu.
"Ada perkataan terakhir?" Ucap Darren dingin
Terdengar kekehan dari pria tersebut, sebelum akhirnya merubah ekspresi wajahnya kembali dingin.
"Kau juga akan segera menyusulku"
Lalu dalam hitungan detik, Kepala pria itu sudah terlepas dari badannya. Dan bergelinding ke lantai. Darren menebas kepala pria itu dengan sekali tebasan.
SRET...
Darren kembali berdiri di tempat. Darah membasahi tangannya dan sebagian bajunya. Beberapa percikan bahkan mengenai wajahnya.
Namun ekspresinya tetap datar, Tidak ada rasa takut, Tidak ada penyesalan. Ia hanya menatap mayat pria tersebut selama beberapa detik.
Beberapa saat kemudian, beberapa napi mulai berdatangan karena mendengar suara keributan.
Mereka langsung terdiam ketika melihat apa yang terjadi.
Seorang pria sudah tergeletak tidak bernyawa di lantai. Darah terlihat berceceran di sekitar tubuhnya. Namun yang lebih mengerikan adalah, kepalanya sudah terpisah dari tubuhnya.
"Ini..."
Salah satu napi menelan ludah.
"Siapa yang melakukan ini?"
Tidak ada yang menjawab.
Mereka hanya saling berpandangan dengan wajah tegang.
"semua tahanan disini memang gila"
***
Sementara itu, Darren sudah tidak ada lagi di sana.
Ia telah menghilang dari lorong tersebut, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Sekarang, Darren berada di dalam toilet.
Ia berdiri di depan wastafel, membasuh kedua tangannya yang masih dipenuhi darah. Air yang mengalir dari keran terlihat sedikit keruh, bercampur dengan sisa darah yang menempel di kulitnya.
Setelah itu, ia membasuh wajahnya.
Beberapa tetes air masih mengalir dari rambutnya ketika Darren mengangkat kepala dan menatap pantulan dirinya di cermin.
Cermin di hadapannya sudah terbilang tua. Permukaannya agak memutih dan terdapat beberapa noda yang membuat pantulan wajah Darren terlihat sedikit buram.
Lama ia menatap dirinya sendiri.
Entah apa yang sedang dipikirkannya.
Darren kemudian mengangkat kedua tangannya dan menyisir rambutnya ke belakang. Setelah merasa cukup, ia mematikan keran. Namun saat hendak berbalik—
Darren dikejutkan oleh seseorang yang berdiri di depan pintu toilet.
Reana.
Gadis itu hanya diam di sana, Ia tidak berani masuk, tetapi juga tidak berani beranjak dari tempatnya.
Darren menatapnya intens.
"Kemarilah."
Ucap cowok itu dingin.
Reana hanya menurut. Ia berjalan perlahan mendekati Darren dan berhenti beberapa langkah di hadapannya. Namun begitu semakin dekat, Reana bisa mencium bau tubuh pria itu.
Bau darah.
Gadis itu langsung tahu.
Darren baru saja berkelahi.
Lagi.
Pandangan Reana tanpa sadar memperhatikan penampilan Darren. Beberapa bagian bajunya masih terkena noda darah, begitu pula sedikit bercak yang tersisa di wajahnya.
Darren menyadari tatapan tersebut.
Tanpa aba-aba, ia langsung menarik tubuh Reana mendekat.
"Hah—"
Reana terkejut ketika tubuhnya tiba-tiba diangkat dan didudukkan di atas wastafel. Kedua tangannya sontak memegang bahu lebar Darren untuk menjaga keseimbangan.
"Darren... apa yang kau lakukan?"
Suara Reana terdengar sedikit panik. Emosi dan ekspresi Darren memang sulit sekali ditebak olehnya. Pria itu tipe orang yang dingin dan jarang menunjukkan perasaannya.
Namun kelakuannya sering kali berada di luar ekspektasi Reana. Darren meletakkan kedua tangannya di sisi tubuh Reana, membuat gadis itu semakin tidak memiliki ruang untuk bergerak.
Tatapannya lekat pada wajah Reana.
"A... ada apa?"
Tanya gadis itu gugup.
Darren tidak menjawab.
Tatapannya perlahan turun.
Ke arah bibir Reana.
Bibir berwarna pink ranum itu sejak tadi terlihat begitu menggoda di matanya. Reana menyadari arah pandangan tersebut. Ia terdiam, Tidak perlu bertanya untuk mengetahui apa yang sedang dipikirkan Darren.
Beberapa detik kemudian, Darren kembali menatap kedua mata Reana.
"Boleh?"
Satu kata itu langsung membuat wajah Reana memerah. Antara kaget, malu, dan gugup. Semua perasaannya bercampur menjadi satu. Namun gadis itu tidak menjawab.
Ia justru menatap Darren cukup lama sebelum akhirnya berkata,
"Kenapa kau bersikap seperti itu?"
Reana bertanya pelan sembari menahan degupan jantungnya yang semakin menggila.
Darren mengernyit.
"Maksudmu?"
"Kau..." Reana menarik napas.
"Sesekali bersikap kasar, lalu tiba-tiba berubah menjadi lembut."
Darren hanya diam.
"Aku nggak paham sama jalan pikirmu."
Reana menundukkan pandangan sejenak.
"Sewaktu-waktu aku berpikir kamu menyukaiku..."
Ia kembali menatap Darren.
"Lalu tiba-tiba kamu berubah menjadi seperti orang yang merasa kasihan pada anak anjingnya."
Reana akhirnya mengeluarkan semua perasaan yang selama ini ia tahan. Matanya menatap sendu ke arah Darren yang masih sama sekali tidak menunjukkan ekspresi.
"Dan..."
Suaranya semakin pelan.
"Aku nggak suka ekspresi kamu saat menatapku."
Darren tetap diam.
"Kamu kayak natap—"
Belum sempat Reana menyelesaikan kalimatnya, Darren langsung mendekat. Ia mencium bibir Reana, membuat gadis itu seketika terdiam.
Mata Reana membulat.
Kedua tangannya yang berada di bahu Darren kembali mencengkeram erat.
Tangan Darren terangkat dan menekan teguk Reana, memperdalam ciuman mereka. Namun satu Tangannya lagi juga tidak tinggal diam. Tangan itu turun, dan memegang pinggang Reana erat, Sesekali memberikan usapan-usapan lembut disana.
Ciuman Reana kaku, mungkin karena ini pertama kalinya baginya. Berbeda saat hampir di lecehkan oleh ayah tirinya. Namun belum sempat ia di tiduri, ia sudah lebih dulu mengambil pisau lipat di balik bajunya yang selalu di bawa olehnya kemanapun ia pergi.
Karena tau ayah tirinya brengsek, jadi untuk berjaga-jaga. Lalu Reana menusuk leher ayah nya hingga tewas seketika.
Walaupun sedikit terlena dengan perlakuan lembut Darren, Reana masih menyadarkan dirinya. Ia memukul pelan pundak Cowok itu.
Beberapa detik kemudian, Darren melepaskannya. Ia kembali menatap Reana dengan ekspresi datar. Seolah baru saja melakukan sesuatu yang sangat biasa.
Reana masih membeku.
"Darren..."
"Hm?"
"Kamu..."
Reana menelan ludah.
"Benar-benar nggak normal."
Darren hanya mengangkat sebelah alisnya.
"Kau tadi banyak bicara."
Reana menatapnya tidak percaya.
"Itu alasanmu?"
"Iya."
Wajah Reana semakin merah.
Ia ingin marah.
Tapi melihat wajah Darren yang tetap tenang setelah membuat jantungnya hampir meledak, Reana justru semakin tidak tahu harus berbuat apa. Keduanya hanya sama saling menatap dalam diam.
Namun–
"Ekhemmm"
***