"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aisyah
Namaku adalah Aisyah.
Nama pemberian Abah. Katanya, agar namaku seperti Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah ﷺ.
Sebenarnya Ummah sempat protes. Mengapa namanya hanya Aisyah? Setidaknya dibuat agak panjang. Sebab, di negeri ini, rasanya jarang sekali seseorang hanya memiliki satu kata dalam namanya.
Ummah ingin menambahkan “Humaira” di belakangnya. Toh, Humaira adalah julukan Ummul Mukminin Aisyah, jadi masih merujuk pada sosok yang sama.
Namun, Abah tetap kekeh.
“Aisyah saja.”
“Kenapa cuma Aisyah? Panjang sedikit kan tidak apa-apa,” protes Ummah.
Abah hanya menjawab santai, “Kan panggilan juga satu kata. Tak mungkinlah orang memanggil, ‘Aisyah Humaira.’ Panjang sekali.”
Aku sendiri sebenarnya tidak pernah mempermasalahkan apakah namaku panjang atau pendek. Bagiku, nama bukan tentang banyaknya kata, melainkan tentang doa yang terkandung di dalamnya.
Nama itu juga menjadi salah satu kenangan paling berharga yang kutinggalkan bersama Abah.
Abah sudah meninggal ketika usiaku baru sembilan tahun. Usia yang terlalu kecil untuk benar-benar memahami arti kehilangan. Yang kutahu saat itu, sosok yang biasanya ada di rumah, yang memanggil namaku, yang memberikan nama itu kepadaku, tiba-tiba tidak ada lagi.
Setelah Abah meninggal, aku tinggal bersama Jiddah.
Hari-hari kemudian berjalan seperti biasa. Aku tumbuh, bersekolah, belajar, dan menjalani kehidupan. Namun ada satu hal yang selalu kubawa ke mana pun aku pergi.
Namaku.
Aisyah.
Bagi orang lain, mungkin Aisyah hanyalah sebuah nama. Tetapi bagiku, nama itu seperti peninggalan kecil dari seseorang yang sangat kucintai.
Setiap kali seseorang memanggil, “Aisyah,” entah mengapa rasanya seperti ada bagian kecil dari Abah yang kembali menyapaku.
Dan semakin aku dewasa, semakin kupahami bahwa Abah tidak sekadar memberiku sebuah nama.
Beliau menitipkan sebuah doa.
Doa agar aku memiliki keteguhan, kecerdasan, kelembutan, dan kemuliaan seperti Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Aku mungkin tidak akan pernah benar-benar bisa menjadi seperti beliau. Tetapi setidaknya, aku ingin terus berusaha.
Hari ini, aku menyelesaikan daurah tahsin.
Bukan sekadar menyelesaikan rangkaian pembelajaran, tetapi juga mengambil sanad yang bersambung hingga Rasulullah ﷺ.
Entah mengapa, pencapaian itu terasa begitu berarti bagiku.
Mungkin karena aku selalu teringat pada sebuah nama yang diberikan Abah.
Aisyah.
Nama yang sejak kecil menjadi doa agar aku bisa meneladani Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Sebenarnya aku sudah menyelesaikan hafalan 30 juz. Namun, ketika ada kesempatan untuk mengambil sanad yang bersambung hingga Rasulullah ﷺ, aku tidak ingin melewatkannya.
Apalagi ada alasan lain yang membuatku semakin terdorong.
Ami Syaiful mengenalkanku dengan seorang laki-laki yang sudah hafidz.
Aku belum pernah bertemu dengannya. Bahkan aku belum tahu bagaimana akhir dari perkenalan itu. Apakah kelak kami akan benar-benar dipertemukan dalam sebuah ikatan, atau justru hanya menjadi dua orang yang pernah Allah pertemukan dalam perjalanan hidup.
Namun sebelum bertemu dengannya, aku ingin mempersiapkan diriku.
Bukan hanya agar terlihat pantas di hadapannya.
Tetapi agar aku juga memiliki sesuatu yang bisa kubanggakan sebagai seorang yang membawa nama Aisyah.
Jika kelak aku bersanding dengan seorang penghafal Al-Qur'an, aku ingin memiliki hubungan yang baik dengan Al-Qur'an pula.
Maka aku mengambil sanad itu.
Meski sudah menyelesaikan 30 juz, aku masih ingin belajar. Masih ingin memperbaiki bacaan. Masih ingin mendalami Al-Qur'an. Masih ingin mendapatkan sanad yang bersambung hingga Rasulullah ﷺ.
Mungkin bagi sebagian orang, itu hanya sebuah pencapaian.
Tetapi bagiku, ini adalah salah satu langkah kecil untuk menjaga sebuah nama.
Nama yang diberikan Abah sebelum beliau pergi.
Nama yang menjadi kenangan setelah aku kehilangan beliau.
Nama yang hingga hari ini masih menjadi doa.
Aisyah.
Aku tidak tahu apakah aku akan pernah mampu menjadi seperti Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Tetapi aku ingin terus berusaha.
Karena setiap kali seseorang memanggil namaku, aku ingin mengingat bahwa di balik nama sederhana itu ada doa besar dari seorang Abah.
Dan semoga suatu hari nanti, ketika Allah mempertemukanku kembali dengan Abah di tempat terbaik-Nya, aku bisa berkata,
“Bah, Aisyah masih berusaha menjadi seperti yang Abah harapkan.”
jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏