Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.
Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.
Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.
Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?
Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
"Bolos?!" sahut Arka santai.
"Hah! Bolos!" Alea memekik tertahan, kakinya berusaha mengerem lantai koridor saat Arka terus menarik pergelangan tangannya menyusuri lorong menuju area parkir.
"Jangan gila, jir! Habis ini jamnya Bu Siska! Guru Sejarah yang pelitnya ngalahin rentenir saat ngasih nilai KKM! Kalau gue dapet nilai merah, reputasi gue sebagai murid teladan bisa tercoreng! Lebih parahnya lagi gue bisa di depak dari sekolah ini sebelum lulus!"
"Tenang aja, kalau sampe itu terjadi gue yang akan mensponsori lo masuk sekolah baru," balas Arka santai.
"Enak aja! Gue mau lulus pake otak gue sendiri, bukan pakai privilege koneksi orang dalam!" omel Alea, masih berusaha meronta meski ujung-ujungnya ia pasrah diseret oleh Arka.
"Lagian kita mau bolos ke mana, sih?! Gue bawa duit ratusan juta di tas, nih! Kalau kita kerampokan di jalan gimana?!"
"Mangkanya ikut aja, gue jamin Lo gak bakal nyesel!"
Alea hanya bisa pasrah mengikuti langkah Arka, hingga akhirnya mereka tiba di area parkir, Arka melepaskan gandengan tangannya lalu dengan cepat naik keata motornya.
"Buruan naik, sebelum ketahuan sama Pak Heri!"
Alea tanpa banyak protes meskipun masih memasang wajah ragunya, setelah mastikan Alea duduk nyaman Arka langsung melajukan motornya di gerbang utama sekolah. Pak Yanto, satpam berkumis tebal yang biasanya tidak pandang bulu menegur murid yang nekat membolos, mendadak berdiri tegap saat melihat sosok Arka mendekat.
Bukannya meniup peluit, Pak Yanto justru buru-buru membuka gembok gerbang besi itu sambil menunduk hormat, seolah yang lewat adalah rombongan menteri pendidikan. Bahkan, Arka tidak perlu repot-repot memanjat tembok belakang seperti yang Alea lakukan biasanya.
"Silakan, Den Arka. Hati-hati di jalan," ujar Pak Yanto ramah.
Rahang Alea nyaris jatuh menyentuh aspal. Ia menoleh menatap satpam itu dengan tatapan tidak percaya.
"Pak Yanto?! Kok dibukain sih, pintunya?! Kemarin gue telat dua menit bapak pura-pura budek dan buta hingga berakhir gue di hukum pak Heri hormat bendera sampai gosong!"
"Tuan Muda Arka ini anak dari donatur utama sekolah ini, Alea! Beda jalur!" bisik Pak Yanto beralasan, buru-buru menggeser gerbang lebih lebar.
Alea mendengkus kasar, menggeleng-gelengkan kepalanya meratapi ketidakadilan sosial di negeri ini.
Deru mesin 1000cc itu kembali membelah jalanan ibu kota. Angin siang yang panas menerpa wajah mereka. Motor Arka melesat santai membelah jalanan menuju ke sebuah kawasan perbelanjaan elit di Jakarta Selatan dan berhenti di depan sebuah arcade entertainment alias game center eksklusif yang menyatu dengan kafe rooftop.
Alea turun dari motor, mengernyitkan dahi menatap papan neon warna-warni di atas pintu masuk.
"Timezone jalur VIP?" tebak Alea skeptis.
"Lo ngajak gue bolos ke tempat ginian? Serius?"
"Yupz! Ini tuh tempat paling aman buat keamanan isi ransel lo."
Arka turun dari motor, melepaskan jaket kulitnya dan menyampirkannya di lengan dengan santai.
Kemeja seragamnya yang lengannya digulung hingga siku membuatnya terlihat seperti remaja laki-laki normal pada umumnya, minus aura membunuh yang perlahan ia tekan dalam-dalam.
Tanpa membuang waktu mereka gegas masuk ke dalam. Suasana di dalam sangat sepi karena ini masih jam aktif sekolah dan hari kerja. Pendingin ruangan yang sejuk dipadu dengan suara mesin capit boneka dan mesin balap mobil menyambut mereka.
Alea duduk di salah satu sofa booth kafe yang ada di sudut ruangan, meletakkan ranselnya di pangkuannya. Arka duduk di seberangnya, memesankan beberapa makanan ringan dan minuman dingin tanpa bertanya pada Alea terlebih dahulu.
"Bos!" Alea menatap Arka dengan dahi berkerut, mengabaikan suasana game center di sekeliling mereka.
"Jujur deh sama gue. Bokap lo itu... punya syndrome kelewat dramatis apa gimana, sih?"
Arka yang baru saja hendak menyesap es kopinya terhenti.
"Maksud lo?"
"Surat tadi!" Alea mengeluarkan foto dan robekan cek yang sempat ia selamatkan dari meja kelas tadi. Ia meletakkannya di atas meja.
"Yang pake segel lilin merah berlogo huruf 'A'. Terus ngirim foto candid gue yang dikasih titik merah kayak orang India lagi. Gue curiga bokap lo tuh pasti kebanyakan nonton Drama Godfather?"
Arka terdiam selama beberapa detik. Otaknya dengan cepat memproses sudut pandang Alea.
Gadis yang tumbuh besar di jalanan dengan preman terminal sebagai standar bahaya tertingginya, sama sekali tidak bisa mencerna bahwa ancaman mematikan sungguhan sedang mengintainya. Bagi Alea, tindakan Papa-nya hanyalah kelakuan orang kaya eksentrik yang lebay dan kebanyakan gaya.
Melihat ini sebagai kesempatan sempurna untuk menyembunyikan identitas aslinya demi membiarkan Alea tetap hidup 'normal', Arka perlahan menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Yah, gitulah," jawab Arka, suaranya diatur sedatar mungkin, menutupi kebohongannya.
"Papa gue memang sedikit... eksentrik. Dia orang tua konservatif yang terobsesi pada drama kekuasaan. Dia pikir dengan menakut-nakuti lo pakai properti murahan seperti itu, lo akan kabur."
"Hah! Dugaan gue memang gak pernah salah!" Alea menepuk meja dengan semangat, merasa analisisnya tepat sasaran.
"Dasar orang tua gabut! Dikiranya gue cewek lemah yang bakal nangis meraung-raung lihat foto ginian. Dia nggak tau aja, mental gue udah terlatih ngadepin debt collector yang nagih panci emak-emak kontrakan!"
Arka menunduk sedikit, menyembunyikan seringai tipis yang kembali lolos dari bibirnya. Gadis ini benar-benar tidak ada duanya.
"Trus, apa rencana lo selanjutnya?" pancing Arka, ingin tahu seberapa jauh otak rasional Alea bekerja.
Alea menyedot milkshake stroberi yang baru saja diantarkan pelayan, lalu mengusap dagunya dengan lagak seorang detektif swasta.
"Gini, Bos. Kalau bokap lo emang nggak suka gue temanan atau jadi pengawal lo, kita main cantik aja. Di sekolah, kita pura-pura nggak kenal kalau ada guru atau murid cepu. Tapi di luar, gue tetap kerja sama lo. Lumayan kan, fasilitas penthouse gratis. Intinya, kita jangan kepancing drama sinetron bokap lo itu."
Mendengar kata-kata 'kita', sesuatu yang hangat merayap di dada Arka. Alea secara tidak langsung menegaskan bahwa ia ada di pihak Arka, dan ia tidak berniat pergi meninggalkannya hanya karena ancaman konyol—yang tidak ia sadari merupakan ancaman mematikan.
"Ide yang bagus," angguk Arka pelan.
Tangan kiri Arka, yang tersembunyi di bawah meja, bergerak lincah mengetik sebuah pesan di layar ponselnya yang menggunakan mode privasi gelap.
Pesan itu ditujukan langsung kepada ketua pasukan bayangannya:
'Sisir ulang area SMA Harapan Warga. Cari tahu siapa murid atau guru yang meletakkan amplop hitam di meja XII-IPS 2. Patahkan jarinya dan buat seolah itu kecelakaan olahraga. Jangan biarkan ada setetes darah pun yang terlihat di sekolah.'
Pesan terkirim. Arka mengunci ponselnya dan kembali menatap Alea yang kini sedang sibuk mengeluarkan gepokan uang dari ranselnya, menghitung lembar demi lembar dengan wajah berbinar-binar.
Di mata Alea saat ini, Arka hanyalah seorang anak orang kaya raya yang kesepian, memiliki ayah yang suka bullying jalur dramatis, dan sangat butuh bimbingan Alea agar tidak gampang dibodohi.
Dan Arka memutuskan, ia sangat menyukai peran itu. Selama ia bisa menjaga senyum di wajah Alea, ia bersedia menjadi siswa SMA biasa di hadapan gadis itu, sambil tetap menjadi Iblis di belakang punggungnya.
"Udah selesai ngitungnya?" sindir Arka pelan, bersandar santai. "Mau coba mesin capit boneka di sana? Gue dengae, orang dengan perhitungan akurat seperti lo biasanya payah dalam permainan yang mengandalkan keberuntungan."
Telinga Alea langsung berdiri. Harga dirinya sebagai survivor pantang diremehkan. Ia memasukkan kembali uangnya, lalu menunjuk mesin capit raksasa di seberang ruangan.
"Wah, nantangin nih anak sultan! Ayo! Kalau gue berhasil dapet bonekanya, lo harus traktir gue batagor Mang Ujang selama sebulan penuh!"
"Dan kalau lo gagal?" tantang Arka balik, alis kanannya terangkat menawan.
"Kalau itu liat nanti aja deh!" elak Alea langsung bergegas berdiri melangkah lebih dulu ke arah Masin capit.
Arka tersenyum. Senyum yang benar-benar lepas melihat tingkah absurd Alea yang entah kenapa terlihat sangat menggemaskan dimatanya.
Bersambung...
udh lah jngan suka mancing2 Alea yg bar2 ini, bisa kena bogem loh buru**nya nnt 😂😂😂