Di balik gemerlap kariernya sebagai aktor papan atas, Ethan Voss menyimpan rahasia besar: pernikahan tanpa cinta bersama Mia Taylor. Pernikahan yang lahir dari utang budi itu terikat perjanjian ketat—dirahasiakan dari publik, tanpa keterikatan emosional, dan wajib berakhir dalam empat tahun.
Selama empat tahun, Mia bertahan hidup bagai bayangan. Ia menelan dinginnya sikap Ethan dan rasa sakit saat melihat pria itu memamerkan kemesraan bersama kekasihnya di media. Saat masa perjanjian usai, Mia pergi dengan tenang, meninggalkan Ethan yang mengira dirinya telah bebas.
Namun, kepergian Mia justru menyisakan kehampaan mendalam. Setelah menemukan rahasia pengorbanan tulus sang mantan istri, Ethan sadar ia telah membuang cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Pertemuan Yang Terlambat
Mia keluar dari ruang staf dengan langkah tenang, membawa kembali kotak perhiasan beludru tersebut di tangannya. Dari jauh, ia melihat Ethan duduk di sofa tamu, seorang aktor besar yang kini terlihat gelisah sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di atas paha dengan pandangan yang terus menatap ke arah pintu staf.
Begitu Mia mendekat, Ethan langsung menegakkan posisinya, mencoba bersikap santai.
Mia meletakkan kotak perhiasan itu di atas meja kaca di hadapan Ethan, lalu berdiri tegak dengan jemari saling bertautan di depan tubuhnya.
“Teknisi kami sudah memeriksa pengaitnya, Tuan Ethan,” ujar Mia datar, suaranya kembali dibalut profesionalisme yang dingin.
“Sistem penguncian dan pengait kalung berfungsi sempurna, tidak ada kendur maupun cacat produksi. Barang ini berada dalam kondisi seratus persen baik, Tuan Ethan.”
Ethan tertegun sejenak. Tangannya yang ragu-ragu terulur mengambil kotak itu, lalu membukanya hanya untuk menyembunyikan rasa canggung yang mendadak menyerbu. Jarinya menyentuh pengait kalung itu secara sembarangan, berpura-pura memeriksanya kembali.
“Ah... begitu, ya?” Ethan berdeham keras, mencoba membersihkan tenggorokannya yang mendadak terasa makin kering.
“Mungkin... mungkin cuma perasaanku saja tadi,” imbuhnya dengan rasa malu yang tertahan.
“Ada yang bisa saya bantu lagi, Tuan?” tanya Mia halus. Kalimat formal itu meluncur tanpa cela, namun terasa bagai dinding pembatas tebal yang sengaja Mia dirikan di antara mereka.
Ethan terdiam. Otaknya berputar cepat mencari alasan lain, atau topik apa saja agar ia tidak harus melangkah keluar dari toko ini. Ia melirik jam tangan pintarnya, lalu menatap sekeliling toko perhiasan yang lengang.
“Bagaimana kalau... aku melihat-lihat koleksi anting?” cetus Ethan spontan.
“Mungkin ada yang cocok untuk__”
“Tuan Ethan,” potong Mia lembut namun menyayat. Ia akhirnya menatap lurus ke dalam mata Ethan yang lelah.
“Toko kami baru saja memperbarui katalog minggu lalu dan Tuan sudah melihat hampir seluruh koleksi utama kemarin bersama Nona Jane. Jika Nona Jane membutuhkan model khusus, Tuan bisa membuat janji temu dengan desainer kami di lain hari.”
Skakmat.
Ethan membeku. Alasan konyolnya runtuh seketika. Ia kehabisan kata-kata, kehabisan alibi, dan yang paling menyakitkan adalah ia sadar bahwa Mia tahu persis apa yang sedang ia lakukan.
Tangannya meremas kotak beludru itu, menyadari betapa menyedihkannya posisi dirinya saat ini. Di hadapan Mia, sosok bintang papan atas bernama Ethan kini tak lebih dari seorang pria panik yang kebingungan mencari celah untuk sekadar dipandang.
Ethan mengembuskan napas perlahan, mencoba menyelamatkan sisa harga dirinya. Kemudian berdiri dari sofa sambil mengancingkan jaketnya yang agak kusut dengan gerakan serba kaku.
“Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas bantuannya, Mia,” ucap Ethan pelan, suaranya tak lagi berdaya.
“Sama-sama, Tuan Ethan. Terima kasih telah mengunjungi toko kami,” balas Mia seraya menundukkan kepala sedikit, menunjukkan kesopanan standar seorang pelayan toko kepada pelanggannya.
Tanpa sanggup menatap wajah Mia lebih lama lagi, Ethan lantas berbalik dan melangkah kaku menuju pintu keluar.
****
Pintu kaca toko perlahan tertutup rapat, memutuskan bunyi denting halus yang menandai kepergian Ethan. Begitu bayangan pria itu benar-benar menghilang di balik deretan pertokoan mewah, bahu Mia yang sejak tadi ditegakkan dengan kaku seketika meluruh.
Mia mengembuskan napas panjang—sebuah hembusan napas berat yang menahan tumpukan emosi yang hampir saja pecah di hadapan sang aktor.
Ia menyandarkan jemarinya yang gemetar tipis ke tepi meja kaca. Dinginnya permukaan kaca itu merambat ke kulitnya, membantunya berpijak pada kenyataan.
“Aku tidak boleh lemah. Aku harus kuat,” ucapnya menyemangati diri sendiri.
Rasa sedih itu tiba-tiba datang tanpa permisi, menyayat pelan tatkala ingatan tentang kalung yang Ethan periksa kembali berputar di kepalanya. Kalung indah yang Ethan pilihkan untuk Jane, wanita yang sebentar lagi akan resmi menjadi istrinya.
Ia menghirup napas dalam-dalam, mengumpulkan setiap sisa ketegaran yang ia miliki. Ia tidak boleh goyah. Dinding profesionalisme yang ia bangun dengan susah payah tidak boleh runtuh hanya karena tatapan penuh rasa bersalah dari masa lalu.
“Mia, kamu tidak apa-apa?” suara salah satu rekan kerjanya terdengar dari arah balik meja kasir. Membuatnya tersentak kecil.
Ia kemudian membalikkan badan seraya menarik senyuman tipis.
“Aku baik-baik saja,” sahut Mia pelan namun mantap.
“Aku akan merapikan beberapa dokumen katalog di ruang belakang sebentar.”
Mia bergegas melangkah menuju ruang belakang. Namun langkahnya terhenti saat Ivy, salah satu rekan kerjanya yang terkenal jeli itu menyejajarkan posisi berdiri di sampingnya sambil menyilangkan tangan di dada.
"Mia, apa kamu mengenal Ethan?” tanya Ivy pelan, matanya menyipit menatap pintu kaca yang baru saja tertutup rapat itu.
Mia menghentikan jemarinya yang hendak membuka pintu ruang staf, lalu menoleh tipis. “Ethan Voss. Semua orang tahu siapa dia.”
“Bukan sekadar kenal, Mia. Aku tanya, apa kamu dan Ethan saling mengenal?”
Dahi Mia berkerut tipis. “Maksudmu?”
“Siapa sih yang tidak kenal Ethan? Semua orang tahu dia bintang besar. Tapi dari cara dia melihat kamu tadi... itu bukan tatapan seorang pembeli ke pelayan toko, Mia."
Mia mencoba mempertahankan ekspresi datarnya, meski detak jantungnya mendadak berpacu lebih cepat.
“Dia cuma pelanggan yang tidak puas dengan barangnya, Ivy. Kamu lihat sendiri kan dia bingung mau cari alasan apa lagi.”
“Justru itu!” potong Ivy cepat.
“Dia terlihat gelisah, salah tingkah, bahkan rela mengarang alasan konyol hanya untuk bertahan lima menit lebih lama di toko ini. Pria sekelas Ethan tidak perlu mengemis perhatian siapapun, tapi di depanmu tadi... dia kelihatan frustrasi.”
Ivy menghela napas, menatap Mia dengan binar rasa penasaran yang tak lagi bisa ditutupi.
“Kamu mungkin salah lihat, Ivy,” bantah Mia.
“Tidak mungkin, Mia. Dari tatapan matanya tadi... seolah kamu itu seseorang yang sangat berarti buat dia. Seseorang dari masa lalunya yang belum selesai. Kamu yakin tidak punya hubungan apa-apa dengan Ethan sebelum ini, Mia?”
Mia menggeleng pelan, memaksakan sebuah tawa kecil yang terdengar begitu hambar di telinga Ivy.
“Imajinasimu terlalu jauh, Ivy,” ujar Mia dengan nada sedingin yang ia bisa.
“Dia itu calon suami Nona Jane, bintang besar yang hidup di dunia yang berjarak beribu-ribu mil dari duniaku. Jangan menyebar gosip yang bisa bikin toko ini kena masalah.”
Tanpa menunggu tanggapan Ivy, Mia langsung memutar knop pintu dan menerobos masuk ke dalam ruang staf. Pintu kayu tebal itu kemudian tertutup rapat, memutus pandangan penuh selidik dari rekan kerjanya.
Begitu mengunci pintu dari dalam, pertahanan Mia yang dibangun sekuat tenaga itu pun akhirnya runtuh sepenuhnya. Ia menyandarkan punggungnya ke pintu yang dingin. Tubuhnya merosot perlahan hingga terduduk di atas lantai.
Seorang aktor sekelas Ethan Voss tidak akan mungkin menyempatkan diri datang sendiri hanya untuk mengembalikan kalung berdesain sempurna yang kemarin baru saja dibeli. Pria itu punya puluhan asisten yang bisa ia suruh.
Mia memejamkan mata erat-erat saat bayangan mata Ethan yang sayu menembus ingatannya. Tatapan yang sama dengan tatapan bertahun-tahun lalu, sebelum lampu sorot Hollywood dan nama besar menghancurkan segalanya di antara mereka.
Ethan tidak sedang membeli perhiasan. Pria itu sedang mencarinya.
“Kenapa sekarang...” bisik Mia lirih pada ruang staf yang hening, diiringi setitik air mata yang akhirnya lolos membasahi pipinya.
“Kenapa kamu harus muncul lagi saat semuanya sudah terlanjur terlambat?”
–tbc–