Di ulang tahun pernikahan nya yang ke sepuluh, Sarah di minta oleh ibu mertua nya menyusul Gibran yang tinggal di tanah perantauan.
Tapi alangkah terkejut nya Sarah, dia menemukan suami nya sudah menjadi suami dari wanita lain. Bahkan mereka sudah memiliki anak berusia 7 tahun. Hal yang lebih mengejutkan, setiap tahun mertua nya datang ke sana mengunjungi mereka serta memberikan banyak hadiah.
Merasa di khianati, Sarah memutuskan kembali ke kota dan memilih untuk berpisah. Tapi setiba nya di rumah, sebuah fakta baru terungkap. Selama ini suami nya membohongi ibu nya sendiri dan menjual nama Sarah demi wanita itu.
Gibran, suami nya Sarah di dukung oleh ayah nya dan juga wanita yang menjadi selingkuhan dari Ayah nya. Ibu mertua nya mendukung Sarah dan membalas perbuatan anak dan suami nya, 2 orang yang berusaha merampas semua harta nya. Tepat di hari Gibran melakukan resepsi mewah, Ibu nya dan Sarah datang memberikan kejutan yang tak terduga untuk Gibran dan juga ayah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
"Untuk apa Sarah memberi tahu mu? Karena kau sendiri pasti tidak akan percaya dengan kebenaran nya, hati mu sudah di butakan oleh Santi dan keluarga nya!" Tiba - tiba terdengar suara bu Meri dari arah belakang.
Tanpa Gibran dan Sarah sadari, saat ini bu Meri sudah berisi di belakang mereka sejak tadi. Bu Meri mendengar semua pembicaraan mereka.
"Tapi bu, jika saja dulu Sarah katakan semua nya pada mu. Maka aku tidak akan mungkin menikah lagi!" Gibran masih membela diri nya.
"Laki - laki yang suka selingkuh, pasti akan tetap selingkuh. Karena selingkuh adalah penyakit menurun yang di dapatkan dari orang tua nya!" Bu Meri berkata sambil ekor mata nya melirik ke arah pak Burhan.
Ucapan bu Meri barusan membuat pak Burhan salah tingkah, dia tahu saat ini snag istri sedang menyindir diri nya.
"Selamat siang!" Tiba - tiba pembicaraan mereka terjebak dengan kehadiran 2 orang laki - laki asing di halaman rumah mereka.
"Selamat siang, bapak - bapak ini siapa ya? Dan cari siapa?" Tanya Bu Meri sambil mengernyitkan dahi nya.
"Saya pak Rian dan ini pak Budi, benarkah ini rumah nya bu Meri?" Tanya laki - laki yang bernama pak Rian.
"Benar, saya sendiri. Ada apa pak?" Kembali bu Meri bertanya.
"Saya tahu tentang ibu dari orang yang rumah nya ada di ujung jalan sana, di tanah luas yang kata nya milik bu Meri!" Jawab pak Budi.
"Benar bu, kami sengaja datang untuk menemui bu Meri. Karena kami tertarik pada tanah kosong milik ibu di sana, dan kami akan bicara langsung dengan ibu!" Ujar pak Rian.
"Kalau begitu, ayo silahkan masuk pak!" Bu Meri mempersilahkan tamu nya masuk.
Bu Meri masuk ke dalam rumah, di ikuti dengan tamu nya. Begitu pun dengan pak Burhan dan Gibran, sedangkan Sarah dia memilih pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman dan cemilan buat tamu nya bu Meri.
"Tanah itu memang milik keluarga kami pak, apakah bapak tertarik untuk membeli nya?" Tanya pak Burhan dengan tidak sabar.
"Iya pak, saya berniat untuk membeli nya. Rencana nya di sana akan di bangun sebuah Mall besar, jadi iru lah sebab nya saya mencari pemilik nya!" Jawab pak Budi.
"Wah kebetulan sekali pak, tanah itu memang akan di jual!" Gibran dengan cepat ikut menyela.
Bu Meri belum bicara sama sekali, dia hanya mendengarkan apa yang di katakan oleh suami dan juga putra nya. Bu Meri sudah tahu semua nya, bahwa kedua nya berniat menguasai semua harta milik bu Meri.
'Syukur lah jika mereka berniat untuk membeli tanah itu, uang dari penjualan tanah itu akan aku belikan rumah untuk Sarah. Karena aku yakin, Gibran pasti tidak akan membiarkan aku dan Sarah hidup di rumah ini!' Batin Bu Meri di dalam hati.
"Pak, kalian berani membayar berapa tanah itu?" Tanya Gibran dengan cepat.
"Kami berani membayar tanah itu dengan harga 5 miliar rupiah!" Jawab pak Budi dengan cepat.
"5 Miliar, pak kita akan dapat uang 5 miliar!" Gibran berkata pada pak Burhan.
"Benar Gibran, kita akan kaya raya!" Pak Burhan berbisik tepat di telinga Gibran.
"Tanah itu milik ku, dan siapa kalian berani menjual tanah milik ku!" Bu Meri berkata dengan tegas.
"Bu, jual saja tanah itu dan kita akan dapat untung besar!" Gibran berkata pada ibu nya.
"Bu Meri, kami tertarik untuk membeli tanah itu. Jika ibu mau meminta harga lebih, bisa kita bicarakan semua nya!" Pak Rian berkata pada bu Meri.
"Saya memang berniat menjual tanah itu, tapi saya mau membicarakan semua nya di depan notaris secara langsung!" Bu Meri berkata pada mereka.
"Baik lah bu, kami setuju. Kapan kita akan pergi ke kantor notaris?" Tanya pak Rian.
"Secepat nya!" Jawab Bu Meri dengan singkat.
"Saya setuju bu Meri, ini adalah kartu nama saya dan ibu bisa hubungi saya secepat nya jika ibu mau!" Pak Budi menyerahkan sebuah kartu nama pada bu Meri.
"Baik pak!" Jawab Bu Meri sambil menerima kartu nama itu.
"Kalau begitu, saya permisi bu!" Pak Rian dan pak Budi segera pamit pada bu Meri.
"Silahkan pak!" Jawab bu Meri dengan ramah.
Pak Budi dan pak Rian segera pergi dari rumah nya bu Meri, Gibran dan pak Burhan sangat senang sekarang. Karena mereka merasa sebentar lagi akan mendapatkan uang dalam jumlah yang cukup banyak.
"Bu, Gibran kan adalah putra kita satu - satu nya. Jadi itu arti nya semua uang itu akan menjadi milik Gibran!" Pak Burhan berkata pada istri nya.
"Memang benar Gibran adalah putra ku satu - satu nya, dia yang akan mewarisi semua nya bukan orang lain!" Jawab Bu Meri sambil tersenyum.
"Itu arti nya, semua uang dari hasil penjualan tanah itu akan menjadi milik ku!" Gibran berkata dengan penuh percaya diri.
"Iya, itu benar sekali!" Jawab Bu Meri.
"Terima kasih banyak bu, aku senang sekali mendengar nya! Ayo pak, kita kekuar!" Gibran mengajak pak Burhan pergi dari sana.
"Iya ayo!" Jawab Pak Burhan dengan wajah sumringah.
Kedua nya pergi dari rumah bu Meri, dan bu meri tahu pasti kemana tujuan kedua nya. Mereka pasti akan pergi keluar rumah bu Siti, menyampaikan berita gembira ini.
"Silahkan kalian berharap setinggi mungkin, karena akan ku pastikan kalian tidak akan mendapatkan uang sepeserpun dari ku. Kalian sudah berniat untuk merebut semua harta ku, dan kalian berdua juga ingin menyingkirkan aku setelah berhasil menguasi segala nya. Tidak akan ku biarkan kalian berhasil, aku pastikan kalian smeua dan wanita jalang itu akan mendapatkan balasan nya!" Guman Bu Meri dengan geram.
"Ibu,,,!" Sarah yang baru muncul dari ruang tengah berjalan menghampiri bu Meri.
"Sarah, duduk di sini nak. Ibu mau bicara sama kamu!" Bu Meri berkata dengan lembut pada Sarah.
"Ada apa bu?" Tanya Sarah sambil duduk tepat di samping Bu Meri.
"Sarah, besok kamu temenin ibu ya ke kantor notaris. Ibu akan mengurus penjualan tanah milik ibu yang ada di ujung jalan sana, ibu tidak percaya pada siapa pun kecuali diri mu nak!" Bu Meri berkata pada Sarah.
"Baik lah bu!" Jawab Sarah.
"Sarah, saat ini ibu ingin menjual tanah itu secepat nya. Tapi ibu juga tidak mau jika Gibran dan ayah nya akan merampas uang itu. Maka dari itu ibu akan mengulur waktu pada mereka dan mengatakan penjualan nya tertunda. Kota harus bergerak cepat Sarah, besok kita akan urus semua nya!" Bu Meri menjelaskan pada Sarah.
"Baik lah bu, besok Sarah akan mengantarkan ibu!" Jawab Sarah sambil mengganguk kan kepala nya.
Bu Meri ingin menjual tanah itu secepat nya, dia sadar suami dan putra nya mengincar uang itu. Secepat nya dia akan mengamankan nya, sebelum mereka bertindak lebih jauh.
next double up ya Thor 😀
gugat cerai saja Pak Burhan. Depan tanpa sepeserpun di kasih harta. Hidup numpang kok ya banyak tingkah