Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.
Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.
Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.
Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.
Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.
Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.
"Kita menikah!"
Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.
Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Sebuah Keluarga
“Tapi, Bu ... Aku lapar ...”
Mireya menatap Elden, kemudian melihat dirinya sendiri yang penuh tanah.
“Kalau begitu, ayo buruan mandi.”
Elden langsung menggeleng. “Aku lapar.”
“Kalau makan dengan badan seperti ini, nanti makananmu ikut rasa tanah.”
Elden langsung membulatkan mata. “Benarkah?”
Mireya mengangguk serius. “Iya.”
Arven yang mendengar itu langsung menahan senyum. “Kau jangan menakut-nakuti anak.”
“Kalau begitu, kamu saja yang mandikan dia.”
Arven menatap Mireya tak percaya. “Aku?”
“Iya. Bukankah kamu ayahnya?”
Elden langsung menyela. “Aku bisa mandi sendiri.”
Mireya tertawa kecil. “Kalau begitu, ayo.”
Akhirnya mereka berpisah.
Elden pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri, sedangkan Mireya masuk ke kamarnya sendiri.
Setelah seharian berkebun di bawah matahari, tubuhnya memang sudah terasa lengket. Ia segera membersihkan diri, mencuci rambut, lalu mengganti pakaian dengan pakaian rumah yang bersih dan nyaman.
Setelah melaksanakan kewajiban siangnya, Mireya keluar dari kamar.
Rambutnya masih sedikit lembap. Wajahnya tampak lebih segar setelah dibersihkan. Ia tidak lagi terlihat seperti perempuan yang sejak pagi berkutat dengan tanah.
Aroma sabun yang lembut masih melekat di tubuhnya. Mireya berjalan menuju ruang makan sambil mengeringkan ujung rambutnya dengan handuk kecil.
Arven yang sudah duduk di meja makan spontan mengangkat wajah. Tatapannya berhenti.
Sesaat, pria itu hanya diam. Mireya mengerutkan kening. “Kenapa?”
Arven segera mengalihkan pandangan. “Tidak.”
"Bu ... Aku lapar!" rengek Elden.
Mireya mengangguk. Lalu menyiapkan makanan untuk Elden dengan cepat. Setelah dirasa cukup, piring makan Elden ditaruh tepat di hadapannya.
"Asssiikk..."
Setelah Elden selesai, Mireya berdiri di sisi Arven. Sebenarnya dia sudah terbiasa melayani suami sebelumnya. Mengambil piring Arven yang masih kosong.
Arven menahan. "Aku bisa—" Namun, aroma wangi yang menguar dari tubuh Mireya, membuatnya batal melanjutkan ucapannya. Ia menikmati aroma segar dan lembut itu.
Mireya menyendokan nasi ke dalam piring. "Segini, cukup?"
Arven tidak menjawab. Ia masih menikmati aroma tubuh Mireya yang membuat pikirannya melayang.
"Mas?" Mireya sedikit menyenggol lengan Arven. Dia tersentak.
"Mas, kamu melamun?"
"Ah? Apa?" Arven tampak sedikit gugup.
"Aku bertanya, nasi segini udah cukup belum?"
Arven melirik isi piringnya. Tampak lebih sedikit dari porsi makannya yang biasa. Namun, ia mengangguk pelan. "Sudah ... Cukup segitu dulu."
Lalu Mireya menatap menu lauk pauk yang tersedia. Rambut Mireya yang masih sedikit basah, terjatuh tepat mengenai wajahnya. Semua bagai bergerak lambat di depan matanya.
"Kamu mau ini, Mas?"
Arven mengangguk. Padahal dia tak melihat ke arah menu yang dimasukan.
"Ini?"
Arven terus mengangguk.
"Ini ... Dan ... Ini ..."
Arven terus mengangguk di antara rambut Mireya yang menempel di wajahnya.
"Nah, sekarang kamu boleh makan." Mireya pun sadar. Ternyata rambutnya menutupi wajah Arven.
Buru-buru ia menyampirkan rambutnya ke belakang dan Arven terus mengangguk-angguk.
"Mass?" Pundak Arven ia goyang.
"Iya? Kenapa?" tanyanya kembali tersentak.
"Makan!" Mireya menunjuk piring yang sudah ia siapkan.
Saat melihat isi piring di depan matanya, ternyata isi sayuran mendominasi piring yang disiapkan oleh istrinya.
"Kok?"
"Kenapa, Mas?"
Arven akhirnya tersenyum tipis dan menggeleng. "Tidak."
Pak Can yang kebetulan masuk membawa lauk tambahan langsung menangkap perubahan raut wajah tuannya.
Ia menundukkan kepala untuk menyembunyikan senyum.
Arven meliriknya. “Kenapa?”
“Tidak ada, Tuan.”
“Kalau begitu, letakkan makanannya.”
“Baik, Tuan.”
Arven menarik gelas dan meminum airnya. Diam-diam ia kembali memperhatikan isi piringnya.
'Sepertinya, diam-diam dia mengajakku diet bareng dia.'
Arven mengambil sendok sembari memperhatikan Mireya yang memasukan banyak sayuran ke dalam piringnya. Ia memperhatikan perempuan itu dam sedikit menggelengkan kepala.
Arven mengambil telur, dimasukan ke dalam piring Mireya. Setelah itu potongan ayam juga. "Jangan lupa proteinnya juga."
Mireya tersenyum geli.
Arven segera menundukkan wajah dan mulai menikmati makanannya.
'Ya, yang seperti ini baru namanya keluarga.'
.
.
.
Di tempat lain, sebuah mobil berhenti di depan sebuah gedung perkantoran. Syahzan turun dengan wajah tenang.
Ia memasuki gedung dengan cepat langsung menuju lantai tempat seorang manajer bekerja.
Beberapa menit kemudian, pintu sebuah ruangan terbuka. “Pak Daryanto.”
Pria yang sedang membaca dokumen mengangkat wajah. “Syahzan?”
Syahzan masuk lalu menutup pintu. “Saya ingin membicarakan sesuatu.”
Daryanto meletakkan dokumen di tangannya. “Masalah apa?”
Syahzan duduk di hadapannya. “Masalah lahan Zarretti.”
Daryanto mengerutkan kening. “Kau tahu sendiri, jangan mencari masalah dengan Tuan Arven.”
“Aku tidak berniat mencari masalah.” Syahzan tersenyum tipis. “Aku hanya ingin menunjukkan bahwa posisi Arven sebenarnya tidak sekuat yang orang pikirkan.”
Daryanto terdiam.
Syahzan kemudian meletakkan sebuah berkas di atas meja. “Perusahaan kita bergantung pada hasil dari lahan itu.”
“Lalu?”
“Kalau para pekerja mulai mempertanyakan sistem pembayaran, hasil panen bisa terganggu.”
Daryanto menatapnya tajam. “Kau ingin apa sebenarnya?”
Syahzan bersandar. “Aku hanya ingin ada sedikit tekanan.”
“Tekanan?”
“Buat mereka bertanya. Buat mereka merasa ada yang tidak beres.”
Daryanto tidak langsung menjawab.
Syahzan tersenyum. “Tidak perlu melakukan sesuatu yang besar.”
Ia berdiri. “Kadang-kadang, cukup dengan membuat orang percaya bahwa mereka sedang dirugikan.”
Syahzan berjalan menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia berhenti. “Oh, satu lagi.”
Daryanto menatapnya.
“Jangan sampai ada yang tahu aku pernah datang ke sini.” Pintu tertutup.
Daryanto kembali menatap berkas di atas mejanya.
Sementara di luar gedung, Syahzan berjalan kembali menuju mobilnya dengan senyum merekah di bibir.
*bersambung*
Ditunggu cerita selanjutnya
ini cerita tee realistis yg pernah aku baca di sepanjang baca pernovelan si.
kenapa?
karena untuk bahagia itu sebenarnya sederhana.
kita ga perlu merubah orang lain atau memaksa keadaan yg penuh problematika biar lepas dr masa lalu.
cukup jadi diri sendiri dan merubah mindset kita sendiri si.
terimakasih atas cerita indah nya Thor.
mungkin Se savage aku mesti belajar jadi orang woles yaa🤣🤣
kalau aku udah bertanduk itu...
tapi ga bikin puas ya
kalau begini mereka yg malu sendiri
Sekarang kalau mereka tahu Mireya hamil....bakalan heboh.
kira² gmn reaksi keluarga mantan jika tau mireya hamil?
bahagia itu sederhana ya ven
gaya hidup lu yg dulu,yg bebas bisa ga ngasih kebahagiaan kyk gini?