Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.
Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.
Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.
Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM SAAT HATI BERDEBAR
Malam nya masih di ruang bawah tanah.
Rung itu semakin sunyi setelah Kael dan Darren pergi lebih dulu. Kini hanya Dante yang tertinggal di sana.
Di atas meja, berbagai peralatan berserakan. Dante tengah merakit sebuah peledak dengan gerakan yang sangat terukur. Tidak ada sedikit pun keraguan dalam setiap gerakannya.
Ia memang bukan orang sembarangan dalam urusan seperti ini.
Dulu, Dante bekerja sebagai perakit bom untuk militer. Keahliannya dalam membuat bom dipercaya menangani berbagai jenis perangkat berbahaya. Namun setelah itu, ia memilih jalan lain—menjual keahliannya secara ilegal kepada siapa pun yang mampu membayar.
Dante mengambil bubuk mesiu yang tadi berhasil ia curi diam-diam dari ruang penyimpanan senjata para sipir.
Ia menatap benda itu sesaat sebelum kembali bekerja.
Rencananya sederhana. Ia membutuhkan ledakan yang cukup besar untuk membuka jalan keluar dari penjara ini. Selain menggunakan bahan yang sudah berada di tangannya, ia juga menyiapkan kemungkinan lain dengan memanfaatkan benda-benda yang tersedia di sekitar penjara.
Semua dilakukan dengan perhitungan.
Tak boleh ada kesalahan.
Dante begitu fokus sampai tidak menyadari pintu ruangan terbuka.
Seseorang masuk tanpa suara.
Beberapa detik kemudian, sepasang tangan melingkar di pinggangnya dari belakang.
Dante sedikit tersentak.
Tangannya langsung berhenti, Ia meletakkan benda yang sedang dipegangnya di atas meja, kemudian berbalik.
Jessica.
Dante menatap gadis itu dengan ekspresi datar. Anehnya, ia sama sekali tidak menepis pelukan tersebut.
"Kenapa kau ke sini?" tanyanya sambil menunduk.
Jessica mendongak.
Rambut Dante tampak sedikit berantakan. Beberapa bulir keringat membasahi pelipisnya akibat terlalu lama bekerja di ruangan yang pengap itu.
Jessica tidak langsung menjawab.
Ia justru berjinjit sedikit dan mengecup singkat bibir Dante.
Dante terdiam.
Tatapannya berubah menjadi heran. Namun bukannya menjauh, tangannya justru terangkat dan melingkari pinggang Jessica.
"Kenapa?" tanyanya lagi.
Jessica menatapnya.
"Saat kau keluar dari sini..."
Ia berhenti sejenak.
"Bawa aku bersamamu."
Dante menatapnya intens, Namun tidak langsung menjawab. Ia tampak berfikir sejenak...
"Tergantung." jawabnya acuh
Jessica mengerutkan kening.
"Maksudnya?"
"Tergantung sikapmu."
"Yang seperti apa?"
Dante sedikit memiringkan kepalanya.
"Kalau kau masih bisa berguna untukku, mungkin masih bisa kupertimbangkan."
Jessica menghembuskan napas pelan.
Tatapannya turun ke bawah. Ujung sepatunya menyentuh ujung sepatu Dante.
Beberapa detik berlalu dalam diam.
Kemudian tangan Dante bergerak. Jemarinya meraih dagu Jessica dan mengangkat wajah gadis itu hingga mata mereka kembali bertemu.
Tanpa berkata apa-apa, Dante mengecup bibir Jessica. Melumatnya nya pelan, membuat sang empunya kaget, namun ia hanya membalas ciuman itu. Sedikit demi sedikit ciuman itu berubah menjadi ciuman rakus dan terburu-buru.
Dante membalikkan Jessica ke sisi meja, hingga pinggang gadis itu sedikit terbentur. Lalu tangannya bergerak memegang tekuk Jessica, memperdalam ciuman mereka.
Ruangan itu kini di penuhi oleh decapan-decapan ciuman panas mereka. Nafas Dante memburu, namun masih sanggup untuk memporak porandakan isi mulut Jessica. Bahkan gadis itu sedikit terhuyung kebelakang jika Dante tidak menahan pinggang nya.
Beberapa menit kemudian, Dante melepas tautan bibir nya. Kedua nya sama-sama menghirup udara dengan rakus.
Dante menatap Jessica dalam, keduanya masi tanpa jarak.
"Jadi..."
"berusahalah supaya aku tidak muak padamu." Bisik cowok itu didepan wajah Jessica.
Setelah mengatakan itu, ia kembali ke meja dan melanjutkan pekerjaannya seolah tidak terjadi apa-apa.
Jessica masih berdiri di tempatnya. Ia memandangi Dante beberapa saat sebelum akhirnya duduk di salah satu kursi.
Dante kembali tenggelam dalam kesibukannya.
Sesekali ia mendesis pelan kala tangannya terkena benda tajam yang ia pegang.
"Brengsek..."
Jessica hanya tersenyum kecil.
Dari samping, Dante terlihat berbeda.
Atasan yang dikenakannya hanya pakaian dalam sederhana yang sedikit longgar di bagian lengan. Kedua lengannya terlihat kokoh, dengan urat yang menonjol setiap kali ia menggerakkan tangannya.
Jessica tanpa sadar terus memperhatikannya.
Dante tiba-tiba berhenti.
Ia melirik ke arah gadis itu.
"Kau tidak pergi?"
Jessica tersenyum.
"Aku ingin menemanimu."
Ia menopang dagunya dengan kedua tangan. Tatapannya sama sekali tidak lepas dari Dante.
"Ganteng..." gumamnya pelan.
Namun ruangan itu terlalu sunyi untuk menyembunyikan suara sekecil apa pun. Dante jelas mendengarnya, Tangannya berhenti bergerak. Ia menoleh perlahan. Jessica langsung pura-pura sibuk menatap meja.
Dante menyipitkan mata.
"Berisik."
Jessica menahan senyum, Dante kembali menghadap meja. Senyum Jessica justru semakin lebar.
Di tengah ruangan bawah tanah yang penuh ketegangan itu, untuk pertama kalinya malam tersebut, Dante terlihat sedikit kehilangan konsentrasinya.
***
Di tengah koridor, Alesya tampak berjalan beriringan dengan Kael.
Sesekali gadis itu mencuri-curi pandang ke arah pria di sampingnya. Entah sudah berapa kali ia melakukan hal itu sampai akhirnya Kael yang menyadarinya angkat bicara.
"Kenapa?"
Suara Kael tetap datar, tanpa sedikit pun menoleh.
"Kapan yaa aku boleh balik ke selku? Aku rindu Reana."
Alesya mengucapkannya dengan wajah cemberut.
Kael terus berjalan dengan langkah santai.
"Kenapa?" tanyanya.
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada datarnya.
"Tidak betah tidur di sampingku?"
"Apaan sih... nggak jelas, ya."
Alesya memukul pelan pundak Kael.
"Aku takut kalau tiba-tiba ada sipir yang macam-macam sama dia, gimana?"
Kael tidak menjawab, Ia kemudian meraih gagang pintu sel, membukanya, lalu masuk ke dalam.
Alesya mengikuti di belakangnya.
"Ada Darren bersamanya."
Alesya yang semula tampak cemas langsung menoleh.
"Benarkah?"
Kael mengangguk kecil.
"Ohhh... syukurlah."
Alesya mengembuskan napas lega.
Kael kemudian naik ke ranjangnya dan berbaring telentang. Di susul Alesya yang ikut naik dan merebahkan tubuhnya di samping pria itu.
Ia bahkan menggunakan lengan Kael sebagai alas kepalanya.
Keduanya sama-sama terdiam.
Tidak ada yang memulai pembicaraan.
Hanya suara samar dari luar sel yang sesekali terdengar melewati koridor. Sampai akhirnya Alesya memecah keheningan.
"Aku masih penasaran sama hidupmu..."
Kael tidak langsung menjawab, tatapannya hanya tertuju pada langit-langit sel yang dipenuhi bercak jamur.
"Dulu kau sangat kurus..."
Alesya melirik tubuh pria di sampingnya.
"Tapi sekarang ototmu bahkan lebih besar dan kekar"
Kael tetap diam, Namun masi mendengar kan setiap ocehan gadis itu. Ia sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan itu.
Beberapa saat kemudian, Kael justru berbalik menghadap Alesya. Lengannya melingkar di tubuh gadis itu dan menariknya mendekat ke dalam pelukannya. Dagu nya bertumpu di ceruk leher Alesya.
Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh gadis itu perlahan, seolah-olah wangi tersebut sudah menjadi sesuatu yang membuatnya candu.
Alesya hanya diam.
"Kau belum menjawab pertanyaanku," gumamnya.
"Tidur, Alesya."
Kael menutup kedua matanya.
"Yeee..."
Alesya memajukan bibirnya, tampak kesal karena kembali diabaikan. Namun hanya sedetik kemudian, ia kembali bersuara.
"Kau selalu memelukku."
Kael tetap memejamkan mata.
"Kenapa?" Tidak ada jawaban.
Alesya tersenyum kecil.
"kau menyukaiku?"
Kael hanya berdehem pelan.
"Emm..."
Alesya terdiam sesaat.
Kemudian terkekeh.
"Tapi kau bukan seleraku."
Mata Kael langsung terbuka, Tatapannya beralih tajam kepada Alesya.
"Aku sukanya berondong."
Tatapan Kael semakin dingin.
"Coba ulang ngomong apa."
Nada suaranya rendah dan menekan.
Alesya masih sempat tersenyum jahil.
"Aku suka—"
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Kael langsung menyumpal mulut Alesya dengan mulutnya.
Alesya sontak membeku, Matanya membesar karena terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka Kael akan memciumya. Namun hanya beberapa detik kemudian, Kael melepaskan tautan itu.
Wajah mereka masih begitu dekat.
Kael menatapnya tajam.
"Masih berani bilang begitu?"
Alesya langsung terdiam, Tidak ada lagi senyum jahil di wajahnya. Ia hanya menatap Kael dengan wajah sedikit memerah. Itu adalah pertama kalinya Kael menciumnya.
Dan entah kenapa, jantung Alesya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Untuk pertama kalinya, gadis yang biasanya begitu banyak bicara itu kehilangan kata-kata.
Ia hanya bisa menunduk kecil.
Sementara Kael kembali memejamkan mata, seolah tidak baru saja membuat Alesya kehilangan seluruh keberaniannya.
***
Berbeda dengan sel lainnya, Blok C tempat Reana kini berada jauh lebih sunyi.
Darren tidur di ranjang samping Reana, ranjang itu milik Alesya. Keduanya sama-sama terdiam. Darren fokus menatap langit-langit sel yang warnanya bahkan sudah tidak lagi terlihat jelas.
Reana merasa canggung luar biasa. Namun Pikirannya kembali mengingat kejadian semalam. Ia masih ingat bagaimana Darren memeluknya dengan erat, seolah-olah gadis itu hanyalah miliknya seorang.
Sesekali, Reana mencuri-curi pandang ke arah Darren sebelum akhirnya berkata,
"Aku nggak apa-apa kok sendiri."
Ia berusaha menghilangkan rasa canggung yang begitu kentara. Darren diam beberapa detik.
"Selku masih nggak bisa dipakai."
Hanya itu alasannya. Setelahnya, tidak ada lagi percakapan. Keheningan kembali memenuhi ruangan.
Reana perlahan berbalik menghadap dinding, membelakangi Darren. Tanpa sadar, senyum malu-malu muncul di wajahnya.
Darren menoleh kearah punggung gadis itu, Sudut bibirnya ikut terangkat membentuk senyum tipis sebelum ia kembali menatap langit-langit.
Malam terus berjalan.
Tidak ada percakapan lagi di antara mereka.
Hanya suara samar dari luar koridor dan hembusan angin yang sesekali menyusup melalui celah-celah bangunan tua itu.
Reana perlahan memejamkan mata.
Darren masih terjaga beberapa saat, tetapi akhirnya ikut memejamkan matanya.
Keduanya tetap berada di ranjang masing-masing, dipisahkan jarak yang tidak seberapa.
Namun untuk malam itu, mereka memilih membiarkan keheningan berbicara.
Dan begitulah malam mereka berlalu.
Dalam diam.
Dalam keheningan yang panjang.
Hingga akhirnya keduanya terlelap tanpa mengatakan apa-apa lagi.
((🔥🔥 Ayooo sini yang fans nya siapa Kael & Alesya, Darren & Reana atau Dante & Jessica?
Jadi kalian ada di tim mana nihhh...
komen di bawahhh yaaa...👇🏼👇🏼👇🏼))