Indonesia
NovelToon NovelToon
Si Detektif Gila

Si Detektif Gila

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Sistem
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Dulu, dia adalah preman yang hidup dari kekerasan dan ditakuti banyak orang. Namanya dikenal di jalanan, tangannya penuh darah, dan masa depannya seolah tidak akan pernah berubah.
Sampai sebuah kejadian memberinya kesempatan kedua.
Terbangun dengan kehidupan baru, dia justru memilih jalan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya menjadi seorang polisi.
Namun, kebiasaan lamanya belum hilang. Cara berpikirnya terlalu liar, instingnya terlalu tajam, dan metode penyelidikannya sering kali membuat rekan-rekannya geleng-geleng kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

“Dari sepuluh peserta, tiga di antaranya sudah kehilangan tangan!”

Nina menunjuk daftar nama di atas meja sambil sibuk mengupas udang. “Apa mungkin pelakunya adalah salah satu dari tujuh orang yang masih tersisa?”

“Bisa saja...” Revan terdiam beberapa detik, lalu berkata, “Tapi tiga orang yang berada di peringkat teratas juga bisa kita coret. Mereka punya prestasi bagus. Buat apa mereka mau memotong tangan peserta yang kalah?”

“Benar juga...” Nina semakin bersemangat. Dia menunjuk daftar tersebut. “Kak, lihat ini. Korban pertama, Lia, berada di peringkat keenam dalam Kompetisi Piano Nasional. Lalu ada Larasati di peringkat kelima, dan Gita di peringkat keempat. Pelakunya memotong tangan mereka secara berurutan! Menurutku, pelakunya pasti berasal dari peringkat di bawah enam. Jadi, peringkat tujuh sampai sepuluh! Empat orang ini yang paling mencurigakan!”

“Benar!” Revan mengangguk. “Karena semuanya dimulai dari peringkat keenam, orang yang berada di peringkat ketujuh tentu menjadi tersangka paling mencurigakan. Menurutku, kemungkinan besar pelakunya adalah dia!”

“Tidak, tidak, tidak.”

Nina tiba-tiba menggelengkan kepala. “Aku sudah memeriksa latar belakang mereka semua! Orang di peringkat ketujuh bernama Rania. Dia meninggal dalam kecelakaan mobil sepuluh tahun lalu! Jadi, mustahil dia pelakunya.”

“Hah? Kalau begitu...” Revan terkejut. “Berarti kita cuma punya tiga tersangka?”

“Dua!” jawab Nina yakin.

“Orang di peringkat kesembilan menderita tumor tulang dan sudah bertahun-tahun hanya bisa terbaring di tempat tidur. Jadi dia juga tidak mungkin. Sekarang yang tersisa hanya peringkat kedelapan dan kesepuluh. Tapi orang yang berada di peringkat kedelapan tinggal di luar Pulau Jawa sepanjang tahun dan tidak berada di Jakarta. Jadi, cuma orang di peringkat kesepuluh yang memenuhi semua kriteria!”

“Serius?” Revan tiba-tiba merasa cemas.

Dia takut penyelidikan mereka kembali menemui jalan buntu seperti kasus sebelumnya.

“Jangan pesimis dulu!” Nina segera menenangkan. “Orang yang tinggal di luar kota bukan berarti bisa kita abaikan. Aku sudah menemukan alamat lengkapnya. Sore ini kita datangi orang di peringkat kesepuluh. Siapa tahu... ternyata memang dia pelakunya?”

Revan kembali menatap daftar itu dengan saksama.

Nama di peringkat kesepuluh adalah seorang perempuan.

Dadanya tiba-tiba terasa tidak nyaman.

Jangan-jangan...

Pelaku dalam Kasus Tangan Hilang benar-benar seorang wanita?

“Senior, selain mencari pelakunya, ada satu hal lagi yang tidak boleh kita abaikan!” Nina mengingatkan.

“Besok tanggal 26. Kalau pelakunya belum berhenti, kita harus melakukan persiapan.”

“Oh, benar juga. Aku mengerti!”

Revan menunjuk daftar nama itu. “Kalau pelaku kembali beraksi, korban berikutnya seharusnya orang yang berada di peringkat ketiga, kan?”

“Belum tentu!”

Nina kembali menggelengkan kepala.

“Orang di peringkat ketiga, Lolita, sudah pindah ke Australia bersama keluarganya. Pelaku tidak mungkin pergi sampai ke luar negeri hanya untuk memotong tangannya.”

“Selain itu, juara Kompetisi Piano Nasional, Tias, sekarang menjabat sebagai kepala bagian akademik di salah satu kampus musik ternama di Bandung. Lokasinya juga cukup jauh.”

Nina mengusap dagunya.

“Kalau menurutku, orang di peringkat kedua justru kemungkinan besar akan menjadi target berikutnya.”

“Laven?”

Revan kembali melihat daftar nama. “Namanya cukup jadul. Ini perempuan atau laki-laki?”

“Perempuan!” jawab Nina. “Dia adalah kepala sekolah sebuah akademi seni di Jakarta. Sekarang dia tinggal di kawasan Jakarta Selatan.”

Nina menyeringai.

“Kalau aku jadi pelakunya, aku pasti memilih dia.”

“Kalau begitu, tugas kita berat.” Revan menghela napas panjang. “Kita harus menangkap pelakunya sekaligus melindungi target berikutnya. Kita harus bergerak cepat!”

“Ya!”

Nina sudah menghabiskan makanannya. Dia meneguk jus buah sampai habis, kemudian meletakkan gelasnya.

“Tapi sebelum itu, kita harus kembali ke kantor. Kita belum mendapatkan alamat lengkap semua orang ini. Aku juga ingin memeriksa pihak penyelenggara kompetisi, termasuk para juri dan stafnya. Siapa tahu kita bisa mendapatkan informasi tambahan dari mereka.”

“Teliti sekali. Aku suka!”

Revan buru-buru menyelesaikan makanannya. Setelah membayar tagihan, dia bersama Nina langsung kembali ke kantor Tim A.

Memang benar, musuh selalu saja muncul di saat yang tidak tepat!

Begitu mereka masuk ke kantor, Revan dan Nina langsung melihat Budi berdiri di depan papan tulis yang biasa digunakan Revan untuk menganalisis kasus.

Kedua tangan Budi terlipat di depan dada. Tatapannya tertuju pada berbagai catatan dan foto yang memenuhi papan tulis.

Saat itu jam makan siang, jadi hampir tidak ada anggota tim lain di kantor.

“Oh?”

Budi tidak terlihat panik ketika melihat Revan dan Nina masuk. Malah dia tersenyum mengejek.

“Rajin sekali. Bahkan waktu makan siang masih sibuk menyelidiki kasus?”

“Pak Budi,” sapa Nina sopan.

Revan menyilangkan tangan di dada lalu berjalan mendekati Bima.

“Kalau cuma mau lihat-lihat, silakan. Kalau tidak, minggir.”

“Lo!?”

Budi langsung menatap tajam.

Dia menunjuk papan tulis di belakangnya sambil mencibir.

“Baiklah, Revan. Sepertinya lo benar-benar ingin menang, ya? Kasus ini sebentar lagi selesai, begitu?”

Budi tertawa sinis.

“Kalau begitu, gue harus menyiapkan Rp3.600.000 untuk lo dari sekarang, ya?”

Dia tampak sangat puas.

“lo sebaiknya mengukur kemampuan sendiri. Tim B punya begitu banyak orang yang bekerja siang dan malam untuk menyelidiki kasus ini, tapi sampai sekarang belum menemukan petunjuk apa pun!”

Budi menunjuk dada Revan.

“Dasar anak kemarin sore. Lo pikir bisa menyelesaikan kasus ini lebih dulu daripada kami? Huh! Jangan mimpi!”

Dia kemudian mendekat.

“Masih ada kesempatan untuk menjaga harga diri lo. Minta maaf saja sekarang dan akui kekalahan. Kalau lo mengaku kalah, gue masih bisa menjaga muka lo dan tidak mempermalukan lo di depan seluruh tim.”

Budi menyeringai.

“Tapi kalau lo tetap keras kepala, jangan salahkan gue kalau nanti lo tidak bisa lagi mengangkat kepala di depan semua anggota tim!”

“Budi, dengarkan saran gue.”

Tanpa menunggu Revan membalas, Budi justru berbalik kepada Nina.

“Jangan terlalu dekat dengan orang seperti ini. Kamu punya kemampuan bagus. Kalau terus mengikuti orang bodoh seperti dia, masa depanmu bisa ikut hancur.”

Nina hanya menundukkan kepala.

Dia tidak berani menyetujui perkataan Budi, tetapi juga tidak berani membantahnya.

“Nin.”

Revan menepuk bahu Nina ringan.

“Ambilkan aku kopi, dong.”

Nina menoleh.

“Yang gelas besar.”

“Revan!”

Budi langsung menyadari maksud perkataan Revan.

“Jangan macam-macam!”

Dia menunjuk wajah Revan.

“Jangan bilang lo mau lempar kopi lagi ke arah gue?”

Budi mendengus.

“Dengar baik-baik. Waktu itu gue udah berbaik hati membiarkan lo lolos. Kalau lo berani macam-macam lagi, gue akan langsung keluarin lo dari kepolisian!”

Perkataan Budi bukan sekadar gertakan.

Berdasarkan aturan yang berlaku, menyerang atau melakukan kekerasan tanpa alasan terhadap sesama petugas kepolisian bisa berujung pada hukuman pidana. Bahkan jika kedua orang yang terlibat sama-sama polisi, tindakan seperti itu tetap bisa berakhir dengan pemecatan.

Sebelumnya, Revan memang pernah kehilangan kendali karena emosinya setelah mengalami kejadian aneh yang mengubah hidupnya.

Selain itu, saat itu dia sendiri sebenarnya tidak terlalu peduli dengan pekerjaannya sebagai polisi.

Tapi sekarang semuanya sudah berbeda.

Revan tentu tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.

Namun, tidak menggunakan kekerasan bukan berarti Revan kehabisan cara.

Sebagai orang yang punya sifat usil dan tidak tahu malu, dia punya banyak cara lain untuk mengerjai seseorang.

Saat Budi melewati Revan dan hendak keluar melalui pintu utama, Revan tiba-tiba berbalik.

Lalu dia berteriak keras dari belakang.

“Woy!”

Teriakan itu terdengar seperti ledakan petasan di ruangan sempit.

Budi langsung terkejut.

Tubuhnya tersentak dan langkahnya hampir tersandung. Tumpukan dokumen yang dibawanya pun berantakan dan jatuh ke lantai.

Budi memang masih sedikit trauma dengan kelakuan Revan.

Wajahnya langsung pucat.

“Lo... Lo...”

Dia menunjuk Revan dengan tangan gemetar, tetapi tidak mampu mengeluarkan kata-kata.

“Hahahahaha!”

Revan tertawa sampai membungkuk.

Dia benar-benar puas melihat ekspresi Budi.

“Memangnya bikin lo kaget itu kejahatan?”

Revan mengangkat kedua tangannya dengan wajah polos.

“Kalau bukan, terus lo mau ngapain? Hah? Mau laporin gue?”

Nina yang melihat tingkah Revan tidak mampu menahan tawanya.

“Pfft...”

Namun begitu melihat tatapan Budi yang seolah ingin membunuh Revan di tempat, Nina buru-buru menutup mulutnya.

Dia berusaha keras menahan tawa.

Sementara itu, Revan masih berdiri santai dengan wajah puas.

Budi menatapnya dengan penuh amarah.

Jelas sekali...

Perang antara mereka belum selesai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!