Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.
Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.
Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.
Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 08
Keesokan paginya, langit di atas SMA Garuda tampak kelabu berselimut awan mendung. Di dalam rumah minimalis lantai dua, tidak ada lagi aroma nasi goreng hangat atau denting sendok dari dapur.
Kirana turun dari kamarnya dengan seragam lengkap, namun langkahnya terhenti di anak tangga terakhir. Suasana ruang tengah dan dapur benar-benar sepi. Di atas meja makan, hanya ada secangkir kopi hitam yang sudah dingin dan sebuah kunci rumah yang diletakkan di atas kertas catatan bertuliskan tulisan tangan yang sangat rapi.
Gue berangkat duluan. Kunci pintu dari luar.
Kirana meremas kertas catatan itu, menahan rasa sesak di dadanya. Kata-kata Kenan semalam benar-benar dibuktikan, cowok itu sama sekali tidak menunggunya, tidak menyuruhnya sarapan, dan menganggapnya tidak ada.
"Dasar Es Batu, Sialan!" umpat Kirana pelan, melempar kertas itu ke tempat sampah dengan perasaan kesal yang membumbung tinggi.
Sesampainya di sekolah, Kirana melangkah gontai menyusuri lorong. Maya yang melihat wajah muram sahabatnya itu langsung menyenggol lengannya.
"Kir, lo kenapa lagi sih? Muka lo lecek banget kayak baju belum disetrika tiga hari," celetuk Maya.
"Gak apa-apa. Lagi kesel aja sama manusia tak berhati," jawab Kirana singkat sambil menatap lantai koridor.
Saat melewati lapangan utama, beberapa anggota OSIS tampak sedang sibuk menertibkan barisan murid untuk apel pagi singkat. Di tengah lapangan, Kenan berdiri tegap dengan jas OSIS yang terpasang sempurna. Binar matanya yang dingin menatap lurus ke depan, memberikan instruksi pada seksi kedisiplinan tanpa ada emosi sedikit pun.
Kirana sengaja berjalan agak lambat, berharap Kenan secara tak sengaja melirik ke arahnya. Namun, hingga Kirana berjalan melewati batas lorong, pandangan Kenan benar-benar menyapu bersih keberadaan Kirana. Seolah-olah Kirana hanyalah angin lalu yang melintas di depannya.
"Cie, Kir, itu si Ketos ganteng banget ya kalau lagi mode serius gitu," puji Maya polos.
"Ganteng dari mananya? Muka datar kayak papan gilling begitu!" cetus Kirana cepat, melipat tangannya di dada sambil mempercepat langkah masuk ke kelas.
…
Siang hari.
Kelas XII IPA 2 dijadwalkan mengambil nilai tes lari empat ratus meter di lapangan terbuka. Cuaca yang tadinya mendung mendadak berubah menjadi terik dan menyengat. Kirana yang sejak pagi tidak sarapan dan emosi jiwa, merasa kepalanya mulai agak pusing saat berlari di putaran kedua.
Di pinggir lapangan, tim OSIS yang dipimpin langsung oleh Kenan dan Clarissa sedang melakukan pemantauan ketertiban kegiatan ekstrakurikuler dan olahraga. Clarissa berdiri tepat di samping Kenan sambil memegang papan jalan dan sesekali membisikkan sesuatu.
"Kenan, anak-anak kelas IPA 2 ada yang beberapa gak pakai sepatu standar olahraga loh," bisik Clarissa sambil menunjuk ke arah barisan.
Kenan menatap ke arah lapangan, memperhatikan murid-murid yang sedang berlari. Pandangannya tertuju pada Kirana yang berjalan agak tertatih di garis akhir. Kirana tampak memegang pelipisnya, nafasnya terengah-engah dan wajahnya sangat merah akibat sengatan matahari.
Satu detik. Dua detik.
Manik mata Kenan dan Kirana sempat bertabrakan dari kejauhan.
Kirana menatap Kenan, berharap atau mungkin sedikit berharap cowok itu menunjukkan setitik rasa khawatir seperti malam saat ia demam. Namun, Kenan dengan cepat memutuskan kontak mata itu, memalingkan wajahnya kembali pada berkas di tangan Clarissa.
"Catat nama murid yang melanggar atribut, Clarissa," perintah Kenan datar tanpa emosi seperti biasanya.
Dada Kirana terasa seperti dihantam balok es. Rasa kecewa yang mendalam berlanjut menjadi rasa amarah.
“Oke, kalau itu mau lo, Kenan! Kita benar-benar asing di sekolah ini!”
Kirana memaksakan kakinya berlari lagi untuk menyelesaikan putaran terakhir, namun pandangannya mulai kabur dan berkunang-kunang. Tepat saat ia menyentuh garis batas, kakinya lemas dan tubuhnya oleng ke samping!
"Kirana!" jerit Maya histeris dari pinggir lapangan.
Sebelum tubuh Kirana menghantam tanah, sebuah lengan berotot dengan cepat menyergap bahunya dari belakang. Kirana tidak jatuh ke tanah, melainkan berada dalam dekapan seseorang.
Kirana mengerjap-ngerjapkan matanya yang kabur, berharap sosok itu adalah Kenan. Namun, wangi parfum maskulin yang tajam menyengat inderanya bukan wangi mint segar yang biasa ia cium.
"Kir! Lo gak apa-apa?!" tanya Rendy panik, merengkuh tubuh Kirana yang lemas. Sang ketua tim basket itu rupanya baru saja selesai latihan dan berada dekat dari posisi Kirana jatuh.
"R-rendy...?" gumam Kirana lemah.
"Muka lo pucet banget, Kir! Ayo gue bawa ke UKS sekarang!"
tanpa menunggu jawaban, Rendy langsung menyelipkan tangannya di bawah lutut dan punggung Kirana, mengangkatnya menuju UKS. Para murid di pinggir lapangan riuh bersorak dan berbisik heboh melihat aksi sigap sang ketua tim basket. Maya berlari kecil mengiringi dari samping. Dia sangat cemas sekali karena tidak biasa nya sahabat nya itu pingsan begini.
Di sudut lapangan yang lain, langkah Kenan yang tadinya sempat tersentak maju dua langkah mendadak terhenti kaku. Tangannya yang terkepal erat di samping badan perlahan melonggar. Ia menyaksikan sendiri bagaimana Rendy mengangkat tubuh Kirana dan membawanya pergi menjauh menuju gedung UKS.
"Kenan? Kamu mau ke mana?" tanya Clarissa bingung saat melihat Kenan membalikkan badan.
"Ruang OSIS," jawab Kenan dengan nada suara yang sangat dingin, bahkan lebih membekukan dari es di kutub. "Lanjutkan penertiban tanpa gue."
Clarissa tersenyum puas melihat Kenan yang tampak tidak mempedulikan insiden pingsannya Kirana sama sekali. Dalam hatinya, Clarissa makin yakin bahwa hubungan Kenan dan Kirana benar-benar hanya sebatas rumor kosong, seperti nya ia tidak perlu mencurigai nya lagi.
Di ruang UKS yang tenang dan beraroma minyak kayu putih, Kirana terbaring di atas tempat tidur dengan selimut tipis menutup kakinya. Setelah di minumi teh hangat manis oleh petugas PMR dan beristirahat sepuluh menit, kesadarannya mulai pulih sepenuhnya.
Rendy duduk di kursi kayu samping ranjang sambil mengupas buah jeruk.
"Lo tuh kalau belum makan jangan dipaksa lari, Kir," tegur Rendy lembut, menyodorkan beberapa ulas jeruk ke arah Kirana.
"Untung tadi gue refleks nangkep lo. Kalau gak, kepala lo bisa terbentur pembatas lapangan."
Kirana menerima jeruk itu dengan senyum tipis yang canggung. "Makasih banyak ya, Ren. Beneran repot-repot banget sampai nggendong gue segala."
"Santai aja," Rendy terkekeh pelan. "Gue malah seneng bisa jadi pahlawan buat cewek manis kayak lo."
Kirana hanya tertawa kecil formal, meskipun hatinya tidak. Sepanjang berada di UKS, mata Kirana secara tak sadar berkali-kali melirik ke arah pintu kayu yang tertutup rapat.
“Kenapa gue masih berharap dia datang?” batin Kirana merutuki kebodohan nya sendiri. Dia kan Ketua OSIS, dia lihat gue lemas di lapangan tadi. Tapi dia bahkan gak peduli sedikit pun.
"Btw, Kir," lanjut Rendy, menatap Kirana dengan raut wajah serius.
"Soal tawaran nongkrong malam minggu besok... lo beneran bisa kan? Gue mau ajak lo ke cafe baru dekat alun-alun."
Kirana terdiam sejenak. Pikiran tentang Kenan dan kata-kata cowok itu semalam kembali berputar di kepalanya.
"Lo bebas jalan sama siapa aja. Gue gak bakal campuri urusan pribadi lo lagi."
Rasa sakit hati dan gengsi Kirana kembali mendominasi. Buat apa ia menjaga jarak dengan cowok lain kalau Kenan sendiri sama sekali tidak menghargai keberadaannya dan tidak peduli lagi.
Kirana menatap Rendy, lalu menganggukkan kepala mantap. "Bisa, Ren. Malam minggu besok gue senggang kok."
Senyum lebar mengembang di wajah tampan Rendy. "Bagus deh! Nanti jam tujuh malam gue jemput di tempat biasa ya!"
Tanpa mereka sadari, di balik celah jendela kaca pintu UKS yang dilapisi tirai tipis, sosok Kenan berdiri mematung. Ia memegang kantong plastik berisi selai roti dan botol minuman suplemen yang baru saja ia beli dari kantin belakang.
Kenan mendengar seluruh percakapan itu. Ia melihat bagaimana Kirana tersenyum pada Rendy dan menerima ajakan kencan malam minggu dari sang ketua tim basket.
Genggaman Kenan pada kantong plastik itu mengencang hingga plastiknya meremuk. Tatapan matanya meredup tajam. Tanpa mengetuk pintu atau melangkah masuk, Kenan membalikkan badannya dan berjalan pergi meninggalkan koridor UKS. Ia melempar kantong plastik isi makanan itu ke dalam kotak sampah besar di sudut lorong.
....
Malam harinya, hening di rumah minimalis dua lantai itu terasa semakin menyiksa.
Pukul 19.30 WIB. Kirana duduk di meja makan, berusaha fokus membaca buku pelajaran Kimia. Namun pikirannya sama sekali tidak bisa mencerna rumus-rumus di depannya.
Kenan turun dari tangga dengan pakaian santai celana kain hitam dan kaos polos warna abu-abu. Wajahnya dingin, gerak-geriknya sangat tenang seolah tak terjadi apa-apa. Ia berjalan menuju dapur, menyeduh segelas air putih hangat tanpa melirik Kirana sedikit pun.
Kirana yang tidak tahan lagi dengan siksaan keheningan ini akhirnya meletakkan pulpennya keras-keras di atas meja.
"Lo mau diam-diaman kayak gini terus sampai kapan, Kenan?" tanya Kirana dengan nada menantang.
Kenan memutar badannya, bersandar pada meja dapur sambil memegang gelasnya. Tatapannya menghujam Kirana datar. "Bukannya ini yang lo mau? Lo bilang gue gak punya hak ngatur hidup lo."
"Gue bilang gitu gara-gara lo yang mulai duluan!" omel Kirana berdiri dari kursinya. "Di sekolah lo pura-pura gak kenal sama gue, pas gue pingsan di lapangan lo bahkan gak peduli!"
"Lo udah ada yang ngerawat," potong Kenan dingin, suaranya menusuk ulu hati Kirana. "Rendy sigap banget ngendong lo ke UKS. Kenapa harus gue yang repot?"
Kirana mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Oh, jadi lo ngeliat? Tapi lo malah milih sok gak peduli. Hebat ya Ketua OSIS kita!"
"Gue cuma menjalankan batasan yang lo minta, Kirana," jawab Kenan santai namun penuh penekanan. "Lagian, lo juga udah dapet janji kencan malam minggu kan? Jadi gue gak perlu buang-buang waktu buat khawatir."
Kirana melotot kaget. Jadi dia dengar obrolan di UKS tadi?!
"Iya! Gue memang mau jalan sama Rendy malam minggu besok!" tantang Kirana tidak mau kalah gengsi. "Dia jauh lebih ramah, lebih peduli, dan gak gengsian kayak lo!"
Kenan meletakkan gelasnya di atas meja dapur dengan ketukan nyaring. Ia melangkah mendekati Kirana, mengikis jarak di antara mereka hingga Kirana terdesak menabrak tepi meja makan.
Aroma mint yang tajam menyapu indera penciuman Kirana. Kenan menundukkan kepalanya sedikit, menatap mata Kirana dari jarak sangat dekat.
"Bagus," bisik Kenan dengan nada rendah yang membuat bulu kuduk Kirana berdiri. "Nikmati kencan lo malam minggu besok. Tapi ingat satu hal, Kirana..."
Kenan menyentuh tepi meja di samping pinggang Kirana, mengurung cewek itu dalam kungkungannya.
"...kalau sampai ada yang tahu status kita berdua gara-gara keteledoran lo jalan sama cowok lain, gue gak akan segan-segan ngasih hukuman yang jauh lebih berat dari sekadar poin pelanggaran sekolah."
Setelah membisikkan ancaman dingin itu, Kenan menegakkan kembali tubuhnya, berbalik, dan melangkah masuk ke dalam keremangan lorong lantai satu tanpa menoleh lagi.
Kirana mencengkeram tepi meja makan erat-erat, jantungnya berdegup kencang campuran antara amarah, takut, dan rasa ganjil yang tak mampu ia definisikan.
“Kenan sialan! Beraninya lo!” Kirana hanya bisa mengumpat dalam hati.
Bersambung…