Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!
Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23.Piyama kucing
Cengkeraman tangan Damar di pergelangan tangan Naya terasa begitu hangat namun juga terburu-buru. Pria itu terus melangkah lebar membelah ruang keluarga mansion Diksara, sama sekali tidak memedulikan tatapan horor bercampur murka yang dilayangkan oleh Mamah Ratna dari belakang.
Naya yang diseret secara mendadak hanya bisa mengerjap-ngerjap kaget, mengikuti langkah suaminya dengan rasa bingung yang menggelayut di kepalanya.
Halo? Ini si Mas Kulkas kesambut setan mana pagi-pagi? Main narik tangan orang kayak maling tertangkap basah aja! batin Naya protes dalam hati, mencoba menyeimbangkan langkah kakinya yang masih mengenakan piyama tidur motif kucing berukuran oversized dan rambut dicepol seadanya menggunakan pensil kayu.
Begitu mereka tiba di samping pintu mobil sport hitam yang terparkir anggun di halaman, Damar membukakan pintu dengan gerakan tergesa-gesa dan menyuruh Naya masuk tanpa berpikir panjang. Masih terbawa emosi sisa perdebatan dengan sang mamah, Damar langsung meluncurkan mobilnya membelah jalanan kota menuju gedung perkantoran Diksara Group.
Sepanjang perjalanan, Damar sibuk merapikan setelan jasnya dengan wajah tegang. Namun, begitu mobil sport itu memasuki basement parkir gedung Diksara Group dan terparkir sempurna di slot khusus CEO, seketika itu juga otak Damar seperti mengalami korsleting massal.
Pria itu menoleh ke samping. Ia baru sadar sepenuhnya. Naya belum mandi. Naya belum berganti pakaian. Istrinya itu masih berwujud jelmaan remahan rengginang berdaster piyama kucing lengkap dengan cepolan pensil di kepala.
Seketika itu pula, Damar menelan ludah dengan susah payah. Wajah CEO yang biasanya dingin, berwibawa, dan tanpa ekspresi itu mendadak sepucat pasi kertas HVS.
Sial! Bodoh banget aku! Kenapa aku malah menyeretnya langsung ke kantor pusat?! maki Damar dalam hati, merutuki kebodohannya sendiri yang terlalu terbawa emosi pagi tadi.
Di kursi penumpang, Naya melipat kedua tangannya di depan dada, menatap sang suami dengan sebelah alis terangkat tinggi dan senyuman paling menyebalkan di muka bumi.
"Udah sampai nih, Yang Terhormat Tuan CEO?" sindir Naya dengan nada santai penuh ejekan. "Ayo dong dibukain pintu mobilnya. Saya udah tidak sabar mau jalan-jalan keliling lobby kantor menyapa para client penting bapak pakai piyama kucing kesayangan ini. Pasti nanti masuk berita utama majalah bisnis."
Damar mengusap wajahnya dengan kasar, merasa harga diri dan wibawanya sebagai pimpinan tertinggi perusahaan hancur seketika. "Naya... jangan mulai ya. Keluar dari mobil ini saja tidak boleh, apalagi jalan-jalan ke lobby."
"Loh, kan tadi Bapak sendiri yang main seret saya masuk mobil tanpa basa-basi!" balas Naya sewot tapi menahan tawa. "Sekarang giliran udah sampai kantor, mana bisa saya turun dengan wujud gembel begini? Ogah banget ya! Malu sama tukang parkir!"
Menyadari situasi sudah darurat dan tidak mungkin membiarkan Naya keluar dari mobil dalam balutan piyama kucing, Damar akhirnya mengambil keputusan cepat. Tanpa banyak bicara lagi, ia langsung memutar arah kemudi, meninggalkan basement kantor, dan melajukan kendaraannya menuju sebuah tempat peristirahatan rahasia miliknya: sebuah villa pribadi mewah yang terletak di kawasan perbukitan pinggir kota yang tenang.
Kurang dari satu jam kemudian, mobil sport hitam itu memasuki gerbang otomatis sebuah villa minimalis modern berukuran besar yang dikelilingi oleh taman hijau yang asri dan udara pegunungan yang sejuk.
Begitu mobil berhenti di carport, Naya langsung menoleh menatap Damar dengan tatapan menyelidik. "Wah, gercep juga pelarian kita, Mas Kulkas. Emang kita mau ngapain dibawa ke villa pribadi gini? Mau nyembunyiin buronan?"
Damar mematikan mesin mobil, lalu menoleh dengan wajah kaku berusaha menutupi rasa salah tingkahnya. "Diam kamu. Cepat turun."
Naya mendengkus pelan, melangkah turun dari mobil sambil merapikan piyama kucingnya dengan gaya seolah-olah ia sedang mengenakan gaun malam rancangan desainer Paris. "Iya deh, juragan besar. Terserah apa kata bapak."
Mereka berdua masuk ke dalam villa mewah yang bersih dan tertata rapi. Damar langsung mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, mendial nomor asisten pribadinya, Andre, dengan nada suara dingin yang dibuat-buat setegas mungkin.
"Andre. Dengar instruksi saya," ucap Damar tanpa basa-basi saat sambungan terhubung. "Kamu batalkan seluruh jadwal rapat saya pagi ini sampai jam dua siang nanti. Dan satu lagi... carikan satu set pakaian wanita ukuran medium, mulai dari pakaian ganti hingga gaun kasual yang sopan dan elegan. Jangan sampai salah ukuran. Kirimkan segera ke villa pribadi saya sekarang juga. Mengerti?"
Setelah mengakhiri panggilan, Damar melempar ponselnya ke atas sofa ruang tamu, lalu mengembuskan napas panjang untuk meredakan ketegangannya.
Naya yang sedari tadi memerhatikan gerak-gerik suaminya tidak bisa menahan diri untuk tidak melemparkan godaan. Cewek itu berjalan mendekat dengan langkah santai, melingkarkan kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum miring penuh kemenangan.
"Wah, wah... segitunya ya takut reputasi perusahaan hancur cuma karena istrinya pakai piyama kucing di kantor?" selidik Naya dengan nada meledek yang amat manis namun menyebalkan. "Atau... sebenarnya Mas Kulkas ini cuma modus aja pengen berduaan sama saya di villa sepi? Ngaku deh, Mas!"
Damar sontak menoleh. Jantungnya berdegup kencang bukan karena marah, melainkan karena jarak di antara mereka kini begitu dekat. Aroma sabun mandi bercampur wangi natural dari tubuh Naya tiba-tiba menguar, masuk dengan lancar ke indra penciumannya.
Melihat Naya yang semakin berani menggodanya, jiwa gengsi Damar langsung terpanggil untuk melancarkan serangan balik demi menyelamatkan harga dirinya sebagai seorang suami.
Pria itu tidak mundur. Sebaliknya, Damar melangkah maju dengan tatapan tajam mautnya.
Tap. Tap. Tap.
Setiap langkah kaki Damar membuat Naya refleks melangkah mundur perlahan, hingga punggung Naya akhirnya membentur permukaan dinding ruang tamu yang dingin.
Bruk.
Naya terkesiap kecil. Dalam sepersekian detik, Damar sudah mengurungnya. Pria bertubuh tinggi tegap itu menempatkan kedua tangannya di dinding—menyekat Naya di antara kedua lengan kekarnya. Wajah mereka kini berada dalam jarak yang sangat dekat, begitu dekat hingga Naya bisa melihat pantulan wajahnya sendiri di dalam sorot mata tajam milik suaminya.
Suasana di dalam villa mendadak berubah menjadi sangat panas dan senyap. Tidak ada suara lain selain deru napas mereka yang beradu.
Damar menundukkan sedikit wajahnya, menatap lurus ke dalam mata Naya dengan seringai tipis yang sarat akan intimidasi buatan.
"Berani sekali kamu menggoda saya sekarang, Naya Diksara..." bisik Damar dengan suara baritonnya yang rendah, berat, dan terdengar sangat berbahaya di telinga. "Kamu pikir karena kita berdua di sini, kamu bisa berbuat semaunya dan meledek saya terus-menerus? Jangan lupa status kita, dan jangan menantang batas kesabaran saya."
Naya yang tadinya berniat ingin meledek habis-habisan mendadak membeku di tempat. Tenggorokannya terasa kering seketika. Jantung Naya berdegup kencang, bagaikan hendak melompat keluar dari rongga dadanya. Iris matanya mengerjap pelan menatap jarak bibir mereka yang begitu tipis.
Merasa dirinya hampir kehilangan kendali atas debaran jantungnya sendiri yang mulai berontak, Naya reflek menelan ludah dengan kasar.
Gluk.
Suara tegukan ludah Naya itu terdengar begitu jelas di tengah keheningan villa.
Damar, yang menangkap basah ekspresi salah tingkah dan keterkejutan di wajah sang istri, mendadak ikut menahan napas. Sentuhan visual dari bibir mungil Naya yang sedikit terbuka karena kaget itu sukses membuat akal sehat Damar hampir buyar dalam hitungan detik.
Sial... kenapa malah aku yang jadi ikut berdebar-debar begini?! batin Damar panik setengah mati di balik topeng dinginnya.
Untuk menutupi kegugupannya yang luar biasa, Damar langsung menegakkan tubuhnya kembali dalam gerakan cepat, menarik mundur kedua tangannya dari dinding, lalu berbalik memunggungi Naya sambil merapikan kerah jasnya dengan kaku.
"I-intinya... tunggu sampai Andre datang membawakan pakaian ganti," ucap Damar dengan suara yang sedikit terbata, gagal mempertahankan kestabilannya. "Jangan coba-coba keluar kamar sebelum kamu berpakaian yang benar!"
Tanpa menunggu balasan dari Naya, Damar langsung melangkah lebar-lebar meninggalkan ruang tamu menuju arah balkon belakang, berniat menyelamatkan sisa-sisa kewarasannya yang hampir runtuh total.
Di tempatnya bersandar, Naya mengembuskan napas panjang yang sedari tadi ditahannya. Ia memegang dadanya sendiri yang bergemuruh hebat, lalu menyunggingkan senyuman miring penuh kemenangan di balik keterkejutannya.
Aduh, Mas Kulkas... gayanya aja sok ngegandeng tembok galak gitu, tapi telinganya merah banget kayak kepiting rebus! Aslinya ciut juga kan digombalin dikit? batin Naya tertawa puas, menikmati setiap detik permainan batin yang kian mendebarkan di antara mereka berdua.
_Bersambung