Indonesia
NovelToon NovelToon
PUTRIKU DITUKAR, KINI AKU MENGGUNCANG DUNIA

PUTRIKU DITUKAR, KINI AKU MENGGUNCANG DUNIA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Nabila tidak pernah menyangka jika putri yang selama enam tahun ia besarkan dengan kemewahan ternyata adalah anak palsu. Darah dagingnya yang asli, Luna Wegan, diam-diam ditukar saat lahir oleh keluarga suaminya sendiri dan terpaksa hidup menderita sebagai pengemis jalanan. Takdir akhirnya mempertemukan Nabila dengan seorang gadis kecil penuh luka memar di depan mall, di mana sebuah tahi lalat di balik telinga membongkar pengkhianatan keji masa lalu. Bersama suaminya, sang CEO kejam Leon Wegan, Nabila kini siap menghancurkan siapa pun yang telah berani menyiksa putri kandung mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Brak!

Pintu lemari pakaian dibanting dengan sangat keras hingga engselnya berbunyi berderit.

Gadis kecil berambut ikal itu menginjak-injak gaun sutra berwarna merah jambu di lantai kamarnya.

"Aku benci warna ini! Aku tidak mau memakainya!" jerit Bianca dengan suara melengking.

Nabila yang baru saja melangkah masuk ke kamar itu terkejut dan memijat pangkal hidungnya.

"Bianca sayang, kenapa bajunya dibuang ke lantai?" tanya Nabila dengan suara lembut.

"Baju ini jelek sekali! Seperti baju pelayan rendahan!" balas Bianca sambil menendang gaun itu.

Para pelayan yang berdiri di sudut kamar hanya bisa menundukkan kepala mereka dalam-dalam.

Mereka gemetar ketakutan melihat Nona Muda mereka mengamuk di pagi hari.

"Tapi ini gaun pesanan khusus dari butik di Paris, Nak," bujuk Nabila mencoba sabar.

"Kamu sendiri yang menunjuk gaun ini di katalog minggu lalu," lanjut Nabila mendekati putrinya.

"Minggu lalu aku suka, tapi hari ini aku benci!" teriak Bianca berkacak pinggang.

"Aku mau gaun warna emas muda! Cepat ambilkan yang baru!" perintah gadis kecil itu dengan angkuh.

Dada Nabila terasa sesak mendengar nada bicara anaknya yang sangat kasar.

"Bianca, kamu tidak boleh bicara seperti itu. Pelayan juga manusia yang harus dihargai," tegur Nabila.

"Papa bilang aku boleh melakukan apa saja! Mama jangan ikut campur!" bantah Bianca melotot marah.

Nabila menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya.

"Anak ini benar-benar tidak bisa dikendalikan lagi," batin Nabila merasa sangat putus asa.

Nabila menoleh ke arah kepala pelayan yang sejak tadi berdiri kaku di dekat pintu.

"Tolong siapkan gaun warna emas mudanya sekarang juga," perintah Nabila dengan suara lelah.

"Baik, Nyonya Nabila. Akan segera saya siapkan," jawab kepala pelayan itu langsung berlari.

"Pakaikan padaku cepat! Dasar lelet!" bentak Bianca saat pelayan lain datang membantunya berganti baju.

Pelayan itu hanya bisa menelan ludah dan menuruti perintah Nona Mudanya dengan tangan gemetar.

Di waktu yang sama namun di tempat yang sangat berbeda, nasib malang sedang menimpa seorang gadis kecil.

Gubrak!

Tubuh kurus kering itu ditendang keluar dari pintu gubuk dengan sangat kasar.

Luna jatuh terjerembab di atas tanah berkerikil hingga lututnya berdarah.

"Bangun kau anak malas! Jangan pura-pura mati kau!" teriak Siska dari ambang pintu gubuk reyot itu.

Luna meringis menahan sakit sambil memegangi lututnya yang terluka terkena batu tajam.

Gadis kecil itu perlahan bangkit berdiri dengan kaki telanjang yang masih bergetar hebat.

"Ampun, Bu. Luna akan segera berangkat," ucap Luna dengan suara parau yang ketakutan.

"Hari ini targetmu dua ratus ribu rupiah!" ancam Siska melotot tajam.

"Kalau kau berani pulang bawa uang kurang dari itu, kau tidur di selokan malam ini!" lanjut wanita kejam itu.

"Iya, Bu. Luna akan cari uangnya sampai dapat," jawab Luna menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Luna memutar tubuh mungilnya dan mulai melangkah menyusuri jalanan kawasan kumuh tersebut.

Luka goresan di telapak kakinya semalam terasa sangat perih setiap kali menginjak tanah keras.

Tapi Luna menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk menahan rasa sakit agar air matanya tidak jatuh.

"Aku tidak boleh menangis, nanti Ibu Siska bisa marah lagi," batin Luna sambil terus berjalan tertatih.

Perutnya berbunyi sangat nyaring menuntut untuk diisi.

Luna belum makan sepeser pun nasi sejak kemarin siang.

Gadis kecil itu melewati sebuah warung makan kecil di pinggir jalan dan mencium aroma ayam goreng.

Langkah kaki kecilnya terhenti sejenak dan matanya menatap lekat ke arah etalase warung tersebut.

Air liurnya menetes tanpa bisa ditahan melihat potongan daging ayam yang terlihat sangat lezat itu.

"Hei pengemis busuk! Jangan berdiri di depan warungku!" bentak pemilik warung sambil mengibas-ngibaskan serbet kotor.

"Nanti pelanggan warungku kabur semua kalau melihat tampang jelekmu itu!" lanjut bapak pemilik warung itu dengan jijik.

"Maaf, Pak. Saya langsung pergi," ucap Luna buru-buru menunduk dan kembali melanjutkan perjalanannya.

Jarak dari kawasan kumuh ke mall besar di pusat kota sangatlah jauh untuk ukuran anak enam tahun.

Luna harus berjalan berjam-jam di bawah terik matahari pagi yang mulai terasa sangat menyengat kulit.

Setiap langkah adalah siksaan fisik yang nyata.

Tapi bayangan pukulan kayu ibunya jauh lebih menakutkan bagi gadis kecil itu dibandingkan rasa lelahnya.

"Tuhan, apakah kalau Luna rajin cari uang, Ibu dan Bapak suatu hari nanti akan menyayangi Luna," batin Luna penuh harap.

Harapan palsu itulah yang selalu membuat Luna tetap bertahan hidup setiap harinya.

Kembali ke keluarga Wegan, mobil Rolls Royce hitam mengkilap itu sedang membelah jalanan ibu kota.

Di dalam mobil mewah itu, suasana terasa sangat tidak nyaman bagi Nabila.

"Kenapa mobil ini lambat sekali?! Suruh supirnya jalan lebih cepat, Mama!" teriak Bianca dari kursi belakang.

"Kita sedang berhenti di lampu merah, Bianca. Tidak bisa sembarangan menerobos," jelas Nabila dengan sabar.

"Aku tidak peduli lampu merah! Mobil kita paling mahal, yang lain harus minggir semua!" jerit Bianca semakin menjadi-jadi.

Supir pribadi keluarga Wegan itu hanya bisa melirik cemas dari kaca spion tengah.

"Maaf, Nyonya Nabila. Jalanan di depan memang sedang macet parah pagi ini," ucap supir itu merasa bersalah.

"Tidak apa-apa, Pak. Santai saja membawanya," balas Nabila tersenyum tipis menghargai supirnya.

Tapi senyum Nabila itu justru membuat Bianca semakin marah dan meronta-ronta di tempat duduknya.

Plak!

Tangan kecil Bianca memukul lengan ibunya dengan cukup keras tanpa rasa segan sedikit pun.

"Kenapa Mama malah senyum sama supir miskin itu?!" bentak Bianca memelototi ibunya.

"Mama harusnya marah padanya karena dia membawa mobilnya sangat lambat!" tambah gadis itu dengan napas memburu.

Nabila terdiam membisu menatap lengan kirinya yang baru saja dipukul oleh anaknya sendiri.

Rasa sakit di lengannya sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit di dalam hatinya saat ini.

Anak sekecil ini sudah berani memukul ibunya sendiri hanya karena amarah yang sangat sepele.

"Bianca, tidak boleh memukul Mama. Itu perbuatan anak yang nakal," ucap Nabila menatap tajam mata putrinya.

Bukannya merasa takut atau bersalah, Bianca malah membalas tatapan ibunya dengan dagu terangkat menantang.

"Papa bilang aku anak yang baik! Mama yang jahat karena tidak mau membelaku!" ancam Bianca membawa nama ayahnya.

Nabila hanya bisa memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca mobil di sebelahnya.

Dia menatap kosong bangunan kota yang terlewat dari balik kaca film mobil yang gelap.

Ada jarak emosional yang terbentang sangat jauh antara dirinya dan putrinya saat ini.

"Leon terlalu memanjakannya, ini semua sudah benar-benar di luar akal sehat," batin Nabila merasa sangat putus asa.

Mobil mewah itu akhirnya berbelok masuk ke area lobi sebuah pusat perbelanjaan terbesar di ibu kota.

Beberapa petugas valet langsung berlari membukakan pintu mobil dengan sikap menunduk sangat hormat.

Nabila turun lebih dulu dengan anggun dari dalam mobil.

Langkah kakinya diikuti oleh Bianca yang keluar layaknya seorang putri raja yang sombong.

Para pengunjung mall yang ada di lobi langsung menoleh memperhatikan penampilan luar biasa dari ibu dan anak itu.

"Lihat itu istri CEO Wegan Group, hidupnya pasti sangat sempurna tanpa masalah," bisik seorang wanita pengunjung mall.

"Iya, anaknya juga cantik sekali pakai baju mahal seperti itu," balas temannya dengan nada iri.

Nabila hanya bisa tertawa miris di dalam hatinya mendengar bisikan kekaguman orang-orang tersebut.

Mereka sama sekali tidak tahu betapa menderitanya batin Nabila setiap hari menghadapi monster kecil berwajah malaikat ini.

Luna akhirnya tiba di depan mall besar itu setelah berjalan kaki menahan lapar dan luka di kakinya.

Tubuh mungilnya bersandar lemas pada sebuah pilar batu besar di dekat area pintu masuk utama mall.

Pakaian kebesarannya yang kotor sangat kontras dengan kemegahan pilar marmer tempatnya bersandar.

Luna menyodorkan sebuah gelas plastik kotor ke arah orang-orang yang berjalan melewatinya.

"Tolong, Tuan. Tolong, Nyonya. Saya lapar belum makan dari kemarin siang," ucap Luna dengan suara parau yang pelan.

Banyak orang kelas atas yang lalu lalang dengan tas belanjaan mahal di tangan mereka melewati gadis itu.

Namun sebagian besar dari mereka hanya membuang muka saat melihat penampilan Luna.

"Jangan dekat-dekat, nanti bajumu kotor kena anak gembel itu," ucap seorang ibu menarik tangan anaknya menjauh.

Luna hanya menunduk sedih mendengar hinaan demi hinaan yang sudah menjadi rutinitas hariannya itu.

Gadis kecil itu tidak pernah berani membalas perkataan kasar orang lain.

1
Astiana 💕
elit sekali lah nama nya🤣
Astiana 💕
dasar bocah, mainan sulap katanya🤣
Thewie
lanjuuuttt💪💪💪
kiyoe: hehehe siap kaka
total 1 replies
Meee
,KLO bisa jangn ada yng mau adopsi sibianca.biar hidupnya. menderita itu karma atas perbuatan biadad orang tuanya😬😬
kiyoe: hehehe iyaa kak bener biar menyesal si Bianca 🤭
total 1 replies
Astiana 💕
kenzo memang teman terbaik🫰🏻
kiyoe: hehehe Kenzo besti nya Luna kak 🤭
total 1 replies
Astiana 💕
cerita nya makin bagus thor, gak sabar nunggu luna gede🤭
kiyoe: heheh makasih kak Astiana
total 1 replies
Astiana 💕
seharusnya hallo princess papa🤭
kiyoe: hehehe makasih kak pokok semangat terus 🤗🥰
total 3 replies
Meee
Luna harusnya di bekali ilmu bela diri,agar bisa melindungin diri sendiri.meski bnyak pengawal jaga" dari bahaya ke DPN ya sebagai seorang pewaris,dan jangn terlalu percaya dngn orang terdekat,musuh yng g bisa terbaca terjadi karena orang terdekat.😬😬
kiyoe: heheh terimakasih atas masukannya kak boleh di coba itu Luna di bekalin PSHT
total 1 replies
Adinda
pasti nanti bianca di adopsi sama orang kaya dan balas dendam sama leon takutnya nanti luna jadi sasarannya
kiyoe: heheh di tunggu update bab selanjutnya aja yaa kak 🤭
total 1 replies
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjut
kiyoe: terimakasih Kaka Fauziah Daud ☺️
total 1 replies
Astiana 💕
apakah nanti gede nya tidak menaruh dendam thor pada Luna.🤔
Astiana 💕: haduh jadi penasaran 🤭
total 2 replies
Thewie
bawa ke psikiater anakmu wegan. kasihan traumanya blom hilang
ceuceu
ikutan nangis terharu/Sob/
kiyoe: hehehe baca novel nya sambil ngupas bawang merah yaa kak makanya sampai nangis 🤭😄
total 1 replies
ceuceu
Ya Allah kasihan banget luna/Sob/
Dewiendahsetiowati
Rosalina siap2 aja dirimu dapat kado istimewa dari ponakanmu, sudah tua tetep aja jahat
kiyoe: hehehe
total 1 replies
ceuceu
Hadir thor.
baru mulai baca
kiyoe: Terimakasih Kaka ceuceu semoga suka yaa sama ceritanya ☺️
total 1 replies
Thewie
akhirnya kebohongan itu terungkap juga. othor luar biasa memainkan emosi akuuuuu
kiyoe: wah Terimakasih kak Bintang Lima sehat selalu kak Thewie ☺️🙏
total 1 replies
Thewie
seru thor👍👍😍
kiyoe: Heheh terimakasih kak Thewie
total 1 replies
Astiana 💕
Semangat 💪🏻
Cerita nya bagus banget
Astiana 💕: oke sama-sama ya☺️
total 2 replies
Astiana 💕
cerita nya bagus banget thor, gak bertele-tele
kiyoe: Terimakasih kak Astiana 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!