Indonesia
NovelToon NovelToon
Mengungkap Misteri Kematian Sang Putri.

Mengungkap Misteri Kematian Sang Putri.

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:399
Nilai: 5
Nama Author: Virgo kelabu

Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3

"Kalian pulang saja berdua dengan mobil Gerald. Biar Cynthia aku antar." Samudra menimpali.

Cynthia masih memegang lengan Gerald. Perempuan itu tampak berat hati. Dia memang selalu cemburu pada Nismara, apalagi sudah dua malam Gerald menginap di rumah Nismara dan selama itu komunikasi mereka jadi menurun.

"Yuk!" Gerald bergerak terlebih dulu. Dia tidak peduli dengan sikap tunangannya, mau setuju atau tidak dia akan tetap pulang berdua dengan Nismara.

Chintya pun terpaksa ikut melangkah di samping Gerald. Tangan nya makin di rapatkan, tapi beberapa detik kemudian Gerald menepis nya. Chintya mencebik sebal, apalagi ketika dia menoleh ke belakang. Melihat pasangan itu tengah menyusul di belakang mereka. Samudra berjalan sambil terus memeluk tubuh Nismara. Satu tangannya diletakkan di pundak Nismara dan merangkul Nismara pinggang Samudra.

Cynthia pun ingin melakukan hal yang sama, tapi ketika Gerald melihat tangan setia terulur, laki-laki itu malah mempercepat langkahnya. Seakan - akan sengaja ingin menjauh dari jangkauan Cynthia. Hal itu membuat Cynthia berlari-lari kecil agar ayunan kakinya terus sejajar dengan Gerald.

Sampai di tempat parkir, mereka berpisah. Mobil Gerald yang membawa Nismara lebih dulu melaju pergi. Mobil Samudra tak berapa lama menyusul di belakangnya.

"Semoga tunanganmu tidak ngambek berkepanjangan." Celetuk Nismara ketika mobil mereka sudah berada di jalan raya. Dia melihat mobil kekasihnya menuju ke arah yang berlawanan.

Gerald diam, tidak merespon.

Setelah berjalan hampir 15 menit, mobil mereka berhenti karena lampu merah menyala di depan. Nismara mencondongkan tubuhnya ke belakang. Dia tampak ingin mengambil kardus yang berada di pojok jok belakang. Gerald paham, dan buru-buru turun membuka pintu belakang mobilnya dan mengambil kardus berukuran sedang. Dalam sekejap dia telah berada di belakang kemudi lagi.

"Ini barang-barang milik Sherin."

Nismara menerima. Lalu melihat isinya. "Popo." cetus Nismara.

"Apa, Nis?" Gerald bertanya tanpa menoleh, lampu telah berganti hijau dan mobil mulai berjalan kembali.

"Ini boneka kesayangan Sherin, namanya Popo." Sahut Nismara sambil mengangkat sebuah boneka kecil menyerupai jerapah yang tampak telah lusuh. "Kamu tau kenapa Popo menjadi boneka kesayangan nya?"

Gerald menghela nafas. "Karena aku yang membelikannya."

Nismara tertawa sumbang. "Ya, benar! Dari puluhan boneka yang pernah kamu berikan padanya, hanya Popo satu-satunya boneka yang Sherin terima langsung dari tanganmu."

"Aku memang Papi yang buruk kan?" Gerald tanpa ikut tertawa namun nadanya sedih.

"Ini surat nya?" Nismara menjumput secarik kertas dengan tangan bergetaran.

"Ya, bacalah, Nis."

Nismara membuka dengan jantung berdegup kencang, meski sebenarnya dia sudah tahu isi surat itu. Karena Gerald sudah bercerita pada malam harinya setelah kejadian.

𝘋𝘦𝘢𝘳 𝘔𝘢𝘮𝘪 - 𝘗𝘢𝘱𝘪

Sherin pamit ya. Toh, tidak ada bedanya juga Sherin ada atau tidak dalam kehidupan Mami dan Papi. Tapi Sherin mau Mami dan Papi tahu kalau Sherin sangat mencintai kalian berdua. Mungkin kalau Sherin sudah di alam lain, Mami dan Papi jadi bisa mencintai Sherin. Sampai ketemu di surga. I love you both.

Nismara terisak dan melipat surat itu lagi.

"Aku pernah membenci nya, Ge. Aku membenci putriku sendiri, Ibu macam apa aku ini?" Nismara berkata dengan pilu.

"Aku juga, Nis. Bahkan ketika polisi mengkonfirmasi apakah itu tulisan Sherin aku tidak bisa menjawab. A- aku tidak tahu apa-apa soal putriku sendiri."

Nismara dan Gerald menangis dalam diam. Hingga 10 menit kemudian mereka sampai di rumah mewah Nismara.

Berdua mereka langsung naik ke lantai 2, menuju kamar Sherin. Baik Nismara maupun Gerald sama-sama mengambil nafas, saat kaki mereka masuk ke ruangan seluas tujuh kali enam meter itu. Sejak kematian Sherin, Baru kali ini kamar Sherin dibuka lagi. Dan puluhan boneka yang disusun rapi adalah pemandangan paling menonjol di kamar itu.

"Sherin, ini Mami. Mami tau kamu ada di sini kan?" Nismara berseru, setitik air menggulir pelan di pipinya.

"Dan ini Papi." Gerald ikut berseru.

Nismara membawa kardus itu ke tempat tidur Sherin. Dia mengambil boneka jerapah kecil dan meletakkannya di bantal. "Popo juga di sini, Sherin."

Gerald menangis saat memandang foto di nakas sebelah tempat tidur. Di situ ada gambar dirinya, Nismara dan Sherin yang tengah tertawa bahagia. Sudah tentu itu hanya sebuah foto editan, karena mereka sama sekali tidak pernah punya foto keluarga.

Sherin adalah Putri yang tidak pernah mereka inginkan. Dia lahir dari hasil pacaran yang kebablasan. Gaya pacaran Nismara dan Gerald berbeda dengan pacaran anak seusianya waktu itu. Karena sama-sama sebagai anak tunggal dari keluarga pengusaha kaya, uang bukanlah sebuah masalah. Maka jika teman-teman mereka berpacaran di seputar mall, bioskop dan cafe. Nismara dan Gerald berduaan di hotel berbintang lima serta berpelancong berdua ke tempat - tempat mahal.

Mereka sama-sama masih berusia lima belas tahun ketika akhirnya Sherin lahir. Kelahiran yang langsung disesali keduanya, bahkan oleh keluarga besar mereka. Begitu lahir bayi Sherin hidup berdoa dengan seorang pengasuh di sebuah rumah mewah yang dibiayai sepenuhnya oleh papa Gerald. Sebab setelah melahirkan Nismara pergi melanjutkan sekolahnya ke Singapura. Tiga tahun kemudian Nismara balik ke kota ini lagi, dan tinggal dengan Sherin. Tapi fokus utama Nismara saat itu adalah kuliah sambil bekerja di perusahaan milik keluarganya sendiri.

Nismara lebih bersemangat untuk membuktikan kepada dunia bahwa dia masih bisa sukses dan membanggakan walaupun pernah melakukan kesalahan saat remaja dulu. Dia mengabaikan tanggung jawabnya dan sama sekali tidak pernah mengasuh dan mendidik Sherin sebagai layaknya seorang ibu kepada putrinya. Nismara hanya memenuhi kebutuhan materinya saja.

Sedang Gerald, sikapnya lebih parah lagi. Setelah menemani Nismara melahirkan dia langsung terbang menempuh tadi di Sidney hingga lulus kuliah. Dia selalu pulang pada libur study nya, tapi hanya sekali dia menyempatkan diri menemui Sherin. Kalau tidak salah saat itu Sherin 6 tahun. Selebihnya dia hanya mengirimi Putri kandungnya itu berbagai hadiah lewat seseorang.

Gerald menyentuh Nismara. Dan mereka spontan berpelukan untuk saling menguatkan.

"Seandainya waktu bisa diputar kembali, Ge."

Gerald hanya mampu mengangguk-angguk.

Nismara melepas pelukan, lalu menatap kedalam mata Gerald. "Gege, apakah kamu lega akhirnya Sherin tidak ada lagi diantara kita? Kita dulu selalu berandai-andai sih sering tidak pernah ada."

Tangis Gerald meledak. "Kita sudah sangat terlambat untuk memperbaiki semuanya."

"Iya, kita adalah dua orang manusia yang bodoh. Tanpa sadar sebenarnya kita menyakiti darah daging kita sendiri. Kenakalan - kenakalan yang Sherin tunjukkan akhir-akhir ini ternyata hanya upaya menarik perhatian kita." Timpal Nismara.

"Tapi kita tidak peka." Sahut Gerald.

Nismara tertawa sumbang. "Iya karena kita begitu bodoh."

Gerald meraih tangan Nismara dan menggenggamnya. Lama mereka terdiam.

"Oh iya, besok mungkin putusan perceraian kita ketuk palu." kata Gerald memecah kesunyian seraya berdiri.

Nismara mengangguk dan ikut berdiri. "Aku sudah serahkan ke Om Ben semua. Aku juga berencana untuk kembali ngantor besok."

Gerald menarik bibirnya dan menyungging senyum kaku. "Inilah akhir kisah kita, Nis. Maafkan semua kesalahanku. Selamat tinggal, semoga kamu bahagia."

Mereka berpelukan lagi, Gerald mencium pipi Nismara sekilas sebelum pergi.

Nismara mengantar Gerald sampai laki-laki yang pernah mengukir kenangan indah di masa remajanya itu menghilang dengan mobilnya. Setelah lama menggantung status pernikahan mereka. Akhirnya 3 bulan lalu mereka berdua sepakat untuk bercerai resmi. Toh selama ini pernikahan mereka hanya status saja. Dengan kematian Sherin kisah masa lalu mereka sepertinya akan benar-benar usai tak tersisa.

Nismara menghela nafas. Dia menuju ke kamarnya sendiri mengambil telepon genggamnya yang sudah 2 hari ini dia abaikan. Tenaga baterainya sudah habis. Nismara membawa gawai tersebut untuk mengisi daya dan menyalakannya. Dia ingin menghubungi Samudra.

Sekilas Nismara melihat banyak pesan masuk ke teleponnya, tapi yang paling membuatnya tergelitik adalah notifikasi pesan dari emailnya. Siapa yang mengirim pesan kepada alamat emailnya ini? Email pribadinya yang sudah lama sekali tidak dia gunakan? Dengan rasa penasaran dia membuka email tersebut.

Di kirim oleh seseorang dengan alamat email bernama : peduli kamu.

[ Dear Nismara, Sherin itu bukan bunuh diri, tapi dibunuh! Hati-hatilah karena yang melakukannya adalah orang di dekatmu. Jangan sembarangan memberitahu info ini.

1
Maria
penuh dengan teka teki tp seru. Ada pelajaran yg BS kita ambil dr cerita ini. penyesalan pasti akan datang di belakang, kalau di depan itu namanya pendaftaran.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!