Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.
Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.
Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.
Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15
Pelukan Gabriel sangat erat, membawa aroma parfum kayu manis dan musk khas dinginnya Eropa. Bagi Kirana, aroma itu mengingatkannya kembali ke memori sepuluh tahun lalu ke taman kompleks rumah lama mereka, tempat seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun berjanji akan kembali setelah ikut ayahnya bekerja di Berlin.
Namun, Kirana yang sekarang bukan lagi anak kecil pembawa boneka kumal.
Dengan gerakan agak canggung, Kirana menepuk pelan bahu Gabriel lalu mendorong dada cowok itu halus untuk menciptakan jarak.
"K-Kak Gabriel..." cicit Kirana sambil membetulkan letak tas sekolahnya yang merosot.
"Kapan balik ke Indonesia? Kok... kok Lo tiba-tiba bisa ada di sini?"
Gabriel terkekeh hangat, matanya menyipit membentuk bulan sabit pola senyum yang sama persis seperti yang diingat Kirana dulu. "Gue baru mendarat kemarin sore, Ran. Pas Tante bilang lo sekolah di sini dan hari ini pembagian rapor, gue langsung minta alamatnya. Sekalian mau kasih kejutan."
"Gila... kejutan lo sukses bikin jantung gue mau copot," gumam Kirana sambil mengelus dadanya.
Sementara itu, Maya yang berdiri di samping Kirana mendadak kaku bagaikan patung. Matanya berkedip cepat memandangi Gabriel dari ujung rambut hingga sepatu kulitnya yang mengkilap.
Maya menyenggol siku Kirana dengan keras, berbisik heboh setengah menjerit, "Kir! Ini siapa gila?! Ganteng banget bak pangeran Eropa! Kenalan lo?!"
Kirana menghela napas, menoleh pada sahabatnya. "May, ini Kak Gabriel. Teman masa kecil gue pas masih tinggal di kompleks lama sebelum pindah." Kirana lalu beralih ke Gabriel. "Kak, ini Maya, sahabat gue"
Gabriel mengulurkan tangannya ramah, tersenyum manis. "Gabriel. Salam kenal ya, Maya."
Maya menerima uluran tangan itu dengan gerakan gemetar, menyeringai lebar. "Maya, Kak! Sahabat karib, teman curhat, sekaligus pelindung Kirana di sekolah ini. Salam kenal juga”
Namun, kehangatan reuni kecil di depan lobi itu mendadak terganggu oleh hawa dingin yang menusuk tulang. Kehadiran seseorang dengan langkah kaki yang teratur namun berat membuat suasana di sekitar mereka perlahan berubah canggung.
Kenan berjalan mendekat.
Map dokumen berwarna biru di tangannya dicengkram agak erat, walau raut wajahnya dipasang setenang mungkin topeng Ketua OSIS teladan yang sangat rapi. Di belakangnya, Pak Suryo menyusul dengan kacamata tebal yang bertengger di hidungnya.
"Ada keramaian apa ini di depan lobi?" suara Pak Suryo menginterupsi.
Gabriel membalikkan badan, begitu pula Kirana dan Maya. Matanya beradu lurus dengan mata Kenan. Dua cowok berpostur tinggi tegap itu saling melempar pandangan selama beberapa detik sebuah kontak mata tanpa kata yang dipenuhi oleh ketegangan tak kasat mata.
"Oh, Pak Suryo," panggil Gabriel sopan, membungkukkan badannya sedikit. "Saya Gabriel. Ayah saya, Hendra Wijaya, yang menghubungi Bapak tadi pagi”
Pak Suryo langsung menepuk jidatnya. "Ah! Mas Gabriel anak Pak Hendra! Ya ampun, maaf Bapak lupa. Kamu yang baru lulus dari international high school di Berlin itu kan? Mari, mari masuk ke ruangan saya dulu."
"Baik, Pak. Terima kasih," balas Gabriel ramah. Namun sebelum melangkah mengikuti Kepala Sekolah, Gabriel berpaling lagi ke arah Kirana. Tangannya terangkat, mengusap pelan puncak kepala Kirana dengan sangat alami. "Ran, nanti malam jadi kan, Tante bilang kita makan malam bareng di restoran dekat pelabuhan."
Kirana tersentak, melirik Kenan dari sudut matanya. "Tamu jauh yang dimaksud Kenan kemarin sore... ternyata Kak Gabriel?!" batin Kirana menjerit panik.
"E-eh... iya, Kak. Ibu udah cerita kemarin," sahut Kirana gugup.
"Sip. Nanti gue jemput ke rumah lo ya," ujar Gabriel dengan senyum menawan, lalu berjalan mengekor Pak Suryo masuk ke dalam koridor utama.
Begitu Gabriel dan Kepala Sekolah menghilang di belokan koridor, Kenan masih berdiri di tempatnya. Ia menatap Kirana. Tidak ada amarah yang meledak, tidak ada bentakan, namun tatapan mata hitam Kenan terasa begitu dalam, dingin, dan sarat akan kekecewaan yang tertahan.
Kenan membalikkan badan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, melangkah pergi menuju ruang OSIS dengan cepat.
"Anjir..." bisik Maya menatap punggung Kenan yang menjauh. "Kok gue merasa si Ketos tadi tatapannya horor banget ya? Kayak mau makan orang hidup-hidup. Kir, lo ada salah apa sama dia?"
Kirana meremas tali tasnya, menggigit bibir bawahnya erat. "Gue gak salah apa-apa... tapi dia lagi cemburu," bisik Kirana dalam hati dengan perasaan campur aduk.
Sore harinya, hujan gerimis mengguyur halaman rumah minimalis dua lantai itu.
Kirana baru saja selesai mengeringkan rambutnya di kamar lantai dua. Ia mengenakan terusan gaun kasual berwarna krem yang simpel namun anggun untuk acara makan malam keluarga nanti. Namun, pikirannya sama sekali tidak tenang sejak pulang sekolah tadi.
Kenan sangat diam.
Sejak tiba di rumah, cowok itu tidak menegurnya. Kenan hanya duduk di meja makan dengan laptop terbukanya, mengedit berkas laporan OSIS tanpa menyentuh teh hangat yang disiapkan Kirana.
Kirana memberanikan diri turun ke lantai satu. Langkah kakinya pelan mendatangi Kenan yang sedang mengetik di meja makan.
"Ken..." panggil Kirana pelan.
Ketukan jari Kenan di keyboard terhenti. Ia tidak mendongak, hanya menatap layar laptopnya datar. "Apa?"
"Lo... marah ya soal tadi siang?" Kirana duduk di kursi sebelah Kenan, menatap wajah kaku suaminya dari samping.
Kenan akhirnya berpaling, menatap Kirana. "Soal pelukan di depan lobi atau soal dia yang usap-usap kepala lo di depan Kepala Sekolah dan teman-teman lo?"
Suara Kenan terdengar tenang, namun justru ketenangan itulah yang membuat Kirana merasa makin bersalah.
"Dia itu Kak Gabriel, Kenan," jelas Kirana cepat-cepat. "Dia sahabat kecil gue sewaktu SD. Dulu rumah kita bersebelahan sebelum keluarga gue bangkrut dan pindah. Udah lama kita gak ketemu, makanya tadi dia reflek meluk gue. Gue juga tadi langsung dorong dia kok!"
Kenan menghembuskan napas pendek. Ia menyandarkan punggung ke kursi, melipat tangan di dada.
"Dia tahu kalau lo udah menikah?" tanya Kenan dingin.
Kirana menggeleng pelan. "Belum. Kan pernikahan kita rahasia... cuma keluarga dan sekarang cuma Rendy yang tahu."
"Dan lo nyaman dipeluk sama cowok lain yang gak tahu status lo?" tembak Kenan menusuk.
Pipi Kirana memanas, bukan karena marah, tapi karena tertohok oleh kebenaran ucapan Kenan. Kirana menurunkan pandangannya. "Yang bilang nyaman siapa lagian udah gue bilang dia reflek meluk gue, gue juga kaget. Gue juga sama sekali gak niat bikin lo cemburu. Dia juga gak tau soal pernikahan kita jadi wajar aja dia meluk gue kayak gitu"
Melihat raut penyesalan di wajah Kirana dan bagaimana cewek itu meremas gaunnya canggung, rasa kesal Kenan lenyap begitu saja dan rasa cemburu yang ia rasakan sejak siang tadi berangsur mereda. Tidak seharusnya ia marah pada Kirana.
Kenan mengulurkan tangannya, memegang jemari Kirana yang saling bertaut di atas meja. Tangannya yang hangat dan besar menggenggam jemari Kirana yang dingin.
"Maaf bukan maksud gue marahin Lo, gue cuma gak suka aja cowok lain yang nyentuh lo apalagi sampai pelukan," ujar Kenan pelan namun sangat tegas, menatap manik mata istrinya. "Mau dia teman masa kecil lo, mau dia anak teman Ayah lo... lo itu istri gue, Kirana."
Jantung Kirana berdegup kencang mendengarkan pengakuan posesif itu. Kirana mengangguk pelan, membalas genggaman tangan Kenan. Ia tak menyangka perasaan Kenan begitu kuat padanya, "Iya... gue paham. Mulai sekarang gue bakal jaga jarak sama Kak Gabriel."
"Bagus," kata Kenan singkat. Ia berdiri dari kursinya. "Gue mau ganti baju. Sebentar lagi Mama sama Gabriel sampai buat jemput."
Restoran seafood di tepi pantai itu bernuansa fine dining dengan lampu-lampu gantung hangat dan pemandangan laut malam yang indah. Suara deburan ombak menjadi musik latar yang menenangkan.
Di dalam ruangan VIP yang telah dipesan, dua keluarga duduk mengelilingi meja bundar besar. Mama Kenan duduk berdampingan dengan Ibu Kirana, sementara Gabriel duduk di sebelah ayahnya, Pak Hendra. Kirana duduk di antara Ibunya dan Kenan.
Suasana makan malam berlangsung sangat akrab. Pak Hendra dan Ibu Kirana banyak mengenang masa-masa almarhum Ayah Kirana masih hidup dan bekerja sama dalam bisnis tekstil.
"Ya ampun, Kirana sudah tumbuh jadi gadis yang cantik sekali," puji Pak Hendra hangat sambil tersenyum ke arah Kirana. "Dulu waktu kecil sering menangis kalau Gabriel merebut mainannya."
Kirana tertawa canggung. "Om bisa aja... Kirana udah gede sekarang, Om."
Gabriel yang duduk di seberang meja menatap Kirana dengan pandangan yang tak pernah lepas. Senyum di bibirnya mengembang hangat. "Tapi sifat manjanya gak berubah kok, Papa. Tadi siang di sekolah aja dia masih kelihatan pemalu banget pas ketemu Gabriel."
Kenan yang sedang memotong daging ikan di piringnya menghentikan pisau stainless steel-nya seketika. Denting tipis piring kaca terdengar di tengah pembicaraan.
"Kirana mandiri kok," sela Kenan tenang namun datar, mengangkat wajahnya menatap Gabriel. "Di sekolah dia ketua divisi mading dan selalu belajar keras. Dia gak manja."
Gabriel mengernyit sedikit, menatap Kenan dengan alis terangkat. "Oh ya? Lo Kenan kan, Anak dari Tante Sisca? Dulu waktu kecil sepertinya kita gak pernah ketemu ya."
"Kenan dulu tinggal di rumah neneknya di Bandung waktu kalian masih kecil, Le," sahut Mama Kenan menengahi dengan senyuman lembut. "Tapi sekarang Kenan dan Kirana satu sekolah, bahkan Kenan ini Ketua OSIS di sekolah nya."
"Wah, hebat dong," puji Pak Hendra. "Berarti Kenan sering jaga Kirana di sekolah ya?"
"Pasti, Om," balas Kenan mantap, melirik Kirana yang duduk di sampingnya. "Saya pastikan Kirana selalu aman dari gangguan siapa pun di sekolah."
Kalimat Kenan mengandung penekanan terselubung yang hanya dipahami oleh Kirana. Kirana hanya bisa menyiku paha Kenan pelan di bawah meja untuk memberi sinyal agar suaminya itu tidak terlalu mencolok.
Makan malam berlanjut hingga hidangan penutup. Saat para orang tua sedang asyik mengobrolkan kenangan lama, Gabriel berdiri dari kursinya.
"Permisi sebentar, saya mau ke toilet," ujar Gabriel.
Beberapa menit kemudian, Kirana juga pamit untuk mencuci tangan di wastafel luar. Namun saat Kirana selesai mengeringkan tangannya dengan tisu di lorong restoran dekat kamar mandi, sosok Gabriel sudah berdiri menunggunya sambil bersandar di pilar kayu.
"Kak Gabriel?" Kirana kaget.
"Ngapain di sini?"
Gabriel tersenyum, melangkah mendekat. "Nungguin lo. Dari tadi di meja makan kita gak bisa ngobrol bebas gara-gara ada si Ketos itu."
Kirana agak mengernyit heran mendengar nada bicara Gabriel mengenai Kenan. "Kenan cuma menjalankan tugasnya sebagai anak dari sahabat Ibu, Kak. Dia emang orangnya agak kaku."
"Tapi tatapan dia ke lo beda, Ran," ujar Gabriel tiba-tiba, membuat Kirana membeku. Gabriel menatap Kirana dengan kehangatan yang jujur. "Gue kenal tatapan cowok yang suka sama cewek. Dan Kenan menatap lo seolah lo itu milik dia."
Dada Kirana berdebar panik. "Aduh gimana ini... jangan bilang Kak Gabriel curiga?!"
Namun sebelum Kirana sempat bersuara, Gabriel merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua. Gabriel membukanya, memperlihatkan sebuah gelang perak indah bermotif bintang kecil dengan ukiran inisial K & G di bagian dalamnya.
"Ini apa, Kak?" tanya Kirana mundur satu langkah.
"Hadiah ulang tahun lo yang tertunda lima tahun lalu," kata Gabriel lembut. "Waktu gue di Berlin, gue janji sama diri gue sendiri buat kasih ini langsung ke tangan lo saat gue balik ke Indonesia. Gue mau kita mulai lagi semuanya dari awal, Ran... seperti dulu."
Kirana membelalakkan mata. Makna dari kalimat Gabriel sangat jelas, Gabriel tidak hanya menganggapnya sebagai teman masa kecil, tapi menyimpan perasaan cinta selama bertahun-tahun di Eropa.
"Kak... gue gak bisa terima ini," tolak Kirana tegas, mendorong kembali kotak beludru itu. "Ini terlalu mewah, dan... hubungan kita itu cuma sebatas teman masa kecil, Kak. Nggak lebih."
Raut wajah Gabriel berubah kaget dan agak kecewa. "Kenapa, Ran? Apa gara-gara lo udah ada cowok lain yang lo suka? Kenan?"
"Ini bukan soal siapa-siapa," potong Kirana berusaha tenang. "Ini soal batas. Gue hargai kebaikan lo Kak, tapi gue gak bisa terima hadiah pribadi kayak gini."
Tanpa menunggu balasan Gabriel yang masih terpaku, Kirana membalikkan badan dan melangkah cepat kembali ke ruangan VIP.
Malam semakin larut saat kedua keluarga akhirnya berpisah di area parkir restoran. Gabriel dan ayahnya pamit terlebih dahulu naik ke mobil mereka, sementara Kirana, Kenan, dan kedua ibu mereka menunggu mobil Kenan yang diparkir oleh petugas.
Saat masuk ke dalam mobil, suasana kembali hening. Ibu Kirana dan Mama Kenan yang duduk di kursi belakang langsung tertidur lelap karena kelelahan setelah mengobrol panjang.
Kenan mengemudikan mobil menembus jalanan kota yang basah oleh sisa hujan. Lampu-lampu jalanan membias indah di kaca depan.
Kirana melirik Kenan yang fokus menatap jalanan. Tangan kiri Kenan berada di atas tuas transmisi.
Perlahan, Kirana mengulurkan tangan kanannya, mengusap punggung tangan Kenan lalu menggenggamnya erat.
Kenan tidak melepas genggaman itu. Ia meremas balik jemari Kirana dengan lembut tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
"Tadi di dekat kamar mandi... dia ngomong apa sama lo?" tanya Kenan pelan, suaranya teredam agar tidak membangunkan dua ibu di belakang.
Kirana tersenyum tipis, menyandarkan kepalanya di bahu kiri Kenan yang kokoh sambil tetap menggenggam tangannya.
"Dia kasih hadiah... tapi gue tolak," bisik Kirana jujur. "Gue bilang sama dia kalau kita cuma sebatas teman masa kecil dan gak akan pernah lebih."
Kenan menghentikan mobilnya sejenak di perempatan saat lampu lalu lintas menyala merah. Ia menoleh ke kiri, menatap istrinya yang menyandar di bahunya. Senyuman tipis yang sangat langka dan penuh kehangatan terukir di wajah tampan Ketua OSIS itu.
Kenan mengecup singkat puncak kepala Kirana yang tercium aroma shampo stroberi. "Pintar," bisiknya mesra.
Namun, kejujuran Kirana malam itu belum sepenuhnya menghentikan langkah Gabriel.
Di dalam kamar hotel mewahnya, Gabriel berdiri di dekat jendela kaca yang menampilkan pemandangan kota. Di tangannya, ia memegang sebuah benda kecil yang baru saja ia temukan tertinggal di dalam tas belanjaan oleh-oleh yang diberikan Ibu Kirana tadi sore.
Sebuah jam tangan wanita berdesain cincin rahasia di mana jika penutup jamnya dibuka, terdapat foto kecil Kirana dan Kenan sedang memakai baju pengantin dan saling merangkul mesra.
Mata Gabriel membelalak lebar dalam kegelapan kamar. Senyum hangatnya seketika sirna.
"Menikah...?" gumam Gabriel dengan suara bergetar bercampur emosi. "Lo udah nikah sama Kenan, Kirana?!" Gabriel terkekeh, pantas saja gadis itu menolak pemberian nya.
Bersambung…