Indonesia
NovelToon NovelToon
DUA WAJAH SATU HATI

DUA WAJAH SATU HATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:875
Nilai: 5
Nama Author: Kenzy Elbarra

Siang hari, aku cuma Maxy — pegawai biasa yang diam-diam mencintaimu.
Malam tiba, aku berubah jadi Roxy — sosok percaya diri yang berani berdiri di hadapanmu.

Kamu tersenyum pada Roxy, tapi tak pernah tahu kalau dia itu aku.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan siapa diriku?
Dan nanti… saat kamu akhirnya memilih, siapa yang akan kamu pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenzy Elbarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Kantor sudah mulai ramem, jam tepat pukul sembilan. "Trap..tok..tik.." Suara ketikan keyboard, dering telepon, dan obrolan pelan rekan kerja memenuhi ruangan. Semua berjalan seperti biasa — atau setidaknya terlihat seperti biasa.

Maxy berdiri di depan cermin di kamar mandi lantai dasar. "Hufftt.." Napasnya dalam, mantap. Dia sudah mengambil keputusan. Dia tidak bisa lagi hanya diam menonton ketidakadilan terjadi setiap hari. Dia tidak bisa membiarkan Arif terus menindas, terus menyakiti orang-orang yang dia sayang, terus menyalahgunakan kekuasaan yang tidak pantas dia pegang.

Dia memejamkan mata. "Ding..!" Saat dia membukanya kembali, yang berdiri di sana adalah Roxy. Tatapannya berbeda — tajam, tenang, penuh wibawa yang tak perlu diteriakkan.

"Tap..tap..tap..!" Langkah kakinya berbeda — tegap, pasti, setiap langkah terdengar mantap di lantai keramik.

Dia berjalan keluar menuju lobi utama. Pintu kaca otomatis terbuka lebar saat dia melangkah masuk.

Semua mata di lobi berhenti bergerak. Satpam yang biasanya menyapa ternganga, lupa mengucapkan salam. Beberapa staf yang lewat berhenti, menatapnya — mereka mengenali sosok ini, meski jarang terlihat.

Roxy tidak berhenti, tidak menoleh ke kiri atau kanan. Dia berjalan lurus menuju lift eksekutif yang biasanya hanya digunakan jajaran direksi. "klik" Jari-jarinya menekan tombol lantai teratas — ruang dewan direksi.

"Ting.." Pintu lift terbuka. Lorong di lantai ini sunyi, dingin, dilapisi karpet tebal. Di ujung lorong ada pintu besar berukir tulisan RUANG DEWAN DIREKSI. Roxy mengetuk pintu itu tiga kali — pelan tapi tegas.

"Masuk," suara terdengar dari dalam.

Dia mendorong pintu itu terbuka. Di meja panjang yang besar itu duduk lima orang — direktur utama, wakil direktur, dan tiga komisaris. Mereka sedang membaca dokumen, tapi serentak mendongak saat melihat siapa yang masuk.

Wajah mereka berubah — dari terkejut, lalu hormat.

"Tuan Roxy..." Direktur utama berdiri tergesa-gesa, "Sraaaatt" kursinya bergeser berbunyi kasar.

"Kami... kami tidak mendapat kabar Bapak akan datang hari ini." ucap Direktur itu dengan terbata-bata.

Roxy berjalan perlahan ke ujung meja, berdiri di sana, "swing..!" menatap satu per satu wajah orang-orang itu. Tidak ada senyum di wajahnya. Tidak ada kehangatan. Hanya ketegasan yang membuat suhu ruangan terasa makin dingin.

"Saya tidak perlu memberi kabar untuk masuk ke ruangan yang juga milik saya," ucapnya tenang, tapi setiap kata terdengar berat dan mutlak.

Lima orang itu saling bertukar pandang, lalu kembali menatapnya dengan hormat bercampur takut.

"Iya, tentu saja, Tuan. Silakan duduk. Ada yang bisa kami bantu?" tanya direktur utama sopan sekali, bahkan sedikit gugup.

Roxy tidak duduk. Dia berdiri tegak, kedua tangan di saku celana, menatap lurus ke depan.

"Saya ke sini bukan untuk basa-basi. Saya datang untuk membereskan masalah yang sudah terlalu lama dibiarkan berantakan di perusahaan ini." ucap Roxy penuh ketegasan.

Dia berhenti sebentar, membiarkan kalimat itu meresap. Ruangan itu hening total. Bahkan napas mereka terdengar tertahan.

"Pertama — segera berhentikan Manajer Operasional, Pak Arif. Pecat dia hari ini juga, efektif sekarang...!!!." ucap Roxy penuh intimidasi.

Suasana seketika menegang. Wakil direktur berdeham "ekhem" pelan, ragu-ragu. "Maaf, Tuan... bolehkah kami tahu alasannya? Pak Arif adalah salah satu manajer yang lama bekerja di sini..."

Roxy menatapnya tajam, membuat kalimat itu terhenti di udara.

"Alasannya sederhana. Dia menyalahgunakan wewenang. Memperkerjakan staf di luar jam kerja tanpa kompensasi. Memberikan tugas yang sama sekali bukan ruang lingkup pekerjaannya. Memperlakukan bawahan dengan semena-mena, menghina di depan umum, menekan secara emosional, dan menggunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi — termasuk mengganggu staf wanita yang tidak bersalah." jawab Roxy menjelaskan.

"Srakk.." Ia mengeluarkan sebuah tablet dari tas kecilnya, meletakkannya di atas meja panjang itu, lalu menekan satu tombol.

Layar menampilkan rekaman gambar dari kamera CCTV — sudut pandang koridor kantor, ruang kerja, dan area lobi. Tanggal dan waktunya jelas.

Klip pertama: Arif membentak Maxy di lorong, menunjuk-nunjuk wajahnya, lalu melempar tumpukan berkas ke lantai. Semua orang di ruangan itu melihat dengan jelas.

Klip kedua: Arif menumpahkan segelas air ke atas meja kerja Maxy, tertawa sinis lalu pergi meninggalkannya.

Klip ketiga: Arif berdiri di dekat pintu keluar, menghalangi jalan Shella, berkata sesuatu yang membuat gadis itu menunduk gemetar.

Klip keempat: Rekaman percakapan di ruang manajer — suara Arif terdengar jelas: "Biarkan dia lembur sampai kapan pun. Kalau dia menyerah dan pergi, justru lebih baik. Dengan begitu tidak ada yang menghalangi saya."

Suasana membeku. Wajah para direktur pucat. Mereka tidak menyangka hal ini terjadi. Dan yang lebih mereka tidak sanggup sangka — buktinya lengkap, rapi, tidak bisa dibantah sedikit pun.

"Ini... dari mana Bapak dapat rekaman ini?" tanya salah satu komisaris suaranya bergetar.

"Saya punya akses ke seluruh sistem keamanan perusahaan ini, termasuk arsip yang menurut kalian sudah terhapus," jawab Roxy dingin.

"Saya tidak butuh izin untuk mengetahui apa yang terjadi di tempat saya menaruh investasi terbesar." lanjut Roxy tegas.

"Tap.." Ia mencondongkan badan sedikit ke depan, menatap mereka satu per satu.

"Saya perintahkan dua hal: Satu — pemecatan Arif dilakukan hari ini, tanpa pesangon, dan catatan buruk dimasukkan ke dalam riwayat kerjanya.

Dua — bentuk tim pemeriksa internal untuk menelusuri semua laporan, keluhan, dan kejadian yang melibatkan dia selama ini. Pastikan tidak ada satu orang pun yang dia sakiti tidak mendapat kejelasan."

Roxy berhenti, lalu menambahkan dengan nada yang makin tegas dan berat:

"Saya beri waktu tiga hari. Kalau pada hari ketiga hal ini belum terselesaikan sepenuhnya... "Swing..!" mata Roxy melihat semua orang yang hadir.

"maka kalianlah yang akan saya minta pertanggungjawabannya. Mulai dari yang duduk di ujung sana sampai yang di sebelah kanan saya."

"Kalian gagal mengawasi bawahan kalian. Kalian lalai melindungi karyawan kalian. Dan kalau itu tidak bisa diperbaiki dalam waktu yang saya berikan... mundurlah dari kursi kalian. Saya tidak butuh direksi yang hanya duduk diam melihat kejahatan terjadi di bawah hidung mereka." bentak Roxy penuh ketegasan.

Tidak ada yang berani bernapas terlalu keras. Ancaman itu nyata, serius, dan mereka tahu dia benar-benar bisa melakukannya. Pemegang saham mayoritas berkuasa penuh. Dia bisa mengganti seluruh dewan dalam sekejap.

"Kami... kami mengerti, Tuan. Akan segera kami laksanakan hari ini juga," jawab direktur utama buru-buru, tangannya sedikit gemetar menyentuh layar tablet itu seakan ingin memastikan semua itu nyata.

"Bagus."

Roxy mengambil kembali tablet itu, memasukkannya ke dalam tas. Dia melangkah mundur satu langkah, menatap mereka untuk terakhir kalinya.

"Saya tidak akan datang lagi untuk mengingatkan. Tiga hari. Ingat itu." imbuh Roxy

Dia berbalik, "Tap..!" melangkah keluar dari ruangan itu. Pintu besar tertutup pelan di belakangnya, tapi keheningan dan ketegangan yang tertinggal di dalam terasa begitu menyesakkan.

Di dalam ruangan itu, lima orang saling menatap dengan wajah pucat dan penuh kekhawatiran. Mereka tahu — hari ini bukan hari biasa. Dan mereka tidak boleh gagal kali ini.

 

Di luar pintu ruang direksi, Roxy berjalan tenang menuju lift. tidak menoleh ke kiri atau kanan. Dia tahu banyak mata melihatnya dari kejauhan. Dia tahu berita ini akan menyebar secepat kilat. Tapi dia tidak peduli. Yang penting keadilan berjalan. Yang penting mereka berani bertindak.

Lift berhenti di lantai dasar. Dia berjalan lurus menuju kamar mandi di sudut gedung, masuk ke bilik paling dalam, dan menguncinya dari dalam.

Dia bersandar ke pintu, menutup mata. Napasnya yang tadi teratur dan tegas, kini terasa sedikit berat. "Ding" Ia melepaskan aura kekuasaan itu perlahan. Bahunya turun, tatapannya melunak, dan saat dia membuka mata kembali — yang tercermin di cermin bukanlah Roxy.

Itu Maxy.

Dia menatap dirinya sendiri di cermin. Wajah yang sederhana, pakaian yang biasa, mata yang sedikit lelah tapi terasa damai. Dia mencuci tangannya, membasuh wajah dengan air dingin, lalu menarik napas panjang yang terasa lega luar biasa.

Semua sudah dijalankan. Semua sudah dikatakan. Sisanya tergantung pada mereka. Dia sudah melakukan apa yang harus dilakukan — dengan cara yang tidak akan diketahui siapa pun, termasuk Shella.

Dia keluar dari kamar mandi, berjalan seperti biasa menuju mejanya di sudut ruangan. Saat dia melintas di dekat meja resepsionis, dia mendengar bisik-bisik mulai terdengar.

"Kamu dengar belum? Tadi ada orang penting naik ke atas..."

"Katanya pemegang saham terbesar..."

"Pak Arif... sepertinya bakal ada masalah besar."

"Semoga saja cepat selesai ya. Sudah terlalu lama kita semua tidak nyaman di sini." obrolan para karyawan dan staff kantor mulai terdengar disudut.

Maxy tidak menoleh, tidak ikut berbicara. Dia hanya duduk di kursinya, membuka berkas seperti biasa. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang hangat dan tenang — keyakinan bahwa mulai hari ini, perlahan namun pasti, segalanya akan berubah menjadi lebih baik.

"Semoga kamu suka hadiah dariku ini, Arif..!!" gumam Maxy dengan tawa yang penuh kelegaan.

 

1
Salwina Riyani
Marni datang lagi..😍😍😍😍😍😍
Lylik Kurniawan
iya.. platform nya memang aneh.. masa beranda isinya cm top tier wkwkwk🤣🤣🤣🤣
Kenzy Elbarra
ceritanya bagus..tapi sayang gk dimunculin diberanda sama platform /Puke//Puke//Puke//Puke/
Lylik Kurniawan
😍😍😍😍😍😍😍
Lylik Kurniawan
Bagus. beneran fresh.. aku ksih bintang 5
Lylik Kurniawan
bagus dan beda. like this!!!😍😍😍
Kenzy Elbarra
hehehe 😍😍😍
Salwina Riyani
mewek gw ... 🤣🤣🤣🤣🤣
Salwina Riyani
😍🤭😍🤭🤭😍🤭😍😍
Salwina Riyani
wadidawwww... 😍
Salwina Riyani
heran.. pdhl ini novel bagus.. knpa msh sepi ya
Salwina Riyani
nusuukkkm
Salwina Riyani
seruuuuu.....!!! bener bener beda dari yang lain.. byee bye CEO... bosen gw ma alur CEO wkwkwk
Salwina Riyani
seruuuu.... 😍😍😍😍😍😍
Ma Xy
gasssss terussss kak...
Ma Xy
lanjutkan kaka.. saya suka🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!