Rara, seorang gadis yang gemar membaca kisah pria tampan, tiba-tiba terbangun di dalam novel yang baru saja dibacanya. Namun, bukan sebagai pemeran utama yang baik hati, ia justru menjadi Zelara Sabiru, istri arogan, sombong, dan kejam dari seorang bos mafia bernama Bashkar Deluca. Dalam cerita asli, Zelara selalu membenci Bashkar dan ikut keluarganya menuduh sang suami sebagai dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Bahkan, Zelara berakhir dengan nasib tragis. Namun Rara mengetahui satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun Bashkar tidak pernah membunuh orang tuanya. Semua tuduhan itu hanyalah fitnah. Berbekal pengetahuan tentang alur cerita, Rara memutuskan mengubah takdir Zelara. Ia meninggalkan sifat buruk sang istri, memilih untuk bertaubat, dan mulai membela Bashkar yang selama ini hidup dalam kesepian serta penuh kecurigaan. Tetapi semakin Rara berusaha mengubah akhir cerita, semakin banyak rahasia keluarga Deluca yang terbongkar. Dan yang paling membuatnya bingung… Mengapa sang mafia dingin yang seharusnya membencinya justru mulai melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Cahaya putih yang silau menerobos masuk menembus kelopak mata Zela yang berat. Perlahan-lahan, sepasang mata bulat itu terbuka. Pemandangan pertama yang menyapa penglihatannya adalah langit-langit ruangan bernuansa putih steril yang begitu asing, diiringi oleh aroma antiseptik yang menyengat hingga menusuk hidungnya.
Zela mencoba menggerakkan kepalanya, namun rasa nyeri yang amat hebat dan denyutan menjalar seketika menghantam tempurung kepalanya.
"Nghh..." erangnya pelan, suaranya terdengar begitu parau, kering, dan hampir tak terdengar.
Dada Zela berdesir hebat saat menyadari ada selang transparan yang melingkar di hidungnya, menyalurkan pasokan oksigen yang dingin. Begitu ia melirik ke arah tangannya, sebuah jarum infus tertancap di punggung tangan kirinya yang pucat dan dihiasi memar kebiruan. Tubuhnya terasa begitu kaku, berat, dan sangat sulit untuk digerakkan; seolah-olah seluruh persendiannya telah terkunci rapat.
Rasa bingung yang pekat mendadak melingkupi pikirannya. Raut wajahnya yang polos perlahan berubah bibirnya gemetar tipis, dan sepasang matanya memancarkan ketakutan yang murni sewaktu menatap sekeliling ruangan yang sepi dan asing tersebut.
"Aku... di mana?" bisik Zela pada keheningan ruangan. Suaranya bergetar hebat. "Kenapa... aku bisa kayak gini? Aku... kenapa?"
Pikiran Zela berputar liar mencoba mencari jawaban. Ia berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum ia terbangun di atas tempat tidur ini, namun kepalanya terasa benar-benar hampa—kosong melompong bagaikan lembaran kertas putih tanpa goresan tinta sedikit pun. Tidak ada bayangan rumah, tidak ada ingatan tentang kantor, bahkan tidak ada satu pun nama atau wajah manusia yang melintas di ingatannya.
Rasa takut karena sendirian di tempat asing itu mendadak membumbung tinggi, memicu kepanikan kecil di dadanya.
Klek.
Pintu kamar perawatan VVIP itu terdorong terbuka. Seorang suster berseragam putih melangkah masuk membawa papan catat medis. Suster itu seketika membelalak terkejut saat melihat Zela sudah membuka matanya dan mencoba duduk dengan payah.
"Nyonya! Jangan bergerak dulu!" seru suster itu panik seraya bergegas mendekati brankar dan menahan bahu Zela dengan lembut. "Kondisi tubuh Anda masih sangat lemah. Bagaimana perasaan Anda sekarang? Apakah ada bagian tubuh yang terasa sangat sakit?"
Zela menatap suster itu dengan pandangan linglung dan polos. Mulutnya terbuka sedikit, namun tidak ada satu kata pun yang sanggup keluar dari tenggorokannya. Ia bingung harus menjawab apa. Pertanyaan sederhana dari suster itu terasa bagaikan teka-teki rumit yang tak memiliki jawaban di dalam kepalanya.
Melihat reaksi Zela yang kebingungan dan hanya menatapnya kosong, suster itu segera menekan bel darurat di samping tempat tidur untuk memanggil tim dokter.
Hanya dalam hitungan menit, seorang dokter spesialis bedah saraf melangkah masuk ke dalam ruangan bersama dua asistennya. Dokter itu tersenyum ramah, mencoba mencairkan ketegangan yang memancar dari wajah pucat Zela.
"Selamat pagi, Nyonya," sapa dokter itu pelan seraya menyalakan lampu penlight kecil untuk memeriksa refleks pupil mata Zela. "Bagus sekali Anda sudah siuman. Bisakah Anda mendengar suara saya dengan jelas?"
Zela mengangguk pelan, jemari tangannya yang bebas meremas sprei rumah sakit dengan erat karena cemas.
"Bagus," lanjut dokter itu lembut. "Jangan takut ya. Saya mau tanya beberapa hal sederhana. Apakah Anda tahu siapa nama Anda?"
Zela membeku. Pertanyaan itu menghantam dadanya. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menggali ingatan di balik tumpukan rasa nyeri di kepalanya, namun yang ia temukan hanyalah kegelapan yang hampa. Zela membuka matanya kembali, menatap dokter itu lurus-lurus, lalu menggelengkan kepalanya dengan polos dan jujur.
"Ngg... enggak tahu..." bisik Zela sangat pelan.
Dokter itu mengerutkan kening halus, lalu melanjutkan dengan nada tetap tenang. "Apakah Anda ingat di mana Anda tinggal? Atau... apakah Anda ingat siapa suami Anda?"
Sekali lagi, Zela menggelengkan kepalanya. Pandangan matanya begitu jernih, polos, dan benar-benar bebas dari rekayasa menandakan bahwa ia sama sekali tidak mengenali dirinya sendiri maupun dunia di sekitarnya.
Dokter bedah saraf itu menghembuskan napas pelan, lalu berbalik mengarahkan penlight-nya untuk memeriksa respons saraf dan bekas luka trauma di bagian belakang kepala Zela. Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan fungsi motorik dan kognitif singkat, dokter itu menegakkan tubuhnya dan mencatat sesuatu di papan medis.
"Trauma benturan tumpul yang sangat keras di kepala bagian belakang, ditambah efek hipoksia saat tidak sadarkan diri, telah mempengaruhi pusat ingatan di otaknya," ujar dokter itu berbisik pada asistennya sebelum kembali menatap Zela dengan penuh simpati.
"Nyonya Zelara mengalami amnesia sementara (dissociative amnesia). Otaknya secara otomatis memblokir seluruh ingatan masa lalu termasuk memori trauma hebat yang dialaminya sebagai mekanisme pertahanan diri. Untuk saat ini, dia tidak akan mengenali siapa pun, termasuk dirinya sendiri."