Seorang pemuda yang memiliki rasa haus akan mimpi menjadi orang kaya, berangkat merantau penuh harapan tinggi.
Tapi, sesampainya dikota, tamparan keras menghantamnya.
Ternyata hidup dikota tidak semudah yang dia bayangkan.
Sampai pada akhirnya sistem datang seperti malaikat yang jatuh dari langit, memberi jalan baru baginya untuk melawan kerasnya hidup didunia orang dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gen-1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ban 35. Tinggal Bersama?
Botanic Villa, NavaPark BSD City — 12.05 WIB
Setelah selesai membereskan barang-barang, Yuda dan Risa akhirnya keluar dari kamar utama.
Namun, baru beberapa langkah meninggalkan kamar, terdengar suara keroncongan dari perut mereka.
Keduanya spontan berhenti dan saling menatap.
"Perutmu juga?" tanya Yuda.
Risa mengangguk, lalu tak kuasa menahan tawa. "Iya! Sepertinya kita terlalu sibuk sampai lupa makan."
Yuda ikut tertawa kecil. "Kalau begitu, kita pesan makan dulu."
"Tunggu." Risa menoleh kepadanya. "Di rumahmu ada bahan makanan, nggak? Kalau ada, aku bisa memasak sesuatu."
Yuda terdiam sebentar sebelum balik bertanya, "Memangnya kamu bisa masak?"
Senyum Risa langsung menghilang."Yuda!"
"Hah? Aku cuma bertanya."
"Hmph! Apa kau meremehkan ku? Tentu saja aku bisa masak."
"Bukan begitu maksudku!"
Yuda buru-buru menggeleng.
Melihat Risa mulai memasang wajah kesal, ia hanya bisa tersenyum canggung.
"Baiklah, baiklah. Maaf, Sayang."
Risa mendengus pelan sebelum mengulang pertanyaannya. "Jadi, ada bahan makanan atau nggak?"
Yuda menggaruk pipinya. "Sejujurnya, belum ada."
Risa menatapnya tanpa berkedip. "Belum ada?"
Yuda tersenyum malu. "Hehe, karena aku tinggal disini baru beberapa hari yang lalu, aku memang belum kepikiran membeli stok bahan makanan."
Untuk beberapa saat, Risa tidak bisa berkata-kata.
Ia akhirnya menggelengkan kepala sambil menghela napas. "Ya ampun, Yuda. Kamu tinggal di vila sebesar ini, tapi bahkan nggak punya stok bahan makanan?"
"Aku biasanya makan di luar atau pesam lewat grab."
"Kalau suatu hari kamu ingin makan di rumah, bagaimana? Masa setiap kali lapar harus keluar atau memesan makanan?"
Yuda hanya bisa mendengarkan ketika Risa mulai menasihatinya.
Wanita itu bahkan terlihat serius memikirkan kebutuhan rumahnya.
"Kamu harus mulai menyediakan bahan makanan, Sayang. Setidaknya telur, sayuran, daging, dan bahan-bahan dasar lainnya. Jadi, kalau ingin makan sesuatu, kita nggak perlu repot."
Yuda mengangguk patuh. "Baik, nyonya."
Risa langsung melotot. "Masih sempat bercanda!"
"Hehe, iya, iya. Aku dengarkan."
Melihat Yuda yang menurut sambil tersenyum, Risa akhirnya ikut tersenyum kecil.
Ia sebenarnya tidak berniat memarahinya.
Hanya saja, melihat kebiasaan pacarnya yang begitu santai sampai melupakan kebutuhan sederhana seperti stok makanan membuatnya gregetan sendiri.
Yuda pun menangkap perubahan ekspresinya. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita makan di luar dulu? Sekalian pergi ke mal untuk membeli bahan makanan."
Risa berpikir sebentar, lalu mengangguk. "Boleh. Kita benar-benar harus membeli banyak bahan makanan untuk disimpan di rumah."
"Siap, nyonya."
Yuda mengangkat tangannya seolah menerima perintah, membuat Risa kembali tertawa.
"Dasar!"
Setelah itu, mereka kembali menuju carport untuk mengambil mobil.
Perhatian Risa sekarang tertuju pada hal-hal yang perlu mereka siapkan agar rumah tersebut terasa lebih nyaman untuk ditinggali.
Sementara itu, Yuda sesekali meliriknya dengan senyum kecil.
Melihat Risa begitu serius memikirkan kebutuhan rumahnya membuatnya merasa senang.
Bahkan, ketika wanita itu terus mengingatkannya tentang bahan makanan, Yuda tidak merasa terganggu sama sekali.
Sebaliknya, ia justru menikmati perhatian itu.
"Sayang," panggil Yuda ketika mereka sudah berada di dekat mobil.
Risa menoleh. "Apa lagi?"
"Terima kasih sudah mengingatkan suamimu."
Risa langsung terdiam, kemudian menatapnya tajam.
"Siapa suamimu?"
Yuda tertawa. "Wah, maaf. Maksudku, calon suamimu."
"Yuda!" Tawa Yuda semakin lebar ketika Risa mulai memukul pelan lengannya.
Ia segera membuka pintu mobil untuknya sebelum godaan itu berlanjut lebih jauh.
"Silakan masuk, Nona Cantik."
Risa mendengus, tetapi tetap masuk ke dalam mobil dengan senyum yang sulit disembunyikan.
Tak lama kemudian, Rolls-Royce Cullinan hitam itu meninggalkan kawasan Botanic Villa dan melaju menuju pusat perbelanjaan terdekat.
Tujuan mereka adalah: makan siang, membeli bahan makanan, dan menikmati waktu bersama.
Namun, bagi Yuda, perjalanan kecil itu sudah cukup membuat harinya terasa menyenangkan.
Di dalam mobil, Yuda mengemudi dengan santai, sementara Risa duduk di kursi penumpang sambil sesekali melihat ke luar jendela.
Setelah beberapa saat, Yuda meliriknya.
"Sayang."
Risa menoleh. "Apa?"
"Bagaimana kalau kamu tinggal di vilaku saja?"
Risa sempat terdiam, lalu menatap Yuda dengan sedikit kebingungan. "Tinggal di vilamu?"
Yuda mengangguk serius.
"Iya. Vila itu terlalu besar kalau cuma kutinggali sendirian. Lagipula, sekarang aku sudah punya pacar. Bukankah lebih menyenangkan kalau kita bisa bertemu setiap hari?"
Pipi Risa sedikit memerah mendengar alasannya.
Ia memang senang mengetahui Yuda ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengannya.
Namun, ketika mengingat kejadian mereka di tepi Danau BSD malam itu, ia langsung menyipitkan mata.
"Hmph, jangan pikir aku nggak tahu rencanamu mengajakku tinggal bersama."
Yuda meliriknya sekilas dengan wajah polos. "Rencanaku? Memangnya apa?"
Risa mendengus geli. "Cih, masih saja sok nggak tahu. Kalau aku tinggal bersamamu, bukankah kamu bakal punya lebih banyak kesempatan untuk melakukan sesuatu hal buruk padaku?"
Yuda akhirnya terkekeh. "Hehe, ternyata pacarku memang paling mengerti aku."
"Dasar!" Risa memukul pelan lengannya.
Yuda meliriknya sambil tersenyum lebar, sama sekali tidak malu meskipun rencananya sudah ketahuan. "Hehe, tapi, Sayang, aku memang berharap kamu bisa tinggal bersamaku."
Risa menggeleng kecil, tetapi senyum di wajahnya tidak bisa disembunyikan. "Kau... Baru saja berpacaran, sudah ingin mengajakku tinggal bersama."
"Memangnya salah?" Yuda membalas dengan santai. "Aku cuma ingin menghabiskan lebih banyak waktu denganmu."
Risa terdiam sesaat.
Mendengar Yuda mengatakannya terus terang seperti itu membuat hatinya terasa hangat.
Namun, ia tetap belum bisa langsung menyetujui ajakan tersebut.
Sebelum ia sempat membuka mulutnya hendak menjawab, Yuda lebih dulu menyelanya.
"Oh, iya, ngomong-ngomong, sore ini bakal ada seorang mahasiswi yang datang ke vila. Dia menyewa salah satu kamar di sana," kata Yuda tiba-tiba, seolah baru teringat sesuatu.
Risa menoleh kepadanya dengan sedikit heran. "Kamu menyewakan kamar?"
Yuda mengangguk lalu menjelaskan bahwa ia menyewakan salah satu kamar di vilanya karena merasa kesepian tinggal sendirian di rumah sebesar itu.
Kebetulan, beberapa waktu lalu, saat sedang bekerja, dia bertemu dengan seorang mahasiswi bernama Nabila yang sedang mencari tempat tinggal.
Karena teringat masih banyak kamar kosong di vilanya, ia kemudian menawarkan salah satu kamar tersebut kepadanya hingga mereka akhirnya mencapai kesepakatan.
"Lagipula, kalau kamu mau tinggal bersamaku, vila itu bakal lebih ramai, kan?" tambah Yuda sambil tersenyum. "Aku juga nggak perlu merasa kesepian lagi."
Risa mengangguk pelan.
Kini, ia mulai memahami alasan Yuda mengajaknya tinggal bersama.
Rupanya, selain ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengannya, Yuda juga ingin suasana vilanya tidak terlalu sepi.
Mengingat betapa besar dan banyaknya kamar, Risa mengerti bahwa pasti akan kesepian.
"Ngomong-ngomong, kamu menyewakan kamar itu sejak kapan?" tanya Risa.
"Sebelum kita pacaran," jawab Yuda terus terang. "Waktu itu, aku belum kepikiran buat mengajakmu tinggal bersama. Apalagi, saat itu aku sedang berusaha mendekatimu."
Yuda terkekeh kecil sebelum melanjutkan,
"Coba bayangkan kalau waktu itu aku tiba-tiba mengajakmu tinggal bersama. Kita bahkan belum pacaran, tapi aku sudah mengajakmu tinggal serumah. Bukankah nanti kamu malah menganggapku punya maksud buruk?"
Mendengar alasannya, Risa langsung tertawa kecil.
"Memangnya kamu memang nggak punya maksud seperti itu?" godanya sambil melirik Yuda.
Yuda menoleh sekilas, lalu tersenyum tanpa merasa bersalah. "Kalau sekarang, aku memang punya keinginan itu. Tapi waktu itu, aku nggak mau membuatmu berpikir buruk tentangku."
Risa menggelengkan kepala sambil tersenyum geli.
Ia tidak menyangka Yuda sampai memikirkan hal semacam itu ketika mereka masih dalam tahap pendekatan.
"Lalu sekarang?" tanyanya menggoda.
"Ya, sekarang kita sudah resmi pacaran. Jadi, aku bisa mengajakmu tanpa perlu takut kamu menganggapku aneh." Yuda tersenyum lebar. "Aku memang ingin menghabiskan lebih banyak waktu denganmu, Sayang."
Risa hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikapnya.
Namun, senyum di wajahnya tidak menghilang.
Ia memang menyukai Yuda yang terkadang begitu terus terang, tetapi tetap memikirkan perasaannya.
"Dasar kamu ini."
Risa kemudian memikirkan sesuatu, dan menoleh "Lalu, bagaimana dengan si Nabila itu?"
Yuda mengangkat bahunya, "Soal itu, ya mau gimana lagi?"
Lalu ia kembali menjelaskan, "Kesepakatannya sudah dibuat sebelum kita pacaran. Dia juga seorang mahasiswi baru dan katanya sore ini bakal datang untuk membawa barang-barangnya. Aku nggak mungkin membatalkannya begitu saja kan?"
Risa mengangguk pelan.
Ia tidak merasa keberatan dengan keputusan Yuda.
Justru, sikap baik laki-laki itu yang tetap menghargai kesepakatan orang lain lah yang membuatnya menyukainya dan memilihnya sebagai pacar.
"Ya sudah, kalau memang sudah sepakat, biarkan saja," jawab Risa sambil tersenyum. "Nanti aku juga bisa berkenalan dengannya."
Yuda melirik Risa sambil tersenyum. "Kalau begitu, bagaimana? Kamu mau tinggal bersamaku, Sayang?"
Risa menoleh kepadanya, lalu mendengus pelan. "Tentu saja aku akan pindah!"
Jawaban spontan itu membuat Yuda sedikit terkejut sebelum senyum lebarnya kembali muncul. "Benarkah? Jadi, kamu mau tinggal bersamaku?"
Risa melipat tangannya di depan dada, berusaha memasang wajah serius.
"Tentu saja! Karena aku harus mengawasimu. Kalau aku tidak tinggal di sana, siapa yang tahu apa yang akan kamu lakukan di belakangku?"
Yuda terkekeh mendengar alasannya. "Hehe, Sayang, kamu terlalu meremehkanku. Aku ini pria baik-baik, tahu!"
"Baik-baik apanya?" Risa langsung meliriknya tajam. "Kamu sendiri yang mengaku punya maksud buruk kalau aku tinggal bersamamu!"
Yuda terdiam sesaat, lalu tertawa. "Itu beda lagi lah, kan aku melakukan hal buruk itu ke pacarku."
Risa mendengus tidak menjawab.
Ia kemudian berkata dengan nada seolah-olah sedang memberikan peringatan serius.
"Selain itu, aku juga harus menjaga Nabila. Dia masih mahasiswi baru, kan? Kalau dia tinggal di sini sendirian bersama pria sepertimu, bagaimana kalau kamu malah menggoda gadis polos itu?"
Yuda mengangkat alis. "Eh, tunggu dulu. Sejak kapan aku suka menggoda perempuan?"
Risa langsung menoleh kepadanya. "Memangnya kamu tidak suka menggoda perempuan?"
Yuda terdiam sebentar, kemudian tersenyum lebar. "Kalau menggoda perempuan cantik, aku memang suka."
"Tuh, kan! Makin kelihatan sifat bajinganmu!" Risa mencibir sambil memalingkan wajah.
Yuda langsung membantahnya. "Bukan begitu, Sayang! Maksudku, aku memang suka menggoda perempuan. Tapi menggodanya ke wanitaku sendiri, contoh nya kamu!"
Risa meliriknya dengan tatapan tidak percaya. "Halah, alasan saja!"
"Lho, aku serius!" Yuda buru-buru berkata. "Aku bersumpah atas nama Bapak dan Emakku, aku benar-benar belum pernah menggoda perempuan lain selain kamu!"
Risa terdiam sesaat, lalu mendengus geli melihat Yuda yang sampai membawa-bawa kedua orang tuanya hanya untuk meyakinkannya.
"Bodoh! Memangnya aku menyuruhmu bersumpah segala?"
"Hehe, daripada pacarku terus salah paham, lebih baik aku menjelaskan dengan sungguh-sungguh, kan?"
Risa menggelengkan kepala, berusaha menahan senyumnya.
"Sudahlah, fokus menyetir! Jangan sampai gara-gara sibuk membela diri, kita malah mengalami kecelakaan."
"Siap, Nyonya!"
Yuda kembali menatap jalan dengan senyum lebar.
Sementara itu, Risa memalingkan wajah ke jendela, menyembunyikan senyum kecil yang tanpa sadar muncul di bibirnya.
'Pria ini... Selalu saja ada cara untuk membuatku kesal sekaligus tertawa.'
Bab Berakhir.