Indonesia
NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.

Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.

Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

STRATEGI DI BAWAH BAYANG SUASANA

Suara deru mesin mobil mewah Ibu yang baru kembali dari pesta sosialita di kawasan Senopati perlahan memudar, berganti dengan suara langkah kakinya yang menghentak angkuh di atas lantai marmer.

Dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka, aku menyaksikan Ibu melangkah menuju kamar utamanya dengan wajah berbinar, memeluk beberapa tas belanjaan berlogo Merek ternama dunia.

Ibu sama sekali tidak peduli apakah suaminya sudah makan, bagaimana harinya berlangsung, atau apa yang sedang dikerjakannya di ruang kerja.

Bagi Ibu, keberadaan Raymond Perkasa di hidupnya hanyalah sebuah mesin pencetak uang tak terbatas yang melegitimasi status sosialnya yang sempat hancur.

'Ibu tidak pernah benar-benar mengenal pria itu,' bisikku dalam hati, menutup pintu kamar mandi rapat-rapat.

Saran Karin malam itu terus terngiang di dalam kepalaku.

Pendekatan psikologis dan keterbiasaan.

Raymond Perkasa bukan pria dangkal yang bisa ditaklukkan hanya dengan pamer keindahan tubuh secara murahan.

Pria dingin berusia 35 tahun itu menguasai imperium bisnis tambang emas dunia karena ia memiliki kontrol diri di atas rata-rata.

Untuk meruntuhkan benteng es sekuat itu, aku harus merayap masuk melalui celah yang tidak pernah diperhatikan oleh Ibu: sisi kemanusiaannya yang diabaikan.

Keesokan harinya, hujan deras mengguyur Jakarta sejak sore, menciptakan suasana dingin yang mencekam di dalam mansion megah berarsitektur modern ini.

Petir sesekali menyambar di kejauhan, memantulkan bayangan air hujan di dinding-dinding kaca raksasa.

Pukul sepuluh malam, suasana mansion sudah sangat hening.

Para pelayan sudah kembali ke area paviliun belakang, sementara Ibu sudah tertidur lelap setelah meminum obat tidur langganannya kebiasaan lama yang makin menjadi-jadi sejak ia gemar berpesta malam.

Aku melangkah keluar dari kamarku dengan pakaian santai namun memikat: sebuah gaun tidur dari bahan kain kaos tipis berwarna abu-abu muda yang membingkai ketat lekuk tubuhku yang tinggi semampai bagai gitar Spanyol.

Rambut hitam panjangku biarkan terurai acak di atas bahu.

Langkah kakiku mengarah ke area dapur bersih di lantai bawah.

Dari informasi yang kukumpulkan dari kepala pelayan pagi tadi, Raymond selalu bekerja hingga larut malam dan memiliki kebiasaan meminum kopi hitam tanpa gula di pertengahan kerjanya.

Biasanya para pelayan menyiapkan poci termos khusus untuknya, tetapi malam ini, aku menyuruh pelayan untuk beristirahat lebih awal dengan alasan aku yang akan mengantarkannya.

Aku menyeduh segelas kopi hitam arabika premium dengan teknik yang pernah diajarkan Ayah dulu kebetulan Ayahku dulu adalah penikmat kopi sejati sebelum kebangkrutan menghancurkan kami.

Aroma pahit nan gurih bercampur rempah segar merebak memenuhi area dapur.

Di atas nampan kecil, aku menambahkan sedikit kayu manis alami dan sepotong cokelat hitam kadar tinggi.

Dengan langkah perlahan tanpa suara, aku menaiki tangga menuju ruang kerja Raymond di lantai dua.

Cahaya kekuningan yang redup masih memancar dari balik celah pintu kayu jati yang tertutup rapat.

KNOCK, KNOCK.

Aku mengetuk pintu berukir itu dua kali dengan ketukan yang lembut dan teratur.

"Masuk," suara bass Raymond yang berat dan parau bergema dari dalam ruangan, memecah kesunyian malam.

Aku menggeser pintu perlahan, melangkah masuk ke dalam ruangan beraroma kayu cendana dan tembakau halus itu.

Raymond sedang duduk di belakang meja kerja besarnya.

Kemeja hitam yang dikenakannya tergulung hingga ke siku, memperlihatkan lengan kokoh berurat dengan jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangannya.

Dua kancing teratas kemejanya terbuka, memperlihatkan sedikit bidang dadanya yang tegap.

Pria itu menatap layar laptop dengan kening berkerut dalam, dikelilingi tumpukan berkas laporan keuangan tambang.

Raymond tidak langsung mendongak saat aku melangkah mendekat.

"Posisikan kopinya di sebelah kiri, Bik," ujarnya datar, mengira aku adalah salah satu pelayan mansion.

"Ini bukan Bi Ani, Raymond," ucapku halus, menyuarakan namanya dalam bisikan rendah yang sarat akan kehangatan.

Gerakan jemari Raymond di atas papan ketik laptop mendadak terhenti seketika.

Pria itu perlahan mendongakkan kepalanya, mata hazel-nya yang tajam melayang lurus mengunci sosokku yang berdiri di samping meja kerjanya.

Tatapan mata Raymond menyapu penampilanku gaun kaos tipis yang membalut ketat pinggul dan dadaku, leher jenjangku yang terbuka, hingga nampan kopi yang kupegang dengan kedua tangan.

Ada riak halus di matanya yang dingin, namun dengan cepat dibungkus kembali oleh ketenangan yang mematikan.

"Kenapa kamu yang membawanya?" tanya Raymond dengan nada datar tanpa nada marah, tetapi sangat mengintimidasi.

Aku meletakkan cangkir kopi dan cokelat hitam itu di samping kirinya dengan gerakan yang sangat lembut dan gemulai, sengaja membiarkan aroma wangi tubuhku yang segar usai mandi terhirup olehnya.

"Aku lihat lampu ruang kerjamu masih menyala.

Bi Ani sudah kuperintahkan istirahat," jawabku tenang, mendudukkan diriku secara santai di tepi meja kerjanya hanya berjarak beberapa puluh sentimeter dari lengannya.

Aku menyilangkan kaki panjangku yang mulus, membuat gaun tipis itu terangkat sedikit di atas lutut.

"Ibu sudah tidur nyenyak di kamar.

Jadi aku pikir, tidak ada salahnya membuatkan kopi untuk pemilik mansion ini."

Raymond menatap cangkir kopi di sampingnya, lalu beralih menatap wajahku yang tanpa make-up namun tetap cantik alami.

"Ibumu tidak mengajarimu bahwa bertamu ke kamar pria di tengah malam seperti ini tidak sopan?"

Aku menyunggingkan senyuman tipis yang sangat manis, tetapi menyimpan luka yang terselubung.

"Ibu tidak pernah mengajariku apa-apa, Raymond.

Satu-satunya hal yang dia ajarkan adalah bagaimana cara menghabiskan uang orang lain."

Perkataanku yang jujur dan sarkastik itu membuat kening Raymond sedikit terangkat.

Untuk pertama kalinya, aku melihat ketertarikan sejati di balik matanya yang bagai es batu.

Pria pintar seperti Raymond sangat membenci kepalsuan, dan kejujuran beracunku baru saja menarik perhatiannya.

Raymond meraih cangkir kopi buatanku, membawanya ke dekat bibirnya, lalu menyesapnya perlahan.

Ia membiarkan cairan hitam hangat itu menyentuh lidahnya selama beberapa detik sebelum menelannya.

"Kayu manis dan dark chocolate," gumam Raymond pelan, suaranya terdengar sangat dalam.

Pria itu menatapku kembali dengan mata hazel-nya yang menelisik.

"Takaran racikannya sempurna.

Dari mana kamu belajar menyeduh kopi seperti ini?"

"Dari almarhum Ayahku," jawabku lirih.

Pandangan mataku perlahan meredup, menyiratkan kerinduan dan duka yang mendalam.

"Dulu, sebelum kami jatuh miskin dan Ayah lumpuh, kami selalu menikmati kopi seperti ini di ruang kerjanya.

Ayah selalu bekerja keras untuk membahagiakan kami... sampai akhirnya dia mati dalam keadaan mengenaskan."

Ruang kerja itu mendadak hening.

Hujan di luar semakin lebat, menghantam kaca jendela dengan ketukan yang ritmis.

Raymond tidak memotong pembicaraanku.

Pria dingin itu mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari bibirku dengan penuh perhatian yang tak terganggu.

"Ibumu tidak pernah menceritakan soal ayahmu secara detail," ujar Raymond halus, nada suaranya sedikit melunak sebuah perubahan kecil yang sangat berarti.

"Tentu saja tidak," bisikku sambil terkekeh getir, menatap lurus ke dalam mata hazel Raymond.

"Bagi Ibu, masa lalu bersama Ayah yang melarat hanyalah sampah yang harus dibuang.

Bagi Ibu, kamu hanyalah tiket emas untuk kembali ke puncak kemewahan."

Aku memajukan tubuhku sedikit, mengikis jarak di antara kami hingga Raymond bisa merasakan kehangatan dari tubuhku.

"Tapi bagiku..." bisikku lagi dengan suara yang sangat serak dan menggoda, "kamu adalah pria yang sangat kesepian di tengah semua kemewahan ini, Raymond."

1
Nda
ditunggu double upnya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!