Indonesia
NovelToon NovelToon
Keluarga Tak Terduga untuk Sang Mafia

Keluarga Tak Terduga untuk Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Wanita perkasa / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:2
Nilai: 5
Nama Author: Mary Mendes

Demi menyelamatkan nyawa adik kecilnya yang mengidap penyakit jantung, Ekaterina rela melakukan apa pun—bahkan menerima "pekerjaan satu malam" yang menjebaknya ke pelukan Viktor Morozov, sang pewaris kerajaan mafia paling ditakuti di kota.

Satu malam yang seharusnya hanya jebakan. Satu malam yang mengubah segalanya.

Ketika Viktor menyadari ia telah masuk perangkap, ia mencampakkan Ekaterina dengan kata-kata paling kejam. Tapi takdir punya rencana lain: gadis miskin yang ia hina itu kini mengandung anaknya—dan menolak menyerahkan apa pun pada pria yang telah menghancurkannya.

Viktor terbiasa memiliki segalanya: kuasa, uang, dan rasa takut orang lain. Yang tak pernah ia miliki adalah sebuah keluarga. Kini, demi merebut kembali wanita yang ia sia-siakan dan dua gadis kecil yang perlahan meruntuhkan tembok es di hatinya, sang mafia siap membakar dunia sampai rata.

Namun luka tak sembuh hanya dengan janji. Ekaterina sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya dengan mudah, dan masa lalu yang kelam—seorang ayah pemabuk, utang yang menumpuk, rahasia yang bisa menghancurkan semuanya—masih membayangi.

Bisakah seorang pembunuh berdarah dingin belajar mencintai? Bisakah sebuah keluarga yang lahir dari kebohongan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 — Untuk Pertama Kalinya, Tanpa Lari

Viktor

Ekaterina muncul di ruang tamu selepas mandi, dan sosoknya menghantamku telak dengan cara yang tak kusiapkan sebelumnya.

Sweter hitam itu jadi kebesaran di tubuh mungilnya. Lengan bajunya menutupi tangannya, rambutnya masih basah jatuh di bahu, dan wajahnya yang bersih membuat bekas-bekas luka itu makin kentara. Sobekan di bibir. Noda kemerahan di leher. Kerapuhan yang dia coba sembunyikan dengan menegakkan postur.

Dan aku benci itu.

Benci menatapnya dan melihat apa yang telah diperbuat bajingan itu.

Dia berjalan perlahan ke sofa dan duduk di sampingku, tapi menyisakan cukup jarak di antara kami agar aku paham tanpa kesulitan: dia masih belum memercayaiku.

Dan mungkin dia benar.

Mungkin aku hanya satu lagi pria yang menyakitinya.

Pikiran itu menggerogotiku dengan cara yang aneh.

Kualihkan pandangan sebelum dia menyadari betapa aku terpaku padanya, lalu kukatakan bahwa makan malam sudah dipesan. Suaraku keluar lebih serak dari seharusnya.

Lis, sama sekali tak menyadari beban yang menghimpit di antara kami berdua, terus mengamati apartemen dengan penasaran. Mata kecilnya menjelajahi segala hal seolah dia sedang memasuki dunia lain.

"Om Viti tinggal di sini sendirian?"

Aku menatapnya beberapa detik sebelum menjawab.

"Aku tak tinggal di sini."

Suaraku melambat tanpa sengaja selagi aku memandangi sekeliling apartemen.

"Tapi aku pernah tinggal... waktu kecil. Bersama keluargaku."

Aneh mengucapkan itu keras-keras.

Lebih aneh lagi menyadari bahwa tempat ini tak pernah terasa sehidup sekarang.

Pesanan tiba tak lama kemudian.

Aku bangkit untuk mengambil makanannya lalu langsung menuju dapur. Kucoba memusatkan diri pada hal-hal sederhana. Pada piring. Pada peralatan makan. Pada aroma makanan hangat yang memenuhi ruangan. Pada apa pun yang mencegahku berpikir terlalu banyak.

Tapi aku merasakannya masuk ke dapur di belakangku bahkan sebelum menoleh.

Ekaterina mulai membantuku dalam diam.

Tanpa diminta.

Tanpa bicara.

Dan itu melucuti pertahananku lebih dari seharusnya.

Karena terasa intim.

Terasa seperti keseharian.

Terasa seperti sebuah keluarga sialan yang sedang menyiapkan makan malam setelah hari yang berat.

Dan seharusnya aku tak menyukai perasaan ini sebegitunya.

Ketika semuanya siap, dia memanggil Lis. Kami bertiga duduk di meja, dan sesaat aku hanya mengamati pemandangan itu dalam diam.

Lis duduk di antara kami berdua.

Ekaterina melayani adiknya secara otomatis sebelum melayani dirinya sendiri.

Rambut yang masih basah.

Wajah yang lelah.

Kebiasaannya untuk selalu memastikan adiknya nyaman lebih dulu sebelum memikirkan dirinya sendiri.

Sesuatu menekan hebat di dalam dadaku.

Aku mengambil makanan tanpa berpikir, tapi Lis langsung menyelaku:

"Harus berdoa dulu."

Aku berhenti.

Kutatap dia.

Lalu kulihat keduanya memejamkan mata.

Ekaterina mengatupkan tangannya diam-diam, dan pemandangan dia melakukan itu membuatku kehabisan napas untuk satu detik yang konyol.

Lalu Lis mulai berdoa dengan suara kecil dan lembut:

"Bapa di surga, terima kasih untuk hari ini... terima kasih untuk makanannya... dan terima kasih karena kakakku baik-baik saja..."

Tenggorokanku tercekat.

Karena gadis kecil itu tak berterima kasih untuk mainan.

Bukan untuk jalan-jalan.

Bukan untuk hal kekanakan apa pun.

Dia bersyukur karena kakaknya selamat.

Dan itu terlalu kejam untuk dipikul seorang anak.

"Berkatilah dan lindungilah kami selamanya. Amin."

Keheningan yang datang sesudahnya membebani seisi meja.

Ketika mereka membuka mata, kulihat Ekaterina cepat-cepat menunduk. Tapi sebelum itu, aku melihat kilau air mata yang dia coba sembunyikan.

Dia mulai makan perlahan, menghindari menatapku.

Tapi aku tak bisa berhenti menatapnya.

Terjadi begitu saja.

Seperti bernapas.

Seolah seluruh tubuhku terpaku padanya tanpa izin.

Lis menyadarinya sebelum Ekaterina.

Tentu saja dia menyadarinya.

Anak-anak selalu menyadari segalanya.

Dia menatapku beberapa detik sambil mengunyah.

"Ada apa?"

Lalu dia tersenyum.

Senyum kecil, jenaka.

Dan diam-diam menunjuk sendok ke arahku.

"Om memandang Kathy begitu..."

Dia mencoba menirukanku, sengaja membelalakkan mata.

Aku hampir tertawa.

Hampir.

Tapi lalu dia melanjutkan polos:

"Kukira cuma dokter baru itu yang memandangnya begitu... ternyata Om juga."

Udara di ruangan itu langsung berubah.

Ekaterina mengangkat pandangan, terkejut.

"Lisbela."

Suaranya keluar cepat, penuh malu.

Gadis kecil itu langsung menunduk.

Tapi aku terus menatap Ekaterina.

Dan dia merasakannya.

Merasakannya karena dia langsung menghindari mataku, terlalu gugup untuk menahan tatapanku lebih dari dua detik.

Dan pada saat itu aku memahami hal yang paling berbahaya dari semuanya.

Ini bukan sekadar rasa bersalah.

Bukan sekadar kewajiban.

Bukan sekadar bayi itu.

Aku benar-benar habis oleh perempuan itu.

Aku terus menatap Ekaterina bahkan setelah keheningan berat menyelimuti meja.

Dia berusaha menunduk lagi.

Berusaha lari.

Tapi aku tak membiarkannya.

Karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku tak ingin menyembunyikan apa yang kurasakan.

Dan mungkin sudah terlambat untuk itu.

Lis masih mengamatiku penasaran, menanti jawaban, sepenuhnya tak menyadari kekacauan yang baru saja dia ciptakan di antara kami berdua.

Maka kutumpukan lenganku di meja dan kukatakan tegas, tanpa mengalihkan mata dari Ekaterina:

"Lisbela, kalau dokter baru itu memandang Kathy seperti itu lagi... bilang bahwa kakakmu ini milikku."

Udara seakan berhenti.

Ekaterina langsung mengangkat pandangan.

Terkejut.

Ketakutan.

Dan mungkin sedikit tersinggung juga.

"Aku bukan milikmu."

Jawabannya keluar cepat.

Membela diri.

Seakan dia perlu mendirikan tembok di antara kami sebelum aku sempat menembusnya.

Tapi aku tak mengalihkan pandangan.

Tak mundur.

Karena sekarang aku melihatnya.

Melihat di balik amarah.

Di balik ketakutan.

Di balik perempuan yang berusaha bertahan sendirian sambil memanggul seluruh dunia di punggungnya.

Lalu kujawab pelan:

"Belum."

Matanya sedikit membelalak.

Dan selama satu detik penuh tak seorang pun berbicara.

Yang ada hanya suara pelan televisi di latar dan napas yang tertahan di antara kami berdua.

Lis yang lebih dulu memecah keheningan.

Dia menutup mulutnya dengan tangan mungil dan mulai terkikik pelan, seakan sedang menonton kartun.

Tapi aku terus menatap Ekaterina.

Terpaku padanya.

Sepenuhnya.

"Kau sudah membawa sebagian dari diriku di dalam tubuhmu."

Suaraku keluar serak.

Lebih intim dari seharusnya.

Dan aku melihat persis saat kata-kata itu menghantamnya.

Jari-jarinya mencengkeram garpu perlahan.

Napasnya berubah.

Matanya berkilau dengan cara yang berbahaya.

Karena kami berdua tahu aku tak sedang bicara soal bayi itu saja.

Lalu kucondongkan tubuhku sedikit lebih dekat ke arahnya dan kukatakan satu-satunya kebenaran yang bisa kulihat sekarang:

"Sekarang kau hanya perlu memaafkanku."

Ekaterina menahan napas.

Dan pada saat itu, memandanginya seperti itu, terluka, cantik, duduk di meja makanku, aku menyadari sesuatu yang seharusnya membuatku jauh lebih takut daripada apa pun di dunia ini:

Aku sanggup melakukan apa pun demi perempuan itu.

Apa pun...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!