Gilang cuma tukang galon biasa bangun sebelum subuh, dorong gerobak dari gang ke gang, dan pulang dengan tubuh remuk demi biayai kuliah malam dan ibunya yang sakit-sakitan. Sampai suatu pagi, sebuah alamat baru di komplek elite membawanya ke depan pagar tinggi milik Anindita Prameswari pewaris tunggal bisnis keluarga yang hidup dikelilingi kemewahan, namun sepi dari kehangatan yang sesungguhnya ia rindukan. Dari transaksi jual beli galon yang sederhana, tumbuh sesuatu yang tak pernah mereka duga: percakapan singkat di depan pagar, yang perlahan berubah jadi alasan bagi keduanya untuk menunggu hari berikutnya tiba. Tapi cinta yang lahir dari dua dunia yang begitu berbeda ini harus membayar harga yang mahal. Seorang paman licik dengan rahasia gelap, fitnah yang mengancam merenggut kebebasan Gilang, hingga pengkhianatan dari orang yang paling dipercaya keluarga Prameswari semua bersatu untuk memisahkan mereka selamanya. Akankah ketulusan seorang tukang galon cukup kuat melawan kekuasaan dan kelicikan yang mengintai dari dalam rumah mewah itu sendiri? Cinta Segalon adalah kisah tentang cinta yang menolak tunduk pada status sosial dan keberanian untuk memperjuangkannya, sekalipun dunia terus berusaha memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah besar yang sepi
Rumah keluarga Prameswari berdiri megah di ujung komplek elite tersebut, tiga lantai dengan kolam renang pribadi di halaman belakang, garasi yang muat lima mobil, dan sebuah ruang keluarga yang luasnya hampir sama dengan seluruh rumah kontrakan tempat Gilang dan ibunya tinggal. Tapi di balik kemegahan tersebut, rumah itu nyaris selalu sepi.
Nindi duduk sendirian di ruang makan yang meja panjangnya cukup buat sepuluh orang, sarapan roti panggang yang disiapin asisten rumah tangga, sendirian kayak biasa. Ayahnya, Broto Prameswari, udah berangkat ke kantor sejak subuh, ngurusin bisnis keluarga yang cabangnya tersebar di berbagai kota. Ibunya udah meninggal sejak Nindi masih SMP, sebuah kehilangan yang sampai sekarang masih jadi luka yang jarang dia bahas sama siapa pun.
"Non, mau nambah kopinya?" tanya Bi Inah, asisten rumah tangga yang udah kerja di keluarga tersebut sejak Nindi masih kecil.
"Nggak usah, Bi. Makasih," jawab Nindi singkat, ngelanjutin sarapannya dalam diam.
Setelah sarapan, Nindi naik ke kamarnya yang luas, duduk di depan meja rias sambil ngeliatin pantulan dirinya sendiri. Umurnya baru dua puluh tiga tahun, tapi rasanya udah kayak ngejalanin hidup yang begitu monoton dan hampa—kuliah bisnis yang dia ambil bukan karena minat, melainkan karena "harus" buat nerusin perusahaan keluarga, pertemanan yang kebanyakan cuma basa-basi demi status sosial, dan rumah besar yang lebih mirip museum ketimbang tempat tinggal yang hangat.
HP-nya bunyi, notifikasi dari Karin, sahabat sekaligus asisten pribadinya yang udah kenal Nindi sejak SMA. "Nin, nanti sore ada gathering keluarga bisnis di hotel. Kamu harus dateng, kata Om Hensa itu penting buat networking."
Nindi ngehela napas, males banget bayangin harus dateng ke acara formal lagi, ketemu orang-orang yang senyumnya palsu, obrolannya seputar saham dan properti, sementara dia sendiri cuma bisa duduk diem sambil senyum sopan tanpa bener-bener ngerasa jadi bagian dari lingkaran tersebut.
"Oke, aku dateng," bales Nindi singkat, meski dalam hati dia udah males duluan.
Dia inget lagi soal insiden tukang galon tadi pagi—sosok sederhana yang dengan tenang ngerjain tugasnya tanpa banyak drama, tanpa berusaha nyari perhatian atau nge-impress siapa pun. Ada kejujuran dalam gerakannya yang bikin Nindi, entah kenapa, ngerasa iri.
"Kayaknya enak ya, jadi orang biasa," gumamnya pelan pada diri sendiri, sambil ngebayangin gimana rasanya nggak harus mikirin nama baik keluarga, saham perusahaan, atau ekspektasi yang begitu berat dari sosok ayah yang jarang punya waktu buat sekadar ngobrol santai sama anaknya sendiri.
Nindi ngambil ponselnya, buka galeri foto lama, ngeliatin beberapa foto masa kecil bareng ibunya sebelum penyakit tersebut merenggut nyawa wanita yang paling dia cintai itu. Ada satu foto yang selalu bikin dia terhenti sejenak—foto mereka berdua di pasar tradisional, ibunya lagi ketawa lepas sambil megang buah rambutan, jauh dari kesan formal yang biasa nempel sama nama keluarga Prameswari.
"Ibu selalu bilang, kebahagiaan itu nggak ada hubungannya sama berapa banyak uang yang kita punya," gumam Nindi, ngenget kata-kata yang dulu sering diucapin ibunya, sebuah nasihat yang makin lama makin kerasa jauh dari kenyataan hidup yang dia jalanin sekarang, dikelilingi kemewahan namun begitu miskin akan kehangatan yang sesungguhnya.
Sore harinya, Nindi berangkat ke gathering tersebut, mengenakan gaun formal yang udah disiapin asisten pribadinya. Acara tersebut berlangsung di ballroom hotel bintang lima, dipenuhi para pengusaha dan keluarganya, obrolan-obrolan basa-basi yang bikin Nindi harus terus tersenyum meski hatinya jauh dari kata senang.
"Nindi, kenalin, ini Rafael, anaknya rekan bisnis Papa," ujar Broto, memperkenalkan seorang pemuda berpenampilan rapi dengan senyum yang terlalu sempurna buat terasa tulus.
"Halo, Nindi. Senang akhirnya bisa ketemu langsung," ujar Rafael sambil ngulurin tangan, matanya nunjukin ketertarikan yang jelas, meski Nindi sendiri nggak ngerasain hal serupa.
Nindi bales jabatan tangan tersebut dengan senyum formal, sekadar basa-basi sopan. "Halo, Rafael."
Di sudut ruangan, Om Hensa—adik dari mendiang ibu Nindi yang selama ini jadi tangan kanan Broto dalam ngurus bisnis—merhatiin interaksi tersebut dengan senyum puas yang tersembunyi. Ada rencana besar yang lagi dia susun, sebuah rencana yang melibatkan pernikahan Nindi dengan Rafael, meski Nindi sendiri belum tau apa-apa soal maksud sesungguhnya di balik pertemuan tersebut.
Malam itu, sepulang dari acara yang bikin dia kelelahan secara emosional tersebut, Nindi duduk di teras kamarnya, mandangin bintang-bintang yang samar keliatan di tengah polusi cahaya kota. Pikirannya balik lagi ke sosok tukang galon sederhana tadi pagi, sebuah bayangan kecil yang entah kenapa berhasil ngasih sedikit kehangatan di tengah hari yang begitu melelahkan dan hampa tersebut.
"Minggu depan galonnya abis lagi ya," gumamnya sambil senyum tipis, nggak sepenuhnya nyadar kenapa pikiran tersebut bisa bikin dia ngerasa sedikit lebih bersemangat menyambut hari-hari berikutnya.