Indonesia
NovelToon NovelToon
Mengungkap Misteri Kematian Sang Putri.

Mengungkap Misteri Kematian Sang Putri.

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:602
Nilai: 5
Nama Author: Virgo kelabu

Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14

Nismara sudah berniat berdiri untuk mendekati Miss Indira ketika tiba-tiba ada seorang gadis cantik, mungkin seumuran dengan Sherin, berdiri tepat di depan tempat duduk antara dirinya dan Samudra.

"Om Sam, kok bisa di sini? Kenal sama Joana juga?" tanya gadis itu. Mulutnya menyungging senyum penuh arti.

Nismara melirik Samudra. Laki-laki itu terlihat begitu salah tingkah.

"Eh, Tina, Kamu kenal sama Joana juga?" Samudra membalikkan pertanyaan.

"Iya hihihi, kan kita satu club kalau nge- gym." jawab gadis yang bernama Tina itu , masih dengan mata berbinar-binar.

"Maaf berarti kamu kenal juga dengan Sherin?" Nismara menyela pembicaraan.

Tina melihat ke arah Nismara kemudian tersenyum dan berganti menatap Samudra. Matanya berjungkit entah memberi kode apa. Samudra terlihat tersenyum kaku.

Nismara pun berdehem.

"Oh, eh, emmm, Tina ini tunanganku." kata Samudra sambil merangkul pundak Nismara.

Tina terkikik. Tangan kanannya menutupi mulutnya yang entah mengapa menyeringai terus-menerus, seperti sedang menertawakan sesuatu. Gadis cantik itu menatap Nismara sekira 3 detik lalu mengangguk-angguk. "Oh, tunangaaan, hihihi."

"Jadi, Tina Kamu kenal sama Sherin nggak?" Nismara kembali bertanya. Tentang Sherin itu lebih penting daripada menganalisa sikap dan tingkah gadis centil yang ada di depannya sekarang.

"Sherin...... Sherin yang sok banget itu kan? yang bunuh diri kemarin itu ya?" sahut Tina enteng. "Tante kenal juga sama anak tengil itu?"

Nismara segera memegang paha Samudra dan memberi sedikit tekanan melalui jari nya. Ketika melihat gelagat laki-laki itu akan bicara. Nismara tidak ingin Tina tahu bahwa dia adalah ibu kandung Sherin. Nismara merasa dia bisa mengorek sesuatu dari gadis ini.

"Nggak begitu kenal sih, keponakan tante sekelas sama Joana dan Sherin, ini Tante mewakilkan orang tua keponakan tante." ucap Nismara berbohong. Meski agak deg-degan juga takut jikalau Tina ternyata satu sekolah dengan mereka juga dan bertanya nama ponakan bohongannya siapa.

"Oh, gitu." Tina mengangguk angguk lagi dan Nismara menghela nafas lega.

"Berarti kalian satu club juga? Di mahkota Gym kan?" Nismara bersuara ramah sambil asal nebak aja.

Gadis itu menyeringai aneh. "Kok Tante tau? Dulu waktu muda juga nge- gym di situ ya.?"

Nismara merasa agak bingung dengan kalimat terakhir Tina, tapi dia tetap menyungging senyum dan kembali menatap mata coklat gadis itu. "Kamu nggak takut?"

"Takut apa Tan?" Tina mengernyit tidak mengerti.

"Yaa, Sherin dan Joana meninggal dalam waktu yang berdekatan....." Nismara sengaja menggantung kalimatnya.

"Takut kenapa?" Kini seringai Tina muncul lagi.

"Ya kalian kan satu club. Takut nggak kalau ternyata nanti giliran kamu."

"Nismaraaaa." desis Samudra kaget.

"Eh, saya kan nggak sedang menakut-nakuti ya, hanya kasih peringatan supaya kamu lebih waspada kan?" Sambung Nismara dengan suara dibuat-buat seperti perempuan tukang rumpi.

Nismara sama sekali tidak menggubris tangan Samudra yang menggenggam kencang beberapa kali, seakan-akan memberi tanda agar dirinya menyudahi pembicaraan dengan Tina. Namun Nismara tetap lekat pada sosok gadis di depannya.

"Ngeri nggak sih? Hitungan nya hanya cuma seminggu loh, dua orang temenmu meninggal." kata Nismara lagi.

Namun di luar dugaan Tina malah tertawa ringan. "Ah, semua itu kan sudah takdir, Tan. Lagian Saya orangnya lurus-lurus aja sih hihihi."

Lurus - lurus mbahmu itu!" Teriak Nismara dalam hati.

"Udah sana, Tin, melayat ke ibunya Joana dulu, mumpung orangnya masih ada di depan." Samudra berkata asal saja. Sebab tujuannya memang menyuruh Tina segera pergi sebelum Nismara bicara lebih aneh lagi.

"Okey dah Om, dah Tante. Duluan ya! Tina melambai.

"Nis, kamu kok ngomong gitu?" tegus Samudra.

"Kenapa? Nggak boleh?" Nismara mendengus kesal.

Samudra yang tadinya tegang tiba-tiba malah jadi tertawa. Dia mencondongkan kepalanya ke wajah Nismara. "Cemburu ya?"

Nismara diam saja. Otaknya justru sedang berpikir bagaimana dia bisa mengorek keterangan lebih banyak dari Tina.

Saat Nismara akan bertanya tentang Tina kepada Samudra, dia melihat rombongan dari sekolah Sherin tampak keluar dan hendak pamit. Nismara pun segera berdiri. "yuk kita pamit mumpung ada temennya."

Nismara bergegas meringsek masuk ke dalam rombongan sekolah Sherin, ikut bersalaman lagi dengan tuan rumah. Samudra mengikuti di belakangnya. Nismara ingin mendekati Miss Indira, tetapi ibu guru itu ternyata gesit sekali menghindar. Dia memang mengangguk dan tersenyum ramah ketika bertatapan dengan Nismara, tapi setelah itu dia tampak terburu-buru melangkah duluan ke mobil sekolah sambil menggandeng satu temannya lalu menghilang masuk ke dalam mobil.

Sikap Miss Indira itu justru menimbulkan tanda tanya besar di hati Nismara.

"Nis, kamu masih marah soal Tina tadi?" Samudra memecah kesunyian yang ada. Mereka sudah berada di jalan dan 5 menit di dalam mobil tapi sepasang kekasih itu diam seribu bahasa sedari masuk mobil tadi.

"Hmmm." Nismara bergumam. Matanya memandang ke arah luar jendela mobil.

"Ck, jangan lebay, Tina itu bukan siapa-siapa." kata Samudra seraya berniat meraih tangan Nismara, namun Nismara menepisnya dengan cepat.

Nismara membiarkan Samudra terus mengira bahwa dirinya cemburu pada Tina. padahal dia memang sedang malas bicara, pikirannya masih terngiang-ngiang Majafas, kemarin Joana, Mahkota Gym....

"Justru aku pernah mentraktir dia minum waktu ada acara kumpul-kumpul sama teman kantor." lanjut Samudra.

"Iya, Om Sam hihihi." jawab Nismara terkikik, menirukan nada bicara Tina. "Hebat sekali kamu, Om, kenalan sama anak sekolah."

Samudra menarik sudut bibirnya. Mati kutu dia.

"Kamu masih punya nomor telepon Tina?" Nismara melirik Samudra saat 10 detik sudah berlalu dalam diam.

"Aku nggak punya, dari awal nggak pernah punya." jawab Samudra. "Kalau kamu nggak percaya cek aja tuh hp-ku."

Nismara diam lagi. Kemudian dia mengambil telepon genggamnya sendiri dan mulai menempelkan gawai itu di telinga kanannya.

"Hallo, Mir. Aku baru beres melayat, rapatnya pindah di cafe sosiale aja ya? Tiga menit lagi aku sampai." kata Nismara. Tak menunggu lama, Nismara menutup teleponnya.

"Aku berhenti di depan, Sam." Kata Nismara. Dia tidak perlu merincikan nama tempat, karena yakin kalau Samudra sudah mendengar percakapannya dengan Miranti barusan.

Samudra berdehem. "Aku tahu kamu cuma menghindar aja dari aku kan, Nis?"

"Menghindar gimana? Aku dan Meranti memang janjian mau bahas kerjaan malam ini."

"Jangan Kamu kira aku nggak merasa dari kemarin kamu itu menghindari aku, Nis. Beberapa kali kamu abaikan telepon dan pesanku. Sekarang kamu malah yang marah gara-gara Tina. Demi Tuhan aku nggak ada apa-apa sama Tina."

"Iya, Sam. Dan ini semua nggak ada hubungannya sama Tina, ini murni kerjaan kok." Nismara menjawab sambil bersiap-siap.

"Niiiiiiss....."

"Aku Nggak ingin bertengkar, Sam. Aku capek, tolong berhenti di sini." Nismara memotong ucapan Samudra ketika melihat papan nama kafe yang dia sebut di telpon tadi.

Samudra menepikan mobilnya perlahan. Meski dongkol bukan main Dia tidak punya pilihan lain.

"Nis aku tahu kamu berduka tentang Sherin. Aku hanya ingin menemani kamu melewati ini semua." ucap Samudra serius. "Tapi kamu kayaknya menghindar terus."

"Ya, Sam. Thank you, tapi bisakah berhenti menuduh bahwa aku menghindari kamu? Pekerjaan ku sekarang lagi banyak banget dan memerlukan fokusku."

Samudra menatap Nismara. "Apa ini soal yang tadi? Soal Tina?"

"Ya ampun, Sam, aku udah bilang ini kerjaan." Nismara membuka pintu mobil. "Thank you ya!"

Samudra pasrah. Dia membiarkan kekasihnya itu berjalan menyeberang jalan seorang diri, lalu masuk ke dalam sebuah cafe yang nampak ramai.

Mobil Samudra pun pergi meninggalkan jalan itu.

1
Rahma Wati
kasian Sherin dr kcl tdk diharapkan.
Maria
penuh dengan teka teki tp seru. Ada pelajaran yg BS kita ambil dr cerita ini. penyesalan pasti akan datang di belakang, kalau di depan itu namanya pendaftaran.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!