Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.
Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.
Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.
"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”
Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"
“Mas, panggil saya mas Bara.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jin Dasim
Bab 21
Pintu kamar Adly dibuka Nilam. “Tante boleh masuk?”
“Masuklah.”
Nilam memasuki kamar, Adly bersandar pada head board fokus dengan gadget. Sepulang sekolah ia harus meluruskan kakinya. Kaki kirinya lebih mudah pegal karena melangkah dengan tertatih dan kaki kanan menyangga beban tubuh karena jalannya terpincang. Menatap sekeliling kamar, entah apa yang dicari Nilam. Mendapati pigura kecil di meja belajar, ada foto Naomi.
Ikut duduk di ranjang, Nilam tersenyum pada keponakannya itu.
"Kamu kok main gadget sih, nanti bodoh loh,” ujar Nilam.
“Seharian aku tidak buka gadget, papi bolehkan sampai sore dan malam fokus belajar lagi.”
"Dulu papi kamu disiplin, sekarang jadi lemah begini. Pasti terhasut istrinya itu. Tante pikir, diumur kamu yang sekarang, kamu sudah bisa membedakan mana orang yang tulus dan mana yang cuma memanfaatkan keadaan."
"Maksud tante?"
Nilam mendekat, mengusap kepala Adly dengan posisi tubuh condong ke depan. "Soal Ruby. Tante makin prihatin melihat kamu terlalu dekat sama dia. Kamu tuh masih kecil, Adly. Belum paham kalau orang seperti Ruby itu punya niat lain. Dia cuma kasihan melihat kamu. Atau lebih buruk lagi… dia cuma memanfaatkan mu supaya kelihatan seperti orang baik di mata keluarga kita."
Adly masih terdiam, raut wajahnya tidak menunjukan emosi apapun.
"Coba kamu pikir pakai logika," lanjut Nilam, masih menatap wajah keponakannya. "Bunda Ruby itu orang luar, orang baru dan masih muda. Mana ada perempuan seusia dia mau menikah dengan pria yang usianya jauh lebih tua dan sudah punya anak. Apalagi kondisi kamu yang… yah, kamu sadar kan kondisi kamu sendiri? Kaki kamu nggak seperti anak-anak lain. Kamu nggak bisa lari, jalan aja susah. Jadi buat apa dia mendekat kalau bukan karena ada maksud lain.”
Adly menarik napas, lalu menoleh dan menatap mata Nilam. "Maksud lain itu apa?" tanya Adly, suaranya datar dan tenang.
“Hanya pura-pura saja, ingin dekat dengan kamu mengambil hati kamu. Dia punya ide licik, pasti itu. Kalian harusnya hati-hati, jangan mudah terhasut. Tante yang lebih mengenal dan paham dengan kalian.”
Kali ini Adly mengangguk. “Oke, aku paham.”
“Kamu paham?"
“Iya, aku paham. Kita jangan mudah terhasut dengan siapapun yang berniat buruk. Termasuk tante Nilam. Begitu ‘kan?”
Nilam sedikit terkejut dengan respons dingin itu, tetapi berusaha mempertahankan senyumnya. "Tante cuma mengingatkan demi kebaikan kamu, Adly."
Adly berusaha turun dari ranjang, lalu berdiri tegak meski tubuhnya sedikit miring karena menahan bobot pada kaki kanannya. Ia menatap Nilam lurus-lurus.
"Bunda Ruby tidak peduli soal kaki aku. Dari awal bertemu, dia tidak bahas apalagi melihat aneh pada kakiku." kata Adly tegas. "Dia juga menghasut, katanya saat dewasa nanti akan ada banyak gadis yang mengejarku" Kali ini Adly tersenyum sinis. “Di saat aku minder dan tidak percaya diri, dia malah memujiku seolah aku paling sempurna.”
"Sebaiknya tante keluar. Aku mau belajar, nanti malam kami mau bertemu orangtua Bunda. Bareng opa dan oma juga.”
Nilam masih duduk terpaku, bibirnya rapat menahan kekesalan melihat upayanya sama sekali tidak menggoyahkan Adly.
***
Pintu kamar dibuka oleh Ruby, ada Jelita berdiri di sana.
“Bunda, malam ini kita makan di luar. Bertemu orangtua Bunda?” tanya Jelita dengan riang.
Ruby menoleh pada Bara. Yang dia tahu memang malam ini ada pertemuan keluarganya juga keluarga Bara, tapi tidak tahu kalau anak-anak juga ikut.
“Iya,” jawab Bara lalu beranjak menuju toilet.
“Iya, nanti kenalan dengan Mama dan papa aku ya.”
“Wah, oma dan opa aku jadi banyak dong.”
“Iya, jadi keluarga besar. Kalau kumpul ramai, jadi nggak kesepian. Sekarang kamu istirahat, habis maghrib kita bersiap. Dandan paling cantik dan cetar membahana.” Ruby merangkul Jelita, mengarahkan untuk turun ke lantai bawah. Menghindar dari Bara, ia belum siap memberikan hak Bara meski ada saatnya itu akan terjadi.
Mengantar Jelita ke kamarnya, berpapasan dengan Nilam keluar dari kamar Adly.
“Loh, masih di sini? Kirain udah pulang,” ujar Ruby. “Masuk ke kamarmu ya.”
“Jelita, ingat yang tadi tante bilang.”
“Pasti ingat kok,” sahut Ruby. “Jelita anak cerdas, dia mudah mengingat dan bisa membedakan mana hal baik dan buruk.”
“Aku masuk Bun, tante,” ucap Jelita.
Senyum Ruby langsung lenyap saat pintu kamar Jelita sudah tertutup lalu beradu tatap dengan Nilam.
“Tujuan kamu ke sini kangen anak-anak apa kangen papinya anak-anak.”
Nilam terkekeh, melangkah dengan percaya diri bahkan sambil mengibaskan rambut. Keduanya menjauh dari kamar anak-anak.
“Kayaknya bukan aku doang yang kangen mas Bara, pasti dia pun begitu. Wajah aku mirip dengan Mbak Naomi. Jadi kalau lihat aku seperti melihat sosok mendiang istrinya. Jadi, kamu nggak usah cemburu kalau kami dekat.”
Ruby terkekeh. “Ya ampun, mirip sama orang yang udah meninggal kok bangga. Kalau pun mas Bara lihat kamu seolah melihat mendiang istrinya, artinya kamu hanya bayang-bayang.”
“Hei, kamu dengar ya!” Nilam menunjuk wajah Ruby dan tangan itu geser Ruby agar menjauh dari wajahnya.
“Kamu yang dengar! Dulu mas Bara masih menduda, mungkin kamu bisa bebas keluar masuk rumah ini kayak ing-us. Kami sudah menikah, hargai aku sebagai istri mas Bara.”
Nilam terkekeh. “Percaya diri sekali, kita lihat saja Bara lebih merespon siapa diantara kita.”
“Astaga, jin dasim nantangin gue.”
Kebetulan Bara baru saja turun. “Ada apa ini?”
Nilam terkejut, berharap Bara tidak mendengar perdebatan tadi.
“Sayang,” panggil Ruby lalu menghampiri. “Udah mandinya?” mendapati rambut Bara basah, padahal bisa saja dia kecebur di bak. Memeluk lengan Bara dengan erat. “Ke kamar yuk. Besok kamu keluar kota, aku pasti kangen. Mumpung masih ada waktu.”
“Mau apa?"
“Ya ampun pake nanya. Mau lanjut yang tadi nggak?” Ruby tersenyum sambil mengedipkan matanya genit.
“Oke!”
Ruby menoleh ke arah Nilam dan menjulurkan lidahnya, jelas kalau dialah pemenangnya.
Terus jadi kompor mleduk bwt Bara Meldy 💪
Awas ya kamu .....🤭