Saka mengalami kecelakaan tragis. Mobilnya menabrak pembatas jembatan lalu terjun bebas ke sungai dan meledak.
Ajaibnya Saka masih hidup. Namun saat membuka mata, dia terbangun di tubuh orang lain. Saka hidup dalam tubuh Aryan, pria yang mengalami kecelakaan di hari yang sama dengannya.
Setelah selamat dari kecelakaan tragis, hidup Saka berubah seratus delapan puluh derajat. Bukan saja harus menjalani kehidupan orang lain, matanya juga bisa melihat kilatan masa depan.
Saka bisa melihat kejadian buruk di masa depan. Kejadian yang memaksanya ikut campur dalam takdir seseorang. Dan membuka tabir rahasia tentang kematiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesialan Berlanjut
Wajah Saka tampak menegang. Kedua tangannya mencengkeram erat setir di depannya.
“Ke hotel Cempaka ya,” ujar penumpang di belakangnya, mengembalikan lagi fokus Saka.
Saka hanya mengangguk kecil. Dia mulai menjalankan kendaraannya. Roda kendaraan terus berputar, sementara otaknya berpikir keras, bagaimana caranya menyelamatkan wanita di belakangnya ini.
Sesekali Saka melihat ponselnya yang tengah menunjukkan rute jalan. Dia memang belum sepenuhnya hafal jalanan di kota ini.
Di perempatan jalan, Saka mengambil arah lurus, sementara rute menuju hotel Cempaka seharusnya berbelok ke kanan dan itu disadari oleh penumpangnya. “Mas, harusnya belok kanan.”
“Oh iya, Bu. Maaf, saya baru pindah ke kota ini,” Saka beralasan.
“Ya sudah, nanti di depan putar arah saja.”
“Baik.”
Saka kembali menjalankan kendaraannya. Otaknya terus berputar mencari cara untuk menghindarkan wanita itu dari musibah.
Sialnya, dia belum bisa menemukan cara yang tepat sampai taksi yang dikemudikannya berputar arah.
Beruntung jarak menuju perempatan tadi masih cukup jauh. Dia harus melakukan dua kali putar arah agar bisa sampai di jalan tadi.
Sesampainya di perempatan, Saka membelokkan mobil ke kanan. Dia sengaja menambah kecepatan mobilnya begitu tahu hotel Cempaka hanya sekitar dua ratus meter lagi.
“Eh Mas, itu hotel Cempakanya sudah kelewat,” tegur wanita itu ketika taksi yang ditumpanginya melewati hotel dimaksud begitu saja. Namun sama sekali tidak ada jawaban dari Saka. Pria itu terus saja melajukan mobilnya.
“Mas!” panggil wanita itu lagi seraya menepuk jok mobil Saka.
“Iya, Bu. Saya putar arah lagi,” jawab Saka santai.
“Nggak usah! Saya turun di sini aja!”
Wanita itu melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu janji temu yang sudah dijadwalkan kliennya telah lewat lima menit.
Alih-alih menuruti keinginan penumpangnya, Saka justru menambah kecepatan mobilnya. Hal ini tentu saja membuat wanita itu kesal. Dia menendang kursi pengemudi di depannya, tapi Saka tidak menurunkan kecepatan mobilnya.
Sekarang perasaan kesal sudah berganti dengan ketakutan. Dalam pikirannya, Saka bermaksud menculiknya. Wanita itu segera membuka kaca jendela, dia melongokkan kepalanya keluar sambil berteriak. “Tolooong!”
Refleks Saka menekan tombol kaca jendela. Namun begitu melihat kepala wanita itu masih berada di luar, dia buru-buru menghentikannya.
Taksi yang dikendarai Saka terus melaju. Wanita itu juga tidak mau menyerah. Dia terus berteriak meminta pertolongan. “Tolooong!”
Ketika mobil melintasi seorang polisi yang sedang berpatroli, wanita itu berteriak lebih kencang. “TOLOOONG!”
Mendengar teriakan wanita dari mobil yang melaju, polisi tersebut segera mengejar dengan sepeda motor patrolinya. Dia segera mengabarkan kejadian tersebut kepada rekannya yang lain.
Bukan hanya satu polisi yang mengejar, tapi sekarang ada dua mobil patroli yang ikut mengejar. Tentu saja Saka menjadi panik. Tak mau ditangkap di jalan dan dipermalukan lagi, Saka menginjak pedal rem semakin dalam.
“Hei! Hentikan mobilnya!” teriak wanita itu yang sudah duduk kembali dengan panik.
Saka tidak menggubris. Dia terus melajukan kendaraannya, kemudian berbelok memasuki pelataran kantor Polsek.
Dia segera menghentikan mobil tepat di depan pintu masuk. Di belakangnya dua mobil dan satu sepeda motor patroli ikut berhenti.
Buru-buru wanita itu keluar dari mobil. Tak lama kemudian Saka ikut menyusul. Dengan santai pria itu mengangkat kedua tangannya, ketika seorang petugas mendekatinya. Dia segera dibawa masuk ke dalam kantor Polsek.
“Kamu juga ikut,” ujar sang polisi pada wanita penumpang taksi.
Saka dan penumpangnya sudah duduk di depan meja petugas. Wanita yang mengaku bernama Mawar itu segera menjelaskan kronologi kejadian.
“Dia pasti mau nyulik saya, Pak,” ujarnya mengakhiri laporannya.
“Saudara Saka, kenapa Anda tidak mengantarkan penumpang ke tempat tujuan?”
“Saya baru pindah ke kota ini, Pak. Saya masih mempelajari jalan-jalannya dan saya belum tahu persis di mana letak hotel Cempaka.”
“Kenapa Anda tidak berhenti ketika Ibu Mawar minta berhenti?”
“Saya nggak dengar, Pak. Karena fokus ke jalan.”
“Bohong, Pak! Kan saya teriak, pasti dia dengar. Memangnya dia budeg. Dia pasti mau nyulik saya, Pak!” kesal Mawar.
“Kalau saya mau nyulik Ibu, ngapain juga saya masuk ke kantor Polsek?”
Sang petugas terus melihat pada Saka yang tetap terlihat tenang. Jangan sampai tampak gugup, atau polisi akan semakin mencurigainya.
Saat Saka dan Mawar masih menjawab pertanyaan demi pertanyaan, seorang petugas mengenakan pakaian bebas muncul. Petugas yang ada di sana langsung memberikan hormatnya pada petugas berpangkat AKP tersebut.
“Ada apa ini?” tanyanya sambil mendekati meja petugas di mana Saka dan Mawar berada.
Petugas yang tadi menanyai segera menerangkan secara singkat kejadian yang dialami Mawar. Petugas bernama Firlan tersebut memandangi Mawar.
Dari cara berpakaian dan beberapa hal yang diperhatikannya, dia menduga bahwa Mawar adalah seorang wanita panggilan.
“Anda mau menemui siapa di hotel Cempaka?” tanya Firlan pada Mawar.
“Menemui seseorang. Memangnya saya harus memberitahukan saya harus bertemu siapa,” ketus Mawar yang kesal dengan pertanyaan Firlan.
Seharusnya yang ditanya adalah supir taksi yang membuatnya gagal bertemu klien, bukan dirinya.
“Dari sekian banyak hotel di kota ini, kenapa Anda memilih bertemu dengan seseorang di hotel Cempaka? Apa Anda tahu sebutan untuk hotel tersebut?”
“Memangnya kenapa? Saya mau bertemu dengan klien saya!”
Saka yang sedari tadi hanya mendengarkan mulai memahami situasinya. Mawar diperkirakan seorang wanita bayaran dan pria yang dilihat menyiksa wanita itu adalah klien yang menyewa jasanya.
“Kenapa jadi saya yang diinterogasi. Harusnya Bapak menanyai dia!” jari Mawar mengarah pada Saka.
“Kenapa Anda tidak mengantarkan dia ke hotel Cempaka sesuai keinginannya?” kini Firlan melihat pada Saka.
“Sudah saya bilang kalau saya tidak tahu pasti lokasi hotel ada di mana. Saya juga tadi tidak mendengar apa yang dikatakan Ibu ini.”
“Bohong!”
“Saya tidak bohong, Bu. Sebenarnya saya ini baru mengalami kecelakaan sebulan yang lalu. Terkadang pendengaran saya tidak berfungsi sesaat atau saya bisa dengan mudah kehilangan konsentrasi. Makanya saya sempat tidak mendengar perkataan Ibu.”
Satu-satunya alibi yang bisa digunakan Saka untuk menghindari tuduhan adalah kecelakaan yang dialaminya.
“Kalau keadaanmu belum pulih benar, kenapa kamu memaksa bekerja?” tanya Firlan lagi.
“Terpaksa, Pak. Saya butuh uang. Perawatan pascakecelakaan cukup mahal dan saya terpaksa berutang untuk menutupi biaya rumah sakit.”
Saat Firlan hendak mengajukan pertanyaan lagi, satu orang petugas berkaos hitam masuk dan langsung mendekati Firlan. “Lapor, Pak. Target terlihat di hotel Cempaka!”
Petugas itu segera memberikan tablet yang berisi rekaman CCTV yang baru didapatnya beberapa menit lalu.
Tanpa sengaja Mawar melihat ke tablet. Matanya sedikit membulat saat rekaman menunjukkan wajah pria yang hendak ditemuinya. Hal tersebut tertangkap oleh Firlan.
“Apa Anda mengenal laki-laki ini?” Firlan langsung menunjukkan rekaman yang memperlihatkan wajah target mereka.
Sontak Saka ikut melihat ke layar tablet tersebut. Dia memperhatikan dengan seksama wajah pria tersebut sambil mencoba mengingat penglihatannya tadi. Dari postur tubuh memang terlihat mirip.
“Di-Dia orang yang mau saya temui,” jawab Mawar gugup. “Memangnya dia siapa?” lanjut Mawar penasaran.
“Dia adalah buronan kami. Dia tersangka kasus penganiayaan pada sejumlah wanita. Korbannya sudah ada enam orang. Dan semua korbannya adalah wanita pekerja s*ks komersial.”
“Apa?”
Dada Mawar mencelos mendengar jawaban Firlan. Tubuhnya terasa lemas. Andai dia bertemu dengan pria itu, bukan tidak mungkin dirinya akan menjadi korban ketujuh.
“Harusnya Anda berterima kasih pada sopir taksi ini. Karena dia sudah menyelamatkan Anda secara tidak langsung,” Firlan menunjuk pada Saka.
Mawar melihat pada Saka seraya melemparkan senyum kikuk. Firlan terus memperhatikan Saka. Sikap Saka yang terlalu tenang justru membuatnya curiga.
“Kalian segera pergi ke hotel Cempaka dan tangkap buronan itu!” titah Firlan pada anak buahnya.
“Siap!”
“Kalau begitu, saya bisa pergi, kan? Salah paham dengan Ibu Mawar juga sudah selesai,” Saka bangkit dari duduknya.
“Anda belum boleh pergi,” ujar Firlan tenang. “Masih ada sesuatu yang ingin saya tanyakan,” lanjut Firlan tanpa melepaskan tatapannya dari wajah Saka.
***
Saka apes mulu😂
bentar mau ambil air sama baskom...
mau di liat lewat media air dlm baskom... apakah bisa keliatan gk ya .... Saka mau jujur apa mingkem 😂
apakah mau jujur kau...ato kau masih mau ngeles blom mau terbuka 😔
jangan bikin in cemas pembaca Ka....kamu itu kuat dan dgn keyakinan seyakin-yakinnya pasti kerja kerasmu akan membuahkan hasil /Determined//Determined//Determined/