Setelah menyelesaikan masa militernya, Jiang Ming mendapati dirinya terjebak dalam kerasnya realita sebagai pemuda tanpa uang, pekerjaan, maupun koneksi, yang harus memutar otak demi menghidupi adik perempuannya.
Di tengah himpitan utang dan cibiran orang-orang yang meremehkannya, sebuah aplikasi aneh bernama "Toko Dewa Tiga Alam" tiba-tiba terinstal secara paksa di ponsel bututnya.
Aplikasi tersebut menjual berbagai barang supranatural dan keajaiban dari dimensi para dewa, namun ironisnya, semua benda ajaib itu hanya bisa dibeli jika Jiang Ming memiliki uang.
Alih-alih menjadi pahlawan super, Jiang Ming menggunakan kecerdasan dan insting bisnisnya untuk memanfaatkan barang ajaib termurah demi membangun kekayaan dari nol, perlahan memutarbalikkan nasibnya dari seorang pengangguran rendahan menjadi sosok yang mengendalikan kekuatan Tiga Alam di dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Langkah Pertama
Jiang Ming duduk di balkon apartemennya sambil menikmati kopi hangat di pagi hari.
Matanya menatap layar ponsel yang menampilkan saldo rekening bank dunianya.
Satu juta seratus tujuh ribu tiga ratus delapan puluh yuan.
"Ini adalah seluruh modal yang kumiliki sekarang," gumam Jiang Ming pelan.
Uang sembilan juta yuan miliknya memang sudah lenyap masuk ke dalam sistem toko semalam untuk membeli elemen naga.
Satu juta yuan memang terdengar banyak untuk ukuran seorang pengangguran biasa yang baru pulang dari militer.
Tetapi untuk membangun sebuah perusahaan resmi dari nol di pusat kota Jinhai, jumlah ini harus dikelola dengan sangat teliti.
Jiang Ming meletakkan cangkir kopinya dan membuka aplikasi Toko Tiga Alam.
Dia langsung menuju ke menu Katalog Rahasia VIP dan mencari barang yang dia incar setelah mengobrol dengan Peri Ling semalam.
[Tanah Sisa Kebun Apotek Dewa. Harga: 10 Koin Emas per kantong.]
Jiang Ming menekan tombol beli tanpa ragu.
[Transaksi Berhasil. 10 Koin Emas telah dipotong. Sisa Saldo: 5.140 Koin Emas.]
Sring.
Sebuah kantong kain kecil berwarna cokelat kusam jatuh dari udara kosong tepat ke atas pangkuan Jiang Ming.
Kantong itu terlihat sangat biasa, persis seperti kantong pupuk murahan di pasar tradisional.
Namun saat Jiang Ming membuka ikatan talinya, aroma herbal yang sangat menyegarkan langsung memenuhi seluruh area balkon.
Aroma itu begitu murni hingga membuat paru-paru Jiang Ming terasa seperti dicuci bersih dari polusi kota Jinhai.
"Bahkan limbah tanah bekas dari alam dewa memiliki kualitas yang jauh melampaui harta karun di bumi," puji Jiang Ming takjub.
Dia mengikat kembali kantong itu dengan rapat dan menyimpannya ke dalam saku jaketnya.
Langkah selanjutnya adalah mencari bibit tanaman fana untuk diuji coba kehebatannya.
Jiang Ming segera turun ke lantai dasar dan memanggil taksi menuju pasar obat tradisional terbesar di kota Jinhai.
Suasana pasar sangat ramai dengan aroma berbagai macam akar, kulit kayu, dan dedaunan kering yang menyengat hidung.
Jiang Ming berhenti di depan sebuah kios besar yang memajang berbagai jenis ginseng di dalam etalase kacanya.
"Selamat pagi, Bos. Ada yang bisa saya bantu?" sapa pemilik kios, seorang pria paruh baya bertubuh kurus.
"Aku sedang mencari bibit ginseng gunung liar yang masih hidup. Apakah kau menjualnya?" tanya Jiang Ming langsung pada intinya.
Pria kurus itu mengerutkan keningnya dengan pandangan menilai ke arah Jiang Ming.
"Anak muda, menanam ginseng liar itu sangat sulit dan butuh waktu puluhan tahun untuk bisa dipanen."
"Kebanyakan orang awam lebih suka membeli ginseng yang sudah dikeringkan atau ditanam instan di rumah kaca," jelas pemilik kios itu mencoba menasihati.
"Aku tahu risikonya, Paman. Aku hanya ingin mencoba menanamnya sebagai hobi di rumah," balas Jiang Ming tersenyum sopan.
Pemilik kios itu mengangkat bahunya pasrah melihat pembeli yang keras kepala.
"Terserah kau saja. Aku punya beberapa bibit unggul di kebun belakang, harganya seratus yuan per bibit."
"Bawakan aku sepuluh bibit terbaik yang kau miliki," ucap Jiang Ming sambil mengeluarkan selembar uang seribu yuan dari dompetnya.
Melihat uang tunai pecahan besar itu, mata pemilik kios langsung berbinar dan dia bergegas mengambil pesanan Jiang Ming.
Sepuluh menit kemudian, Jiang Ming sudah kembali ke apartemennya membawa sepuluh bibit ginseng kecil di dalam wadah plastik.
Dia juga menyempatkan diri membeli beberapa pot tanah liat biasa dan sekantung tanah humus dari toko perlengkapan taman di perjalanan pulang.
Jiang Ming meletakkan sepuluh pot berjejer rapi di lantai balkon apartemennya.
Dia mengisi pot pertama dengan tanah humus bumi biasa hingga penuh.
Lalu dia mengambil sejumput kecil Tanah Sisa Kebun Apotek Dewa dari kantong kain cokelatnya.
Sejumput tanah dewa itu jumlahnya bahkan tidak sampai sebesar ujung kuku kelingkingnya.
Jiang Ming mencampurkan tanah dewa yang sangat sedikit itu ke dalam pot pertama dan mengaduknya perlahan hingga rata.
"Mari kita lihat seberapa menakutkan efek limbah surga ini pada tanaman bumi biasa," gumam Jiang Ming penuh antisipasi.
Dia menanam satu bibit ginseng ke dalam pot campuran itu, dan menyiraminya dengan segelas air keran biasa.
Jiang Ming kemudian menanam sembilan bibit lainnya di pot biasa tanpa campuran tanah dewa sebagai pembanding eksperimennya.
Wush.
Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, keajaiban yang benar-benar tidak masuk akal mulai terjadi di depan matanya.
Tanah di pot pertama mulai bergetar pelan dan mengeluarkan uap tipis berwarna putih cerah.
Tunas ginseng yang tadinya terlihat layu kini tegak berdiri dan menyerap sisa air dengan kecepatan yang menakutkan.
Srek srek srek.
Suara daun yang tumbuh membelah dan batang yang memanjang terdengar sangat jelas di telinga tajam Jiang Ming.
Tanaman ginseng itu tumbuh membesar dari ukuran beberapa sentimeter menjadi hampir setengah meter hanya dalam hitungan jam.
Akar-akarnya yang semakin tebal mulai mendesak dinding pot tanah liat hingga muncul retakan rambut di permukaannya.
Krak.
Pot itu akhirnya pecah berkeping-keping, memperlihatkan bongkahan akar ginseng raksasa yang melingkar dengan sempurna.
Akar utama ginseng itu memiliki bentuk yang sangat mirip dengan anatomi manusia kecil, memancarkan rona warna keemasan di ujung-ujungnya.
Jiang Ming menahan napasnya melihat hasil eksperimen pertamanya yang sangat brutal ini.
Dia pernah melihat berita di televisi tentang ginseng gunung liar berusia seratus tahun yang dilelang dengan harga sepuluh juta yuan.
Ginseng di depannya ini memiliki ukuran, warna, dan aura spiritual yang jauh lebih kuat dari ginseng lelang nasional tersebut.
"Hanya butuh sejumput tanah limbah untuk menciptakan ginseng berusia ratusan tahun dalam waktu dua jam," bisik Jiang Ming ngeri membayangkan potensinya.
Dia melirik ke sembilan pot lainnya yang tidak diberi campuran tanah dewa.
Kesembilan bibit itu tetap berukuran sama kecilnya dan tidak menunjukkan perubahan apa pun secara visual.
Jiang Ming mengambil pisau buah dari dapur dan memotong sedikit ujung akar ginseng raksasa tersebut.
Dia membersihkan potongan kecil itu dan langsung mengunyahnya secara mentah-mentah.
Gluk.
Rasa manis dan hangat langsung meledak menyebar ke seluruh rongga mulutnya dan turun mulus ke perutnya.
Aliran energi herbal yang sangat murni menyapu bersih sisa rasa lelah di tubuh fisiknya, membuat pikirannya menjadi setajam pedang yang baru diasah.
"Kualitasnya benar-benar sempurna. Ini bukan sekadar ginseng biasa, ini sudah masuk ranah obat ajaib penyambung nyawa," nilai Jiang Ming sangat puas.