Anjani Pitaloka Notokoesoemo terbiasa hidup serba kecukupan, apapun yang ia inginkan pasti mampu ia dapatkan, termasuk jabatan yang sekarang ia pakai.
Anjani adalah perempuan yang berpengaruh di dunia bisnis. Dia mempunyai kekuasaan, gelar dan harta melimpah.
Tidak hanya itu, Anjani juga mempunyai suami seorang CEO di perusahaan ternama. Siapapun pasti tergiur dengan kehidupan pribadinya, tentu juga menilai bahwa dia adalah perempuan yang kehidupannya sangat sempurna.
Namun, setelah lima tahun pernikahan, Anjani mengetahui Syahrul Bhaskara telah berselingkuh dengan seorang sekretaris bernama Yeshika Larasati.
Hidup Anjani seperti berhenti, dan otaknya berpikir, ternyata selama ini ia tidak pernah mendapatkan cinta dari suaminya?
Semalaman menangis, akhirnya ia memutuskan untuk diam. Alih-alih mengemis cintanya lagi, ia membiarkan mereka bermain, dan ia menyelidiki seberapa jauh mereka berselingkuh untuk ia jadikan objek balas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lullabyyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Waktunya Menangis
Air mata Anjani terus mengalir tanpa bisa ditahan.
Bahu perempuan itu bergetar pelan. Anjani menundukkan wajah, berusaha untuk menyembunyikan tangisnya di balik kedua tangannya, tetapi napasnya yang tersenggal justru semakin memperjelas suara tangisnya.
Sesekali Eve meminta Anjani untuk menarik napas, yang untungnya juga di dengar oleh perempuan itu.
Salah satu pelayan datang membawa segelas minum air putih, lalu pergi dengan terus memperhatikan Anjani. Beberapa karyawan restoran juga terlihat berdiri di sudut lain, mereka semua tampak khawatir dengan kondisi Anjani, sebab mereka semua tahu bagaimana citra Anjani dan baru kali ini orang yang mereka nilai penuh wibawa dan bergelimang harta menangis di tempat umum.
Anjani berusaha berhenti menangis, ia tidak ingin terlihat menyedihkan, tetapi semakin ia berusaha, makin banyak bendungan air yang turun ke pipinya.
Eve memeluk Anjani erat, matanya mulai basah, karena ia tahu bagaimana takutnya Anjani saat ini. Di masalalu, Anjani pernah hampir diperkosa seseorang, vidionya yang nyaris telanjang tersebar di sosial media.
Di saat itu, untung kakak Eve tidak sengaja lewat di gang kecil yang sangat kumuh, dan menemukan Anjani. Berkat kekuasaan Ayah Anjani dan teman orang tua Anjani, vidio itu sirna dari media sosial dan pelaku di hukum berat.
sejak saat itu, Anjani mengalami trauma. Baru berhasil sembuh beberapa tahun kemudian, tetapi sekarang kembali dibuat takut dengan hal serupa.
"Syahrul, pria gila itu!" jerit Eve di dalam hati.
Pikiran Anjani dipenuhi banyak hal, berusaha merajut satu persatu poin yang mungkin tertinggal, dan berusaha menahan rasa takutnya sendiri.
"Aku nyaris gila memikirkannya sendiri, Eve," bisik Anjani. Kali ini kepalanya terangkat, ia mengusap kasar air mata pada pipinya dan menatap Eve dengan tatapan nanar.
Eve melihat itu langsung kembali memeluk tubuh rampung Anjani, ia tidak bisa melihat sahabatnya seperti ini. Ia tidak meminta Anjani untuk segera tenang, justru semakin dipererat pelukannya, membawa Anjani semakin masuk dalam dekapnya.
"Kamu nggak usah takut, ada aku di sini. Aku akan meminta kakakku untuk membantu masalahmu, jadi jangan pernah merasa sendiri." Eve mengusapkan tangannya ke punggung Anjani, air matanya pun ikut jatuh karena merasakan apa yang dirasakan Anjani.
Anjani masih menangis. Untuk pertama kalinya ia membiarkan dirinya terlihat rapuh untuk orang lain. Mengusahakan dirinya tetap kuat setiap hari ternyata tidak semudah itu.
Selama ini Anjani hanya mengerti menjadi perempuan yang harus tahu apa yang akan dilakukan, bisnis mana yang harus ia kerjakan, dan bisa mengendalikan semua sendiri.
Nyatanya, ia hanya perempuan kecil yang terpaku luka, didorong pada satu fakta mengenai perselingkuhan suaminya dan ditarik keras untuk mengetahui bahwa semuanya mempunyai intrik yang lebih dalam.
Perlahan tangis Anjani mereda. Ia menarik napas panjang, tetapi napasnya masih saja tersenggal.
Eve melepas pelukannya, lalu memberikan beberapa tisu pada Anjani dan membantunya mengusap ingus.
"Kamu sudah tenang?" ucap Eve.
Anjani mengangguk. Air putih di atas meja perlahan ia minum, tenggorokan yang kering kelontang langsung basah setelah dilewati air putih.
Anjani merapikan rambutnya, menata pakaiannya yang kusut, dan mengusap bagian bawah matanya dengan cepat. Hembusan napas kencang terdengar, lalu ia tersenyum tipis ke Eve, "Makasih, ya?"
Eve mengangguk. Namun, ia masih belum yakin Anjani sudah sepenuhnya tenang.
Tatapan Anjani perlahan berubah menjadi lebih tajam dan dingin, mengarah pada pintu restoran yang tertutup, "Kalau memang targetnya adalah aku, maka aku harus memastikan bahwa dia tidak bisa menjatuhkanku."
Eve tersenyum lebar, "Benar, seperti itu kamu yang sebenarnya."