Indonesia
NovelToon NovelToon
Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:621
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Update Setiap Hari dijam yang sama 12.00 WIB


Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?

Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.


Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!


Karya Author// DILARANG PLAGIAT//

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana di Balik Layar

Malam semakin larut, namun bayang-bayang ancaman Nathaniel Arcturus masih menggantung pekat di benak Jino West. Di ruang kerja pribadinya, layar komputer memantulkan data keuangan serta riwayat pergerakan saham Arcturus Group yang tengah dianalisis secara mendalam oleh tim audit internal West Corporation.

Jino menyandarkan punggungnya ke kursi kulit dengan napas berat. Jari-jarinya memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Ia tahu betul ambisi Nathaniel; pria itu tidak hanya mengincar dominasi bisnis semata, melainkan sengaja menggunakan Reina sebagai pion rapuh untuk memancing emosinya dan merusak konsentrasinya menjelang hari pernikahan mereka bulan depan.

Tok... tok... tok.

Ketukan pelan pada daun pintu memecah keheningan ruangan. Pintu terbuka setengah, menampilkan sosok Reina yang berdiri dengan membawa secangkir teh chamomile hangat. Gadis itu mengenakan piyama tidur katun longgar berwarna biru muda, rambut panjangnya dibiarkan tergerai natural.

"Belum tidur?" tanya Reina lembut, melangkah masuk mendekati meja kerja lalu meletakkan cangkir teh tersebut tepat di samping tumpukan dokumen.

Jino mendongak, menatap wajah gadis yang selalu berhasil menjadi penenang di tengah badai pikirannya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang melelahkan. Ia menarik tangan Reina pelan, membimbing gadis itu untuk duduk di atas pangkuannya.

"Belum," jawab Jino parau, melingkarkan lengannya di pinggang Reina dan membenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu. "Aku sedang memikirkan cara terbaik untuk menyingkirkan tikus got bernama Nathaniel itu dari hidup kita selamanya."

Reina menghela napas pelan. Jemari lentiknya terulur, menyentuh lembut helai rambut hitam Jino dan merapikannya dengan penuh kesabaran.

"Kau tidak perlu menghadapi semuanya sendirian, Jino," bisik Reina tulus, tepat di samping telinga pria itu. "Nathaniel sengaja membuatmu emosional agar kau melakukan kesalahan langkah di dunia bisnis. Kalau kau terus terpancing, dia justru akan merasa menang."

Jino mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata cokelat Reina. Ada kilat keraguan dan rasa bersalah yang terpancar di mata kelam pria itu. "Aku hanya takut, Reina... Aku takut kecerobohanku dalam menghadapi musuh-musuh bisnisku justru menyeretmu ke dalam bahaya. Kau tahu sendiri apa yang terjadi hari ini di kampus."

Reina tersenyum, lalu dengan sengaja mencubit pelan hidung mancung Jino—sebuah gestur berani yang tidak berani dilakukan oleh siapa pun di muka bumi ini selain dirinya.

"Dengar, Tuan Muda West," ucap Reina dengan nada tegas namun jenaka. "Aku ini bukan boneka porselen yang bisa pecah hanya karena ditatap tajam oleh musuhmu. Kalau Nathaniel berani menggangguku lagi, aku sendiri yang akan memberinya pelajaran sebelum kau sempat memecat perusahaannya."

Tawa kecil yang terdengar begitu tulus akhirnya lolos dari bibir Jino. Ketegangan di wajah pria itu berangsur-angsur melunak. Ia mengecup sekilas bibir Reina dengan penuh kelembutan, seolah menyalurkan seluruh rasa cinta dan keyakinan yang ia miliki.

"Baiklah, Nyonya West masa depan. Aku serahkan urusan menghadapi musuh pada insting liarmu," gumam Jino menyerah, lalu memeluk gadis itu semakin erat.

Keesokan paginya, suasana di markas besar Arcturus Group jauh dari kata tenang. Di dalam ruangan kantor bernuansa minimalis modern dengan dominasi warna abu-abu gelap dan perak, Nathaniel Arcturus mondar-mandir gelisah sambil memegang sebuah laporan di tangannya.

Ponsel di atas meja kerjanya berdering nyaring. Nathaniel segera menyambarnya dan menempelkan benda itu ke telinganya.

"Bagaimana perkembangannya?" tanya Nathaniel tajam tanpa basa-basi.

Dari ujung sambungan sana, suara seorang pria paruh baya—salah satu pemegang saham senior di West Corporation yang telah disogok secara diam-diam oleh Nathaniel—terdengar berbisik gugup.

"Rencana kita berjalan lancar, Tuan Arcturus. Proyek properti rahasia bernilai triliunan rupiah yang sedang digarap Jino West mulai menemui hambatan birokrasi perizinan lahan. Jika dalam minggu ini izinnya tidak keluar, saham West Corporation akan mengalami kepanikan pasar."

Seringai licik terukir di bibir Nathaniel. "Bagus! Pastikan tidak ada celah bagi Jino untuk bernapas. Buat dia sibuk memikirkan perusahaannya, hingga ia lupa mengawasi gadis desanya itu."

"Tapi... Tuan, apa tidak terlalu berisiko jika kita terus mengusik Nona Reina? Pengawalan dari orang-orang Jino di sekitar gadis itu sangat ketat," ragu sang penelepon.

"Peduli amat dengan pengawalnya!" potong Nathaniel dingin. "Jino tidak akan bisa fokus melindungi dua hal sekaligus: kerajaannya dan wanitanya. Terus tekan mereka sampai hancur!"

Tut. Sambungan diputus sepihak.

Nathaniel melempar ponselnya ke atas meja, tertawa kecil penuh kemenangan. Ia merasa berada di atas angin, tidak menyadari bahwa setiap langkah kotor yang ia ambil telah dipetakan dengan cermat oleh divisi hukum dan intelijen West Corporation yang jauh lebih berpengalaman.

Sementara itu, di sebuah kafe butik di kawasan elit pusat kota, Reina sedang menikmati waktu senggangnya bersama Maya. Setelah insiden menegangkan di kampus kemarin, Jino memang memperketat pengawalan, namun ia tetap memberikan sedikit ruang bagi Reina untuk bernapas bebas bersama sahabat baiknya.

"Wah, gila sih! Calon suamimu itu benar-benar definisi overprotective tingkat dewa, Rein!" puji Maya heboh sambil menyantap red velvet cake di hadapannya. "Dua bodyguard berjas hitam tadi bahkan berdiri tegak kayak patung pancoran di depan pintu kafe. Bikin pengunjung lain nggak berani liat meja kita!"

Reina tertawa kecil, menyeruput iced lemon tea-nya. "Sudahlah, jangan dibahas. Aku sendiri kadang pusing punya calon suami yang hobi berlebihan begitu."

Tiba-tiba, suara dentingan lonceng kecil di pintu utama kafe berbunyi. Seorang pelayan datang membawa sebuah amplop tebal berwarna hitam legam dengan aksen segel emas berinisial huruf 'A'. Pelayan itu berjalan langsung menghampiri meja Reina.

"Permisi, Nona Reina Lunox?" sapa pelayan tersebut sopan. "Ada seseorang yang menitipkan amplop ini khusus untuk Anda."

Reina mengerutkan keningnya. Maya yang melihat hal itu menghentikan kunyahannya, menatap amplop misterius tersebut dengan sorot mata curiga.

"Dari siapa?" tanya Reina waspada.

"Pengirimnya tidak mau menyebutkan nama, Nona. Beliau hanya berpesan agar surat ini dibaca sekarang juga."

Reina menelan ludahnya susah payah. Pengalaman buruk dengan Elena Vance beberapa waktu lalu membuat instingnya langsung siaga penuh. Dengan tangan sedikit gemetar, Reina membuka segel emas amplop tersebut dan menarik keluar selembar kertas putih tebal yang berisi ketikan rapi.

Begitu membaca kalimat pertama di atas kertas tersebut, manik mata cokelat Reina membelalak kaget. Napasnya tercekat di tenggorokan, dan warna darah seketika surut dari wajahnya.

“Jika kau tidak ingin perusahaan Jino West hancur total karena skandal proyek fiktif hari ini, datanglah sendiri ke gudang tua pelabuhan utara pukul dua siang tanpa memberitahu siapa pun. Tik Tok, waktu terus berjalan, Nona Lunox.”

Maya, yang menyadari perubahan drastis pada raut wajah sahabatnya, langsung merebut kertas dari tangan Reina. Begitu membaca isinya, mata Maya ikut membelalak lebar.

"Rein! Ini jebakan! Jelas-jelas ini akal-akalannya si bajingan Nathaniel itu!" seru Maya panik. "Kamu nggak boleh dateng! Kita harus laporin ini ke Jino sekarang juga!"

Reina menatap surat di tangan Maya. Jantungnya berdegup kencang bukan karena rasa takut pada ancaman tersebut, melainkan karena ia tahu persis bahwa Jino sedang mati-matian mempertahankan perusahaannya di kantor pusat. Jika ia melibatkan Jino sekarang, pria itu pasti akan meninggalkan rapat penting dan jatuh ke dalam perangkap Nathaniel.

Satu tekad bulat mendadak terpatri di dalam hati Reina. Sebagai wanita yang berdiri di sisi sang pangeran, ia tidak boleh tinggal diam dan membiarkan musuh merusak segalanya.

Dengan tangan yang kini jauh lebih tenang, Reina berdiri dari kursinya. "Maafkan aku, May. Aku harus pergi."

"Reina! Kamu mau gila, hah?!" teriak Maya frustrasi saat melihat sahabatnya melangkah cepat keluar kafe menuju taksi yang menunggu di luar.

Di dalam taksi yang melaju kencang membelah kemacetan kota menuju pelabuhan utara, Reina menggenggam ponselnya erat-erat. Ia tahu ia mengambil risiko besar, namun ia siap membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar gadis desa yang lemah, melainkan ratu sejati yang siap bertempur di samping Jino West.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!