Karena memiliki masalah keluarga yang cukup rumit, membuat Ranaya melampiaskan hidupnya di lantai disko. Motonya: Boleh nakal, asal tahu batas. Sayangnya, malam itu, batasnya benar-benar terlewati. Sebuah kecelakaan brutal membuat tubuhnya koma, sementara rohnya malah asyik gentayangan!
Sialnya, jadi arwah itu enggak segampang di film-film. Niat hati melompat elegan masuk kembali ke tubuhnya, Ranaya malah nyungsep di kolong ranjang. Masalah bertambah pelik ketika ia tau apa penyebab kecelakaan yang menimpanya. Ternyata ada udang di balik bakwan.
Berbekal status hantu amatiran dan bantuan seorang cowok indigo yang super cuek bebek, Ranaya harus menyelamatkan nyawanya sendiri. Kalau gagal? Ya wassalam, siap-siap saja jadi Kuntilanak Gen-Z selamanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha Annisa Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arka?
Ranaya termenung di samping Agatha yang duduk di sisi kiri ranjangnya. Tangan Agatha menggenggam erat tangan Ranaya yang masih terbaring lemah di ranjang, tanpa ada perubahan dan kemajuan.
"Nay, maafin gue, ya," lirih Agatha, sudah tak terhitung berapa kali ia meminta maaf setiap hari pada Ranaya. Bahkan air matanya sudah kering, sampai tak menetes lagi.
Melihat itu, Ranaya hanya bisa mengusap bahu Agatha pelan, meskipun sebenarnya tak tersentuh sedikit pun.
"Tha, gue kangen sama lu," ucap Ranaya berharap Agatha bisa mendengarnya. Namun nihil. Agatha bahkan seolah tak menyadari keberadaannya di sana.
Dengan wajah yang masih sedih itu, Ranaya melayang keluar, hendak mencari keberadaan si Ojol tampan untung menagih jawaban.
"Princess mau ke mana?" sapa si Suster Ngesot saat melihat Ranaya. Namun alih-alih mendapatkan jawaban dari Ranaya, Kuntilanak Gaun Merah Marun itu tidak menoleh sedikit pun ke arahnya. "Dia lagi sedih, ya?"
***
Ranaya melayang-layang di sekitar halaman depan. Tapi sudah hampir lima belas menit, ia tidak melihat keberadaan Dipta di sana. Karena tidak mau menunggu lebih lama. Ranaya pun memutuskan untuk melayang ke arah kosan Dipta.
Iyem, si Kuntilanak Pohon Nangka langsung bersembunyi saat melihat Ranaya dari kejauhan. Ia menyembunyikan tubuhnya di balik pohon nangka, meski sebenarnya itu tidak mempan, karena Ranaya tetap bisa melihatnya.
"Lu liat Dipta, enggak?" tanya Ranaya pada si Iyem yang ketakutan melihat dirinya.
"D-dipta, si-siapa?" Iyem balik bertanya dengan suara yang gemetar.
"Ituloh, si Ojol yang ngekos di situ." Ranaya menunjuk ke arah bangunan kosan Dipta.
"Ooo... i-tu, namanya Arka, bukan Dipta," jawab Iyem masih dengan suara yang ketakutan.
"Arka?" Ranaya dia sejenak. "Yang sering ke rumah sakit itu, kan?"
Iyem mengangguk pelan. "Namanya Arka."
Meski sedikit kebingungan. Ranaya pun memilih untuk tak ambil pusing. "Yasudah deh, si Arka, liat dia enggak?"
"Dia tadi udah keluar, mungkin pergi sarapan ke warung Bude Iis," jawab Iyem, seolah ia hafal betul dengan kegiatan Arka.
"Dimana? Lu tau, kan?" tanya Ranaya.
"I-iya, tau."
"Anterin gue!" ucap Ranaya. Bukan permintaan, tapi sebuah perintah.
Tanpa banyak bicara. Iyem langsung mengangguk. Ia melayang menuju warung Bude Iis diikuti oleh Ranaya.
*****
Masih pagi, wajah Arka sudah terlihat begitu serius. Dahi dan alis berkerut, seperti orang yang sedang memikirkan masalah besar. Bude Iis sampai tak berani untuk sekedar menyapa.
"Hawanya kok serem banget, ya," lirih Bude Iis, ia mengusap tengkuknya yang tiba-tiba merinding. Bude Iis tidak tau saja, kini ada dua Kuntilanak di dalam warungnya.
"Di sini rupanya," ucap Ranaya, ia melayang mendekati meja Arka yang berada di bagian belakang pojok kanan.
"Hai." Sapaan Ranaya berhasil membuyarkan lamunan Arka. Seperti biasa. Pria itu hanya melirik sekilas, lalu kembali menyuap sarapannya yang masih tersisa.
"Ck! Sok cuek banget si lu!" Ranaya duduk atas meja. Menatap piring milik Arka. Sebagai orang yang hidup dengan penuh kemewahan, Ranaya baru pertama kali masuk ke warung makan di pinggir jalan seperti ini. Sedikit terkejut melihat menunya. Telur dadar, tumis sayur dan sambal.
Namun beberapa detik kemudian, pandangan Ranaya teralihkan, ia menatap Iyem yang mematung di dekat etalase makanan. "Heh, lu ngapain masih di sini? Udah sana balik!" usir Ranaya, jujur ia masih kesal pada Kuntilanak Sialan itu.
Dengan wajah ketakutan, Iyem segera melayang pergi. Membuat Ranaya tersenyum puas.
Kini, pandangan Ranaya kembali tertuju ke arah Arka. "Lecek banget muka lu pagi-pagi," celetuk Ranaya.
Masih seperti biasa. Arka tidak memberikan respon apapun.
"Lu main judol, ya?" tuduh Ranaya tanpa dasar. Membuat Arka hampir saja tersedak.
lnjut kk, aku makin penasaran, ditunggu bab selanjutnya nnti malem
🏃♀️