Indonesia
NovelToon NovelToon
Gadis Desa Kesayangan Mafia

Gadis Desa Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:179.2k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

​“Paman, kenapa ini besar sekali?” tanya Lucia bingung.

​“Kau menyukainya?”

​“Memangnya itu apa?”

​“Jadi kau tidak tahu ini apa? Kau yang membangkitkannya dan kau tidak tahu cara menidurkannya?!”

Lucia polos hanya menggeleng lugu, membuat sang mafia paling ditakuti di seluruh Italia itu menepuk jidatnya kuat-kuat.

****

Disiksa kemiskinan di desa terpencil Calabria dan dijual oleh pamannya sendiri ke sebuah klub malam, Lucia pasrah menunggu takdir kelamnya.

Namun, sebuah penggerebekan menyelamatkannya dan membawanya bekerja sebagai pelayan di mansion megah milik Alessandro Frederick–bos mafia dingin berdarah dingin yang menderita alergi parah terhadap sentuhan manusia.

Satu sentuhan dari orang lain bisa membunuh Alessandro. Tetapi, saat jemari Lucia tak sengaja menyentuhnya, tidak ada rasa terbakar.

Bagaimana bisa seorang mafia kejam menaklukkan hati gadis lugu hingga mengira elusan in-tim adalah usapan rasa kasihan dan ciuman adalah penyembuh rasa sakit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1

“Paman mau membawamu kemana? Seumur hidup aku baru keluar dari desa ini dan naik mobil,” tanya Lucia. Matanya yang sewarna madu jernih berbinar takjub, menatap ke luar jendela kaca yang memantulkan deretan lampu kota yang gemerlap.

Jhony, pria berkumis tebal dan berjambang berantakan di balik kemudi mobil tua itu, hanya tersenyum tipis. Sorot matanya dipenuhi keserakahan yang pekat.

Jhony harus segera menjual keponakannya ini malam ini juga agar bisa melunasi utang judi yang mulai mencekik lehernya.

“Kau akan tahu nanti, Lucia. Bukankah kau selalu bilang ingin melihat dunia luar? Maka jangan banyak bertanya. Percaya saja pada pamanmu ini,” sahut Jhony santai.

“Tapi Paman, lihatlah! Mengapa bintang-bintang itu bisa turun dan berjajar rapi di pinggir jalan? Apakah di kota orang-orang bisa menangkap bintang?” Lucia menunjuk ke arah deretan lampu jalanan dengan jari mungilnya.

Mendengar pertanyaan konyol itu, Jhony mendengus.

“Itu lampu jalan, Bodoh. Bukan bintang. Di kota ini, semuanya dinyalakan dengan listrik, bukan minyak zaitun berbau tengik seperti di gubuk bibimu.”

Lucia mengangguk antusias, sama sekali tidak tersinggung oleh makian pamannya. Senyum lugu mengembang di wajah cantiknya yang tanpa sapuan rias sedikit pun.

Selama delapan belas tahun hidupnya, Lucia hanya tahu bagaimana caranya memerah susu sapi sebelum matahari terbit, memetik gandum di ladang dan membantu bibinya memasak di dapur tanah liat.

Lucia tinggal di sebuah desa terpencil di pelosok perbukitan Tuscan yang tertinggal zaman, dimana penerangan malam hari masih mengandalkan lampu minyak.

Lucia juga tumbuh layaknya bunga liar yang tak tersentuh, murni dan tidak tahu apa-apa tentang uang kertas, kelicikan kota, apalagi hal-hal kotor menyangkut nafsu manusia.

“Apakah di sana banyak lampu yang lebih terang dari ini, Paman?” tanya Lucia polos, jemari kecilnya saling bertaut di pangkuan gaun katun pudar yang dijahit bibinya.

“Lampu di sana jauh lebih terang dari masa depanmu, Lucia,” jawab Jhony seraya terkekeh sinis.

“Wah, pasti tempatnya sangat indah! Seperti festival panen musim gugur, kan?” seru Lucia dengan wajah girang.

Mobil tua itu akhirnya berhenti di sebuah gang sempit berdinding batu bata gelap di sudut kota Napoli. Jhony keluar lebih dulu, lalu menarik kasar pintu untuk Lucia.

Lucia melangkah turun dengan ragu. Hidungnya langsung berkerut menyerap aroma asing yang menampar penciumannya.

Bau pesing, alkohol asam, asap rokok tebal dan parfum menyengat yang sama sekali berbeda dengan aroma pinus dan tanah basah desanya.

“Paman, udaranya berbau aneh. Apakah ada yang sedang membakar sampah?” bisik Lucia sembari merapatkan kardigan rajut usang nya.

“Tutup mulutmu dan cepat jalan!”

Jhony menuntun lengan Lucia masuk melalui pintu besi di bagian belakang sebuah bangunan megah dengan lampu neon merah menyala.

Begitu pintu terbuka, dentuman musik bas yang teramat keras langsung menghantam dada Lucia, membuat gadis itu spontan memekik dan menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.

“Paman, tempat apa ini? Kenapa suaranya seperti petir bergulung-gulung?!” jerit Lucia ketakutan.

Pemandangan di dalamnya benar-benar asing dan mengerikan bagi gadis polos itu.

Lucia melihat banyak wanita memakai pakaian yang menurutnya sangat kekurangan kain dan menari-nari di atas meja di hadapan pria berwajah beringas.

“Paman, mengapa wanita-wanita itu tidak memakai mantel? Apakah mereka tidak kedinginan? Ayo kita beritahu mereka, Paman, mereka bisa sakit!” Lucia menarik-narik ujung jas Jhony dengan panik.

“Sudah kubilang diam! Ini tempat barumu. Berdiri di sini dan jangan berani beranjak walau selangkah!” bentak Jhony kasar sembari melepas genggaman tangannya hingga Lucia terhuyung ke belakang.

Dari balik kepulan asap cerutu, seorang pria berbadan tegap dengan tato ular membalut leher mendekati Jhony.

Matanya yang liar langsung memindai tubuh Lucia dari atas ke bawah bak menilai sepotong daging segar.

“Ini barangnya? Sangat udik, tapi wajahnya lumayan. Masih murni?” tanya pria bertato itu.

“Tentu saja. Perawan desa asli, tidak pernah disentuh siapa pun,” jawab Jhony menjilat bibirnya. “Mana bayaranku?”

Pria bertato itu melempar sebuah amplop cokelat tebal ke dada Jhony. Dengan mata berbinar lapar, Jhony merobek ujung amplop, menghitung tumpukan uang kertas di dalamnya tanpa memedulikan tatapan kebingungan Lucia.

“Paman? Apa yang kalian bicarakan? Apa itu bayaran?”

Lucia melangkah maju. Entah kenapa firasat buruk mulai merayapi hatinya.

“Lho, Paman mau kemana?” teriak Lucia histeris saat melihat pamannya mulai berbalik arah menuju pintu keluar.

“Bersenang-senanglah, Lucia,” gumam Jhony tanpa menoleh.

“Paman! Jangan tinggalkan aku! Aku takut! Paman!”

Lucia mencoba berlari mengejar sang paman, namun dua pria berbadan besar langsung menghadang, mencengkeram kerah bajunya dari belakang hingga gadis itu tercekik pelan.

“Lepaskan aku! Paman Jhony! Kenapa kau meninggalkanku?!” jerit Lucia.

Air mata ketakutan merembes deras membasahi pipinya yang kemerahan. Kakinya gemetar hebat hingga tak sanggup menopang tubuhnya.

Sementara Jhony seolah mendadak tuli. Ia menghilang di balik kegelapan malam bersama lembaran uang hasil menjual keponakannya sendiri.

“Hei, Manis. Jangan menangis sampai merusak wajah cantikmu. Pamanmu sudah menjual mu pada kami,” bisik pria bertato ular itu dengan senyum menjijikkan.

Tangannya yang kasar dan bau tembakau terulur hendak mengelus dagu Lucia.

“Menjual?! Apa maksudmu, Paman?! Aku bukan gandum atau keju, aku manusia! Tolong, lepaskan aku!” Lucia menepis tangan itu sekuat tenaga, lalu melangkah mundur hingga punggungnya membentur dinding.

Lucia benar-benar tidak mengerti arti kata menjual yang disematkan pada manusia. Yang ia tahu hanyalah satu hal, dunia luar yang dijanjikan pamannya bukanlah tempat yang indah, melainkan sebuah kandang yang mengerikan.

Dor! Dor!

Di tengah kepanikan dan tangisan histeris Lucia yang memecah riuh klub malam, suara tembakan di udara terdengar.

Jeritan para wanita malam menggantikan suara musik. Orang-orang berhamburan tiarap. Tangan kotor yang hendak menyentuh Lucia membeku di udara. Dari balik kepulan asap mesiu di ambang pintu, muncullah sekelompok pria berjas hitam dengan senapan laras panjang di tangan.

Dan di tengah-tengah mereka, melangkah masuk perlahan layaknya malaikat maut, seorang pria jangkung beraura teramat gelap.

“Menunduk kalian semua!” teriaknya.

Sepasang mata setajam es menatap lurus ke dalam ruangan, memancarkan bahaya yang seketika mengubah klub malam itu menjadi lautan kekacauan dalam hitungan detik.

1
Sari Nilam
lanjut thor...issabela ke laut aja
🇦 🇵 🇷 🇾👎
ku tunjang kak🤣🤣🤣
Kinara Widya
lanjut dong kak
+1
boleh.. 🌚
tinie
masih seru
mas dah end
Muft Smoker
jgn laaa kak ,, masih seruu ini ,,
yg d end si Isabella aj ,,

Lucia baru juga bahagia ketemu kakak kandung ny ,,
meski di iringi kematian sang ayah ,,
seenggaknya biar dy bahagia dg kehadiran sang kakak ,, dan suami yg seperti bayi beruang ,,
Bunda SalVa
jangaaannnnn....

Ale kasih acara ngidam dulu Mom biar seru 🤣🤣🤣🤣
Sri Rahayu
jgn dulu lah Thorr....Lucia blm melahirkan... trs gmn nasib Isabella...ditunggu lanjutan nya Thorr😘😘😘😘😘
rheisha
jangan dulu thor....
Sri Rahayu
apakah bibi nya Elisa tau tentang mama nya Marco dan Elisa...atau mungkin dia sendiri...lanjut Thorr😘😘😘
sri
Thanks atas up nya thor😍😍😍👍👍
Esther
Siap2 terpuruk hidupmu Isabela
stela aza
kelamaan 🤦 terlalu bertele-tele 🤦
𝓢𝓮𝓷𝓲 𝓢𝓮𝓿𝓲𝔂𝓸𝓻𝓾𝓶: Bentar lagi end kok kak santai aja🤭
total 1 replies
Sri Rahayu
eng ing eng...wah meledak dah tu otak dan dada Isabella mendengar kata2 Marco....lanjut Thorr kepo nih 😘😘😘
Wiwin Winarsih
siap2 Lo Isabella out
tinie
wah nanggung nih si Isa magrib subuh
belum tau siapa dirinya🤣

pasti syok banget dan tidak akan menerima kenyataan
jika dia hanya anak pungut
yg sombongnya mengalahkan pemilik asli
🇦 🇵 🇷 🇾👎
next lg kk... bkn di usr dy
+1
berisik setan 🦖
+1
ikut marco.. 🌚
rheisha
boro-boro kamu lucia,aku aja ge yang baca jadi ikutan bingung, kira-kira mau pilih mana,biar sama-sama enak dan adil....😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!