Bryen berusia 25 tahun seorang pria pemilik cafe sederhana, memiliki karyawan untuk membantu melayani seorang pelanggan, saat sibuk melayani pelanggan ia tidak sengaja menumbuhkan Kopi ke pakaian seorang perempuan sombong, angkuh dan dingin, yg lagi asik berbincang sama teman kantor nya, hingga ia kaget langsung beranjak
"HEI KAMU... HATI - HATI DONG! INI BAJU MAHAL, LIHAT.... BAJUKU JADI KOTOR!! PAKAI MATA ENGGAK!! ". Ucapnya sentak marah
" maaf nona, saya tidak sengaja, sini saya bersihin! ". Jawab brayen sambil mengelap gaun yang kena tumpahan kopi
" TIDAK USAH!! BISA SENDIRI, DASAR LAKI-LAKI!! ". Ucapnya dengan tatap kesel melangkah melewati, temannya pun mengikuti dengan ekpresi bingung
Ini pertama kalinya bagi bryen di marahin oleh seorang wanita.
kehidupan bryen sangat suka hidup biasa saja, walaupun sang ayah selalu menjodohkan dirinya dengan seorang wanita kenalan teman ayahnya, sampai kini sang ayah masih membahas perjodohan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon as2357zzjdj, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 KESEL??
di ruang kantor terlihat Kelvin begitu santai dengan secangkir kopi sambil melihat majalah duduk dengan nyaman, satu teguk ia sirup meletakkan gelas kopi di atas meja,
"aaahaaahh!! ". Rengek Dara yang tiba-tiba saja mengeluh
Kelvin pun menoleh bingung.
" Kenapa sayang...? "
"kak Elina.. keterlaluan banget sama aku. masa aku ditegur, padahal kan memang lupa bukan sengaja". Ucap Dara bete dengan perasaan sedih ia pun duduk di samping dan memeluk sambil cemberut bete.
Kelvin meletakkan majalah di atas meja, Kelvin pun membalas pelukkan dengan hangat.
"Hmmm! sayang... jangan sedih. Aku di sini untuk membela, Elin itu harus di kasih pelajaran sayang.. jangan sampai dia seenaknya memperlakukan dia padamu sayang... " Ucap Kelvin terus menghasut Dara
Dara melepaskan pelukkan beranjak.
"Tapi sayang... kak elin itu. Seorang CEO aku tidak bisa apa-apa, aku hanya bawahannya. Iiiiiiihhhhhiihhhh sebel deh... ". Rengek dara kesel
Kelvin beranjak untuk mencoba menyakinkan
" Sayang. Tolong deh... kamu harus melawan jangan sampai elin. seenaknya, kamu berhak untuk mendapatkan lebih ". Ucap Kelvin sambil menyentuh Kepala rambut dengan lembut memberikan perhatian
" Hmmmm! ". Dara memeluk sang pacar hanya untuk menangkan hati
******
******
******
Brayen duduk di sofa masih berpakaian baju seragam Cafe sambil main ponsel, Datang Elina dengan ekpresi bete, ia lempar tas kecil ke sofa yang selama ini ia pegang. Brayen melirik dengan tenang namun bingung entah apa yang membuat istrinya seperti itu, kenapa tiba-tiba kesel.
"Iiiiiiihhhhhiihhhh menyebalkan! ".Elina berkata sambil uring-uringan tidak jelas sambil berfikir keras kesel.
Brayen yang melihat tingkah istrinya pun bingung.
" Kamu kenapa. ?". Tanya brayen
" Aku kesel. malah nanya! ". Jawabnya sentak melangkah jalan ke kamar
Brayen hanya terdiam ketakutan melihat tingkah istrinya yang tiba-tiba saja menyetak dan marah-marah tidak jelas. ia bingung salahnya ada dimana
Setelah melihat tingkah istrinya marah-marah dan masuk ke kamar tidak lama brayen beranjak mengambil tas yang di lempar istrinya ke sofa, melangkah jalan ke kamar.
Di dalam kamar Brayen meletakkan tas Elina di atas penyimpanan tas, setelah ia letakan tidak ada istrinya, sepertinya Elina ada di dalam kamar mandi. Ia melangkah sambil membuka kancing baju satu persatu, setelah melepaskan ia buka baju meletakkan di atas kasur, terlihat tubuh kekar brayen sangat Sxi pack dengan perut kotak-kotak seperti roti belah. Dada yang kekar dan bahu lebar terlihat sempurna. Tidak lama Elina keluar dari dalam kamar mandi terlihat sehabis mandi sudah mengenakan jubah handuk tebal, saat melihat kedepan
"AAAARRRGGGHHH!! ". Sontak Elina kaget melihat tubuh brayen tidak memakai baju
Brayen pun ikut kaget mendengar teriakan sang istri.
" Kenapa terak? ". Ucap brayen bingung
Kedua tangan menutupi mata dengan malu melihat tubuh kekar suaminya sendiri
" Kenapa tidak pakai baju.. sih...! ". Jawabnya tersipu malu
" Sudah buka mata". Minta brayen
"Tidak mau! ". Jawabnya lantang
Brayen menghela nafas panjang, melangkah mendekat. Elina yang masih menutupi mata dengan tangannya hanya tersipu malu ia tidak berani membuka mata atau melihat. Kedua tangan brayen menyentuh kedua tangan Elina yang menutupi wajahnya berlahan membuka.
"Lihat... tidak ada apa-apa jangan malu melihat tubuh suaminya sendiri, tidak perlu di takuti atau merasa tidak enak, biasakan, ok". Minta brayen
Elina pun melihat wajah brayen. Lirik mata Elina berlahan turun, melihat tubuh suaminya yang kekar membuat tenggorokan menelan air ludah di dalam tenggorokan dengan pelan, melihat tubuh suaminya merasa ngeri.
"Iiihhh! ". Elina langsung berbalik melangkah jalan, melihat tubuh suaminya merasa takut dan ngeri..
brayen berubah bingung melihat ekpresi istrinya ketakutan, entah apa yang salah pada darinya sendiri, ia melihat tubuhnya sendiri merasa tidak ada yang aneh, brayen bingung sambil mengaruk kepala bagian belakang.
Kemudian tengah malam terjadi, Terlihat Elina terbaring sambil main ponsel dengan tubuh sudah menutupi oleh selimut, Tidak lama Brayen datang dengan pakaian tidurnya, ia naik ke atas kasur membaringkan tubuhnya yang capek. Elina meletakkan ponsel samping meja lalu berbalik posisi miring menghadap suaminya.
"Kapan kamu akan menyentuh ku?? ". Tanya Elina
" Hem!! menyentuh apa? ". Tanya balik brayen dengan polosnya
" Lupakan! ". Jawab Elina kesel ia berbalik ke arah samping lain
Brayen hanya terdiam bingung, sebenarnya brayen mengerti apa yang diinginkan istrinya tapi... kalau melakukan tanpa cinta rasanya belum siap
Sejujurnya brayen ingin menyentuh dan menyalurkan hasratnya, namun ia harus tahan sampai Elina memiliki perasaan terhadapnya. Karena brayen sadar bahwa cinta tidak di paksakan tapi murni dengan ketulusan hati, ia sudah berjanji pada ayahnya untuk menjaga dan di prilakukan dengan baik, begitu juga ayahnya Elina yaitu, om Williams meminta dirinya tidak memaksa atau melakukan hal membuat Elina ketakutan. Maka dari itu brayen akhir-akhir ini bersikap berbeda lebih lembut dan perhatian tidak terlalu banyak bicara. Tapi tanpa brayen sadari, sikapnya membuat Elina bertanya-tanya di benak pikirannya yang bingung melihat sikap suaminya membuat Elina merasa tidak nyaman apa lagi sikap yang tidak ia suka yaitu berubah menjadi orang yang pendiam.
Sejujurnya brayen pun bingung harus bersikap seperti apa, merasa serba salah, menjadi suami tidak tahu harus bersikap seperti apa. Sepertinya brayen harus meminta seseorang untuk mengajar kan menjadi suami yang baik.
Pagi menjelang siang, terlihat brayen begitu semangat berkerja di cafe, melayani pelanggan dengan ramah,. semakin banyak saja pelanggan untuk makan di tempat cafe, semakin banyak kesibukan untuk brayen. Terlihat teman-teman sesama karyawan begitu sibuk juga. Terlihat brayen meletakkan minuman di atas meja pelanggan
"Silahkan". Ucap brayen.
Brayen pun berbalik melangkah jalan
" Brayen ". Sahut dion melangkah mendekat
" Iya ". Jawabnya sambil melangkah
"Ayo ikut aku". Ajak Dion tarik tangan brayen melangkah keluar.
Dion pun membawa brayen keluar cafe sambil melihat sekitar memastikan agar tidak seorang pun mendengar pembicaraan mereka.
" Adik aku hamil, aku tidak tahu siapa yang menghamili adik aku. kalau memang saudara kamu yang melakukan itu. minta tanggung jawab atas perbuatannya kalau tidak. aku akan melakukan jalur hukum atas tindakan pelecehan di bawah umur! ". Bisik dion mengancam dengan nada menekan
Brayen pun terdiam mendengar itu, ia bingung harus berkata apa
" Kamu tahu. adik ku baru usia 15 tahun masih anak remaja, dia masih sekolah. mau taroh dimana muka aku, kalau pihak sekolah mengetahui itu. Malu... yang ada.. adik aku akan merasakan malu dan di bully sekitar lingkungan sekolah apa lagi lingkungan rumah ku. aku harus bagaimana.. brayen....!!! ". Tambahnya gelisah, dion bingung harus bagaimana pada adiknya tersebut
" Aku akan tanyakan langsung pada saudara ku. memastikan kalau memang dia. tapi adik mu juga harus berani berbicara agar yakin". Ujar Brayen.
"Ok, aku desak adik ku untuk bicara jujur".
" jangan di paksa kalau memang tidak sanggup, biar kan. nanti aku yang akan bicara pelan". Ujar Brayen
"Iya".
Brayen dan dion memutuskan kembali masuk ke dalam cafe setelah membahas masalah adiknya dion.