Indonesia
NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Poligami / Balas Dendam
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Dokter Maya segera melangkah masuk ke dalam kamar lantai atas membawa tas medisnya.

Tanpa membuang waktu, ia berlutut di samping ranjang dan mulai memeriksa kondisi fisik Sasi yang masih terlelap tak sadarkan diri.

Namun, saat Dokter Maya membersihkan luka cakar di lengan Sasi dan menyingkap gaun pengantinnya yang robek untuk memeriksa memar-memar kebiruan di tubuhnya, jemarinya mendadak terhenti.

Raut wajah sang dokter berubah drastis—penuh keterkejutan dan ketegangan mendalam.

Ia meminta Adrian untuk keluar kamar terlebih dahulu.

Setelah itu Dokter Maya memeriksa semuanya dan ia menemukan jejak-jejak trauma fisik yang sangat spesifik dan tak terbantahkan, tanda-tanda jelas dari kekerasan seksual yang baru saja terjadi belum lama ini.

Dokter Maya segera merapikan kembali pakaian Sasi, membalut luka-lukanya, lalu berbalik menatap Adrian.

Ia memberi isyarat agar pria itu masuk kembali dan melangkah ke sudut ruangan untuk berbicara secara pribadi.

"Adrian," bisik Dokter Maya dengan nada suara yang sangat serius dan rendah, "kondisi emosional dan fisik wanita ini bukan sekadar trauma atau penolakan akibat ikatan poligami."

Adrian memicingkan mata, alisnya bertaut kencang.

"Maksudmu?"

"Saya menemukan tanda-tanda kekerasan fisik fatal di tubuhnya. Wanita ini baru saja mengalami kekerasan seksual yang hebat dalam kurun waktu kurang dari 24 jam terakhir," terang Dokter Maya lugas.

Bagaikan disambar petir di siang bolong, raut dingin di wajah Adrian runtuh seketika. Matanya membelalak lebar, napasnya tertahan.

"Maksud Dokter, dia diperkosa?" tanya Adrian dengan suara yang mendadak parau dan bergetar, berusaha mencerna kalimat yang baru saja ia dengar.

Dokter Maya menganggukkan kepalanya perlahan, memberikan konfirmasi yang memperjelas segala ketakutan ekstrem dan jeritan histeris Sasi sejak awal kedatangannya di rumah ini.

"Ya. Siapa pun pelakunya, ia merenggut paksa kehormatan wanita ini secara keji tepat sebelum pernikahan kalian berlangsung."

Adrian membeku di tempatnya berdiri. Tatapannya perlahan beralih pada sosok Sasi yang terbaring pucat di atas ranjang.

Potongan puzzle dari ketakutan luar biasa Sasi, trauma akan sentuhan fisik, hingga pingsan yang melahap wanita itu kini terangkai sempurna dalam benaknya.

Rasa bersalah yang teramat sangat dan kepulan amarah yang membakar seketika bergejolak hebat di dalam dada Adrian.

"Rahasiakan ini dari Fitria," panggil Adrian dengan suara berat dan penuh penekanan, matanya menatap tajam Dokter Maya untuk memastikan pesan itu tidak bocor kepada siapa pun.

Dokter Maya menganggukkan kepalanya paham akan kerahasiaan medis serta kerumitan situasi keluarga tersebut.

"Baik, Adrian. Informasi ini akan tetap aman di tangan saya."

Dokter Maya kemudian merogoh tas medisnya, mengambil beberapa racikan obat pereda nyeri, obat penenang dosis aman, serta vitamin untuk memulihkan kondisi fisik Sasi yang sangat drop.

Ia menata obat-obatan tersebut di atas meja samping ranjang beserta petunjuk pemakaiannya.

"Berikan obat dan vitamin ini begitu dia terbangun. Tubuhnya sangat lemah dan kondisi psikologisnya butuh penanganan yang sangat hati-hati," pesan Dokter Maya sebelum akhirnya pamit meninggalkan kamar.

Kini ruangan itu kembali hening. Adrian berdiri mematung di samping ranjang, menatap sosok Sasi yang terbaring pasrah dalam lelapnya.

Rasa bersalah yang berbaur dengan amarah kini bergejolak hebat di balik raut wajahnya yang keras.

Kesadaran Sasi perlahan kembali. Efek obat penenang yang memudar meninggalkan rasa pening yang menusuk di kepala serta ngilu di sekujur tubuhnya.

Kelopak matanya terbuka perlahan, menyesuaikan diri dengan remang cahaya lampu kamar.

Saat pandangannya mulai jelas, Sasi mendapati Adrian sedang duduk diam di kursi persis di samping ranjang.

Pria itu memperhatikannya dengan tatapan yang sangat sulit diartikan—ada perpaduan antara rasa bersalah yang teramat dalam, rasa iba, dan sisa-sisa ketegasan yang tertahan.

Melihat Sasi bergerak, Adrian bergeming sejenak sebelum akhirnya mengulurkan tangan mengambil segelas air putih dan beberapa butir obat di meja samping ranjang.

"Minum ini dulu," ucap Adrian seraya menyodorkan gelas tersebut.

Namun, begitu lengan Adrian bergerak mendekat, refleks trauma Sasi langsung memuncak.

Tubuhnya menegak kaku, memundurkan diri hingga punggungnya membentur kepala ranjang. Kedua tangannya terangkat cepat melingkari dada, memeluk tubuhnya sendiri dengan jemari yang gemetar hebat.

Tatapan matanya menyiratkan ketakutan mendalam atas sentuhan atau presensi pria di hadapannya.

Adrian menghentikan gerakannya di udara. Tak ada lagi nada suara dingin atau sikap kasar seperti sebelumnya.

Ia meletakkan kembali gelas itu perlahan ke atas meja agar tidak terus menakuti Sasi.

"Kamu tidak perlu takut," ujar Adrian dengan suara yang dipelankan, jauh lebih lembut dan tenang.

"Istirahatlah. Tidak ada yang akan menyakitimu di sini."

Adrian sengaja menahan diri untuk tidak menyinggung rahasia kelam tentang pemerkosaan itu secara langsung, menjaga agar mental Sasi yang rapuh tidak makin hancur.

Meski begitu, kata-kata lembut Adrian tidak serta-merta melunturkan dinding pertahanan Sasi.

Dengan napas yang masih tersengal dan bibir yang pucat pasi, Sasi terus menatap Adrian dengan raut penuh kecurigaan dan kewaspadaan tinggi, seolah pria di hadapannya adalah ancaman besar yang siap menghancurkannya kapan saja.

"Tidak ada yang akan menyakitiku di sini? Kamu bohong, Adrian! Kamu membohongiku dengan pernikahan ini! Antarkan aku pulang, aku akan melupakan semuanya!" jerit Sasi dengan suara parau yang sarat akan keputusasaan.

Adrian menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak bisa, Sasi. Kamu tetap tinggal di sini."

Tiba-tiba pintu kamar terbuka kasar. Fitria melangkah masuk dengan wajah memerah, kehilangan kesabaran.

Tanpa memedulikan kondisi Sasi yang memprihatinkan, ia menuntut Adrian agar segera menyelesaikan rencana awal mereka—mendesak suaminya untuk menyetubuhi Sasi demi mendapatkan keturunan.

Fitria bahkan melempar selembar kertas ke atas ranjang.

"Tanda tangani ini! Ini surat kontrak pernikahan sementara. Setelah kamu melahirkan anak untuk kami, kamu harus pergi dari hidup kami!"

Belum sempat Sasi menyentuh lembaran itu, tangan Adrian bergera cepat menyambar kertas tersebut.

Tanpa ragu sedikit pun, Adrian menyobek surat kontrak itu menjadi serpihan kecil di hadapan istrinya.

"Aku kepala rumah tangga di sini, dan aku yang berhak menentukan aturan serta membuat surat apa pun di rumah ini!" tegas Adrian dengan nada tajam dan berwibawa.

Fitria melipat tangannya di dada, lalu menyindir Sasi dengan nada sinis yang penuh dengki.

"Mas, kenapa kamu malah membela wanita ini? Dia cuma berakting lemah! Dan, kamu terlalu melindunginya seolah dia barang berharga!"

"Fitria, keluar. Biarkan Sasi istirahat," potong Adrian dengan tatapan mengintimidasi, tak ingin memperkeruh suasana.

Fitria mengepalkan tangannya rapat-rapat, tatapannya menyalang penuh kejengkelan.

"Mas! Dia hanya wanita miskin yang kita bayar dan kita rencanakan untuk melahirkan anak kita! Kenapa kamu jadi seperti ini?!"

"Fitria, KELUAR!" bentak Adrian keras dengan nada yang tak menerima bantahan sedikit pun.

Fitria menghentakkan kakinya dengan gusar, melemparkan tatapan sengit pada Sasi sebelum akhirnya memutar tubuh dan melangkah keluar dari kamar, membanting pintu dengan kasar.

Keheningan kembali menguasai ruangan luas itu. Adrian menarik napas panjang, berusaha meredakan gemuruh emosi di dadanya, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada wanita muda yang meringkuk di atas ranjang.

Sasi tertawa sumbang—sebuah tawa getir penuh luka yang terasa amat menusuk.

"Sudahlah, Adrian. Tidak usah berpura-pura baik padaku," bisik Sasi dengan bibir gemetar. "Aku memang hanya wanita miskin dan,"

Sasi mendadak menghentikan kalimatnya. Tenggorokannya terasa menyempit dan kaku.

Kata-kata kotor dan hinaan yang dilemparkan Hendrik semalam—wanita munafik, wanita bernoda, barang bekas—seakan siap meluncur dari bibirnya sendiri.

Namun, rasa perih dan kebas di dadanya menahan kata-kata itu di ujung lidah.

Ia membuang muka, menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut yang ditekuk rapat ke dada, membiarkan bahunya berguncang hebat oleh tangisan yang kembali pecah tanpa suara.

"Dan, apa?" tanya Adrian lembut, namun matanya memancarkan ketegasan yang tak bertepi.

Sasi tetap memalingkan wajahnya rapat-rapat, enggan menatap Adrian dan membiarkan air matanya membasahi bantal tanpa sepatah kata pun.

Melihat penolakan itu, Adrian menghela napas panjang.

Ia bangkit dari kursi tempatnya duduk di tepi ranjang, merapikan jasnya sejenak, lalu meminta agar istri mudanya itu beristirahat.

"Pintu kamarmu tidak aku kunci," ucap Adrian dengan suara berat yang memenuhi keheningan ruangan.

"Kalau butuh makan atau minum, silakan keluar. Tapi ingat, jangan coba-coba kabur atau lari."

Adrian menghentikan langkahnya sejenak di dekat ambang pintu, lalu menambahkan dengan nada penuh peringatan dingin, "Aku akan menghukummu kalau kamu melanggarnya."

Tanpa menunggu balasan dari Sasi, Adrian melangkah keluar dan menutup pintu kamar Sasi rapat-rapat, meninggalkan wanita itu sendirian dalam kesunyian malam yang menghimpit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!