Indonesia
NovelToon NovelToon
PELAYAN KAYA, CINTA SEDERHANA

PELAYAN KAYA, CINTA SEDERHANA

Status: tamat
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: wabula

Clarisa Wijaya hanya punya satu tujuan ketika beasiswa itu datang, pergi sejauh mungkin dari kampung halaman demi masa depan yang lebih baik, meski itu berarti meninggalkan pelukan hangat orang tuanya dan aroma bebek panggang yang selalu menemani setiap perayaan keluarganya. Namun ibu kota tak semudah yang ia bayangkan. Kerja paruh waktu sebagai pelayan restoran, kamar apartemen sempit yang sunyi, dan air mata yang ditelan sendirian di malam-malam kangen rumah semua itu baru permulaan dari perjalanan yang akan mengubah hidupnya selamanya. Semua berubah sejak seragamnya basah kuyup terkena cipratan motor seorang pemuda yang bahkan tak sempat menoleh untuk minta maaf. Siapa sangka, pemuda angkuh itu bernama Daniel rekan kerja barunya yang ternyata menyimpan rahasia besar: ia adalah pewaris tunggal pemilik restoran tempat mereka bekerja, menyamar sebagai pelayan biasa atas perintah orang tuanya sendiri. Dari kebencian dan kesalahpahaman, benih-benih cinta mulai tumbuh perlahan, diam-diam disaksikan oleh Nikol, sahabat setia Clarisa yang menyimpan perasaannya sendiri tanpa pernah berani mengungkapkannya. Namun cinta Clarisa dan Daniel harus melewati ujian demi ujian bullying dari geng kampus yang memandang rendah latar belakangnya, gosip yang menyudutkan, hingga konspirasi bisnis jahat yang nyaris merenggut nyawanya lewat semangkuk makanan beracun. Ketika kebenaran tentang identitas asli Daniel akhirnya terbongkar, Clarisa harus menghadapi ketakutan terbesarnya: mampukah cinta bertahan di tengah jurang status sosial yang begitu dalam antara gadis desa sederhana dan pewaris konglomerat kota?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu kelas yang mengejutkan

Senin pagi itu, Clarisa bersiap menuju kampus dengan semangat baru setelah menjalani hari-hari pertama kuliah yang masih terasa penuh penyesuaian. Jadwal kuliahnya hari itu dimulai dengan mata kuliah pengantar yang diampu oleh salah satu dosen senior di fakultasnya, mata kuliah wajib yang harus diambil seluruh mahasiswa baru di jurusannya.

Ia melangkah memasuki ruang kelas yang cukup besar, mampu menampung lebih dari seratus mahasiswa dalam satu sesi perkuliahan. Clarisa mencari tempat duduk yang nyaman, memilih bangku di bagian tengah ruangan, tidak terlalu depan namun juga tidak terlalu belakang, sebuah kebiasaan yang telah ia bawa sejak masa sekolah menengah dulu.

Ruangan kelas mulai dipenuhi mahasiswa lain yang berdatangan, suasana riuh obrolan sebelum dosen tiba menciptakan atmosfer yang khas suasana perkuliahan. Clarisa mengeluarkan buku catatan dan alat tulisnya, bersiap mengikuti perkuliahan dengan tekun seperti biasa.

Ketika ia sedang sibuk merapikan alat tulisnya, seseorang duduk di bangku kosong tepat di sampingnya. Clarisa menoleh sekilas, dan matanya membelalak terkejut mendapati sosok yang duduk di sampingnya itu adalah Daniel—rekan kerjanya di restoran “Kedai Rasa”.

“Lho, kamu?” ujar Clarisa spontan, tidak menyangka akan bertemu rekan kerjanya di ruang kelas yang sama.

Daniel yang juga baru menyadari kehadiran Clarisa di sampingnya, tampak sama terkejutnya. “Eh, kamu juga di kelas ini?”

Kejutan tersebut membuat suasana canggung sejenak menyelimuti keduanya, mengingat sebelumnya mereka hanya mengenal satu sama lain dalam konteks pekerjaan di restoran, tanpa pernah menyadari bahwa mereka berbagi kelas yang sama di kampus.

“Aku nggak nyangka kita bakal satu kelas,” ujar Daniel, mencoba mencairkan suasana canggung yang terasa di antara mereka.

“Iya, aku juga nggak nyangka. Dunia emang sempit ya,” jawab Clarisa dengan nada yang lebih santai, meski dalam hatinya masih menyimpan sedikit rasa heran mengenai kebetulan yang terjadi ini.

Beberapa mahasiswa lain di sekitar mereka mulai memperhatikan interaksi tersebut dengan tatapan penasaran, terutama karena Daniel dikenal cukup populer di kalangan mahasiswa jurusan tersebut, sementara Clarisa masih merupakan wajah baru yang belum banyak dikenal orang.

Tidak lama kemudian, dosen memasuki ruangan, memulai sesi perkuliahan hari itu. Clarisa dan Daniel sama-sama mengalihkan perhatian mereka ke depan kelas, mencoba fokus mengikuti materi yang disampaikan meski suasana canggung akibat kejutan pertemuan tadi masih terasa di antara mereka.

Selama sesi perkuliahan berlangsung, sesekali Clarisa melirik ke arah Daniel yang tampak cukup serius mencatat materi yang disampaikan dosen, meski gaya mencatatnya terlihat sedikit berbeda dari kebanyakan mahasiswa lain—lebih santai dan kurang terstruktur, mencerminkan kebiasaan seseorang yang mungkin belum terlalu terbiasa dengan disiplin akademis yang ketat.

Clarisa sendiri tidak menyangka bahwa rekan kerjanya di restoran ternyata adalah mahasiswa di jurusan yang sama dengannya. Ia mulai bertanya-tanya dalam hati, mengapa seseorang yang menurutnya berasal dari keluarga berkecukupan seperti Daniel, memilih jurusan yang sama dengan jurusan yang ia ambil—sebuah jurusan yang sebenarnya cukup menantang dan membutuhkan dedikasi tinggi untuk bisa berhasil di dalamnya.

Setelah sesi perkuliahan berakhir, ketika mahasiswa lain mulai beranjak keluar ruangan, Clarisa dan Daniel yang duduk berdampingan juga bersiap untuk keluar bersama, meski tanpa direncanakan sebelumnya.

“Kamu ambil jurusan ini karena apa?” tanya Clarisa penasaran, sambil merapikan buku-bukunya ke dalam tas.

Daniel terdiam sejenak, mempertimbangkan jawaban yang tepat untuk diberikan tanpa harus mengungkap terlalu banyak mengenai latar belakang keluarganya. “Sebenarnya ini pilihan orang tuaku. Mereka pikir jurusan ini bakal berguna buat masa depan aku,” jawabnya singkat, memilih untuk tidak menjelaskan lebih detail mengenai rencana keluarganya yang mempersiapkannya sebagai pewaris bisnis restoran.

“Oh, gitu. Kalau aku sih emang dari dulu tertarik sama jurusan ini, makanya aku semangat banget waktu tahu aku diterima,” ujar Clarisa dengan mata berbinar, menceritakan sedikit mengenai passion-nya terhadap bidang yang ia pelajari.

Daniel memperhatikan antusiasme Clarisa dengan perasaan yang sulit ia jelaskan—ada rasa kagum melihat semangat belajar yang begitu tulus, sangat berbeda dengan motivasinya sendiri yang lebih didasari kewajiban keluarga dibandingkan minat pribadi yang sesungguhnya.

Dalam perjalanan menuju kantin kampus untuk makan siang sebelum jadwal kerja mereka di restoran nanti sore, Clarisa dan Daniel melanjutkan percakapan mereka yang mulai terasa lebih cair dibandingkan interaksi-interaksi sebelumnya di restoran. Mereka membicarakan berbagai topik ringan seputar perkuliahan, dosen-dosen yang terkenal killer, hingga tugas-tugas yang harus segera diselesaikan.

Di tengah percakapan tersebut, sekelompok mahasiswi berpenampilan mencolok dengan berbagai aksesori bermerek melintas tidak jauh dari mereka, salah satu di antaranya menyapa Daniel dengan nada genit yang cukup mencolok.

“Daniel! Lama nggak keliatan di kampus. Kemana aja sih?” sapa salah satu mahasiswi tersebut, memandangi Daniel dengan tatapan yang jelas menunjukkan ketertarikan lebih dari sekadar pertemanan biasa.

Daniel hanya membalas dengan senyum singkat dan sapaan seadanya, tidak menunjukkan antusiasme berlebihan seperti yang mungkin biasa ia tunjukkan sebelumnya. Clarisa yang menyaksikan interaksi tersebut, mulai menyadari bahwa Daniel tampaknya cukup dikenal dan populer di kalangan mahasiswi kampus, sebuah fakta yang membuatnya semakin penasaran mengenai latar belakang sebenarnya dari rekan kerjanya itu.

“Kamu populer juga ya ternyata,” komentar Clarisa dengan nada bercanda setelah kelompok mahasiswi tersebut berlalu, mencoba mencairkan sedikit rasa penasaran yang muncul dalam dirinya.

“Ah, biasa aja. Cuma kenal beberapa orang doang,” jawab Daniel merendah, meski dalam hatinya menyadari bahwa reputasinya sebagai pemuda tampan yang dikenal dekat dengan banyak wanita di kampus memang cukup melekat pada dirinya, sesuatu yang belum sepenuhnya diketahui Clarisa.

Percakapan mereka terus berlanjut hingga tiba di kantin kampus, di mana mereka berdua akhirnya memutuskan untuk makan siang bersama di meja yang sama, melanjutkan obrolan ringan yang perlahan mulai menghilangkan kecanggungan yang sempat menyelimuti hubungan pertemanan baru mereka.

Tanpa mereka sadari, kebetulan menjadi satu kelas di kampus tersebut akan membuka babak baru dalam hubungan mereka, mempertemukan mereka dalam konteks yang berbeda dari sekadar rekan kerja di restoran, serta menjadi awal dari berbagai dinamika baru yang akan terus berkembang seiring berjalannya waktu—termasuk berbagai gosip dan rumor yang mulai beredar di kalangan mahasiswa mengenai kedekatan yang mulai terjalin di antara mereka berdua.

1
Siti Naimah
kalau kayak gitu kan bisa Daniel dan Clarisa komunikasi lewat telepon...
Siti Naimah
yaudah nikol.. kalo kamu gak berani mengungkap kan perasaanmu ke Clarisa ya sebaiknya nyari cewek lain aja🤣
Siti Naimah
semoga hubungan Daniel dan Clarisa lancar😍
Siti Naimah
wah bahaya dong kalau sampai terjadi cinta segitiga 😕
Siti Naimah
wah Daniel dan Clarisa semakin dekat aja...udah datang berkunjung ke apartemen Clarisa dan berbagi bebek panggang.. semoga hubungan kedua nya kedepan semakin membaik 😍
Siti Naimah
makanya nikol...sedari awal kalo emang suka sama Clarisa ya ungkapkan saja... apapun hasilnya ya diterima dengan lapang dada.nha jika keadaan sudah seperti sekarang? nyesek kan di dada😕
Siti Naimah
semoga Clarisa tercapai cita2nya
sesuai dengan rencana💪👍
Siti Naimah
Clarisa...kamu harus fokus ke tujuan utama.ingat pergi jauh dari kampung untuk menuntut ilmu..apalagi kuliah mendapat beasiswa penuh.kamu harus jadi orang sukses 💪😍
Siti Naimah
Daniel sama Clarisa kok satu kelas sih? mestinya Daniel kan kakak kelas Clarisa ya?😕
Siti Naimah
Clarisa emang peka...bisa segera membaca situasi. Daniel juga bisa menjawab yang mendekati kebenaran.tapi tetep bisa menjaga kerahasian siapa dirinya... juga lumayan ada peningkatan kinerjanya..
semoga training yang diberikan orang tuanya segera berakhir 🤭😄
Siti Naimah
wah kalau Daniel dekat dengan Clarisa tentu perbedaannya jauh mencolok 🤭
Siti Naimah
proses nya benar2 alami.. Clarisa tidak tau jika Daniel anak pemilik restoran tempatnya bekerja
Siti Naimah
semangat Daniel...kamu pasti bisa 💪
Siti Naimah
wah Daniel..jika kamu bisa segera pintar dan bertanggung jawab dalam bekerja..tentu bakal segera berakhir masa kerjamu menjadi pelayan restoran...dan semua fasilitas yg diberikan oleh orang tuamu bakal dikembalikan lagi 😄
Siti Naimah
bersyukur Clarisa..di tempat yang baru ada teman yang ber empati...
membantumu sehingga kamu gak merasa asing dan sendirian 😍
Gracelyn Jay
sebelum posting, ulang baca lagi ya Thor.. untuk waktu dan kendaraan yg dipergunakan tidak konsisten
Siti Naimah
semangat Clarisa..kamu pasti bisa💪
Siti Naimah
jadi ikutan melow deh.. ngikuti perjalanan Clarisa ke ibukota.. semoga Clarisa bakal memperoleh kehidupan yang lebih baik.. memperoleh kesuksesan hidup 💪😍
Siti Naimah
wah kesenangan Clarisa kok agak spesial ya🤭 bebek panggang..jika ayam kampung panggang kan ibarat nya tiap rumah pada memelihara..
Siti Naimah
wah walaupun gadis kampung Clarisa punya nama yang keren lho..
juga punya tekad yang kuat supaya punya kehidupan yang lebih baik..
semangat Clarisa 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!