Indonesia
NovelToon NovelToon
Harga Sebuah Senyum Dalam Cengkeraman Sang Don

Harga Sebuah Senyum Dalam Cengkeraman Sang Don

Status: tamat
Genre:Mafia / CEO / Bapak rumah tangga / Tamat
Popularitas:86
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Ferrer

Anton Kozlov, sang Don Bratva yang dijuluki "Serigala St. Petersburg", telah lama mengubur hatinya di balik es. Sejak kehilangan satu-satunya perempuan yang pernah ia cintai, ia memerintah kerajaan minyak dan darahnya tanpa belas kasihan—dan tanpa senyum. Yang tersisa hanyalah putra kecilnya, seorang pewaris yang tumbuh dalam kebisuan dan luka yang tak seorang pun tahu.

Di seberang samudra, Emily tak pernah punya kemewahan untuk menyerah. Perempuan Brasil berdarah panas ini bertahan dari masa lalu yang kelam demi satu-satunya alasan ia terus melangkah: putrinya. Ia tak butuh diselamatkan siapa pun—sampai takdir membenturkan hidupnya dengan lelaki paling berbahaya di dunia bawah.

Ketika si dingin dari utara bertemu si hangat dari selatan, tak ada yang tersisa sama. Anton menawarkan sebuah kesepakatan: perlindungan, kehormatan, dan keamanan—segalanya, kecuali cinta yang ia bersumpah takkan pernah ia berikan lagi. Tapi Emily membawa sesuatu yang tak bisa dibeli seluruh kekayaan Bratva: kehangatan yang perlahan meretakkan tembok es, dan penyembuhan bagi sebuah keluarga yang nyaris hancur.

Namun di dunia tempat kesetiaan ditulis dengan darah, musuh-musuh lama mengintai dari bayang-bayang, dan mencintai sang Don berarti menjadi sasaran berikutnya. Untuk melindungi perempuan dan anak-anak yang kini menjadi dunianya, Anton siap membakar neraka itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Ferrer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Negeri Asing

Suara mesin pemanas tua yang berisik di apartemen kecil di Newark, New Jersey, adalah satu-satunya teman Emily Vasconcelos di dini hari yang membeku. Tak jauh dari sana, di seberang sungai, gemerlap lampu New York bersinar bagai janji akan kekayaan dan kebebasan. Namun bagi Emily, pemandangan itu hanyalah fatamorgana. Ia tidak berada di Amerika Serikat karena keinginannya sendiri; ia terdampar di sana karena terpaksa, terikat oleh rantai-rantai tak kasat mata bernama rasa takut dan naluri bertahan hidup.

Emily menatap boks bayi sederhana di sudut kamar. Di dalamnya, terbungkus selimut yang dibelinya seharga dua dolar di sebuah toko loakan setempat, tidur Anna yang baru berusia tiga bulan. Bayi itu adalah seluruh dunianya, satu-satunya cahaya dalam hidup yang telah ditandai kegelapan sejak awal.

Ia dan sang "tunangan", Breno, berasal dari Capão Redondo, salah satu permukiman paling berbahaya di zona selatan São Paulo. Emily tidak pernah bersamanya karena cinta. Keluarganya sendiri yang menjual dirinya kepada Breno—yang di gang-gang kumuh dikenal sebagai Mão Negra, si "Tangan Hitam"—demi melunasi utang narkoba kakak laki-lakinya. Breno membelinya seolah ia sebuah benda, sebuah piala untuk dipamerkan di favela. Dan bahkan setelah pembayaran lunas, ia tetap memerintahkan agar kakak Emily dieksekusi tanpa ampun.

Breno punya "mimpi Amerika", tetapi mimpinya adalah sebuah mimpi buruk: ia ingin memperluas perdagangan narkoba dan kejahatan terorganisasi dari Brasil ke dalam wilayah Amerika. Namun, yang tidak diketahui oleh gembong sombong itu adalah bahwa tanah tersebut sudah punya tuan. Cosa Nostra Amerika, mafia Amerika yang perkasa, menguasai setiap jengkal kawasan itu, dan Breno sedang memainkan permainan yang terlalu berbahaya—tanpa sadar bahwa ia hanyalah seekor semut di dekat para hiu penguasa daerah.

Sesampainya di Amerika Serikat, Emily hamil. Ketika hasil pemeriksaan menyatakan bahwa bayinya perempuan, neraka pribadi Emily semakin memburuk. Breno menginginkan anak laki-laki, seorang pewaris bagi kerajaan khayalannya. Seiring kehamilan, tubuh Emily berubah, dan pria itu mulai menunjukkan rasa jijik yang mendalam terhadapnya. Terobsesi mendapatkan green card—izin tinggal tetap AS—agar bisa menetap secara legal dan memperluas usaha kedoknya, Breno mulai menjalin hubungan dengan seorang perempuan Amerika kaya, mencampakkan Emily, lalu menikahi perempuan itu tak lama kemudian.

Bagi Breno, Emily kini hanyalah sisa masa lalu. Tetapi Emily tidak pernah bergantung padanya.

Emily seorang terapis pijat. Dengan tangan yang kuat dan bakat alami meredakan rasa sakit orang lain, ia mulai melayani klien di kawasan New Jersey. Ia sangat mahir dalam pekerjaannya, dan tak lama jadwalnya penuh oleh klien-klien setia. Uang yang dihasilkannya tak cukup untuk kemewahan; pakaiannya dan mainan Anna semuanya berasal dari toko loakan, atau barang-barang yang dibuang orang-orang kaya ke tempat sampah lalu dipungut Emily, dibersihkan, dan dirapikan. Namun setiap sen ditabungnya dengan satu tujuan yang jelas: membayar asuransi kesehatan untuk dirinya dan putrinya, membayar sewa apartemen sederhana itu, serta menjaga tempat tinggal mereka tetap bersih dan aman tanpa cela.

Emily belajar menjadi kuat. Ia sanggup menghidupi dirinya sendiri. Masalah yang sebenarnya adalah Breno—meski sudah menikahi perempuan Amerika itu—menolak melepaskannya.

Suara kasar gedoran di pintu kayu membuat jantung Emily melonjak. Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Ia tahu persis siapa itu.

Ia melangkah ke pintu dengan tangan gemetar, memutar kunci. Begitu pintu terbuka, sosok Breno yang tinggi dan angkuh memenuhi ambang pintu. Ia berbau minuman keras mahal, memancarkan kesombongan orang yang merasa dirinya penguasa dunia.

"Kenapa lama sekali, Emily? Kamu menyembunyikan seseorang di sini?" tanyanya dalam bahasa Portugis, mendorong Emily ke samping saat masuk lalu membanting pintu keras-keras.

"Anna sedang tidur, Breno. Pelankan suaramu, kumohon," pinta Emily, suaranya sekadar bisikan tegang, kedua lengannya bersilang di dada untuk melindungi diri dari dingin sekaligus dari kehadiran pria itu.

Breno berjalan menuju boks bayi, menatap si kecil dengan hina. Ia tak pernah sekali pun menggendong putrinya.

"Anak itu cuma bikin pengeluaran. Kamu seharusnya berterima kasih aku belum melenyapkannya dan mengirimmu balik ke Capão dalam peti mati."

"Aku membayar semua tagihanku sendiri, Breno! Aku tidak pernah minta satu dolar pun darimu," ujar Emily, melangkah maju, naluri keibuannya berbicara lebih keras daripada rasa takut. "Jangan ganggu putriku."

Breno berbalik perlahan. Tatapannya berubah—menjadi gelap, posesif, dan penuh kekerasan. Ia mendekati Emily, menyudutkannya ke dinding dapur mungil itu. Tangannya terangkat cepat, mencengkeram rahang Emily cukup kuat hingga menyakitkan.

"Kamu pikir karena bisa dapat receh dengan memijat nenek-nenek, lantas kamu jadi mandiri, Emily?" desisnya, napas beralkoholnya membakar wajah Emily. "Kamu milikku. Aku sudah membelimu. Kalau aku mau, aku bisa ambil anak haram itu, kulempar ke bagasi mobilku, dan kamu tidak akan pernah melihatnya lagi. Aku bisa lapor ke imigrasi bahwa kamu ilegal dan mengirimmu pulang tanpa dia."

"Jangan... kumohon, Breno... jangan Anna—" air mata akhirnya tumpah dari mata Emily.

Itulah kelemahan terbesarnya, dan Breno tahu betul. Emily sanggup menahan lapar, dingin, pakaian usang, dan pekerjaan yang menguras tenaga, tetapi sekadar ancaman kehilangan putrinya menghancurkannya. Ia sanggup melakukan apa saja, mengorbankan apa saja, demi menjaga Anna tetap aman di bawah pengawasannya.

Breno melepaskan rahang Emily sambil mendorongnya, lalu mulai membuka kancing kemejanya, duduk di sofa tua milik Emily.

"Kamu sudah tahu apa yang kuinginkan, Emily. Puaskan aku, dan mungkin kubiarkan kamu bersama anak itu sebulan lagi tanpa kuganggu."

Perut Emily bergolak. Mual hebat naik ke tenggorokannya, tetapi ia menelan tangis dan rasa terhinanya. Ia melirik sekilas ke boks tempat Anna tidur tenang, tak mengerti pengorbanan sang ibu. Demi bayi itu, Emily rela menyerahkan tubuhnya, harga dirinya, dan jiwanya.

Perlahan, dengan gerakan mekanis khas orang yang sudah belajar memutuskan diri dari kenyataan agar tidak gila, Emily berjalan mendekatinya. Ia menyerah. Ia membiarkan Breno memakainya, menanggung berat daging busuk itu di atas tubuhnya, mengubah tubuhnya sendiri menjadi perisai untuk melindungi nyawa putrinya.

Ketika Breno selesai dan pergi, membanting pintu tanpa menoleh, Emily berlari ke kamar mandi. Ia menyalakan pancuran, menggosok kulitnya begitu keras hingga sabun nyaris merobek dagingnya, berusaha melenyapkan setiap jejak sentuhan pria itu dari tubuhnya.

Setelahnya, letih dan dengan jiwa yang basah oleh air mata, ia berjalan menuju boks Anna. Ia berlutut di lantai dingin, menggenggam tangan mungil bayinya melalui jeruji.

"Aku akan membawamu keluar dari sini, Nak...," bisik Emily, pandangannya terpaku pada langit-langit apartemen yang retak. "Aku berjanji, monster itu tidak akan pernah lagi menyentuh kita. Aku hanya butuh satu kesempatan."

Emily tak tahu bahwa takdir sudah mulai menggambar rute pelariannya. Bahwa Breno sebentar lagi akan melewati garis batas dengan penguasa wilayah Amerika yang keliru—sang mafia—dan bahwa pencarian akan perlindungan akan membawanya langsung ke pelukan Anton Kozlov, sang Don Rusia yang akan menyeberangi samudra bukan hanya untuk menghancurkan musuh-musuh Emily, tetapi untuk memberikan kepadanya dan Anna kecil sebuah kerajaan serta keamanan yang selama ini layak mereka miliki.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!